Mencari Jawaban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 March 2021

“Kenapa hidupku hanya begini saja?” pertanyaan itu selalu saja menghantuiku selama ini, sudah kutanyakan pada mesin pintar yang kata orang-orang dapat menjawab semua pertanyaan namun aku tak dapat menenukan jawabannya. Kemana lagi aku harus mencari jawaban yang sangat sulit itu.

Sudah setahun ini aku hanya di rumah saja, setelah lulus kuliah aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginanku. Kesana kemari setiap hari, dimanapun sudah kucoba untuk melamar pekerjaan, namun tetap saja dewi keberuntungan belum berpihak padaku.

Siang ini terasa sekali sang surya naik tepat diatas ubun-ubun seakan membakarku hidup-hidup, lalu lalang orang melewatiku begitu saja. Aku duduk di sebuah bangku di taman kota, sambil kulihat seorang anak kecil berusia sekitar 9 tahun berdiri tak jauh dariku sambil menggendong sebuah bakul di punggungnya. Tubuhnya yang kurus ringkih mampu membawa beban yang cukup berat itu, karena kulihat keringat menetes di keningnya hingga membuat bajunya sedikit basah.

Derap kakinya yang mungil semakin mendekatiku, sambil minum es kelapa muda kuperhatikan terus bocah lelaki itu, hingga sampai di depanku ia masih diam saja.

“Ada ada, kenapa kau melihatku begitu?” kutanya setelah lima belas menit ia hanya diam saja didepanku. Namun ia hanya menggelengkan kepala, entah apa maksudnya.

“Kau mau minum?” kutanya sekali lagi, karena kupikir ia haus mengingat cuaca yang sangat panas ini. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Segera kubelikan segelas es kelapa muda yang sama denganku, lalu kuberikan padanya. Anehnya ia tidak segera meminumnya, malahan ia menurunkan bakul yang ia gendong tadi. Awalnya kupikir ia ingin istirahat dan duduk di sebelahku sambil menikmati es kelapa muda itu.

Ia segera mengeluarkan isi dari bakul itu dan meletakkannya di sampingku. Betapa terkejutnya aku melihat apa yang ada di dalam bakul itu. Seorang batita perempuan dengan baju yang lusuh serta ingus yang menetes hampir mengenai mulutnya. Segera kuambil tisu di dalam tasku.

“Hei kenapa kau menaruhnya di dalam bakul?” tanyaku pada sang kakak sambil membersihkan ingus anak kecil ini. Entah kenapa tidak membuatku jijik sama sekali dan justru merasa iba.

“Kemanapun aku pergi aku selalu membawanya, karena dia adalah hartaku satu-satunya. Orangtuaku sudah tiada, jadi aku yang menjaga dan merawat adikku.” Jelasnya sembari menyuapi es kelapa muda itu pada adiknya. Sang adik nampak senang menerima suapan itu, dan sesekali menyuapi sang kakak dengan tangan mungilnya, aku sampai bingung harus berekspresi bagaimana, sedih melihat keadaan mereka atau terharu akan sikapnya pada sang adik serta rasa saling menyayangi diantara keduanya.

Dan kulihat keadaan sekitar banyak orang yang melihat interaksi kami, ingat hanya melihat tanpa berempati pada anak kecil ini. Beginikah nasib orang yang jauh lebih tidak beruntung? aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tergerak hatiku membelikan makanan dan beberapa kebutuhan mereka, meskipun tak banyak merasa sangat senang. Akhirnya ia bercerita bahwa ia bekerja sebagai penjual kerupuk keliling dengan hasil tidak menentu setiap harinya.

Dari pertemuan itu aku mendapatkan sebuah jawaban yang selama ini kucari, yaitu rasa syukur, usaha, serta pantang menyerah, itu yang tak kumiliki selama ini. Karena kuakui selama ini hidupku kurang bersyukur dan selalu menginginkan sesuatu yang sempurna apapun itu. Sejak pertemuan itu, aku sering bertemu dengan kedua bocah kecil dan berbagi rejeki bersama mereka.

Cerpen Karangan: MayCiada
Blog / Facebook: Maria Lucia

Cerpen Mencari Jawaban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dengan Diriku Yang Biasanya

Oleh:
Hampir setiap tahun ada saja kendala, Memang satu paket yang tak bisa dipisahkan, Pria tua itu sudah berkali-kali melakukannya, Ia membuat resah keluarga di rumah, Dengan keresahan yang tidak

Semoga Ibu Memaafkanku

Oleh:
Saat malam benar-benar dingin karena tertiupnya angin malam yang mengenai pepohonan dan rumah-rumah semuanya bergerak senada dengan angin yang berhembus itu, orang-orang berlindung di balik selimut mereka yang hangat,

Kopi Pending

Oleh:
Naples, Italia. Tempat paling pas untuk ngopi sepulang kerja. Ditambah pemandangan kota yang perlahan menelan senja tepat di depan mata. Keindahan yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Setelah pulang

Mimipi Indah Stasiun Cikampek

Oleh:
Dinginnya stasiun Cikampek, terasa kurang sekali untuk mendinginkan hatiku yang sedang panas malam ini. Aku, seorang pria dengan detak jantung yang masih berdenyut cepat terduduk di tepian peron saat

Kau tak Sendiri

Oleh:
Apakah diantara kalian ada yang pernah membayangkan yang akan terjadi pada diri kalian begitu hari berganti? Aku rasa kalian pernah membayangkannya, tapi hasilnya berbeda jauh dengan apa yang kalian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *