Si Kutu Barbershop (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 October 2020

Sore itu senja menyisir sebagian semesta, bunga-bunga yang tergeletak di atas rumah kian mengering. Aku dapati ia mulai layu, aku merasa berdosa, meninggalkannya sendiri di beranda rumah. aku ambil satu ember yang berisikan air, kubasuhi bunga yang hampir layu tersebut. Hembus angin mengindahkan suasana, dari atas, aku melihat kawan lamaku yang tiba-tiba menghentikan laju sepeda motornya itu. Yere namanya, ia bersama si buah hati dan istrinya, Yere berhenti dengan raut wajah tersenyum, sepertinya ada kabar gembira yang ingin ia sampaikan padaku.

“oi..bud, kamu ini lagi apa?” wajahnya menjulur ke atas memandangku
“aku lagi memandikan bunga yer” ucapku dari atas rumah memandangi yere.
Sahut istrinya menepuk pundak yere, “yang, ayo hari sudah hampir petang, kita harus ke rawa bendungan dulu, setelah itu baru kita mampir lagi kesini.” Yere merasa bimbang antara dia harus menghampiri aku dulu atau menuju rawa bendungan. Lalu aku suruh dia untuk merampungkan tujuan utamanya menuju rawa bendungan, akhirnya yere pun meninggalkan ku sejenak, dan yere pun meninggalkan janji, jika ia akan kembali lagi selepas dari tugasnya.

Hari mulai petang, lampu-lampu di seberang jalan mulai dinyalakan. Hanya saja lampu tiang pemerintah yang berada di depan rumahku sudah tidak berfungsi lagi sejak 1 bulan yang lalu, jadi lampu rumahku lah yang menjadi penerang jalan. Aku pun kembali menuju kamarku menyelesaikan tugasku untuk menulis.

Suara adzan magrib terdengar gamblang di telinga, suara gemuruh kendaraan yang melewati depan rumahku sementara sunyi. Terdengar dari ruang tamu ibu memanggilku “bud, turun, ada temanmu yang mencarimu.” Tanpa aku menjawab ucapan ibu, aku langsung bergegas turun menuju ruang tamu, aku temui yere bersama buah si hati dan istrinya masih menunggu di beranda rumah. Aku persilahkan mereka tuk masuk, menduduki kursi yang selalu disediakan di ruang tamu, tanpa basa-basi, yere pun menawariku sebuah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku, yaitu mencukur rambut di barbershop. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, mengasah kemampuanku pula dalam bidang mencukur rambut, agar tangan ini dapat menari-nari kembali di atas kepala orang.

Si buah hati yere terus-terusan meminta pulang, sejenak menghentikan laju obrolanku dengan yere. Adikku yang kini baru menduduki bangku taman kanak-kanak itu pun mencoba menghibur anak yere yang merengek minta pulang. Setelah sejenak suara itu mereda, kami pun melanjutkan perbincangan tadi, mengenai pekerjaan sebagai tukang cukur rambut. Aku pun mengiyakan ajakan yere untuk bekerja di barber tersebut, dan nanti aku bisa langsung menuju tempat barber itu untuk menanyakan lebih jelas dan detail.

Suara bising kendaraan selepas maghrib mulai terdengar lagi, reng-reng suara orong-orong pun hanya beberapa saja yang masih terdengar. Si buah hati yere kembali menangis, ia meminta untuk segera kembali pulang atau menuju alun-alun. Yere pun harus memenuhi permintaan si buah hati, ditimanglah si buah hati bersama istri yere. Yere pun menyampaikan, jika nanti setelah isya aku diharapkan bisa ke rumahnya dan sekalian menuju barbershop tersebut. Yere, si buah hati dan istrinya pun segera berpamitan untuk meninggalkan kursi yang nampaknya sudah kempot itu. Mereka berpamitan kepada ibundaku tercinta dan mereka segera pulang, untuk memenuhi perintah si buah hati.

Aku segera menuju kamar mandi untuk menyeka tubuhku yang terasa asam, subun di kamar mandi kian mengecil, aku jadi berpikir. Tak mungkin aku berlama-lama menganggur di rumah, sedangkan kebutuhan kian lama kian mendesak, belum lagi hutang-hutangku di kelontongan, kian hari kian membengkak.

Tubuh sudah terasa segar bermandikan air, dengan sentuhan sabun yang sangat kecil untuk kugenggam, Aku segera bersiap-siap menuju rumah yere mengenakan sepeda motor. Setelah sesampainya aku di rumah yere, yere langsung mengajakku menuju barbershop. Disana kami bertemu dengan si pemilik barbershop tersebut, wajahnya nampak jelas masih memiliki darah tionghoa, wajahnya putih, tubunnya agak gemuk dan matanya pun sangat sipit. Si pemilik barbershop pun mengajukan pertanyaan kepadaku perihal pengalaman kerjaku sebagai tukang cukur rambut. Akupun menjawab dengan kejujuranku, jika memang sebenarnya aku belum pernah merasakan kerja sebagai tukang cukur rambut di barbershop maupun di pangkas rambut, namun pengalamanku dalam mencukur kurasa sedikit cukup, untuk modal awal aku mengembangkan bakatku dan selalu membiasakan hal yang mungkin belum aku bisa seperti memotong rambut dengan menggunakan unduk dan model-model potongan rambut yang lain menjadi terbiasa. Si pemilik barber tersebut menyuruhku, jika besok pagi pukul 09:00, aku harus sudah berada di tempat, untuk interview.

Selepas itu aku bersama yere pun kembali pulang menuju rumah yere. Sejenak, kami bicarakan kehidupan aneh kami di masa muda, hingga tak terasa kami seperti lelaki sudah berumur yang memiliki tanggungan untuk hari tua. Waktu malam kian larut, tak mungkin aku menyiksa pintu rumahku untuk memaksakan membuka kehadirku, aku pun segera berpamitan.

Gelapnya kamar menemani tidurku, membayangkan jika esok aku bisa diterima untuk bekerja, sebab aku memiliki tujuan di akhir tahun ini. Hari sudah mulai pagi, suara adzan subuh membangunkanku dari mimpiku, aku bergegas mengambil air wudhu, untuk melaksanakan kewajibanku, setelah itu, sembari menunggu jarum jam menunjukan pukul 09:00, aku melanjutkan pekerjaanku menulis, dan waktupun sangat cepat, tanpa aku rasa jarum jam mengingatkanku jika sudah pukul 08:30. Aku pun segera mandi, terdengar dari luar rumah seperti ribuan air menetes yang menyerang genteng rumahku. Ternyata hujan datang, tanpa kuundang. Semangatku pun bampir pupus, melihat derasnya hujan yang jatuh dari langit dan tak ada satu pun kendaraan pribadi di rumah yang bisa kugunakan menuju barbershop. Namun aku tak ingin membuat enyah semangatku, walaupun tak ada motor, tak masalah, aku masih bisa menggunakan angkutan umum menuju barbershop, walaupun hujan turun tak membuat semangatku ciut untuk tetap berjalan di atas aspal yang nampak seperti balong. Sepertinya aku hampir telat, dan aku harus menghubungi nomor barber tersebut, jika aku meminta maaf atas mulurnya waktu dengan sebab-sebab yang jelas, tanpa berniat membuat alesan yang tak mutu.

Dalam perjalanan, air menjatuhkan dirinya kembali di atas tanah, angkot yang telah kutunggangi tetap saja berjalan menuju tempat yang aku tuju, dan akhirnya pun aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Aku langsung menemui si pemilik barber tersebut, menyatakan siap untuk langsung interview. Pertanyaan-pertanyaaan pengalaman kerja, upah, biografi pun dilontarkan. Si pemilik barber tersebut pun menyatakan, jika besok aku bisa langsung melaksanakan tugasku membuka barbershop ini. Aku sebagai orang pertama yang menginjakan kaki untuk memulai merintis di barber ini, dengan pengalamanku yang tak cukup banyak dalam pekerjaan mencukur rambut, aku beranikan diri dengan yakin, jika aku mampu.

Hari beranjak siang, perkenalanku bersama tempat dan peralatan cukur yang lain pun aku rasa cukup. matahari sudah mulai bersandar di atas kepala, si pemilik barber menyuruhku untuk kembali pulang, dan besok aku akan memulai pekerjaanku dari pukul 13:00 hingga pukul 22:00.

Setelah dari barber, aku pun segera melangkahkan kaki menuju tempat dimana yere bekerja. Jaraknya lumayan jauh, yere pun berkerja di barbershop juga, namun hanya tempat kita yang berbeda. Kudapati yere sedang mencukur rambut seseorang. Aku pun masuk dan melihat model-model rambut di barbershop tersebut, sambil melihat, bertanya dan sekalian belajar. Setelah itu yere pun memutuskan untuk pulang menuju rumah yere. Kami pun sama-sama berjalan kaki. Sepeda yang yere bawa kami tuntun bersama, tak mungkin jika kami tunggangi berdua sepeda yang berukuran kecil tersebut, yang ada nanti semplak.

Dalam perjalanan kami bertemu kawan lama kami yang bernama sukma, kami mengajaknya menuju rumah yere pula. Dalam luangnya waktu yang kosong, kami habiskan bersama dengan obrolan-obrolan, hingga tak terasa malam mengingatkanku, jika hari akan larut. Akupun segera diantarkan yere kembali pulang menuju rumah.

Cerpen Karangan: Nevvin Hanjuna
Blog / Facebook: Nevvinhanjuna.blogspot.com / Nevvin Cimplukan
menulis adalah hidup

Cerpen Si Kutu Barbershop (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akulah Tulang Rusukmu

Oleh:
Perlahan, kristal-kristal bening mengucur tenang di pelipis gadis itu. Wajahnya tetap memeancarkan keteduhan, walau sinar terik matahari menyiram seluruh inci bagian wajahnya. Cerahnya biru terang terlukis di petala langit.

Jangan Buta

Oleh:
Liburan telah tiba. Wahid mengajak Yanto berlibur di kota untuk melepas lelah setelah lama bekerja di desa. “Di desa memang membosankan, tidak ada tempat refreshing”, ucap Yanto setelah mengiyakan

Rapor Maria

Oleh:
“Sudah pulang, Nak?” Maria berdiri di depan pintu dengan perasaan takut. Ibunda tersenyum di atas sofa ketika menyulam lalu membuka kedua lengannya menyambut kedatangan anaknya. Maria berlari memeluk ibunda.

Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Oleh:
Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku

Kind Heart

Oleh:
“Kamu pikirkan lagi deh, Mes. Apa yang kamu liat dari dia? Kamu itu satu-satunya harapan keluarga kita. Kamu satu-satunya anak Ayah dan Bunda yang sukses dan punya penghasilan tetap.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *