Lepasnya Merpati Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 3 October 2020

Udara dingin di kawasan Pacet Mega Mendung, menusuk relung kalbuku. Sepanjang mata memandang terlihat gugusan bukit menghijau. Anak sungai berkelok diantara tebing perbukitan. Di atas batu besar kusandarkan tubuhku. Ku merenung bigitu sialnya aku hari ini.

Sudah dua hari mengelana mencari merpati putihku yang terbang jauh meninggalkan sangkarnya. Informasi pertama yang kudapat merpati putihku singgah di kawasan Grogol Jakarta Barat. Setelah menempuh perjalanan semalam aku tiba di alamat yang kudapat. Rupanya aku tidak beruntung, si pemilik rumah memberitahukan kalau merpati putihku sekarang ada di Lembah Cipendawa Pacet. Berbekal alamat yang diberikan aku mengajar ke sana. Aku tiba ketika hari mulai gelap. Dengan diantar ojek aku sampai juga dengan alamat yang kucari.

Merpati putihku, aku mencarimu menggendong rindu. Ingin segera bertemu, melepaskan dahaga jiwa yang merana. Tapi apa daya, untuk kedua kalinya aku gagal menemukanmu. Terbang kemanakah engkau? Kenapa engkau begitu sulit aku cari.

Kertas kecil berisi petunjuk persinggahanmu kubuka lagi. Ada sedikit keraguan untuk meneruskan pencarianmu. Dalam keraguan kucoba langkahkan kaki tanpa arah tujuan, kembali pulang dengan berharap merpati kelak pulang atau meneruskan pencarian.

Hari menjelang senja, hujan deras diringi petir yang menggelegar. Sambaran kilatnya menyilaukan mata. Segera ku bergegas masuk ke dalam warung kopi untuk berteduh. Badanku basah kuyup, menggigil kedinginan. Sumsum tulangku serasa membeku. Kupesan secangkir kopi hitam, segera kuseruput tanpa meniup. Panasnya kopi tak mampu menghangatkan tubuhku. Kurogoh kantong jeans bututku, kudapati Gudang Garam Filter tersisa tiga batang dalam kondisi lecek hampir basah. Kusundut kuhisap dalam-dalam.

Sambil menikmati kopi dan kebulan rokokku, tanpa sengaja manatap sesosok yang duduk seorang diri di pojok warung dengan ditemani segelas teh panas. Sosok itu berambut panjang sebahu. Mengenakan sweater kuning dan sal leher berwarna biru. Ternyata dia seorang gadis tinggi semampai kira-kira 167cm. Berhidung mancung, lehernya yang tertutup sal tidak bisa menyembunyikan kejenjangannya. Mungkin ini gadis termanis yang pernah kulihat. Aha otak sintingku mulai tidak waras. Pemandangan gratis setidaknya mampu melupakan kedinginan tubuhku.

Hujan mulai reda, kilatan dan gelegar petir telah sirna. Sang penjaga malam mulai terlihat senyumnya, walau sedikit terselimuti awan putih. Setelah membayar segelas kopi dan talas goreng segera aku bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke Bogor. Ku menunggu angkutan umum dari arah Puncak menuju Terminal Bus Baranangsiang. Tak lama berhenti di depanku mobil elf, segera aku melompat duduk di kursi paling belakang. Kuselipkan tas punggunggu di atas jok belakang. Ketika ku membalikan badan, aku terpana. Ternyata gadis yang kudapati di warung kopi tersenyum manis meminta izin duduk di sebelahku.

“Mas boleh saya duduk di sebelah?” tanyanya.
“Oh ya silakan mbak”. Aroma Bulgari Aqua lembut memancar dari tubuhnya, hemm sungguh wangi penuh pesona.

Setelah duduk rapi dia berpaling kepadaku mengulukan tangannya. Aha telapak tangannya begitu halus, jari-jarinya lentik dengan kuku-kuku yang terpelihara rapi.

“NILA DEWAYANI, mas boleh memanggilku NILA” sambil tersenyum manis dia memperkenalkan dirinya. Aku hanya melongo seperti ikan mas koki mencari makanan. Segara kubisa menguasai diriku.

“ANANDA PRASETO”, panggil saja ANAN”. Kami berdua terlibat percakapan akrab seperti sahabat lama. Cerita ngalor ngidul gak karuan. Elf meliuk-liuk menuruni turunan berkelok di kawasan Ciawi. Tubuhku bergoyang ke kiri dan ke kanan. Kadang tanpa sengaja tubuh nila menyentuh tubuhku. Setan Kecil yang bersembunyi dibawah tubuhku mulai pethakilan. Segara kusentil agar jangan kurang ajar. Diam lu kampret kecil.

Kami saling bercerita satu sama lain. Dan … Ternyata kejadian yang kualami dua hari ini hampir mirip. Aku mencari merpati putihku yang pergi tanpa pamit. Sedangkan Nila mengunjungi kampung halaman kekasihnya di kawasan Mega Mendung. Begitu tiba di rumah kekasihnya, dia dapat kenyataan bahwa kekasihnya telah menikah 3 hari yang lalu dengan gadis pilihan orangtuanya. Dengan menyeret kekecewaan Nila kembali ke Bogor. Hingga dipertemukan dengan saya di angkutan umum.

“Mas, kok yang kita alami hampir sama yah, sama-sama mencari orang yang kita cintai. Beruntung mas masih ada kemungkinan dan harapan untuk ketemu. Sedang aku sudah pasti endingnya”
“Mungkin sudah kehendak yang punya air hujan”. Jawabku menghibur.

“Terus rencana mas malam ini kemana?” tanya Nila. Aku tidak punya jawaban pasti. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Bogor. Dengan isi kantong yang tidak seberapa tentu tidak ada pilihan untuk mencari penginapan. Paling yang aku bisa lakukan singgah di termnila bus, untuk menunggu pagi hari.
“Entahlah, aku seorang diri. Tidak begitu mempedulikan diriku”. Jawabku rintih
“Kalau mas Anan mau, bisa menginap di rumahku. Kebetulan ada kamar kosong. Mas bisa menginap sesuka mas. Tak perlu membayar”. Mendapat tawaran istimewa ditengah keterbatasanku, tentu sangat menggembirakanku.
“Trimakasih Nila, bukan aku menolak bantuan Nila. Tapi rasanya itu tidak pantas kuterima. Aku seorang lelaki asing yang baru kau kenal, apa kata keluarga dan tetanggmu. Jika malam-malam kau mengajak lelaki asing”. Aku mencoba menolak halus. Setan kecil mulai berbisik menggodaku. Aku hafal bener sifat setan kecil peliharaanku.
“Tidak apa-apa kok mas, aku tinggal berdua dengan Dewi adikku, masih kelas tiga SMP. Kedua orangtuaku tinggal di Jakarta mengelola usaha kecil di sana. Kebetulan yang jadi Ketua RT masih pamanku. Nanti aku yang bicara, bahwa mas akan menginap di rumahku.” Mendengar penjelasan Nila, setan kecil kampret melonjak kegirangan. Dalam hati aku mengumpat, diam lu bangsat.

Tanpa terasa mobil elf sudah tiba di Terminal Bus Baranangsiang. Kami berdua bergegas turun. Akhirnya aku menerima tawaran Nila untuk menginap di rumah Nila di kawasan Warung Jambu. Dengan menaiki angkot tak lama aku tiba di rumah Nila. Sebuah rumah mungil berkamar tiga. Di sekeliling rumah tampak banyak pepohonan, mulai rambutan, manggis, mangga dan Mlinjo. Sungguh tempat tinggal yang nyaman, dinaungi rindangnya pepohonan.

Dewi membuka pintu mendengar pintu di ketuk. Seorang remaja cantik rambutnya berkepang dua. Mengenakan Piyama putih berbahan katun. Sekilas Dewi mirip kakaknya. Dewi mencium tangan kakaknya juga tanganku.

“Silakan duduk mas Anan, saya akan persiapkan Air panas untuk mandi”. Nila bergegas ke belakang, sedangkan Dewi tak lama keluar membawa segelas teh manis panas.

“Silakan diminum kak, Dewi kebelakang dulu bantuin Kak Nila”
“Iya Trimakasih Dewi”

Kurang lebih sepeminuman teh, Nila mempersilahkan saya mandi. Sambil menyerahkan handuk, Sarung dan Kaos untuk saya gunakan.

Aku segera bergegas ke kamar mandi, yang letaknya di samping dapur. Selama aku mandi Nila dan adiknya sibuk menyiapkan makan malam.

Di meja makan telah tersedia menu sederhana buat kami makan bertiga. Hawa dingin, dan perjalanan yang melelahkan hari ini, menambah selera makanku. Entah berapa kali Nila menambahkan nasi ke piringku. Dan semuanya segera berpindah ke perutku.

Selesai makan malam bersama, Nila pamit mandi. Sedangkan aku diantar Dewi pergi ke rumah pamannya yang jadi Ketua RT. Untuk melaporkan bahwa malam ini saya menginap di rumah Nila. Aku sodorkan kartu identitasku kepada Pak RT, setelah dicatat saya dipersilakan kembali.

Jam dinding berdetang sepuluh kali, kelopak mataku tak kuat menahan kantuk. Segera aku ke kamar untuk tidur, tak lupa pesan kepada Dewi supaya disampaikan kepada kakaknya kalau saya izin tidur duluan.

Kurebahkan tubuhku di atas dipan kayu dengan kasur berselimut kuning dengan kembang-kembang berwarna merah. Biarlah kampret-kampret, burung hantu yang menjaga malamku.

Kokok ayam jago dan suara adzan subuh bersautan, membuatku terbangun dari tidurku. Begitu aku membuka mata. Aku tersentak nyaris meloncat. Mendapati Nila masih terlelap memelukku. Tampak nila mengenakan gaun malam tipis berbahan sutra. Sepasang gunung Sindoro Sumbing terlihat membusung. Bersyukur malam ini aku terlelap sampai pagi. Aku tidak bisa membayangkan jika kami berdua sama-sama melek dalam satu ranjang.

Setan kecil, kamu masih kecil. Belum saatnya Kampret.

Cerpen Karangan: Anan Sukanan
Facebook: facebook.com/skennanda

Cerpen Lepasnya Merpati Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taruhan Cinta

Oleh:
Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh

Handi, Sang Juragan Beras

Oleh:
Handi hanyalah seorang pemuda dari desa, dia tidak terlahir dari keluarga berada. Pada masa remajanya handi membantu keuangan keluarganya dengan menjadi petani yang menjaga sawah milik keluarga kaya yang

Friendzone In Wakatobi

Oleh:
Gue Lota, 22 tahun. Status single. Pacaran terakhir kali 3 tahun yang lalu. Alasan putus? Klasik. Gue putus karena beda, beda gaji, beda kasta, dan gue lelah. Atau mungkin

Puber? Puber!

Oleh:
Pagi hari aku membuka jendela… “hoaaaammm” kataku menguap dan menikmati segarnya udara pagi, tiba-tiba… “Kak Rista! Kak!” teriakku dari dalam kamar, “Apa sih? Manggil aja lo, Gak tahu apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Lepasnya Merpati Putih”

  1. Hakim says:

    Hampir sangat mustahil untuk terjadi di real life

  2. Yoga says:

    Entah kenapa,saya suka sekali dengan cerpen buatan kak anan,ada yang menghibur mengundang tawa,ada yang membuat sedih,dan ada yang membuat hati jomblo ini merasakan iri:v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *