Saat Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 August 2017

Jujur, aku adalah tipe pria yang sulit memberikan perhatian pada pasangan. Entah karena ada hal apa yang membuat diriku ini terlihat menarik bagi kaum hawa. Aku bukan pria yang sombong dan sedang menyombongkan diri, tapi yang jelas aku sudah ada yang punya. Cinta sejati itu hanyalah kepalsuan, pengorbanan adalah buktinya. Saat kita berkorban untuk seseorang yang sangat dicintai dan berpikir bahwa dengan cara seperti itu cinta sejati akan datang, itu bodoh. Berkorban sama halnya dengan kita menghancurkan diri sendiri, lebih baik pergunakan untuk hal yang jelas ada gunanya.

Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Karena aku pernah berkorban, berkorban untuk seseorang yang pernah menjebak perasaanku sendiri. Seperti menghancurkan diri sendiri, aku malah tersesat dalam pedihnya pengorbanan. Lalu aku mencoba berpikir setelah keluar dari pedihnya pengorbanan, dan hal pertama yang aku pikirkan adalah rencana Tuhan selalu benar.

Kemudian aku merasakan lagi cinta, cinta yang membuat gairahku menjadi maksimal. Ketahuilah brother dalam sebuah hubungan itu sebenarnya memang perlu pengorbanan, aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu karena pengalaman telah membuatku sadar akan pedihnya berkorban, dan satu kali berkorban itu lebih dari cukup.

Kali ini keberuntungan memang tidak menghampiriku. Tapi percayalah mukjizat Tuhan itu selalu ada dan yang namanya keajaiban sebenarnya hanya satu banding seratus juta. Tuhan telah menurunkan seorang malaikat, malaikat itu telah merebut paksa aku beserta perasaanku.

Seperti yang aku katakan bahwa aku bukanlah tipe pria yang mudah memberi sebuah perhatian, aku hanya cukup sediakan gitar dan melantunkan sebuah lagu. Percaya atau tidak, itu bisa disebut keromantisan dalam kecanggungan. Itu bukan salahku dan bukan juga karena ada yang salah pada kenyataan, itu hanya sebuah kenyataan yang dipertanyakan.

Kadang kala aku tertawa saat mengingat masa masa pengorbananku, itu seperti sebuah memori yang lucu. Entah kemana perginya sosok perempuan itu, sejauh apapun ia pergi tetap tak pernah bisa terhapus dari memori otakku.

Sosok malaikat pengganti itu telah berada sangat dekat denganku, di sini di hati. Ia adalah kaki saat aku tak bisa berjalan, dialah tangan saat aku tak bisa meraih, mata saat aku tak mampu melihat dan hati saat aku merasakan sakitnya berkorban untuk seseorang yang tak ingin mendapat pengorbanan. Dia datang saat aku sepi, dia mencari saat aku hilang, dia terang saat gelap menyerbu dan dia cinta saat aku kosong. Malaikat itu adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan.

Tuhan selalu benar, di bawah batu nisan ini malaikatku tengah tertidur lelap. Sungguh air mataku tak berguna, hanya doa yang ia inginkan. Ini adalah sebuah kenyataan yang sedang kupertanyakaan. Kenyataan yang terasa begitu sulit jika aku bayangkan dan terasa begitu sakit jika kurasakan. Tapi, kesanggupan dan keikhlasan telah memenuhi raga jiwa untuk melepas malaikatku itu. Sekarang apa yang aku dapatkan? hanya sebuah memori.

Ini adalah saat terakhir aku melihat malaikat pendampingku, namun panjatan doa untuknya tak akan pernah aku akhiri. Aku hanya akan menjalani kehidupan baru, sebuah fase baru dan yang lama biarlah berlalu. Selamat jalan dan selamat tinggal untuk malaikat yang pernah mengisi kekosongan jiwaku. Ingatlah bahwa Tuhan itu selalu benar.

Ryme In Peace..

Cerpen Karangan: Krismunandar
Blog: onda.nextblog.id

Cerpen Saat Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nathan dan Thalia

Oleh:
Thalia yang masih saja duduk sendiri di café, sambil menikmat vanilla latte panas kesukaannya yang sengaja dia nikmati sembari memandang hujan yang mulai menyentuh dinding kaca café itu. Thalia

Kosong Tiga (Part 2)

Oleh:
Pukul 15.30 saat menunggu giliran antri jalur tak jauh dari tempat parkir angkot terdapat sebuah mall yang besar dan sudah ramai diserbu para pembeli, Jaka memperhatikan dari jauh kesibukan

Nilai Sebuah Keridloan

Oleh:
Menjadi ustadz TPQ memang mempunyai keunikan tersendiri. Satu sisi gelar ini sangat mulia, dihormati orang, dipanggil Ustaaad… oleh santri-santri, dan mempunyai kenikmatan batin tersendiri ketika bisa menyampaikan ilmu membaca

Revenge

Oleh:
Hanya satu hal yang aku inginkan. Betapa aku menginginkannya. Aku berharap semua ini berlalu. Layaknya jarum jam yang terus berputar. Satu menit, dua menit. Satu jam, dua jam. Layaknya

Demi Hari yang Menanti di Ujung Harapan

Oleh:
Pagi itu, ketika udara terasa basah oleh embun pagi, aku memulai rutinitas mingguanku menjelajahi kota. Dengan berbekal sepatu sport, aku pun melesat menyusuri jalan setapak sekitar rumahku. Belum 100

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *