Melesatkan Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 2 June 2014

Kenyang rasa perutku tiba-tiba. Membaca pesan singkat abah yang berbunyi “malam ini jasmine nikah, mau ikut tidak?”
Perutku yang lapar, tanganku yang cekatan memotong-motong batagor yang masih hangat itu tiba-tiba kehilangan speednya. Mual dan mual saja rasanya. Ya Allah, apa rencanaMu buat hambaMu ini.

Tenagaku terkuras habis, kelahiran rafa yang premature mau tidak mau membuatku ikut sibuk bolak balik rumah sakit. Walau statusnya keponakan, tapi mereka sudah seperti anak-anakku sendiri, dua keponakanku kini tumbuh sehat, yang satu ini lahir mendadak. Urusan kantor terbengkalai, ketika member kuliah pun aku sering kali menjadi ngantuk, namun melihat si kecil yang juga sedang berjuang, tenagaku seperti terisi kembali. Rasa laparku yang luar biasa pun cukup menguras kantong, sehingga kabar pernikahan sepupu dekatku ini pun terlewatkan dari telingaku
Ya sepupu sekali yang seusia denganku.

Aku khawatir, membludak pertanyaan dan rasa kedua orangtuaku karena aku sendiri hingga kini masih betah menyendiri. Mereka menganggap aku terlalu pemilih. Karena jika melihat fisikku, tak mungkin rasanya tidak ada kaum adam yang menolak. Ditambah dengan gelar magister yang kucapai dalam usia muda, dan kini aku adalah salah satu dosen muda di salah satu PTS ternama di kotaku.

Entah apa rencana Yang Maha Kuasa ini. Seringkali perasaan muak menyeruak, manakala banyak yang mencoba menggodaku. Bahkan mahasiswa saja ada yang berani menyatakan rasa sukanya padaku, ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang terang-terangan. Geleng-geleng kepala saja aku melihat perilaku mereka. Aku menganggap wajar, karena usiaku tidak jauh berbeda dengan mereka. Bahkan ada mahasiswa yang lebih tua dari usia ku.

Beberapa waktu silam, aku sempat menolak lamaran yang datang padaku, aku belum siap, dan caranya memperkenalkan diri, tidak sesuai kehendakku, ya, si perfeksionis seperti diriku ini apa boleh buat. Salah sedikit, tidak akan mencoba lagi.

Beberapa bulan silam, seseorang yang pernah singgah di hatiku, dan bahkan sempat berkeinginan untuk ta’aruf dengaku pun ternyata telah memilih akhwat lain. Ku kira, Allah akan mempertemukan aku dengan beliau segera setelah aku menyelesaikan studi S2 ku yang satu kota dengan beliau. Ternyata aku salah

Beberapa tahun silam, seseorang pun pernah mencoba masuk ke dalam hari-hariku. Beliau sedang dalam masa studi S2 dan merupakan pegawai di Dinas Pemerintah Provinsi. Karena ego ia pun tak pelak aku tolak
Banyak hal, banyak hal kawan. Mengapa aku melewatkan orang-orang seperti itu.
Aku bukan sosok pemilih, tapi justru dalam memilih kawan seumur hidup, seleksi itu perlu. Salah satu seleksi yang pertama, adalah bagaimana hubungannya dengan Allah SWT
Aku juga ingin tahu, seberapa besar cintanya pada Rasullulah SAW
Aku pun ingin, ia mencintai keluarganya, memuja ibunya, dan menghormati ayahnya, menyayangi saudara saudaranya sepenuh hati
Aku pun juga ingin, ia memiliki kemampuan akademis yang baik, memiliki pekerjaan yang baik dan benar pula
Aku hanya ingin kelak, mewujudkan impian S3 bersama (calon) imamku
Tapi siapakah dia Ya Allah?
Kemana lagi aku mengadu?
Bahwa hati ini pun sesak jua
Begitu banyak kekurangan dan minus dalam diriku
Yang sadar harus aku revisi, namun, apakah aku belum pantas untuk memiliki seorang imam?

Cerpen Karangan: Rahmi
Blog: Http://susantirahmi.blogspot.com

Cerpen Melesatkan Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Di Sudut Sepi

Oleh:
Aku berjalan gontai menatap senja. Hati ku kian hancur. Ku mencari cara hingga ku mendapati mata itu. Tersenyum dan tertawa jika senja menyapa. Selalu saja ku dapati senyum itu

Jembatan

Oleh:
Hampir setiap petang menjelang magrib aku selalu memperhatikan lelaki aneh itu, wajahnya kusut-masai, mengenakan celana hitam, baju hitam, sepatu hitam. Berjalan bolak-balik di atas jembatan, kadang terlihat ia menjambak

Gadis Renta

Oleh:
Tak terasa, ternyata sudah satu pekan aku berbaring di tempat tidur ini. Kaku, sakit, ngilu. Ya Tuhan apa sebenarnya yang terjadi padaku? apa ini pertanda? tapi kapan waktunya? cepat

Inikah Hadiah Karena Keikhlasanku?

Oleh:
Malam ini Bulan terasa lebih Indah. Ia mulai memancarkan sinarnya hingga awan pun tak berani untuk menutupi kilaunya yang megah. Suara binatang malam pun ikut menari menambah lengkapnya suasana

Jiwa Malaikat

Oleh:
Siang itu terik matahari yang menyengat mulai menyentuh kulit kepala sang bocah bernama Andini, belum lagi sang kakak yang seharian berkeliling mendorong gerobak mengorek-ngorek sampah dan berharap menemukan barang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Melesatkan Waktu”

  1. Ecih says:

    Bgus jg crta’y

  2. nurifa jay says:

    kurang menarik ceritanya -__-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *