Kesempatan Kedua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

“Azka, aku ingin bicara denganmu.” Kalimat yang membuat Azka terkejut kepada teman satu jurusannya itu, Efrida.

“Azka? Kau mendengarku tidak? Aku ingin bicara denganmu. Jangan beralasan lagi untuk menghindariku karena aku sudah tau semua!”
“Ahh.. Iya maaf tadi aku melamun. Kita bicara di rumahku saja”

Tanpa basa basi lagi mereka mengendarai motor mereka masing-masing. Azka sadar bahwa pekerjaan yang dia lakukan selama 2 tahun itu telah diketahui oleh Efrida, mungkin bisa saja satu kampus mengetahui hal itu. Jika teman-temannya tau, dia bisa saja dibully dan kepopuleran Azka di kampus tersebut menurun drastis. Rasa takut, gelisah, cemas, bingung bercampur menjadi satu. Tidak lama pun mereka berdua sampai di rumah Azka. Kini, perasaan yang tercampur semakin menjadi. Tubuh dan kaki Azka bergetar tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran di tubuh dan lengannya. Azka takut bahwa Efrida memang benar telah mengetahui segalanya. Efrida yang melihat Azka hanya terseyum dan segera menarik lengan Azka ke dalam rumah.

“Sudahlah, katakan saja. Kau memang mengetahui segalanya kan!”
“Tepat sekali.”
Obrolan singkat itu pun berakhir, suasana ruangan hening seketika. Setelah beberapa menit, suara Efrida memecah suasana keheningan.

“Berhentilah”
“Apa maksudmu?”
“Berhentilah dari pekerjaan itu! Kau tidak sadar? Jika kau melakukan itu akan merusak dirimu sendiri bahkan bisa lebih buruk dari itu! Dan juga apa yang akan dikatakan oleh orangtuamu jika kamu menjual diri, hah? Ingat! Kamu itu punya harga diri yang tinggi dan tidak bisa dibayar dengan uang dengan sebanyak apapun itu. Jadi kumohon berhentilah.”
Nada suara teman semasa kecilnya Azka yang tinggi seperti orang marah, reda seketika. Setelah ucapannya itu Efrida membungkuk memohon kepada Azka. Azka sangat terkejut dengan perilaku Efrida yang tidak seperti biasanya. Efrida yang terkenal pendiam dan cuek mengatakan hal ini kepada dirinya, anak yang banyak gaya dan selalu mencari perhatian. Tapi, tetap saja hasilnya nihil. Azka tidak mau berhenti dari pekerjaannya.

“Aku tidak mau. Jika tidak ada pekerjaan itu aku tidak bisa membiayai keperluan hidupku. Aku bukan seperti dirimu yang pintar dan mendapat beasiswa di kampus. Sedangkan aku? Aku tidak bisa apa apa. Masuk ke universitas saja dengan berbekal nilai pas pasan dan keberuntungan semata. Sudahlah, Orang sepertimu tidak seharusnya mengurusi hidup orang lain, terlebih lagi jika orang itu adalah aku. Pergilah”

PLAKK!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Azka. Suara pintu rumah terbuka dan suara motor Efrida menyala terdengar menandakan bahwa Efrida telah pergi dari rumah Azka. Azka duduk di sofa dengan polosnya, menganggap kejadian barusan tidak pernah terjadi. Azka duduk diam dan tidak memempedulikan matanya yang berkaca-kaca serta air mata di sudut matanya itu. Dia tidak bisa menampung air mata tersebut dan ia menangis tanpa sebab. Bahkan dia juga tidak tau mengapa ia menangis, seakan akan tubuhnya bergerak sendiri tanpa ia kontrol sedikitpun.
“Sudah kuduga.. ini akan terjadi.”

Esoknya, Azka berangkat ke kampus dengan motornya. Seperti dugaanya, satu kampus telah mengetahuinya. Azka dijauhi serta dibully oleh teman-temannya. Bahkan Azka dijuluki ‘Wanita Murahan’. Beda dengan Efrida. Ia tidak membully Azka ataupun melakukan hal buruk kepadanya, dia hanya diam dan tersenyum sinis saat melihat Azka. Sungguh, Azka menyesal terhadap kejadian kemarin.

Setelah seminggu lamanya, Azka terkena penyakit AIDS sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Selama sebulan lebih ia berbaring di rumah sakit tidak berdaya. Rasa sakit dan menyesal yang dihadapinya membuatnya berdoa dan berharap ia diberi kesempatan kedua. Tetapi harapan dan doa-doa itu sia-sia. Entah ini takdir atau apa tapi Azka menerimanya, ini adalah balasan yang setimpal dengan perbuatannya itu. Tubuhnya membeku dan rasa sesak napas. Ia menangis dan meminta pertolongan. Tapi sia-sia, pandangan sudah mulai gelap gulita dan tubuhnya mulai terasa kaku.

‘BIIIIIPPPP’
Garis pada alat pendektesi detak jantung yang terpasang di tubuh Azka berubah menjadi garis lurus. Para dokter pun langsung datang ke ruangan Azka dan mengecek kondisinya. Memang benar, sudah tidak ada harapan lagi. Wajah Azka ditutupi dengan kain putih dan pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga Azka.

Malamnya, Azka dipindahkan kamar mayat. Efrida yang mendengar kabar bahwa Azka meninggal langsung bergegas menuju rumah sakit. Efrida mengira bahwa berita tentang Azka itu hoax. Ternyata tidak, saat sampai di depan kamar mayat. Perasaan benci, marah, kesal, Efrida terhadap Azka memudar. Sekarang hanyalah perasan sedih yang dirasakan.

Efrida berjalan masuk ke dalam kamar mayat yang gelap. Efrida berdiri di samping tempat tidur Azka, ia tak kuasa menahan tangisannya. Air mata yang membasahi pipi Efrida mengenai jidat Azka. Efrida ingin meminta maaf tetapi ia tak dapat merangkai kata-katanya. Ia telah teringat saat terakhir kali bicara pada Azka, ia menamparnya tanpa mempedulikan perasaannya saat itu. Efrida pun mulai mencoba untuk bicara.

“Azka, ma..maaf. Meski pun jika ini adalah akhir bagi kita, aku bahagia karena telah berteman denganmu..”
Setetes air mata jatuh kembali di jidat Azka
“Efrida.. Itukah kau?”
Kalimat itu membuat Efrida bimgung dan menahan air matanya, ia segera membuka kain yang tertutup pada wajah Azka.
“Maaf Efrida.”
Efrida hanya terseyum manis menatap wajah Azka. Tidak seperti sebelumnya, sifat Azka berubah menjadi optimis dan bijak semula. Azka telah diberi kesempatan kedua. Harapan yang ia buat setiap malam tidak sia-sia. Azka sangat berterimahkasih dan merasa sangat, sangat menyesal.

“Azka.. Inikah kau?”
Azka tersenyum. Efrida langsung memanggil dokter dan dokter pun segera mengecek kondisi Azka. Azka dinyatakan sehat dan virus HIV yang berada di tubuhnya sudah tidak ada lagi. Azka telah dilahirkan kembali. Setelah tiga hari berada di rumah sakit, Azka pun diperbolehkan untuk pulang kerumah. Azka bergegas menuju rumah sahabatnya yang pernah ia abaikan.

“Efrida!!” teriaknya dengan bergembira seperti anak kecil yang baru saja bertemu dengan ibunya.
“Syukurlah kau diperbolehkan pulang.”
“Ya.. Dan maafkan aku atas yang kulakukan pada hari itu dan waktu itu.”
Efrida hanya tersenyum dan mengajak Azka ke halaman belakang rumahnya. Efrida sempat menanyai beberapa hal kepada Azka. Efrida juga bertanya apa yang dia lakukan di rumah sakit sehingga diberi kesempatan kedua.

“Azka, apa yang kamu rasakan ketika mati suri?”
“Kenangan.”
“Maksudmu?”
“Saat itu aku merasakan histori hidupku satu per satu muncul di kepalaku pada saat yang bersamaan, mulai dari yang terasa menyenangkan sampai menyedihkan dan setelah itu aku merasa berada di suatu tempat bersama seseorang. Kira-kira tempat itu adalah lapangan hijau yang luas. Seseorang itu mengatakan ‘Ini aku saudaramu, kau ingat?’. Tiba-tiba seseorang yang berada di sampingku hilang. Begitu juga pandanganku mulai kabur dan semuanya hitam.”

Efrida menatap wajah Azka yang terlihat serius.
“Siapa seseorang yang bersamamu waktu itu?”
“Entahlah, orang itu terasa familiar bagiku dan wajah kami benar-benar mirip, mungkin kami memang saudara.”
“Kakakmu?”
“Bukan. Oh ya, bisakah kamu membantu? Seperti yang kubilang, aku menyesali semuanya dan ingin mengulang hidupku.”
“Tentu.”
“Terimakasih, Ini semua berkatmu”
“Salah. Harapan yang kamu buat untuk diberi kesempatan akhirnya terwujud kan? Ini semua berkat usahamu sendiri.”
“Kau benar.”

Cerpen Karangan: Tiarasyifa Arsanda
Facebook: facebook.com/tiarasyifa.707

Cerpen Kesempatan Kedua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pulang

Oleh:
Aku menunggu di depan teras, menatap jengah jarum jam yang seakan tidak begerak. Ke mana taksi pesananku? Kalau aku terus di sini aku bisa ketinggalan kereta. “Masih belum datang

Princess Pegasus

Oleh:
Setiap peri di negeri pony pasti memiliki seekor kuda. Mereka akan mendapat kuda mereka sendiri setelah lulus dari Pony Princess Academy School. Aira sekarang duduk di tingkat 3 Pony

Pacar Bukan Untuk Slamanya

Oleh:
Aku sekolah di SMP 9 Pekanbaru. Kami awali hari dengan canda tawa, dan sukacita. Dimarahin guru sudah menjadi sarapan kami setiap hari. Kami gak egois sesama teman, walaupun kami

Ranah Itu Bertuan, Malam Diperuntukkan

Oleh:
Yang kutahu dirinya adalah anak dari keluarga terpandang. Entah itu benar ataupun salah, aku pun kurang yakin. Terlebih kulihat beberapa warga selalu menundukkan kepala acapkali orangtua Janni lewat. Hari

Malaikat Hitam Berhati Putih

Oleh:
Namaku Nanda. Aku baru saja tinggal di Belanda. Sebelumnya, aku bertempat tinggal di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Umurku masih 10 tahun. Aku pindah ke Belanda karena Ayah berpindah tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *