Akhir Yang Menyakitkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 February 2021

Malam telah larut, namun suasana jalanan masih ramai. Aku yang seharusnya lelap dibalik selimut hangat, sekarang malah harus terus berjalan tanpa tujuan. Hanya bintang bintang yang selalu menemaniku dalam kesunyian malam ini.

Namaku Misya, salah satu murid di kelas XIII SMA negeri jogjakarta. Aku tinggal di rumah yang besar bersama ibu, dan adik kecilku bernama Hanna. Tapi sekarang tidak lagi, ibu tiba tiba memutuskan agar aku pergi dari sana. Menurutku itu sangat mendadak dan tidak jelas sekali. Ibuku yang kukenal orangnya penyayang dan lembut.

Masih teringat jelas di kepalaku saat ibu tiba tiba menarikku dan menyuruhku mengemas barang barang lalu secepat mungkin pergi dari sana. Kata kata ini terngiang ngiang di telingaku “Pergilah nak ibu mohon” kenapa sampai memohon mohon seperti itu? Aneh. “Ok, Misya pergi kok! Makasih buat selama ini bu, Assalamualaikum” ibu diam tak berkutik. Untung saja ayah sedang bekerja di luar kota. Kalau tidak ibu pasti sudah dimarahi habis habisan.

Sebelum aku benar benar pergi, aku memeluk adik mungilku, Hanna. Aku mempertegas langkahku, menggendong ransel besar berisi barang barang yang aku perlukan. Entah apa yang dipikirkan ibu saat itu. Tapi aku tak boleh menyerah. Aku sudah dewasa dan sudah saatnya menempuh hidup baru.

Sesekali aku melirik jam tanganku, hari semakin larut tapi aku tak tau harus kemana. Sudah menjadi kebiasaanku begadang tiap hari, jadi aku tak merasa ngantuk. Apa lagi tadi sudah tidur siang lama sekali. Beberapa saat setelahnya, aku memilih untuk duduk sebentar di depan dudukan toko yang sudah tutup. Sesekali aku mengecek handphoneku, dan kulihat ada 12 panggilan tak terjawab dari ibu. Kenapa ibu masih hubungin aku?

Akupun melanjutkan perjalananku dan berniat untuk naik angkutan umum sementara ini. Hal yang tak terduga terjadi saat aku sedang menyeberang jalan. Sebuah mobil putih melaju kencang dan menabrakku hingga aku terbanting di kerasnya aspal. Meski gelap, aku masih bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidung dan dahiku. Pemilik mobil itu menghampiriku, aku tak kalau ternyata itu ayahku sendiri. Awalnya ayahpun tak tau bahwa akulah yang dia tabrak “Oh… maaf dek, saya bawa ke rumah sa..” ucapan ayah terpotong. Mungkin karena dia baru tau siapa aku sebenarnya. Sejak saat itu aku tak tau apa apa lagi, semuanya terasa gelap.

Aku terbangun dalam pagi yang suram. Ayah dan ibu berada di sampingku sambil menggendong hanna yang masih berusia 8 bulan. Kulihat mata ibu sembab dan wajahnya pucat. Sudah kutebak apa yang akan dikatakannya, maaf. “Sudah siuman nak? Ibu khawatir sekali denganmu” aku terdiam sejenak dengan ucapan ibu. “Bukannya ini yang ibu inginkan? Ibu udah gak sayang aku lagi kan” mata ibu berkaca kaca. Pandanganku langsung tertuju pada alat pendeteksi jantung di sampingku.

Seketika semuanya terasa berat. Aku pasrah kalaupun Tuhan akan mencabut nyawaku sekarang. Makin lama semuanya makin kelam. Dadaku sesak. Dan mungkin inilah akhirnya, ikhlaskan aku semuanya…

Cerpen Karangan: Lia Warokah
Blog / Facebook: Rozi

Cerpen Akhir Yang Menyakitkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Istri Virtual

Oleh:
“Sayur Jengkol sudah matang.” Sheila menulis kalimat itu di dinding facebook suaminya di android pemberian mertuanya dua hari yang lalu.. Ia tidak menunggu jawaban tapi mengepak barang-barang berharganya di

Kejutan Buat Milah

Oleh:
Namanya Anisa Firdaus Jamilah (Milah). Siswi kelas 4A Sdit Al-Kaarim ini mempunyai sepupu perempuan yang sangat cintai. Nama sepupunya Nathalina atau disapa Natha, dan Anasthasya atau disapa Thasya. Natha

Doa Terakhir Sang Penari

Oleh:
Lagi-lagi, oksigenku dirampas bebas alkohol, tontonanku tetap berkutat pada lampu yang berkedip-kedip manja, tapi beringas, benar-benar meluluh lantahkan logika manusia-manusia tak beretika ini. Pendengaranku masih dibungkam gaduh dan riuh

Cangkul Rindu

Oleh:
Padahal sudah jam 23:30, Lita belum juga tidur. Bocah 4 tahun ini teringat ibunya yang meninggal tiga tahun yang lalu. Ditatap terus foto ibunya lewat KTP lusuh yang ia

Ini Rumah Kita Bu

Oleh:
Sakit itu selalu membuatnya menderita. Pikirannya yang mulai pikun pun menyiksanya. 7 hari sudah dia dirawat di rumah sakit dan dia pun selalu bertanya. “Kapan aku pulang?” “Sungguh aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *