Kutitip Neraka di Rahimnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 4 April 2021

“Aku tahu, bahwa sesuatu yang telah pecah tidak akan pernah kembali ke semula, termasuk cinta dan kesucian, kecuali keimanan.”

Hujan mengawani malam bersama jeritan tangis menahan sakit robeknya daging untuk mengeluarkan manusia kecil dari rahim perempuan itu. Kuusap air matanya yang basah dan kepalanya yang berkeringat. Seperti akan mati, dia terlalu kewalahan menahan sakit. Andai waktu itu terjadi, mungkin aku tidak akan pernah menjadi seorang ayah sebelum waktunya.

Tanpa sanak saudara, di rumah sakit Nadia hanya bersamaku. Keluarganya tak mengetahui kehamilan ini, sebab kami memang pergi dari rumah dan menghindari kemurkaan keluarga, setelah neraka yang kutitipkan di rahim Nadia semakin terlihat.

Malam semakin larut, hujan tak juga berhenti bermain malam dan menambah kepanikan. Hujan yang mengerikan mengawan persalinan haram Nadia malam ini. Neraka itu belum juga keluar dari rahim Nadia. Dokter semakin kewalahan melayani ini, pun Nadia yang seolah sedang sekarat. Persalinannya begitu rumit dan susah, mungkin karena faktor usia, dia belum cukup umur untuk mengandung dan menjadi seorang ibu.

Seketika, kebencian terhadap diri sendiri sedang menjajahku. Aku benci dan jijik dengan diri sendiri, bahkan lebih baik mati saja daripada harus menjadi manusia yang menjijikkan dan tidak bisa dibersihkan. Aaaghrrr! Batinku menjerit penyesalan.

Kutatap arloji yang menempel di dinding putih itu, dia menunjuk ke angka di mana sembilan bulan yang lalu aku menghancurkan Nadia. Jam dua belas malam.

Teeng! Suara arloji terdengar, aku kembali menatap Nadia yang sudah semakin tersiksa. ‘Maaf, Nadia, aku tidak menginginkan ini, tapi kamu terlalu muda dan rapuh jika harus sendiri.’ Bayi itu belum juga keluar dari rahimnya, sedangkan aku sudah membenamkan sabar untuk menunggu.

“Agrrrrr! Huuuuhh! Huuhh!” Terdengar suara Nadia dari ruang persalinan.
“Sedikit lagi, Mbak, ayo sekali saja!” isyarat seorang dokter perempuan memintanya.

Batinku meringis melihat ini. Aku melangkah, membuka pintu dan memutuskan untuk berdiri di samping Nadia. Dengan begitu, mungkin dia akan melihat bahwa aku tidak meninggalkannya dan dia akan bersamaku.

“Baang, Dya dah tak kuasa,” lirihnya sendu.
“Kuat, Dya. Sedikit lagi ya,” ucapku menguatkan.

Hingga akhirnya, Nadia kembali berjuang mengeluarkan bayi yang sudah ada di ambang pintunya. Semakin kuat, tambah kuat, dan …

Aku tidak tahu apakah aku masih pantas mengucapkan alhamdulillah atas lahirnya bayi ini dengan selamat? Mengingat bahwa yang dilahirkan adalah neraka yang aku titipkan. Bayi itu menangis, entah bahagia atau sedang duka membawa petaka. Sama seperti bayi lainnya, dia menangis dan terus menangis. Dokter menyuruhku segera mengazaninya supaya suara pertama kali yang ia dengar di dunia adalah kalimat dan nama Tuhan.

Allahuakbar … allahuakbar … lailahaillah ….

Bayi itu terdiam dari tangisnya, dokter kembali membawanya dan membersihkan seluruh kotoran yang ada di tubuhnya. Namun, kutatap Nadia, dia menangis atas persalinan ini.

“Maaf dan terima kasih, Nadia,” ucapku tanpa banyak kata.
“Bagaimana dengan bayi itu? Bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana dengan sekolahku, keluargaku, dan hidupku di mata Tuhan?” tanyanya penuh amarah.

Belum saatnya dia memikirkan hal itu setelah lelah berperang dan berdiam di pintu kematian. Dia masih harus banyak istirahat dan kasih sayang semua orang, bukan memikirkan hal yang telah terjadi.
“Istirahat saja, aku tetap di sini.”

Untung Nadia menuruti apa yang kuucapkan, dia juga belum punya banyak kekuatan untuk berontak. Akan aku tunggu kondisinya membaik dan bayi itu benar-benar sehat.

Di waktu sahur, waktu orang-orang saleh menjual rakaat. Aku masih termenung di samping Nadia, memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini. Apa aku harus mengatakan ini pada ayah? Bagaimana dengan kedudukan ayah sebagai pengasuh pesantren jika beliau tahu aku menitipkan neraka di rahim perempuan? Allah, masihkah pantas aku memanggil-Mu?

Bingung, benci, menyesal menjadi satu. Apa mungkin aku akan menikahi Nadia, tapi bagaimana cara untuk membicarakan hal ini pada keluarga. Nasi telah menjadi bubur dan penyesalan selalu saja datang di akhir. Sialan!

“Baaang,” lirih Nadia.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku takut.” Perempuan itu menangis. Aku mengerti apa yang dia takuti.

Kembali hening. Aku lebih baik membisu, daripada harus memperpanjang kata yang bisa membuat kondisi Nadia menjadi drop. Ini tanggung jawabku sebagai pembawa neraka, Nadia sudah cukup dirugikan dengan masalah ini.

Aku tahu, bahwa sesuatu yang telah pecah tidak akan pernah kembali ke semula, termasuk cinta, kesucian, kecuali keimanan. Tidak ada kata ‘andai saja aku’ kalimat itu hanya menjadi pedang untuk batinku. Kini, aku hanya meratapi nasib hidup dan keadaan bayi itu.

Akan aku kembalikan Nadia ke orangtuanya, bayi itu akan aku titipkan ke panti asuhan dekat pesantren kakek di Jawa, dan aku akan melanjutkan hidup dengan menyembunyikan rahasia ini sampai akhirnya kabar harus aku beberkan untuk menjadi pertanggungjawaban dan hukuman atas apa yang aku lakukan.

“Dek, kamu tahu di mana keluarga pasien?” tanya seorang dokter padaku.
“Saya yang bertanggung jawab, Dok,” jawabku tanpa keraguan.
“Tapi kami butuh orang dewasa untuk pertanggungjawaban administrasi, Dek, bukan remaja di bawah umur.”

Jleb. Mati aku! Bagaimana dengan masalah yang baru ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya uang untuk membayar administrasi. Wahai Subuh-Nya, Tuhan! Dinginkan suasana hatiku seperti kamu mendinginkan suasana bumi.

Dengan permisi, aku pergi dari hadapan dokter. Kembali menghampiri Nadia dan membawa pulang ke rumah orangtuanya. Walau ini berat, tapi tidak ada jalan lain. Aku tidak ingin Nadia membuang atau dibuang keluarganya. Sudah tentu selama sembilan bulan dia pergi pasti orangtuanya dijajah kekhawatiran.

“Nadia, kamu harus kembali. Kita sudah selesai bermain api. Untuk sementara, kita fokus pada dunia kita dan memperbaiki semuanya.”
“Maaf, aku telah menitipkan neraka di rahimmu, dan suatu saat perkara ini harus kita kabarkan ke keluarga.”
“Aku akan cari uang untuk bayar rumah sakit dan menebus bayi itu juga membawanya ke panti asuhan,” tambahku menjelaskan.

Nadia tak mengelak, aku sangat mengerti posisinya. Posisi kami. Akibat dari pergaulan bebas dan pacaran yang hanya mengundang Iblis, kami menjadi seperti ini.

Pagi buta. Pintu depan rumah Nadia dibuka, mungkin orangtuanya. Aku segera pergi dan menyuruh Nadia masuk. Berjalan mencari pekerjaan, lalu kembali ke rumah sakit. Mencari neraka yang aku titipkan ke rahimnya.

Cerpen Karangan: Siti Dianah
Blog / Facebook: Din Alfhadiyah
Siti Dianah. Anggota Pelajar Putri Nahdatul Ulama. Seorang novelis dari Cianjur, penulis artikel, dan kini impiannya menjadi seorang penulis di cerpenmu.com

Cerpen Kutitip Neraka di Rahimnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekar

Oleh:
Diam. Dengan mata nanap, menatap sebuah lampu di ujung jalan. Tak ada yang berlalu-lalang di jalan itu. Seolah tiada kehidupan. Seorang gadis remaja 18 tahun, dengan postur tubuh yang

Maafkan Aku

Oleh:
Tak terasa sudah liburan semester. Aku dan keluarga berencana liburan ke pantai Pelabuan Ratu. Hari berlibur pun tiba, kami segera berkemas-kemas untuk pergi ke pantai. Terjadi keributan kecil ketika

Ular yang Licin

Oleh:
Suatu siang di dalam hutan, hiduplah seekor ular. “Ular.” sapa siput. “Ehh.. Siput, kenapa?” balas ular. “ular besok adalah hari ulang tahunku, kamu datang yah.” “siap siput” Siput mengajak

Peluang dan Kehidupan

Oleh:
Aku mengayuh sepeda tua warisan dari ayahku melewati sejajaran gedung-gedung tua berbahan batu bata merah yang semakin lapuk termakan usia di pinggir jalan yang sama tuanya. Udara pagi membelai

Aku Mencintaimu

Oleh:
Ughh. Perempuan itu bangun dari tidurnya. perlahan ia mengusap kedua matanya pelan lalu menatap lelaki di sampingnya, tengah tertidur lelap. lelaki itu nampak lelah karena pekerjaanya yang hampir tiap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *