Mati Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 June 2015

Pria berusia sekitar 50an itu, bertamu ke rumah bersama seorang anak lelaki. Aku masih belum ngeh siapa sebenarnya tamu yang datang menjelang berangkat kerja pada pagi hari. Yang jelas kedatangannya itu disampaikan oleh istriku bahwa ada orang yang bertemu denganku. Dia mengaku masih bertetangga di kampung halaman. Dia sudah duduk di sofa ruang tamu, rambutnya sudah mulai beruban dan kerutan muka tirusnya terlihat dan kantong matanya yang tebal menggantung. Namun dari perawakannya terlihat kekar dengan otot-otot ke luar dari tangannya sembari kulit menghitam terbakar matahari yang cukup lama. Aku menduga dia merupakan seorang pekerja keras, paling tidak sepanjang hidupnya disibukkan di ladang atau sawah. Akh tapi saya menduga bahwa bapak itu kantong matanya menggantung itu, karena kelelahan yang mungkin sudah mengikuti perjalanan panjang dari kampung halamannya ke rumahku yang berada di pinggiran Kota Bekasi itu. Sedangkan putranya berusia sekitar 10 tahun, perawakannya hampir mirip dengan bapaknya. Ya seorang pekerja keras. Pakaiannya sendiri terlihat sudah usang, padahal secara usia dia mungkin dia generasi anak muda saat ini yang sedang berdandan mengikuti trend artis-artis di televisi.

Dia sudah berada di hadapanku dan di meja dua gelas yang berisikan kopi hitam sudah tersedia bersama goreng pisang dan bakwan dari warung sebelah yang sengaja dibelikan oleh istriku. Pas pertama kali bertatapan mata, dia tercekat dan demikian pula dengan diriku, karena sama sekali tidak mengetahui. Kekakuan itu berubah saat bertanya melalui kata-katanya yang ke luar dari mulutnya dengan sejumlah gigi yang telah tanggal. “Masih ingat tidak dengan saya,” katanya.
Pikiranku pun mencoba menerka-nerka siapa sosok di hadapanku itu dan sepersekian detik itu tetap tak bisa memecahkan siapa orang yang di hadapanku.
Akhirnya dia mengalah dengan memperkenalkan diri, “Saya Pak Sobri, tetangga emakmu di kampung,” katanya.

Kembali saya mencoba mengaduk-ngaduk ingatan dua puluh tahun lalu, saat setiap liburan kuliah pulang kampung bersama emak dan bapak. Tentunya setiap pulang kampung, semua famili dan tetangga pada berdatangan, mereka berkumpul dan tamu pun silih berganti berkunjung ke rumah tua yang di atasnya tertera tahun 1926 itu. Dari mereka sekadar ingin melepas kangen sampai menginginkan mendapatkan oleh-oleh yang katanya pemberian orangtua. Suasana indah saat itu. Salah satu saudara yang usia sepadan denganku diperkenalkan oleh ibuku, “Dia anaknya Mak Itam, ayahnya sobat bapakmu saat kecil, bapaknya dulu sama bapaknya sering tidur di surau,” ingatan yang mulai tergali sedikit demi sedikit. Tapi sepengetahuanku pemuda itu, memiliki perawakan yang tidak seperti saat ini. Tapi yang jelas cukup lama peristiwa itu, ya 30 tahun hingga memoriku agak melambat untuk bergerak mengingat keseharianku saat ini hanya bekerja dan bekerja atau meeting agenda pemberitaan.

“Aku Sobri yang rumahnya tepat di seberang rumah orangtuamu di kampung,” katanya kembali.
“Yang aku tahu namanya Syaiful dulu pernah dikenalkan oleh emak, dulu suka mengajak menonton pertunjukan “samarantang” di sekolahan SD,” kataku. Pertunjuk samarantang yang penuh pantuan itu cukup menarik dan saat itu suka diajak dalam satu pekan berada di kampung, meski harus pulang melewati pematang sawah dengan mendorong-dorong sepeda angin di tengah malam.
“Ya Syaiful itu aku, panggilanku Sobri,” katanya.
Penjelasan singkat itu membuat aku kaget dan tanpa disadari langsung memeluknya setelah sekian lama tidak bertemu.
Saat itu, dia hanya menginap di rumah semalam dan kedatangannya itu hanya sebentar karena dia harus kembali lagi ke tempat tinggalnya di pedalaman Sumatera untuk berkebun di lahan garapan.

Empat tahun kemudian, Pesawat yang akan membawaku ke tanah Andalas itu, didelay hingga untuk mengisi waktu yang menjemukkan harus menunggu selama dua jam, dengan menghubungi Emak untuk mengabarkan bahwa kedatanganku agak terhambat setelah sebelumnya mengabari istri mengenai posisi dan kondisi saat ini. Memang, kepulangan kali ini, setelah sekian puluh tahun tidak pernah menengok kampung halaman menjadi pengalaman yang berarti sekali. Meski tidak membawa istri dan dua anakku. Sekaligus untuk membayar nazar untuk memperbaiki makam bapak yang katanya melalui saluran telepon kakaku bahwa makamnya tidak terurus karena banyaknya ilalang di sekitarnya. Memang Emak sendiri, baru tinggal di kampung halaman setelah puluhan tahun berada di tanah rantau bersama bapak, empat tahun belakangan ini tinggal di kampung untuk mengisi masa tuanya dan mengurus tanah pusako. Satu tahun kemudian, bapak meninggal tepat saat memasuki usia 74 tahun, kepergiannya itu mendadak dan di saat anak laki-laki satu-satunya itu tengah berada di negeri Indo China untuk sebuah perjalanan dinas. Kabar duka itu datang dari kakakku sembari terisak-isak menangis dan menyatakan penyesalannya tidak mampu menjaganya. Air mata itu tetap ditahan karena masih ingat nasehat Bapak yang menyatakan pantang seorang anak laki-laki mengeluarkan air mata, meski emak di belakang menyatakan menangis itu adalah lahiriah seorang manusia. Jadi tidak jadi masalah untuk mengeluarkan air mata sebagai tempat untuk mengeluarkan. “Keluarkanlah tangismu, keluarkanlah kekesalanmu itu lewat air mata hingga kekesalan itu ke luar semuanya,” minta Emak. Aku baru bisa datang ke tanah pusara yang masih merah itu dan batu nisan sementara dari kayu, satu pekan kemudian dan hanya satu hari berada di sana untuk menghibur emak.

Pesawat mendarat mulus, taksi tua itu berjalan menyusuri jalan yang tandus karena saat itu sudah memasuki musim kemarau. Debu-debu itu menyambut kedatangan di saat menahan kerinduan ingin bertemu dengan emak, si uni dan makam bapak. Sanak famili sudah berkumpul kembali dan mereka pergi datang terus berganti. Sampai meminta jaketku yang dikenakan, dan mereka pulang dengan bahagia. “Nah ini, jaket kota,” kata salah seorang famili.

Batu nisan yang sudah berusia tua, berjajar dan di antaranya rompal yang dirusak oleh jawi karena pemiliknya mengikatkan tambang plastik itu di batangan nisan itu. Jawi itu tampak tenang memakan rerumputan ilalang. Ya makamnya, tepat berada di pojok depan. Gundukan yang di atasnya ditanami rumput Cina, aku terpekur di sampingnya. Memegang nisan batu. Sembari ditemani Uni, langkah kaki meninggalkan komplek pemakaman keluarga. Saat melangkah mata tertuju pada nisan yang tampaknya masih baru dengan tanah masih merah sembari bunga-bunga rampe di atasnya. Ditaksir, makam itu paling tidak baru dua pekan. Seperti biasanya dari dahulu, setiap mengantarkan pemakaman, iseng-iseng melihat tanggal lahir dan tanggal kematiannya penghuni pekuburan. “Syaiful bin Ihsan, 19 Januari 1973, wafat: di…, Tercekat membaca batu nisan kayu yang di ujungnya membulat itu. “Mungkinkah itu, Sobri,”. Rasa penasaran atas nama yang ditulis melalui spidol hitam. “Iya, itu Sobri,” kata Uni. Kamu pasti kenal, dulu dia sering menanyakan bekerja dan tinggal dimana kamu, sambungnya. Kalau gak salah, dulu Uni juga pernah memberi alamat kamu di Bekasi, pas dia lagi menengok mamaknya yang buka rumah makan, tambahnya. Aku pun kembali mengingat kembali kedatangannya ke rumah pas pagi hari menjelang keberangkatan bekerja bersama anaknya yang berusia 10 tahun itu. Kembali dirangkai-rangkai puzzle pikiran untuk menjadi satu ingatan utuh. Dia datang dan tidur hanya semalam. Kedatangannya sempat mengagetkan karena sama sekali tidak mengenal sosok yang sudah menua sebelum waktunya. Tanpa bertanya, Uni menjelaskan kematiannya itu pada insiden antara keamanan sebuah perusahaan kayu dengan para petani penggarap. “Kejadiannya itu, masuk berita di televisi kok sama koran-koran,” katanya.

Pas melewati rumahnya masih ada bendera kuning yang terpasang di tengah-tengah pohon kelapa. Bendera kuning sudah nyaris jatuh ke bawah namun masih tertahan oleh tali rafia berwarna senada. Pikiran itu bercampur aduk antara kedatangan dirinya ke rumah, gundukan tanah yang masih merah dan insiden itu. “Jangan-jangan berita insiden itu, yang pernah diedit olehku,” dalam hati mengingat kejadian tersebut. Karena yang aku tahu, korban tewasnya dua orang itu bernama Syaiful dan Paryono. … 21/3, (…) – Dua tewas di tempat dan 15 luka-luka, dalam bentrokan antara keamanan sebuah perusahaan… dengan warga yang menuntut agar perusahaan tersebut untuk meninggalkan tanah milik mereka. Kedua koban tewas itu diduga akibat tusukan senjata tajam. Kedua petani tersebut, yakni, Syaiful (40) dan Paryono (52), sedangkan 15 korban luka-luka dirawat di salah satu rumah sakit setempat. Menurut…, mereka tiba-tiba diserang saat melakukan aksi unjuk rasa yang menuntut agar perusahaan asing itu untuk segera meninggalkan tanah milik warga yang sudah dimiliki secara turun temurun. Perusahaan tersebut, mengklaim jika mereka sudah memiliki tanah seluas… hektar…

Di tengah lamunan di depan rumah emak, seorang bocah yang memiliki cacat mental itu datang ke rumah, seakan-akan dia sudah menjadi pemilik rumah. Dengan langkah kaki yang diseret-seret dan di hidungnya terus ke luar ingus. Bajunya pun sudah tidak berbentuk lagi. Tidak lama emak ke luar dari kamar, dan memberikan uang selembar ribuan, dan dia pun melangkah menuju lapau dengan perasaan senang. “Itu si Buyung, anaknya Sobri,” katanya. Aku hanya bisa terdiam melihat si Buyung dari belakang yang pelan-pelan menghilang dari kerimbunan dedaunan yang menjadi pagar rumah. “Mungkinkah, dia merasa kehilangan bapaknya di saat dirinya masih membutuhkan perhatian,” batinku. Yang jelas, kematian Sobri alias Syaiful itu terhitung muda, yakni, 40 tahun dan mati demi mendapatkan haknya di atas lahan milik keluarga istrinya itu…

*jawi: kerbau (bahasa Minang)
*puzzle: gambar bersusun
*tanah pusako: tanah pusaka untuk kaum perempuan

Cerpen Karangan: Riza Fahriza

Cerpen Mati Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara Gara Wawancara

Oleh:
Semilir angin malam terasa begitu sejuk bagi Pak Abu. Setelah seharian ia bergelut dengan berbagai macam pertanyaan dan silaunya blitz kamera, akhirnya selesailah sudah bebannya untuk hari ini. Menjadi

Pesona Emak Emak Indonesia

Oleh:
Orangtua, ibu terutama, tidak akan pernah senang melihat anaknya menganggur. Menganggur yang kumaksud disini bukannya tidak memiliki pekerjaan tetap yang menghasilkan uang. Tapi menganggur dalam arti, hanya di rumah

RyA

Oleh:
Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah ini. Namun tak sekali pun kisah ini terealisasikan dalam kehidupan nyata. Ku ingatkan, kisah ini bukan kisah fiksi. Kisah ini didasarkan pada sejarah.

Hujan Membawa Takdirku

Oleh:
Di ruangan yang minimalis dengan susunan ranjang, lemari dan cermin hias yang tertata rapi, membuat suasana kamar ini indah di malam hari. Kupandangi wajah suami yang sangat aku cintai.

Dialog Singkat

Oleh:
Tiba-tiba saja tubuh Alan lemas tidak berdaya, kemudian ia putuskan untuk berbaring sejenak tanpa menghiraukan waktu yang semakin petang. Kembali lagi ia ambil ponsel dari saku celananya, dan ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *