Terlahir Tanpa Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 10 April 2015

Malang sekali nasib gadis yang bernama Ningsih itu. Meskipun ia hidup dengan kasih sayang nenek dan kakeknya. Ayah dan ibu selalu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi ia tak boleh bertemu dengan seorang laki-laki yang bernama Irfan yang sebenarnya ayah kandungnya. Bahkan jika suatu saat nanti bila dia menikah.

Tujuh belas tahun yang lalu Pak Buari dan Bu Tika memaksakan anak gadisnya yang baru lulus SD untuk menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Irfan. Pak Buari dan Bu Tika terlambat punya anak, karena itulah mereka memaksakan putri sulungnya yang baru usia 13 tahun untuk dinikahkan. mereka ingin segera menimang cucu.

Reva gadis yang mestinya masih duduk di kelas satu SMP itu. Kini tak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu belum pernah merasakan jatuh cinta meskipun itu hanya cinta monyet. kini dia harus menuruti kehendak bapak dan ibunya.

Pagi itu rumah Pak Buari dan Bu Tika ramai sekali. Sanak saudara dan para tetangga berkumpul untuk membantu persiapan pesta pernikahan Reva. Ibu-ibu sibuk di dapur untuk membuat aneka macam kue dan masakan yang lain. Bapak-bapak sibuk memasang terop dan janur di depan rumah Pak Buari. Dan sebagian ada yang sibuk menyembelih sapi.

Hari pun makin sore matahari merasa telah menyelesaikan tugasnya dan kini dia bersembunyi di balik gunung. Suara adzan magrib bergema, kurang lebih tinggal satu jam lagi Reva mengakhiri masa remajanya. Karena bakda Isya nanti Walimatul urusy akan dimulai ijab kabul pernikahan Reva dan Irfan akan dilaksanakan

“Ayo Nduk! Hapus air matamu, kamu tak perlu menangis lagi calon suami dan pengiring sudah datang. Pak penghulu juga datang” kata Bu Tika kepada Reva.

Gadis itu telah menghapus air matanya. Tapi air mata itu masih terus saja mengalir di pipinya. Matanya menjadi bengkak karena seharian dia menangis. Tidak ada kebahagiaan yang ada rasa ketakutan. Bagaimana ia nanti akan dinikahkan dengan orang yang tidak dicintainya dia takut sekali jika harus tidur dengan pria dewasa yang belum pernah ada dalam benaknya. Namun karena kepolosannya dia tak punya ide untuk menolak pernikahan tersebut.

Dua bulan kemudian gadis yang bernama Reva tersebut akan tidur nyenyak di kamarnya. Karena laki-laki yang menjadi suaminya tidak lagi di rumah itu. Semenjak ijab Kabul dilaksanakan Reva tidak pernah tidur dengan suaminya dia selalu menangis dia takut. Meskipun ibunya selalu membujuknya secara halus agar Reva tidur dengan suaminya. “Kamu sudah punya suami Nduk, kamu tidak perlu tidur sama ibu lagi. Suamimu baik dan juga tampan dia tidakakan menyakitimu”.

Malam itu udara terasa panas. Reva segera memasuki kamarnya. Karena udara yang panas dia tidur hanya memakai baju tidur bagaian dalam saja. Dia tidak pernah membayangkan dan tidak menyadarinya bahwa di bawah kolong kamar tidurnya ada seorang laki-laki yang dibencinya dan akan menggoreskan kenangan paling pahit dan menyakitkan dalam hidupnya.

Malam itu Irfan sudah habis kesabarannya, dia akan melaksanakan tugas sebagai suami dan sekaligus hak sebagai suami. Dia keluar dari kolong ranjang dimana Reva tidur. Laki-laki itu segera mengikat tangan gadis itu dan segera menyumpal mulutnya dengan kaos dalam. Gadis itu matanya terbelalak namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan kakinya terikat mulutnya tersumpal.

Akhirnya gadis itu hanya bisa menangis dan menyesali semua kejadian yang baru dialaminya. Peristiwa yang menyakitkan seluruh jiwa dan raganya dan semakin benci dan jijik dia melihat laki-laki yang menjadi suaminnya.

Bagi Bapak dan Ibu Buari peristiwa yang dialami Reva semalam tak menjadikannya khawatir. Mereka malah senang. Mereka beranggapan dengan kejadian tersebut Reva akan belajar mencintai suaminya dan mereka akan menimang cucu sehingga pernikahan Reva dan Irfan akan berlanjut.

Semakin bertambah hari Reva merasa ada kelainan pada dirinya, kepalanya sering pusing dan muntah-muntah. Dia tidak mau makan tubuhnya semakin kurus dan seperti tak terurus. Dia tidak ceria, dia selalu bersedih. Dari tatapan matanya dia menyimpan rasa benci yang amat sangat pada laki-laki yang bernama Irfan

Melihat tanda seperti itu Bapak Buari dan Ibu Tika menyadari bahwa anaknya sedang hamil. Mereka ingin membahagiakan anaknya dengan membelikan berbagai macam makanan kesukaan anaknya dan berbagai model baju hamil. Akan tetapi Reva tetap tidak bahagia. Dia tidak senang dengan kehamilannya. Dia berharap bayi itu tidak akan ada.

“Tidak… Tidak…!, aku tidak ingin hamil aku tidak ingin anak itu” Sambil menangis dan melompat-lompat serta memukuli perutnya yang masih belum kelihatan buncit Reva berharap bayi di rahimnya gugur.

Melihat kejadian itu Bapak Buari dan Ibu Tika cemas dan segera memeluk anaknya. “Jangan Nak! Jangan lakukan itu nanti terrjadi apa-apa pada dirimu dan juga janin di rahimmu itu” Pinta Ibu Tika dengan penuh rasa khawatir.

Sembilan bulan kemudian perut Reva semakin besar dan badannya kurus, karena ia tidak mau makan dan dia tidak meminum vitamin yang diberikan dokter dan bidan untuk diri dan bayinya..

Reva merasa hidupnya tiada arti lagi, hidupnya terampas mestinya gadis seusianya masih mengenyam pendidikan di SMP dan dia akan bersenang-senang dengan teman seusianya. Tapi ini sebaliknya dia harus bersiap-siap mempertaruhkan nyawa untuk bayi yang tidak diharapkan.

Dengan mata berkaca-kaca dia berkata pada dirinya sendiri “Tuhan aku sudah siap jika saat melahirkan bayi ini akan kau ambil nyawaku, sebab hidupku sudah tak ada artinya lagi, aku takkan bisa mengembalikan waktuku, kehadiran bayi ini akan semakin mengingatkan pada malam yang menakutkan itu”.

Tanpa sengaja ucapan Reva yang ditujukan pada dirinya itu didengar Ibu Tika. Wanita itu terlambat menyadari bahwa dirinya telah merampas kebahagian putri pertamanya yang baru ia punya setelah menikah selama tujuh belas tahun dengan Pak Buari

Akhirnya waktu yang diperkirakan tiba. Malam itu Reva merasakan sakit pada perutnya. Bapak Buari dan Ibu Tika menyadari bahwa anaknya akan melahirkan .Mereka segera memanggil dukun bayi dan bidan desa untuk membantu persalinan anaknya.

Sementara itu di desa sebelah seorang laki-laki yang bernama Irfan menerima tamu seorang ojekan. Ojekan itu diminta Pak Buari untuk menyusul Irfan karena Reva mau melahirkan.

Rupanya setelah malam yang menyakitkan itu Reva selalu menangis dan mau mengakhiri hidupnya jika laki-laki yang menyebabkan dia mengandung bayi yang tidak diharapkan itu masih ada di rumahnya. Dia ingin laki-laki itu menceraikannya dan dia tidak ingin lagi melihat pria itu di rumahnya.

Tangis bayi itu memecah kesunyian malam. Malam itu mestinya malam yang menyenangkan bagi pria yang bernama Irfan karena dia kini mempunyai anak. Bahagia dan sedih bercampur baur dirasa laki-laki itu. Bahagia karena dikaruniai seorang anak perempuan cantik, tapi dia juga sedih karena putrinya terlahir bukan karena keinginan Reva, bayi ini bukan bayi yang diharapkan kelahirannya oleh ibunya, bayi ini dilahirkan tanpa cinta.

Bayi prempuan yang cantik itu diberi nama Ningsih oleh kakeknya yaitu Pak Buari. Irfan mau memberi nama pada bayi itu tapi Pak Buari telah menyiapkan nama untuk bayi itu.

Setelah kelahiran bayi itu Irfan tak punya pilihan lain dia harus mengabulkan permohonan cerai Reva. Dia tidak bisa memberikan kasih sayang penuh pada putrinya itu, karena kebencian Reva yang mendarah daging itu yang membatasi dia bertemu putrinya.

Bapak Buari dan Ibu Tika sangat sibuk sekali. Seperti mereka mempunyai anak sendiri. Karena cucunya yang bernama Ningsih yang dilahirkan Reva itu menjadi tanggung jawab mereka. Reva tidak mau menyusui bayi itu bahkan untuk menggendong dan melihatnya tidak mau. Dia tidak mengharapkan bayi itu, dia tidak mencintai bayi itu.

Dengan penuh kasih sayang Bapak Buari dan Ibu Tika mendidik dan membesarkan bayi yang bernama Ningsih itu. Akhirnya hati Reva terbuka juga dia mulai menyayangi anaknya meskipun dia bukan anak yang diharapkan kelahirannya.

Lima belas tahun kemudian Reva memulai hidupnya kembali. Dia menikah dengan seorang duda kaya raya dari Purwodadi. Reva meninggalkan kampung halamannya karena mengikuti suaminya. Dari pernikahan dengan pria itu dia dikaruniai seorang putri.

Kini Reva hidup bahagia. Laki-laki yang menikahinya itu menerima apa adanya bahkan anak perempuan yang dilahirkan tanpa cinta yang bernama Ningsih itu dibawanya. Suaminya menyayangi anak itu membiayai sekolah dan memenuhi segala kebutuhannya.

Ningsih hidup bahagia bersama ibunya dan ayah tirinya itu. Segala kebutuhan terpenuhi. Tapi sebagai anak yang memiliki ayah kandung yang menyebabkan adanya dia. Dia ingin sekali menemui Bapaknya yang bernama Irfan yang kini telah berkeluarga lagi. Tapi kebencian ibunya yang mendarah daging itu dia tidak bisa leluasa bertemu bapaknya. Ibunya akan sangat marah jika tahu dia bertemu bapaknya atau menerima sesuatu dari bapaknya..

Hindun Diana itulah nama adik Ningsih hasil pernikahan ibunya dengan Pak Surya ayah tirinya yang menganggap dirinya bagai anak kandungnya itu. Ningsih melihat betapa bahagianya adiknya itu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari ayah ibunya sejak dalam kandungan.. Tidak seperti dirinya yang terlahir bukan karena cinta.

Walaupun Ningsih terlahir bukan karena cinta dia bersyukur karena ibunya sudah menyayangi dan mencintainya dan dia juga mendapatkan kasih sayang seorang bapak dari suami ibunya. Pak Surya menyayangi Ningsih seperti sayangnya pada Hindun Diana.

TAMAT

Cerpen Karangan: Alvan.M.A
Facebook: Alvan Railfans

Cerpen Terlahir Tanpa Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Foto Kusam

Oleh:
Bintang-bintang gemerlap penuh cahaya, dilengkapi oleh sang rembulan yang menghiasi malam itu penuh dengan kesunyian. Aku yang masih duduk terpaku di teras rumah kosku sambil memandangi foto kusam yang

Rizki dan Cita-Cita

Oleh:
Butiran air bening menghiasi pagi-pagi rizki sang anak pesantren, sekaligus anak yang terpandang rajin di pesantren darul ihsan, semua teman-temannya senang bergaul dengannya setiap malam puncak di pesantren tersebut

Kuliah Atau Mencari Jodoh

Oleh:
Kuliah dan Mencari Jodoh sama-sama diinginkan oleh setiap laki-laki maupun perempuan, dahulu mungkin mencari jodoh adalah hal Yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi seiring berkembangnya jaman, wanita seolah

Menyapa Heningmu

Oleh:
Hujan yang mengguyur kota kecil ini yang membuat perasaan gembira pada anak-anak yang menjadikan setiap hujan merupakan balasan dari Tuhan atas doa mereka, dan membasahi jiwa-jiwa yang tandus dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Terlahir Tanpa Cinta”

  1. yayah says:

    duh ceritanya bikin greget, keren n mendidik bgt…. smangat

  2. david says:

    Kece ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *