Cangkul Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 July 2017

Padahal sudah jam 23:30, Lita belum juga tidur. Bocah 4 tahun ini teringat ibunya yang meninggal tiga tahun yang lalu. Ditatap terus foto ibunya lewat KTP lusuh yang ia temukan tadi pagi usai membersihkan lemari ibunya. Sekilas, gambarnya memang buram dan akan semakin memburam. Bukan apa-apa, secara tidak sadar ia membiarkan foto sang ibu tertetes-tetes oleh air matanya. Mungkin sebab rindu yang teramat dalam. Keinginan bertemu sosok ibu memuncak pada diri Lita

“Kenapa nak?” Tanya pak Sobirin yang tak lain adalah ayah Lita. Lita langsung lari memeluk kencang Ayahnya
“Ayah, aku rindu ibu.. aku pingin bertemu ibu” bisik si anak dengan linangan air mata, seakan menunjukkan rindunya
“Iya, besok pagi. Jangan nangis dong. Sekarang tidur ya Nak.. sudah malam”
“Janji ya besok pagi” sambil mengulurkan kelingking kehadapan ayahnya
Pak sobirin menyanggupi, dilingkarkan kelingkingnya pada kelingking anaknya. “Iya, Ayah janji”

Matahari menyeruak dari arah timur, cahayanya perlahan menembus dedaunan dimana Lita sedang duduk di pelataran sejak pagi menunggu ayahnya
“Ternyata kau di sini nak, ayo kita ke pemakaman”
“Sebentar yah, ada yang ketinggalan” Lita lari mengambil sesuatu
“Ini yah, cangkul” ucapnya menunjukkan
melihat hal ini, Pak sobirin terheran-heran kebingungan
“Cangkul, untuk apa?” tanya penasaran
“Ayah, kita kan mau bertemu ibu” jawab dengan polosnya

Pak Sobirin kemudian terdiam, air mata perlahan menjatuh. Tersadar, anaknya masih saja belum bisa melupakan semua tentang ibunya. Memang berat ditinggal sosok ibu, apalagi bagi bocah yang masih sangat belia seperti Lita. Ia begitu kehilangan, ini yang membuat bocah polos ini sangat merindukan sosok ibu

“Lita..” ucap ayahnya mendekat
“Ibumu memang sudah meninggal. Ia sudah tenang di sana. Lita juga harus tau, kita tak bisa melihat ibu lagi (sambil mengusap mata anaknya). Ayah yakin, ibu juga sedang merindukan Lita. Jadi jangan sedih lagi ya. Walau ibu sudah tiada namun akan abadi di hati ayah juga Lita. Sudah, sekarang kita ke makam ibu, kita do’akan ibu” ajak ayahnya
“Iya ayah. Maafkan Lita”

Mereka beranjak ke pemakaman, bergandengan membawa sebuah kerinduan

Cerpen Karangan: Syariful Anam
Facebook: Syariful Anam

Cerpen Cangkul Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Seorang Anak Yang Cacat

Oleh:
Mengapa sampai saat ini Ibuku malah semakin sayang pada saudara tiriku. Sedangkan aku? Sepertinya dibuang, Ibuku tidak memperhatikanku lagi, makan pun aku harus mengambil sendiri dengan keadaanku yang seperti

Biarkan Pergi

Oleh:
Binar-binar hujan itu masih ada, agaknya ia masih ingin berderai meninggalkan hawa dingin dari yang sedang hingga menusuk tulang, meninggalkan sepi dan perlahan meninggalkan keheningan malam. Malam ini agaknya

Unfair (Part 1)

Oleh:
Entah kenapa Gue butuh keadilan di antara setiap lekuk kebahagiaan dalam hidup yang selalu terasa hampa dan tak pernah teradili. Semuanya terasa tak seimbang. Gue ngerasa jenuh akan semuanya,

Maafkan Aku

Oleh:
Matahari mulai terbit dari timur, terlihat orang-orang sudah mulai beraktivitas. “Kania, ayo nak berangkat ke kampus, kasian nak Raya udah nunggu di luar sejak tadi” teriak ibu Kania dari

Maaf Bun

Oleh:
“Adit jangan main dekat sungai nak bahaya” jelas bu azizah pada anak semata wayangnya “adit akan berhati-hati kok bunda” sahut adit pada bundanya “tapi nakk..” ucapan bu azizah dipotong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *