Keadilan Kita Berbeda Rasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 21 November 2020

Sebuah jam kuno kotak berornamen kayu jati berdenting sembilan kali, menandakan Tuhan terlampau baik pada manusia agar mampu menciptakan alat untuk membantu mengatur waktu istirahat yang optimal demi kesehatannya. Tapi, Genta mengacuhkan teori ngawur itu, sebab malam ini dia sedang duduk di pojok warung kopi “Sendu Melagu”. Ditemani secangkir ekspresso yang seperti langit pada malam hari ke tiga puluh. Pekat.

Jika manusia (menurut salah satu pedoman agama langit) diturunkan ke dunia untuk menjadi pemimpin di bumi, dan bila digabungkan dengan pondasi negara ini yang dirumuskan disila kedua dalam pancasila, karakter manusia yang seperti apa yang bisa mengkorelasikan hubungan seperti itu? Pikiran Genta, tiga cangkir kopi ekspresso yang seperti purnama ke tiga puluh itu, dan 3 jam waktu istirahatnya terkuras habis, dan terpakai untuk pertanyaan yang dia buat sendiri. Begitulah Genta, selalu memikirkan masalah yang dibuatnya sendiri dan bersusah payah mencari jawaban dari pertanyaanya sendiri.

Tiga buku yang berbeda sudah habis dia baca. Dari buku yang menguak tentang pancasila, manusia, hingga buku sejarah peradaban manusia tetap saja Genta tidak bisa mengaitkan isi yang ada di tiga buku itu dengan realita pada bangsa ini. Sebab bangsa ini, menurut hemat Genta adalah bangsa yang mendzalimi dirinya sendiri.

Sedikit tersenyum Genta melihat gerombolan musisi jalanan di seberang warung kopi “sendu melagu” memainkan lagu “wakil rakyat” yang pengarangnya banyak memberikan kalimat sindiran di liriknya. Matanya terpejam dan mulutnya mengikuti ucapan sang vokalis. Relaksasi itu perlu, pikirnya. Lantunan lagu memasuki interlude, petikan gitaris pada gitarnya persis seperti eyang pemilik lagu itu. Tiba-tiba terdengar teriakan yang menggema “Keadilan Kita Berbeda Rasa!”, sontak mata dan telinga Genta terganggu dengan teriakan itu. Ternyata tuan dari teriakan tadi adalah si vokalis. Dia memegang secarik kertas, lalu mengulangi kalimat tadi.

“Keadilan kita berbeda rasa.
Adil yang kalian lakukan adalah berbagi wine di gelas yang indah dengan merata.
Adil bagi kami adalah memutar cangkir berisi kopi agar semua menikmatinya.

Keadilan kita berbeda makna.
Adil bagi kalian adalah sebuah kesenangan melawan sepi.
Adil bagi kami adalah kebersamaan menikmati pahit.

Seandainya kami menjadi kalian, gelas indah itu akan tetap berisi kopi nikmat tanpa perlu lagi berputar.
Seandainya kalian menjadi kami, cangkir kopi itu tetap berisi kopi, tapi kalian akan menikmati sepi.

Tapi tenang, itu hanya seandainya.
Kami sudah tahu sifat penghuni istana langit.
Lagipula sejak awal sudah kubilang;
Keadilan kita berbeda rasa.

Jadi tenanglah di atas sana.
Sampai kami selesai membuat tangga, guna membagikan kopi untuk kalian.”

Lalu sang gitaris memetik senar terakhir tanda selesainya lagu “wakil rakyat” dan sajak “keadilan” itu. Genta pun mengulum senyum untuk para musisi jalanan di seberang warung kopi itu. Pandanganya beralih kepada jam kuno kotak berornamen kayu yang jarumnya berada diangka 12. Ternyata malam hari ini sudah berada dipuncaknya, Genta pun merapikan buku-buku yang berada di meja untuk dimasukan ke dalam tasnya. Tapi tunggu dulu, apa Genta sudah menemukan jawaban dari pertanyaan yang membuat dia bersemedi di warung kopi “Sendu Melagu” itu? Jangan bertanya pada narator! Ini pertanyaan untuk Genta kan? Kalian tanyakanlah pada dia!

Sebelum pergi, Genta membayar tiga cangkir kopi ekspressonya dengan uang Rp.100.000 dan berkata “tolong buatkan lima cangkir kopi untuk mereka yang berada di seberang sana” Genta menunjuk gerombolan musisi jalanan itu. “Buatkan juga kopi untukmu. hari ini aku ulang tahun, aku yang traktir.” Genta tersenyum sambil memohon pamit. Lalu pemilik warung kopi yang merangkap pelayan itu tersenyum dan berkata “Semoga mimpi indah.”

Cerpen Karangan: Genta Al-kornie
Blog / Facebook: Bagus Ikiminaze

Cerpen Keadilan Kita Berbeda Rasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Indonesia Terakhir

Oleh:
“Kesempatan terakhir untukmu akan nenek berikan. Jika hidupmu di sana makin menderita, nenek tak akan mengizinkanmu memilih jalan hidup yang katanya membawa kesuksesan bagimu”. Entah beberapa kali kata-kata tersebut

Tapi Sungai Surgaku Bukan Susu, Tuan

Oleh:
Hidup di negeri yang sudah kehabisan alasan untuk berjanji memang harus rela bekerja membanting nyawa, jungkir nurani, dan pantang menyerah (kan) apa yang kita punya. Hanya itulah yang bisa

Paradigma

Oleh:
Satu tambah satu sama dengan dua, ya, itu memang benar. Dua tambah dua sama dengan empat, ya sekali lagi, benar. Dua tambah tiga sama dengan lima, benar sekali. Bagaimana

Kesempatan Kedua

Oleh:
“Azka, aku ingin bicara denganmu.” Kalimat yang membuat Azka terkejut kepada teman satu jurusannya itu, Efrida. “Azka? Kau mendengarku tidak? Aku ingin bicara denganmu. Jangan beralasan lagi untuk menghindariku

Tamasya Aksara

Oleh:
Gedung-gedung bertingkat nan mewah serta megah menjadi latar dari gang sempit yang menjadi akses menuju rumahku yang kecil dan reyot kondisinya. Kepenatan, kebisingan dan kicauan manusia yang bercengkrama, bertengkar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Keadilan Kita Berbeda Rasa”

  1. Ty says:

    Ka penjelsan unsur intrinsiknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *