Cinta 18 Hari (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 August 2014

Perkenalkan, namaku Muhammad Ilham Fauzi Effendi atau bisa kalian panggil Ilham. Usiaku 17 tahun, oh ya, harus kuralat, 18 tahun pada Agustus nanti. Aku duduk di kelas IPA 12-2 di SMA Bumi Persada. Kakakku bernama Muhammad Reza Anugrah Effendi atau biasa dipanggil Reza, sekarang dia sudah kuliah di ITENAS Bandung; usianya 19 tahun. Selain dengan kakakku, aku juga tinggal dengan ayahku, ibuku? Beliau sudah meninggal ketika usiaku 3 tahun. Hhmm… mungkin ini bagian yang cukup penting, ada seorang gadis yang sekelas denganku bernama Sarwendah Tan atau Wenda usianya 19 tahun – dia cukup populer di sekolah. Selain karena dia leader (ketua) Cheerladders, dia juga siswi berprestasi di sekolah. Aku sampai bosan mendengar juara 1 dari kelasnya adalah dia ataupun mengetahui bahwa dia menjadi perwakilan sekolah kami di sebuah perlombaan. Sedangkan aku? Ya, aku memang biasa saja, otakku tidak terlalu encer seperti dia walau aku memang langganan 10 besar, kepopularitasanku hanya sebatas anggota tim basket yang kadang sering dibandingkan dengan kakakku; oke, dia memang lebih berbakat dariku.

Hari Kamis, tanggal 8 Agustus 2013 (padahal harusnya ini libur lebaran), di sekolahku pada jam istirahat, aku masih diam di kelas dengan novel di tangan.
“Hay, Ham!” Sapa seseorang, aku menoleh.
“Hey, Dik! Kenapa?” Balasku pada sahabatku -Dicky Muhammad Prasetya atau Dicky. Ya, sebagai anak yang hampir mendekati kuper, aku kesulitan mencari sahabat.
“Enggak, cuma mau ngajak loe ke kantin, mau gak?”
“Hhmm… boleh deh!” Akhirnya, aku-pun menaruh novelku ke dalam tas lalu berjalan bersama Dicky ke kantin.

Sampai di kantin, “Loe mau apa, biar gue yang pesen,” Ucap Dicky.
“Nasi goreng aja kali ya?” Sahutku.
“Ya udah, loe tolong cari meja ya!” Akhirnya, Dicky pun memesan makanan, sedangakan aku mencari meja. Tak butuh waktu lama, aku sudah mendapatkan meja yang kosong, namun seketika pandanganku tertuju pada seorang gadis yang berada di meja di depanku – Wenda. Sayangnya, dia bersama teman-temannya.
“Woy, Ham! Ngelamaun aja loe!” Kejut Dicky yang membuatku tersentak.
“Apa-apaan sih, loe Dik!” Seruku sedikit kesal.
“Maaf, le ngeliatin apa? Wenda?”
“Pelan-pelan bisa gak?”
“Iya, Wenda?”
“Udah tah nanya.”
“Mending loe tembak dia sekarang juga, bosen gue lihat loe deketin dia mulu!”
“Tapi dia kan populer! Kalau dia udah suka sama orang?”
“Belum tentu, apa gara-gara gossip dia lagi PDKT sama Ketos kita?” Aku terdiam, Dicky menambahkan, “Lagian menurut gue, loe jangan terlalu baik dengan urusan hati.”
Kayaknya Dicky bener juga, gue terlalu lama and terlalu baik sehingga ngasih kesempatan ke yang lain, Batinku, diam-diam senyumku pun timbul.
“Nyusun rencana?” Tanya Dicky.
“Tuh, tahu! Makanya jangan ganggu,” Jawabku.

Sepulang sekolah, “Yes, Wenda lagi sendirian!” Seruku pelan saat melihat Wenda berjalan di koridor. Aku pun langsung mengahmpirinya.
“Hai, Wen!” Sapaku, mungkin dia sudah bosan dengan sapaanku.
“Kenapa?” Balasnya sedikit dingin, sejak awal memang dia tidak terlalu respect padaku.
“Gue mau ngomong sesuatu sama loe.”
“Apa?”
“Loe mau gak jadi pacar gue?”
“APA?!” Sesuai perkiraan, dia langsung terkejut seketika sepertin orang yang tersengat listrik.
“Gue serius,” Kataku lagi, dia langsung menatapku, “Maaf, tapi gue gak suka sama loe,” Balasnya sambil hendak beranjak pergi, aku segera menahan tangannya.
“Kalau gitu gue punya permintaan,” Kataku.
“Apa?” Balas Wenda tak sabar.
“Gue mau loe jadi pacar pura-pura gue mulai hari Senin.”
“Ngapain gue jadi pacar pura-pura loe?!” Pekiknya.
“Please Wen, cuma 18 hari!” Wenda tampak menimbang-nimbang, “Setelah 18 hari, gue bebas kan?” Tanyanya, aku mengangguk.
“Oke, 18 hari gak lebih, gue harap sih kurang!” Kata Wenda akhirnya.
“Thanks Wen, hari Senin gue jemput loe ya!” Seruku kemudian berlari pergi meninggalkan Wenda dengan segala perasaannya.

Sesampainya di rumah, ‘Mobilnya Kak Reza!’ Desahku. Aku memang sedikit kesal padanya, oke ralat, sedikit iri yang nyaris bertambah setiap hari. Memang, Kak Reza lebih diperhatikan ayahku, mungkin salah satunya karena kanker ginjal yang dulu dideritanya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku masuk.
“Udah pulang loe, Ham?” Sapa Kak Reza yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.
“Udah kak, gue boleh nanya gak?” Sahutku sambil duduk di sampingnya.
“Boleh, mau nanya apa?”
“Loe pernah nembak cewek gak?”
“HAH?!” Sepertinya Kak Reza sangat terkejut dengan pertanyaanku, “Salah ya gue nanya?” Tukasku.
“Enggak, cuma aneh aja. Iya gue pernah, kenapa?”
“Diterima gak?”
“Ada yang iya, ada yang enggak. Loe kenapa sih? Ditolak?”
“Hhmm… sebenarnya ditolak enggak, diterima juga enggak.”
“Lah, terus?!”
“Gue minta dia jadi pacar pura-pura gue selama 18 hari.”
“Astagfirullah, ngapain loe minta dia jadi pacar pura-pura loe, adekku sayang?”
“Ya, karena gue suka sama dia dan gue udah mengharapkan dia dari lama.”
“Emang dia kayak gimana sih?”
“Dia itu cantik, populer, pintar, supel, pokoknya keren deh! Hampir semua orang di sekolah kenal dia karena kecantikannya, kepintarannya, bakatnya, pokoknya keren deh!”
“Kayaknya, tuh cewek hebat amat?”
“Emang, tapi dia gak mau sama gue.”
“Kenapa? Menurut gue, loe pantes sama dia. Loe tuh, imut, cakep, pintar, bakat loe di bidang seni dan basket juga keren.”
“Tapi gue gak populer kak, kuper iya dah! Gue juga gak pintar, biasa-biasa aja. Tampang gue juga masih kalah sama loe. Gue juga enggak ngerasa kalau itu bakat, hebat juga enggak, ancur iya. Gue tuh, gak ada apa-apanya.” Aku tertunduk lesu, memang benar itu yang terjadi, yang selalu dikatakan orang padaku; pasti ada bahan yang bisa orang jadikan untuk menjatuhkanku apalagi jika berkaca dengan keberhasilan kakakku.
“Kok loe jadi pesimis, jangan berkaca sama orang lain deh! Emang siapa yang bilang loe itu gak ada apa-apanya?” Kak Reza mulai sedikit terbakar emosi, aku yang biasanya tidak pernah membantah kakakku mulai menunduk mendengar nada suaranya.
“Ayah kak…” Desisku kemudian sambil berusaha menahan air mata yang ingin mengalir, aku bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan air mata, namun entah mengapa jika mengingat tindakan kurang mengenakkan ayahku, bendunganku langsung bocor.
“Sabar ya, Ham! Loe gak kayak gitu kok! Kita emang beda, tapi bukan berarti loe gak ada apa-apanya. Loe lebih hebat dari gue, loe gak sakit kayak gue, iya kan?” Kata Kak Reza sambil memelukku, sementara aku berusaha menghentikan laju air mata.
“Kak, loe udah punya pacar belum?” Tanyaku setelah air mataku selesai beraksi dan Kak Reza melepaskan pelukannya.
“He he he… belum sih, tapi gue udah punya gebetan,” Jawab Kak Reza.
“Gebetan? Siapa tuh kak?”
“Rahasia, ciri-cirinya: tinggi, putih, langsing, rambutnya kecoklatan…”
“Itu mah, boneka Barbie!” Potongku.
“Enak aja, dia bukan boneka, dia juga pinter, supel, ramah, seru deh!” Balas Kak Reza tak terima jika perempuan idamannya kusebut boneka.
“Ya udah terserah.”
“Oh ya, kenapa gak loe jadiin dia pacar pura-pura untuk selamanya aja? Siapa tahu bisa suka beneran?”
“Enggak ah, yang penting, ultahu gue kali ini berbeda.”
“Cieee… yang mau ultah!”
“Apaan sih kak, udah gue ke atas dulu!” Aku langsung berlari ke atas tepatnya ke kamarku.
Bener juga, ngapain gue berkaca sama orang lain? Gak bakal ada habisnya, mending gue jadi diri sendiri. Siapa tahu dengan begini, orang lebih tertarik, Batinku senang.

Hari Senin, “Wah, gue harus cepet nih, mau jemput Wenda!” Seruku dengan semangat. Aku langsung bangun kemudian menuju kamar mandi, setelah selesai, aku mengenakan seragam putih abu-abuku kemudian turun ke bawah untuk sarapan.
“Ayah mana kak?” Tanyaku saat mendapati meja makan hanya dihuni oleh Kak Reza.
“Semalam ayah gak pulang, katanya ada urusan, mending loe cepet sarapan terus jemput putri loe tuh!” Aku langsung melesat ke meja makan lalu mulai memakan makanan yang sudah tersedia.
“Kakak gak kuliah?” Tanyaku lagi.
“Siang,” Jawab Kak Reza sambil menggelengkan kepala. Beberapa menit kemudian, aku selesai sarapan kemudian langsung berlari ke halaman depan.
“Kak, gue jalan ya!” Teriakku.
“Iya, hati-hati,” Balas Kak Reza, aku pun segera melesat dengan motorku menuju rumah Wenda.

Sampai di depan rumah Wenda, aku terhenyak. Ternyata Wenda itu anak orang kaya, namun aku yang selalu mengikuti perkembangannya tidak pernah melihat dia memakai barang-barang yang ‘WAW’.
“Hai, Wen! Udah siap?” Tanyaku.
“Udah, tumben gak telat,” Tuturnya dengan sedikit menyindir. Ups, tapi betul juga sih, kadang aku suka telat.
“Masa jemput kamu telat, gak mungkin dong!”
“Oohh… ya udah, cepet!” Aku langsung memacu motorku secepat mungkin karena kudengar Wenda menyukai motorcross.

Sampai di sekolah, “Gak apa-apa kan, tadi aku ngebut?” Tanyaku setelah dia melepas helmnya.
“Gak apa-apa,” Jawabnya sambil memberika helm yang tadi kuberikan kemudian mulai beranjak pergi.
“Wen!” Panggilku, dia menoleh, “Apa?” Sahutnya.
“Pas pulang aku anter lagi ya!” Balasku, dia hanya mengangguk kemudian berlalu.
Di dalam kelas, “Cielah, yang bisa ngedapetin Wenda…!” Goda Dicky begitu aku masuk.
“He he he… iya dong! Ilham gitu!” Balasku sedikit bangga.
“Ngomong-ngomong, gimana cara loe bisa ngedapetin Wenda?”
“Keistimewaan gue gitu, pakai cara halus dan membujuk melas.”
“Loe sadar gak kalau loe adalah pacar pertama dia?”
“Hah?! Serius loe, dia belum pernah pacaran? Cewek secantik dan sepintar dia?!”
“Serius, makannya loe beruntung banget bisa jadian sama dia, banyak yang patah hati sama dia.”
DAMN!
Itulah yang nanti akan kualami pada hari ke-18, tapi aku diam saja.
“Tapi denger-denger, belakangan ini dia udah punya gebetan.”
Gebetan? Batinku tak yakin.
“Dan gue gak nyangka kalau orang itu loe!” Seru Dicky kemudian, aku langsung tersentak, “Enggak, gue aja baru sama dia,” Elakku.

Saat jam istirahat, sosok yang kucintai datang, namun wajahnya seperti menahan amarah.
“Kenapa loe gak bilang hari ke-18 itu tanggal 29?!” Gertaknya, aku begitu tersentak kaget.
“Emangnya kenapa, Wen?” Sahutku terkejut namun berusaha tenang. Dia mengecilkan suaranya kemudian berucap, “Itu tanggal ultah gue!” Bentaknya tertahan, aku begitu terkejut, bodoh memang aku sampai melupakan itu, namun aku buru-buru menjawab,
“Sama dong Wen,kayak aku!” Seruku senang.
“Gue mau kita putus sekarang juga!”
“Eh, jangan dong, kita baru aja mulai.”
“Banyak mau ya loe, jangan-jangan loe mau permainin gue lagi?!”
“Enggak, gue tulus sama loe!” Tanpa aba-aba, Wenda langsung pergi meninggalkanku, sontak aku langsung meraih tangannya untuk menahannya pergi.
“Please Wen, kalau gitu sampai ultah gue,” Desisku.
“Akhir!” Tegasnya, aku mengangguk lalu dia beranjak pergi.
“Wenda!” Panggilku lagi.
“Apa?” Tanyanya tak sabar.
“Loe mau kan, datang ke ultah gue? Loe gak akan sendirian di sana.” Ya, aku memang sengaja bernat mengundang Wenda karena aku tahu dia anak broken home yang sering ditinggal kedua orangtuanya dinas ke luar negeri, memang orangtua Wenda itu gila kerja.
“Iya,” Jawabnya dengan nada pelan.

TEETT…!!! TEETT…!!! TEETT…!!! TEETT…!!! TEET…!!!
Bel berbunyi sebanyak 5 kali, pertanda waktu pulang. Aku merapikan semua peralatan yang tadi kukeluarkan sambil memikirkan sesuatu.
“Ham!” Panggil Dicky sambil menepuk bahuku.
“Eh, apa?!” Sahutku dengan sedikit tergagap lantaran terkejut.
“Gue duluan ya, dijemput nyokap.”
“Tumben, biasanya enggak.”
“Makanya, gue duluan ya! Soalnya habis ini ada perlu.”
“Ya udah, hati-hati Dik!” Dicky hanya mengancungkan ibu jarinya kemudian berlari pergi. Aku mangambil tas kemudian berjalan keluar menyusuri koridor, tiba-tiba terdengar beberapa orang tengah berbisik-bisik tentangku.
“Eh, itu pacarnya Wenda,”
“Hah?! Serius? Gue kira Wenda sama Ardhy,”
“Enggak, tadi aja dia bareng Wenda,”
“Gue gak pernah lihat dia,”
“Emang dia mah, enggak populer. Menurut sumber, dia cuma dapet 10 besar, terus di team basket juga enggak hebat-hebat amat,”
“Gak pantes ah, buat jadi pacar Wenda.”
“Masih mending kita kali!”
Aku berjalan semakin cepat ketika mendengar semuanya, mungkin mereka benar, aku juga sadar, tapi salahkah aku merasakan cinta darinya? Bahkan hanya sesaat pun?
“Loe pacarnya Wenda ya?” Tanya seseorang yang mengejutkanku.
“Emang kenapa ya?” Kataku balik bertanya.
“Oh, jadi benar.” Setelah berkata itu, dia langsung pergi, namun aku tahu dari caranya memandangku dan nada bicaranya yang sedikit sinis, dia tak menyukaiku.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh halaman mencari Wenda, “Kemana sih dia?” Desahku sedikit tak sabar.
“Ke kelasnya aja kali ya?” Desisku, aku melangkah menuju kelas Wenda alias kelas impian semua anak seumuranku di sini dengan nama asli kelas 12-1.

Sampai di sana, aku melihat ke seantero kelas tersebut, Kosong? Wenda…
Aku segera merogoh saku celanaku untuk mengambil handphone-ku, namun…
“S**T, gue kan, gak tahu nomornya!” Umpatku kesal, kenapa dengan bodohnya aku tak meminta nomornya tadi? Aku pun memutuskan menaiki motorku lalu pergi, namun bukan pulang, tapi ke suatu tempat.

Pepohonan besar yang rindang dengan bunga-bunga terhampar begitu aku memasuki wilayah taman, tempat kesukaan Wenda. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh taman,dan melihat sosok gadis berseragam SMA sedang berdiri di depan danau.
“Wenda…!!!” Panggilku dengan teriakan sekuat tenaga sambil berlari menghampirinya. Sang empunya nama langsung menoleh dengan terkejut. Dengan cepat, Wenda langsung berlari, namun aku tak mau kalah, memalukan saja kan, anggota team basket tidak dapat berlari cepat?
“Kamu mau kemana Wen?” Tanyaku ketika berhasil mencegat tangannya.
“Apa urusan loe?!” Sahutnya ketus, namun aku tak peduli.
“Aku sekarang pacar kamu, walau sebentar, aku gak akan biarin kamu kenapa-kenapa.”
“Sadar dong, loe cuma orang gak berharga yang numpang di hidup orang lain! Dan, setelah loe numpang di kepopularitasan kakak loe dan team basket, loe numpang status lagi di gue!” Aku benar-benar terperanjat sekaligus sedih bercampur shock mendengarnya.B ukan karena aku dibentaknya, bukan! Tapi kata-katanya…

Flashblack:
“Ilham…!” Panggil Om Anjas -ayah Ilham sekaligus kakaknya- Reza.
“Iya yah…” Balas Ilham yang buru-buru mendekat sambil menundukkan kepala lantara takut.
“Maksudmu apa, mendorong kakakmu ke dalam kolam?! Kamu tidak tahu dia sedang sakit?!”
“Maaf yah, tadi…”
“Ah, kamu bisanya hanya cari alasan buat selamatkan diri!”
“Tapi tadi…”
“SADAR DONG, KAMU CUMA ORANG GAK BERHARGA yang NUMPANG DI HIDUP ORANG LAIN!”
Jedaarr…!!! bagaikan tersambar petir, Ilham yang masih berusia 7 tahun terdiam, wajahnya pucat seketika mendengar ucapan ayahnya yang begitu menyakitkan hatinya.
“Bala kamu di keluarga saya! Masih mending kamu tidak saya usir!” Setelah berucap demikian, Om Anjas pun beranjak pergi meninggalkan putra bungsunya yang berlinang air mata.

Back To Now:
Mengingat kejadian itu sama saja membuka aib-ku dan kini, orang yang aku cintai mengatakan hal tersebut di depan wajahku!
“Dasar cengeng, baru gitu aja udah mewek!” Ejek Wenda sekali lagi kemudian berlalu lantaran cegatanku pada tangannya sudah melonggar.
“Kamu nggak ngerti…” Desisku. Mendadak, aku merasakan kepalaku serasa berputar, semua mulai berbayang tak jelas, dan perlahan kegelapan mulai merayapi, kemudian aku tak mengingat apa pun lagi selain jeritan Wenda yang terdengar samar-samar.

Cerpen Karangan: Alfiyah Dhiya Atika
Facebook: https://www.facebook.com/deanatasha.narutovers
Namaku Alfiyah Dhiya Atika, maaf jika terjadi kesalahn dalam pengetikan

Cerpen Cinta 18 Hari (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjuangan Kehidupan

Oleh:
Kini hidup ku yang tentunya serba bingung. yang ketika aku ada pengumuman Kelulusan SMP memasuki SMA, yang aku ingin kan berencana untuk memilih SMAN, tetapi sayang dengan hasil nilai

Dosaku Kepada Ayah

Oleh:
Aku seakan tak bisa mengampuni diriku sendiri. Aku tega berbuat sekeji itu kepada orang tua, yang setengah mati berjuang demi kehidupanku, berjuang agar hidupku bisa selayak anak lain. Tapi,

Jangan Cepat Mengambil Kesimpulan

Oleh:
Kata kebanyakan orang malam minggu adalah malamnya untuk para muda-mudi. Terbukti yang terjadi di kota bandung saat ini. Hiruk pikuk keramaian kota pun sudah menjadi ketenaran tersendiri setiap malam

Senyum Ku Bersemi Kembali

Oleh:
Satu tahun yang lalu, mimpi itu pernah hadir membawaku melayang ke angkasa. Dua garis itu ku dapati ketika lima bulan pernikahanku. Kebahagiaan itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun

10 Juta

Oleh:
Di bawah teriknya paparan matahari, di antara hamparan sawah yang menguning, dan pepohonan yang menari ditiup sang bayu, Adam mengayuh sepedanya dengan gembira bersama kedua temannya. Ia memang suka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *