Bintang Kecil (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 August 2015

Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada.

“suara gue bagus kan Rey?” tanya Tirsya dengan terus memandang langit malam bertabur bintang bersama sahabatnya Reyhan.

Sepasang anak manusia terlihat sedang merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau, memandangi langit malam bertaburan bintang. Reyhan dan Tirsya adalah sepasang sahabat yang tak akan mungkin dapat dipisahkan. Tangan Tirsya menunjuk ke langit wajahnya yang mungil tersiram angin malam yang dingin.

“Rey gue suka loh bintang yang paling besar itu, bagus banget ya Rey lo suka gak?” tangan Reyhan menunjuk ke arah langit hitam bertaburan bintang dan jarinya membentuk lingkaran.
“Sya sini deh ngedeket ke gue”
“ada apa sih serius amat?”

Reyhan merangkul pundak Tirsya dengan lembut, tangan kirinya menunjukkan lingkaran yang dibuatnya.

“gue gak suka bintang yang besar yang lo suka itu, gue suka dengan bintang yang di sampingnya itu yang gue lingkarin dengan jari gue ini”

Reyhan tersenyum renyah melihat wajah Tirsya yang bingung dengan jawaban yang tidak memuaskan hatinya itu, Reyhan memalingkan tubuhnya menghadap Tirsya yang masih mematung melihat bintang yang ditunjuk oleh Reyhan dengan wajah yang menandakan seribu pertanyaan.

“Sya, kenapa gue paling suka dengan yang itu?”

Tirsya masih diam memandang langit dan enggan menolehkan pandangannya dari jutaan bintang di langit.
“bintang itu melambangkan diri lo Sya?”

Reyhan menggenggam tangan Tirsya yang dingin, Tirsya menoleh dan tersenyum penasaran, mata mereka bertemu dan saling memandang.

“kenapa gue harus menjadi bintang yang kecil bagi lo, kenapa gue bukan menjadi bintang yang paling besar itu Rey, yang bersinar paling terang?” Mata Tirsya bersinar menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Rey.
“walaupun menurut lo dan semua orang bintang itu paling kecil tapi bagi gue bintang itu paling besar sebab Sya, lo berbeda dari yang lain walaupun kata Om dan Tante lo orangnya usil, cerewet, manja tapi di hati ini, di jiwa ini lo sangat besar dan berarti bagi gue”

Tangan Reyhan menunjuk letak jantungnya dan dengan lembut tangan Reyhan memegang kedua pipi tembam Tirsya dengan mata terus memandang dan memasuki kedua kelopak mata sahabat di depannya itu.

“sungguh gue gak mau dan gak akan pernah mau jauh apalagi sampai harus kehilangan lo terlebih gak bisa melihat wajah lo, senyuman lo, Sya gue sayang sama lo”

Tak disadari Tirsya air matanya sudah membasahi pipinya menangis haru mendengar semua kata-kata Reyhan, perbedaan umur di antara mereka membuat Tirsya nyaman berada di sisi Reyhan, sejak kecil Reyhan selalu menjaganya seperti adik kandung Reyhan sendiri. Tangan lembut Reyhan mengusap air mata yang membasahi pipi Tirsya dan keduanya terus menikmati pemandangan langit di atas kepala mereka.

Dari seberang rumahnya Tirsya melihat jendela kamar Reyhan berwarna biru bergambar bintang pagi ini sudah terbuka.

“sedang apakah dia pagi ini? tidak biasanya ia membuka jendela kamarnya sepagi ini” pikir Tirsya dalam hati.

Tirsya berkaca di depan cermin di samping jendela kamarnya, ia melihat sosok laki-laki sedang melambaikan tangan di depan jendela kamarnya. Reyhan terus melambaikan tangannya, Reyhan tidak biasanya masih terbalut baju tidur dan sepagi ini sudah menyapa Tirsya dari seberang.

Tirsya kembali membalas lambaian tangan di seberang rumahnya, senyuman kedua anak itu membuat pagi ini semakin sejuk. Senyuman yang tulus dari dalam diri dua insan yang sedang beranjak dewasa. Terdengar deringan handphone Tirsya, ia membuka satu pesan dari Reyhan dan tersenyum lebar.

“Reyhannya gue?”
“Sya, nanti malem ke taman ya? gue mau kasih sesuatu ke lo, tunggu gue ya. Sepulang dari kampus gue langsung jemput lo. Oke?”

Pagi ini dimulainya dengan aktifitas yang indah, daftar isi kegiatan hari ini sudah disusunnya sejak tadi malam. Entah mengapa ada kerinduan yang mendalam pada seseorang di benaknya, Reyhan seolah ingin memelukknya dan tak akan melepaskannya. Ada kekhawatiran yang ia takutkan yaitu kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupnya.

“Aku seperti ini juga karena kamu. Kamu yang memulai perperangan ini!” teriak seseorang di lantai bawah rumah Reyhan.
“siapa yang berselingkuh! hah?! aku selama ini bekerja mati-matian demi kamu dan Rey sekarang kamu bilang aku berselingkuh?!” Suara itu tak kalah kuat dari suara wanita sebelumnya.

Reyhan yang ingin melangkahkan kakinya di tangga enggan ia lanjutkan menuruni anak tangganya sudah ia pijak, ia berdiri di tangga melihat kedua orangtuanya bertengkar hebat bagi Reyhan pemandangan seperti ini sudah biasa baginya.

Ingin sekali rasanya ia menangis, tapi urung dilakukan baginya tak akan ada gunanya menangis, tak akan merubah semua keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Reyhan mengingat saat ia masih kecil, keluarganya begitu harmonis, kasih sayang bertebaran di sekelilingnya, tidak ada jeritan, tangisan, amarah, pukulan seperti sekarang ini.

Tapi semenjak dia duduk di bangku SMA semua menjadi neraka baginya karena saat itu Papanya kepergok sedang berselingkuh di depan Mamanya. Kejadian itulah awal dari keterpurukkan semuanya ini, Mamanya sekarang sering keluar malam, menghabiskan waktunya di luar rumah bahkan sampai tak pulang, sebab itulah Mamanya tak pernah mempedulikan dirinya lagi. Begitupun Papanya sibuk mencari uang dan hanya bisa memberi uang tanpa memberi kasih sayang yang ia rindukan.

“Apa?! Kamu ingin menamparku?! tampar saja!”

Reyhan terbangun dari lamunannya saat mendengar Mamanya berteriak-teriak, dengan pelan Reyhan melangkahkan kakinya turun dari tangga. Tanpa dikomando keheningan muncul, tak ada cacian seperti beberapa detik lalu pandangan kedua orangtua itu tertuju pada suara langkah Reyhan yang menuruni tangga. Reyhan menundukkan kepalanya menenggelamkan perasaannya pagi ini.

“Rey Mama buatkan sarapan ya, roti isi keju kesukaan kamu” Indah mendekati putranya memegang pundak anaknya lembut.

Reyhan menatap wajah Mamanya lembut, ingin sekali ia memeluk Mamanya sebentar saja, terbesit perasaan tak tega saat Mamanya dicaci oleh Papanya tapi Reyhan lebih baik berdiam diri menahan semua kegelisahannya itu. Reyhan menggenggam kedua tangan Mamanya, menggelengkan kepalanya pelan.

“Rey tidak lapar Ma. Mama, Rey sayang sama Mama. Mama jangan lupa makan jaga kesehatan Mama,”

Reyhan meninggalkan rumahnya dan memacu mobilnya cepat. Indah menangis tersedu-sedu mendengar kata-kata Reyhan barusan, ia merasa bersalah selama ini ia terlalu sibuk untuk mencari obat penyakit rumah tangganya, tak pernah ia berpikir tentang perasaan anaknya.

Reyhan berhenti di depan toko perhiasan langganan keluarganya, ia memarkirkan mobil sportnya di halaman depan. Ia mengeluarkan surat pemesanan kalung yang ia inginkan kemarin.

“selamat datang mas Rey? ada yang bisa saya bantu?” suara wanita setengah baya itu sangat lembut dan menarik pelanggan, pantas saja sejak ia masih kecil sampai sekarang wanita itu tidak beranjak meninggalkan pekerjaannya.

Reyhan merogoh saku celananya mencari-cari kertas putih yang ia keluarkan dari dalam dompetnya tadi. Ia segera memberikannya kepada pelayan wanita itu. Reyhan menunggu pesanan yang ia inginkan datang dan matanya tertuju pada kalung emas putih bergandul bintang di dalam bulan.

“mbak saya mau kalung itu, tolong dibungkus dalam kotak” Reyhan tersenyum tipis, akan ada hadiah untuk kedua wanita yang ia sayangi di dunia ini.

Tirsya melihat jam dinding di sudut ruang tamu, ia gelisah menanti kedatangan Reyhan. Tirsya memakai gaun putih dan mengurai rambut panjangnya menjepitkan rambutnya dengan pita kupu-kupu.

“mau maen ya Sya sama Rey?” tanya Mama Tirsya yang sejak tadi memperhatikan tingkah gelisah anak semata wayangnya itu.
“ya nih Ma, katanya sih akan ada sesuatu gitu yang mau dikasih Tirsya makanya Tirsya dandan cantik begini hehe,”

Mama dan Papa Tirsya tersenyum geli melihat anak gadisnya memuji dirinya sendiri, tidak ada ketakutan di antara mereka saat Tirsya akan keluar malam bersama Reyhan bagi mereka Reyhan sudah seperti kakak bagi Tirsya ia yang selalu menjaga Tirsya, memperhatikan tingkah laku Tirsya selama ini.

Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah, Tirsya berlari kecil menemui seseorang di dalam mobil itu.

“ma, pa Tirsya pergi dulu ya?”

Senyuman terlukis di bibir Tirsya tatkala mendengar suara mobil Reyhan, Reyhan membuka jendela mobilnya melambaikan tangan kepada gadis di depannya yang sangat cantik berbalutkan gaun putih, rambutnya yang berterbangan tertiup angin malam.

“lo udah makan belum sya?” tanya Reyhan tanpa memalingkan pandangannya.
“hehehe,”

Reyhan tertawa renyah, ia tahu betul kebiasaan Tirsya jika ia mengajaknya pergi Tirsya akan sengaja tidak makan dari rumah. Terngiang di telinganya perkataan minggu lalu saat mereka berdua akan pergi ke taman.

“Rey lo tahu gak kenapa gue kalau lo ngajak gue pergi gue sengaja gak makan dari rumah? Dan selalu minta traktir ataupun makan bareng sama lo?”
“emang kenapa Sya?”
“gue mau setiap malam saat kita jalan berdua kaya gini, gue mau ada kesempatan makan bareng sama lo, pagi, siang kita sarapan dan makan sama orangtua kita nah! kalau malam gue mau manfaatin ngehabisin waktu bareng sama lo”

Kata-kata itu selalu terngiang di dalam pikiran Reyhan tak akan pernah ia melupakan semuanya, semua cerita bersama sahabatnya itu. Pandangan Tirsya tak lepas dari wajah di depannya, ada perasaan kerinduan yang mendalam di hatinya pada Reyhan ingin ia memeluknya erat hingga ia bisa melepaskan kerinduan ini entah apa yang terjadi pada dirinya setiap hari mereka bertemu, menghabiskan waktu berdua tetapi kenapa kali ini ada perasaan rindu membara di batinnya.

“gue gak mau kehilangan lo Rey gak mau,” suara hati Tirsya, terus mengulang kalimat itu berkali-kali.

Reyhan menghentikan mobilnya di depan taman biasa mereka menghabiskan waktu memandangi langit bertabur bintang. Tirsya keluar dan segera menaiki ayunan di taman itu.

“tutup kedua mata lo Sya,” suara Reyhan dari balik tubuh Tirsya.

Tirsya menuruti semua perkataan Reyhan, ia menutup kedua matanya. Reyhan membuka penutup kotak yang membungkus sesuatu di dalamnya. Reyhan mengeluarkan kalung dari dalam kotak tersebut dan membentangkannya di depan wajah Tirsya.

“sekarang buka mata lo,”

Tirsya membuka matanya pelan, matanya membulat terkejut melihat benda di depannya yang berkilau terkena sinar rembulan. Kalung bergandul bintang. Dan di salah satu ujung bintang terdapat mutiara kecil berkilau sangat indah dan elegan. Reyhan memasangkan kalung itu di leher Tirsya, ia berjalan menyangga tubuhnya dengan lututnya menyamai kedudukan Tirsya di ayunan. Mata mereka bertemu.

“jaga kalung itu ya?”

Reyhan memberikan 1 kotak lagi di genggamannya kepada Tirsya dan meletakkan kotak mungil itu di genggaman Tirsya. Reyhan melihat kedua bola mata Tirsya berkilau.

“kasih ke Mama gue ya Sya kotak ini, tapi kasih benda ini di saat gue benar-benar lagi gak di hadapan Mama gue”

Tirsya mendengar suara berat Reyhan saat mengatakan semuanya, matanya berkaca-kaca Tirsya bingung harus berkata apa baginya malam ini sangat berharga untuk diceritakan malam yang sangat romantis.

Tirsya memandang langit-langit kamarnya, ia masih memikirkan kalimat yang terlontar dari bibir Reyhan di taman tadi.

“di saat gue benar-benar lagi gak di hadapan Mama gue,” Tirsya terus memandangi kalung yang sudah melingkar, mengiasi lehernya dan menciumnya pelan.

Tirsya memutarkan lagu “BINTANG KECIL” lagu favorit dia dan Reyhan saat masih kecil. Tirsya memandangi album yang penuh dengan kenangan bersama Reyhan. Tirsya tahu benar kenapa sikap Reyhan sangat kalem malam ini, ia khawatir dengan Reyhan saat ia melihat kedua orangtuanya bertengkar akan membuatnya frustasi berat. Suara handphone Tirsya berbunyi tertulis Reyhan memangggil.

“hai bintang kecil, buka jendela lo gih,” suara dari seberang sana membuat warna tersendiri di hatinya.

Tirsya membuka tirai kamarnya dan menemukan Reyhan sedang berdiri di balkon kamarnya dengan menunjuk-nunjuk langit membuat kode bahwa Tirsya harus menengadah ke langit.

“lihat deh ada bintang kecil itu lagi, dia sedang berdiri di samping bintang besar kemarin. Tahu gak kenapa bintang kecil itu di samping bintang yang besar?”

Tirsya tak menjawab telepon dari seberang sana, Tirsya malah mendengar tawa kecil dari bibir Reyhan membuat Tirsya mengepalkan tangannya dan menunjukkan kepalan itu di depan seseorang di seberang sana.

“karena bintang kecil itu lagi nemenin bintang besarnya yang lagi galau ahahahah, makasih ya?”
“makasih untuk apa Rey?”
“makasih untuk semuanya. Cuma lo yang ada saat gue benar-benar butuh sandaran,”

Saat Tirsya akan membuka mulut membalas semua ucapan Reyhan tiba-tiba handphone dimatikan, dilihatnya Reyhan berlari ke dalam kamarnya.Tirsya mendengar sedikit pertengkaran dari seberang kamarnya, terdengar pecahan keramik di dalam rumah minimalis itu. Tirsya menangis memikirkan perasaan Reyhan saat ini.

Reyhan berlari menuruni anak tangga dan mencari sosok Mamanya yang menangis, ditemukan Mamanya menangis di lantai rumahnya tersedu-sedu. Papanya yang menompang kedua tangannya tampak terlihat mengambil napas terengah-engah.

“Ma?!” Reyhan berlari dan memeluk Mamanya erat.

Indah tak tahan lagi batinnya seolah tercabik-cabik dengan semuanya, ingin ia lari dari semua yang membuatnya muak semua ia pertahankan demi malaikat pemberian tuhan untuknya yaitu Reyhan anaknya. Indah merasakan pelukkan kerinduan anaknya, ia menenggelamkan tangisannya dalam pelukkan anaknya yang tidak ia sadari sudah hampir menuju dewasa.

“jika memang kamu sudah bosan di rumah ini lebih baik kamu angkat kaki dari sini! Aku muak melihatmu wanita jalang!” suara Hendrik semakin keras membuat telinga Reyhan memerah.
“Pa!” Reyhan membentak Papanya dengan wajah memerah, ingin rasanya ia memukul Papanya karena ucapannya itu tapi cengkeraman tangan Mamanya membuatnya urung melakukannya.
“baiklah aku akan pergi dari rumah ini,” suara Indah berat menahan tangisan ia menatap anaknya khawatir.
“baguslah kalau begitu, tapi Reyhan tetap tinggal di sini bersamaku. Aku akan khawatir jika ia bersamamu akan menjadi apa ia nanti bila hidup dengan wanita yang suka menghambur-hamburkan uang,”

Reyhan menangis memeluk Mamanya, tak ingin rasanya ia berpisah dengan ibunya yang sangat ia cintainya seumur hidupnya. Indah menangis sekuat-kuatnya batinnya terasa perih mendengar bahwa ia tak boleh membawa anak satu-satunya permata hatinya, belahan jiwanya malaikat hidupnya. Indah tidak bisa membayangkan akan berpisah jauh tanpa anak semata wayangnya. Reyhan dan Mamanya menangis dalam pelukkan.

“Mama harus janji sama Rey, Mama gak boleh ninggalin rumah ini. Janji sama Rey,” Reyhan berbisik di telinga ibunya memeluk Mamanya erat.

Matahari menyilaukan matanya yang masih tertutup, jendela kamarnya telah terbuka Reyhan memaksakan matanya untuk terbuka menyambut matahari pagi. Ia bergegas ke lantai bawah, ada seseorang yang ingin ia temui.

Sesampainya di bawah Reyhan melewati kamar orangtuanya tak ada seorangpun di situ, Reyhan memasukinya melihat isi lemari orangtuanya tidak ditemukan pakaian Mamanya yang biasa tersusun rapih di sana, perasaan Reyhan mulai tidak tenang semua barang milik Mamanya dicari tidak ia temukan satupun di ruangan itu hanya ada foto keluarga yang tergeletak di atas kasur.

Reyhan terduduk lemas, jantungnya seakan ingin berhenti berdetak ia memeluk erat foto keluarganya masih tercium harum parfum ibunya, Reyhan yakin pasti Mamanya sempat memeluk foto ini dan mendekapnya lama hingga meninggalkan wangi parfumnya.

Tirsya memandangi rumah di depannya gelisah, di mana, sedang apa Reyhan sekarang itu yang selalu terbesit dalam benaknya. Matanya tak pernah lepas dari rumah minimalis di depannya, ia melihat Reyhan berjalan keluar memakai baju hitam memasuki mobilnya tapi yang membuat pertanyaan besar di hati Tirsya adalah wajah Reyhan yang begitu pucat, dan terlihat sedih.

Saat Tirsya ingin memanggil mobil Reyhan sudah melesat cepat. Ada perasaan yang bercampur antara sedih dan khawatir, mata Tirsya terus memandangi mobil itu hingga mobil itu hilang dari pandangannya.

“apa yang terjadi sama lo, Rey?”

Tirsya melakukan aktifitas hari minggunya dengan terus menonton tv seharian. Siska mendekati anak gadisnya dengan lembut membelai rambut panjangnya yang terurai.

“apa yang terjadi dengan Rey?”

Pertanyaan Mamanya itu membuat batinnya terluka, sebab Tirsya merasa gagal menjadi sahabat Reyhan apa yang Reyhan alami sekarang saja dia tidak mengetahuinya. Tirsya memeluk erat ibunya dan tiba-tiba air matanya turun membasahi pipinya.

“aku takut terjadi sesuatu Ma dengan Rey? aku melihat dia tadi, dia tidak seperti biasanya ia sangat berantakan,” tangisan Tirsya semakin menjadi.
“apapun yang terjadi kamu harus yakin bahwa Rey tidak akan kenapa-kenapa sayang,” Siska membelai rambut putrinya dan menenangkannya dalam pelukkannya yang hangat.

“Aku yakin Rey kamu gak kenapa-kenapa, kamu pernah bilang sesulit apapun permasalahan dalam keluargamu kamu tidak akan menjadi pecundang.” Tirsya membenamkan wajahnya dalam pelukkan Mamanya yang hangat, dan ia berkeyakinan Reyhan Afriando Syahputra bukan seorang pecundang, ia adalah seorang pangeran dan malaikat dalam dirinya untuk selamanya.

***

Sebulan telah berlalu Tirsya merasakan persahabatannya sejak kejadian malam itu, tidak seharmonis dahulu Reyhan seperti tak mengenalinya. Tirsya sering melihat ia membawa banyak teman-teman kampusnya main di rumahnya bahkan smpai ada yang menginap. Penampilan Reyhan yang rapi sekarang menjadi berantakan, wajahnya yang selalu bersinar menjadi terlihat musam minggu-minggu ini.

Jangankan untuk menegur dirinya, melihatnya pun Reyhan tidak pernah. Hati Tirsya begitu sakit melihat semuanya baginya semua terlalu sulit ini yang ia takutkan kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya. Tirsya melamun di depan teras dengan telinga terpasang headset.

“selamat siang mbak?” suara seseorang dari balik pagar rumahnya.

Tirsya menyipitkan matanya meyakinkan siapa seseorang yang berdiri di depan rumahnya bukan seseorang yang ia kenal Tirsya berjalan menuju pagar rumahnya.

“iyah ada apa ya mas, cari siapa mas?”

Tukang post itu merogoh pena di kantong bajunya dan menyerahkan pena dan kertas tanda penerimaan. Tirsya segera menandatangani kertas penerimaan barang tersebut.

“terimakasih ya mas,”

Tirsya masih mematung memperhatikan sebungkus mawar putih yang harum di genggamannya. Tidak ada nama pengirimnya, bunga yang misterius.

Reyhan memandangi gadis yang berdiri di depan rumahnya dari balik tirai kamarnya, ia memastikan bahwa bunga tersebut diterima langsung oleh Tirsya. Ia merasakan bersalah terhadap sahabatnya itu, karena persoalan keluarganya ia meninggalkan sahabatnya baginya semua permasalahannya bukan menjadi urusan Tirsya ia tidak mau sahabatnya itu ikut pusing mengurusi urusannya.

“Maaf Sya, gue gak mau lo masuk ke kehidupan gue yang baru yang kejam ini gue gak mau lo ikut arus deras gue, suatu saat gue janji bakal ngebawa lo ke arus yang tenang kaya dulu. Gue janji Sya, gue janji.”

Hampir setiap hari ia mendapatkan bunga mawar putih dari seseorang yang sangat misterius itu. Tirsya berjalan menuju arah rumahnya, ia melihat di depan rumahnya sudah penuh dengan mobil polisi sontak ia takut dan berlari menuju rumahnya ia melihat Mama dan Papanya menangis tersedu-sedu.

“Mama!Papa! ada apa ini” Tanya Tirsya dalam keramaian.

Merasa tidak ada jawaban dari kedua orangtuanya, ia segera mencari sosok Reyhan di dalam rumah minimalis di depan rumahnya.

Bersambung.

Cerpen Karangan: Rima Puspita Rani
Facebook: rimapuspita90[-at-]yahoo.com

Nama Saya Rima Puspita Rani, sekarang saya duduk di bangku kelas XII IPS di SMAN 5 Bandar Lampung. Sejak saya mulai bisa membaca saya hobi sekali membaca cerpen, koran hingga novel. Semenjak saya suka membaca saya terdorong untuk mencoba menulis beberapa cerpen ini cerpen pertama yang saya upload. Saya harap pembaca suka dengan karya saya.

Cerpen Bintang Kecil (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Thank you, Chalia

Oleh:
“Sekali lagi kamu melakukannya, kamu akan kena hukuman! Paham?!” Aih! Berisik banget nih guru. Daripada lama, gue cuma mengangguk dan tertawa kecil aja. “Hey! Kenapa kamu tertawa? Ada yang

Love Me?

Oleh:
Namanya Riza, anak kelas X-3 di SMA Harapan Bangsa. Cowok paling cool dan ganteng, meskipun masih kelas X namun pesonanya mengalahkan pesona kakak kelas. Dia paling sering dibicarakan oleh

Tears of Regret

Oleh:
Virgin dan Kenny bersahabat sejak SMP. Kenny, gadis yang kurang kasih sayang orangtuanya. Ayahnya pergi sejak ia berumur 1 tahun. Sedangkan Virgin gadis yang hidupnya terjamin, Ayahnya mendidik dengan

Cinta Yang Terlambat

Oleh:
Deretan cerita di kehidupanku, entah kenapa aku tidak bisa melupakan dia. Banyak momen-momen bersama dengannya. Aku selalu mengenang ceritaku bersamanya di kelas 10 SMA ini. Berawal dari perjumpaan kami,

Gengsi Hilang Syukur Datang

Oleh:
Kepulan asap rokok memenuhi seisi kamarku. Asap yang terbang beriringan dengan apa yang telah aku pikirkan. Ah, angan-angan kosong berterbangan. Sesaat aku melirik slempang wisuda yang menggantung disamping foto

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *