Cemara Kecil Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

Aku memandang ibu dengan gelisah. Beliau terbaring lemas di ranjang kamar tidur sembari sesekali terbatuk kecil. Sekarang giliran aku memandang bapak penuh harapan. Mata ayah sayu, dan terlihat merah di pelupuk matanya.
“Jadi kapan bapak bawa Ibu ke puskesmas?” tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Belum. Bapak belum bisa. Mungkin besok. Setelah Bapak punya uang,”
“Tapi sampai kapan? Nanti Ibu bisa…” aku memutus perkataanku. “Maksudku, Ibu bisa sakit lebih parah,”

Kapan penantian panjangku berakhir? Sejak tiga hari yang lalu ibu terkena penyakit demam berdarah. Tubuh beliau kurus kering. Seharusnya, jarum infus sudah tertancap di tangannya. Tapi soal biaya menjadi permasalahannya. Jika untuk rawat inap, tentu saja tidak mungkin. Orangtuaku berprofesi sebagai petani yang penghasilannya kurang mencukupi. Aku teringat beberapa bulan yang lalu ibuku meminta sepuluh bibit cemara dari Bu Aisyah, tetangga sebelahku. Lalu ibu mengajariku cara menanamnya di belakang halaman rumahku. Mungkin sekarang cemara ibu sudah tumbuh walaupun masih kecil.

“Siti… Ibumu kenapa?” teriak bapak membuyarkan lamunanku. Aku sangat terkejut. Lantas langsung ku lempar gelas berisi air yang seharusnya diminum ibu nanti. Aku melihat pori-pori di wajah ibu mengeluarkan darah. Aku meminta bapak untuk segera membawa ibu ke puskesmas terdekat. Bapak memanggil Bu Aisyah dan meminjam motor beliau untuk mengantar ibu. Aku tak henti-hentinya beristighfar sambil mengusap air mata yang berkali-kali jatuh membasahi pipi.

“Ya Allah… Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” batinku resah. Sampai di puskesmas ibu langsung diletakkan di ruang rawat inap sesuai perintah mantri. Beberapa menit kemudian, bidan ke luar dari ruang tersebut. Wajahnya begitu aneh dan matanya memerah. “Bu bidan, bagaimana keadaan istri saya?” tanya bapak khawatir. “Maaf, Bapak harus menerima kenyataan ini. Bu Farida telah menghembuskan napas terakhinya. Demam beliau sudah mencapai tingkat terakhir yang menyebabkan beliau kehilangan banyak darah…”

“Astagfirullahaladzim… Ibu…” aku berteriak histeris sampai menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut. Jasad ibu terbujur kaku. Sesorang yang menyayangiku telah pergi untuk selama-lamanya.
“Bu, jangan pergi… Nanti tunggulah Siti di surga!” tangisku pecah sambil menciumi ibu.
Pukul tiga sore, ibuku akan dimakamkan. Aku menatap sendu sambil membawa cemara milik ibu. “Ini cemara kecil untuk Ibu. Jangan lupakan Siti. Dan tunggu Siti di surga. Ibu tenang di alam sana ya.” ucapku sambil memberikan cemara kecil di dekat batu nisan makam ibu.

Cerpen Karangan: Farah Aulia Ghufran
Facebook: Farah Aulia G

Cerpen Cemara Kecil Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Terakhir

Oleh:
Namaku Bila, aku adalah anak sematawayang. Ya, aku senang sekali menjadi anak sematawayang karena aku dapat bermanja-manja dengan kedua orangtuaku. Orangtuaku pun selalu memenuhi keinginanku, sangat bersyukurlah aku dengan

Selamat Hari Ayah

Oleh:
Hari kemarin tanggal 12 November bertepatan dengan Hari Ayah. Hari dimana peran seorang ayah adalah seorang pahlawan untuk keluarganya, hari dimana sosok seorang ayah adalah lelaki tangguh yang tak

I Like You Like I Like a Lake

Oleh:
Namira menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur dengan kasarnya. Menumpahkan semua air matanya disana. Kesedihannya memuncak sudah. Sesekali Ia berteriak histeris dengan menutupkan bantal ke wajahnya. Tak terbayangkan

Saipus

Oleh:
“Saipus… Ayo sini!” teriak Pipit memanggil kucingnya. Saipus pun berlari menghampiri majikannya. Pipit mengelus kepala Saipus. “Anak manis…”. Kata pipit sembari tersenyum melihat saipus seakan manja padanya. Ya, semenjak

Hari Istimewa Bunda

Oleh:
Pagi itu, aku terbangun dari tidurku. Aku melirik jam dindingku. Ternyata, waktu telah menunjukkan pukul 05.00. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu, dilanjutkan dengan menunaikan ibadah Sholat Shubuh.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *