Crazy Autumn (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Satu tahun berlalu. Seperti kasus kematian Samuel, kematian Ibuku tak pernah terungkap kebenarannya oleh pihak kepolisian. Ayah memang luar biasa hebat untuk bisa menyembunyikan semuanya. Sementara aku sendiri, tak pernah berdaya untuk mengatakan bahwa aku adalah saksi dari pembunuhan itu. Ayah memiliki mata elang yang selalu ku takuti, Ayah memiliki tangan besi yang selalu ku hindari, dan Ayah memiliki hati setan yang membuatku membungkam dan memejam atas segala yang pernah terjadi. Tapi satu tahun itu pula, Ayah tak pernah berhenti meminta maaf kepadaku atas ‘kekhilafannya’ membunuh Ibu. Aku tak mengerti, dan tak sempat untuk memahami apa sebenarnya yang ada di benak Ayah, keinginannya, hingga tujuan hidupnya. Aku tak pernah mengerti atau aku yang terlanjur tak ingin mengerti dengan semua sikapnya.

Semua telah menjadi misteri. Dari seorang Ayah yang dulu begitu ku sayangi, lalu menjadi sesosok Ayah yang tak mempunyai hati, sampai Ayah yang kini nampak rapuh sendiri. Setiap detik adalah kesempatan untuknya meminta maaf kepadaku, dan setiap detik itu pulalah kesempatan untukku membalaskan dendam Ibu. Pernah terbesit dalam nuraniku, haruskah aku memaafkannya karena bagaimanapun ia adalah Ayahku, dan aku adalah darah dagingnya? Haruskah aku memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala yang telah ia perbuat? Tapi kemudian, tak ada yang sanggup menjawabnya kecuali nisan Samuel dan Ibu. Mereka adalah derita, sebuah duka abadi untukku, dan segenggam dendam untuk Ayah.

Seminggu kemudian, aku berjumpa dengan Bibi Carl. Seperti menemukan kembali sesosok Ibu, aku mendekapnya erat dan terisak. Ku tuangkan segala derita yang sesak di dadaku, ku hamburkan segala cerita lama yang membekapku. Lalu ia mengusap ujung kepalaku, membisikkanku serentetan kata yang menenangkan. Aku menginap di rumahnya selama beberapa waktu untuk memulihan pikiranku yang hampir gila. Bahkan untuk menyamakannya dengan seluruh benang yang disimpul mati, masalah ini lebih pantas seperti derita yang mengikis jiwa. Teh hangat Bibi Carl setiap pagi membuatku jauh lebih baik dibandingkan seluruh pangan yang pernah diberikan Ayah. Dan aku berhenti menyesap minuman hangat pagi itu, ketika Bibi Carl menodongkanku sebuah pilihan, apa aku mau diberitahunya sebuah rahasia di balik semua cerita ini atau tidak.

Aku tersedak. Ku jawab bahwa semuanya bukanlah rahasia, tidak ada lagi sebuah rahasia karena aku melihatnya. Bibi Carl mendeham, membetulkan posisi duduknya yang nampak gugup, dan kembali ia menawarkan kepadaku. Aku berteriak, mengatakannya dengan sisa napas yang sekali ku hirup detik itu, aku telah melihatnya, mata ini adalah bagian tubuhku yang bersaksi, mulut ini yang menjerit pilu malam itu, Ibu tak berdaya di hadapan Ayah. Bibi Carl menggeser tubuhnya maju, dan ia memelukku. Wajahnya kaku melihatku histeris seperti ini, air matanya jelas menderas, dan lengannya erat mendekapku. Aku benar-benar tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?

Ketika itu Bibi Carl memberitahu seluruhnya. Sebuah cerita rahasia yang membuat tubuhku menggigil. Yang membuatku hampir membenci diriku sendiri seumur hidupku. Bahwa kesalahpahaman telah mengalir dalam sebagian denyut nadiku. Aku merosot begitu saja, tersungkur, tersedak oleh tangisku sendiri. Ketika itu pula, aku mengerti. Mengapa Ayah menjadi seorang pelukis..

Langkah beratku menyeret tubuh ini ke luar dari gedung putih itu. Kepalaku berdenyut, dan sesegera mungkin ku telan pil yang sudah ada pada genggamanku sejak beberapa detik yang lalu. Rasanya berat pula meninggalkannya kembali, padahal sudah beberapa kali aku berpikir bahwa mungkin saja aku sanggup membawanya pulang dan mengembalikkannya seperti dulu lagi. Nyatanya pikiran itu selalu saja pupus ketika melihatnya histeris dan tak terkendali setiap kali aku menjumpainya kemudian.

Aku terduduk di salah satu bangku taman yang ada dalam perjalanan pulangku menuju rumah. Angin yang membawa ratusan helai daun mapel menghembus sedikit kencang ketika itu, membuat seluruh organ ini beku hingga tak dapat beringsut barang selangkah. Karena itulah, tubuh ini terduduk. Aku merasa lelah, lemah. Semuanya memaksaku untuk memejam sejenak, sekedar melepas letih yang sudah terlalu letih. Kepalaku menengadah berharap rintik yang tak kunjung terjentik dari langit, berharap mereka dapat menggantikan air mataku yang telah kehabisan sumbernya. Lalu, segalanya nampak lenyap. Otak ini tengah merobek sesuatu. Di dalam sana, menarik paksa sebuah memori yang tak ingin ku tampakkan tapi selalu nampak. Tak ingin ku ingat tapi selalu teringat. Tak ingin ku dengar tapi selalu terdengar. Tak ingin ku rasa tapi selalu terasa. Seperti.. angin musim gugur pada malam itu.

One moment in the past…

Aku berlari menaiki tangga. Sekuat yang ku bisa, dan secepat yang ku mampu. Meski tersandung-sandung, tersedak-sedak, tergerus sebongkah rasa yang begitu sendu atas selembar cerita Bibi Carl setengah jam yang lalu. Aku sedikit terhuyung ketika pintu galeri tempat Ayah melukis ku banting dengan seluruh sisa tenaga yang ku miliki. Aku terseret, dan mematung tepat di jejeran beberapa lukisan ayah. Aku melihatnya, aku melihatnya, dan perlahan dadaku diremas rasa nyeri. Perlahan, semakin terasa dan aku tersungkur bersimbah air mata. Aku menatap lukisan itu lama. Begitu lama hingga aku sanggup membaca hati Ayah seluruhnya. Hati Ayah yang hanya ada dalam siluet lukisannya, hati Ayah yang membungkam, hati Ayah yang hanya tertuang dengan begitu pilu, hati Ayah yang sanggup mencintai seikat jiwa dengan begitu tulusnya, hati Ayah yang dirundung gulana karena mencintai sesosok wanita berkucur darah. Seorang wanita itu, yang mencoba melenyapkanku dari pijakan hati ayah.

Pandanganku nanar, sementara tanganku gemetar meremas lukisan ayah. Mengapa? mengapa Ayah..?? mengapa harus seperti ini?! mengapa Ayah mencintai Ibu? Mengapa Ayah mencintai seorang pembunuh yang tangannya telah ternoda ribuan tetes darah tak berdosa? Sebegitu sulitkah sampai Ayah tak dapat mengungkapkannya? Sebegitu mencintainyakah sampai Ayah tak dapat begitu saja melenyapkannya? Berapa lama Ayah menahannya? Antara cinta dan ketakutan, namun tak ada keraguan untuk tak dapat menghindar dari keduanya? Berapa lama Ayah menderita untuk tetap mencintai orang-orang yang Ayah cintai, meski Ia adalah seonggok daging yang memakan beronggok daging lainnya? Berapa lama Ayah tak memejamkan mata untuk dapat mengawasiku dan Samuel dari nafsu membunuhnya?

Berapa banyak tenaga Ayah untuk tetap terjaga dan tetap mengalungkan cinta untuk wanita berlumur dosa? Berapa banyak keberanian Ayah untuk tak dapat memilih antara aku dan Samuel dengan dirinya? Berapa banyak racun yang Ayah makan agar rahasia ini tetap bersemayam hanya di kedalaman relung sendiri? Aku merengkuh lukisan ayah. Lukisan yang bercerita tentang perjalanan hati seorang yang berkutat dengan rasa bimbang yang ngambang. Ayah mencintai seorang Psikopat, ayah mencintai anak-anaknya, dan ayah berhati keras untuk melindungi keduanya. Ayah dengan perasaannya yang begitu gila. Aku menangis, tak pernah merasa semenderita ini menanggung apa yang pernah menjadi beban Ayah. Perasaannya mengalir dalam alur nadi yang tengah menopang kehidupanku saat ini. Kebimbangan itu, ketakutannya yang tak beranjak surut, dan semua rasa Ayah untuk Ibu yang menurutku tak masuk akal. Dan itu memberatkan punggungku.

“Ayah?” ucapku lirih ketika ku sadar bahwa aku belum melihatnya hari ini, tidak, sebenarnya sudah beberapa hari lalu sejak aku menginap di Rumah Bibi Carl. Aku belum menatap iris matanya yang selalu ku takuti, dan sekarang aku merindukannya. Aku belum melirik rahangnya yang selalu mengeras, dan kini ingin ku merengkuhnya dalam dekapanku. Aku ingin Ia di sisiku. Aku merasa takut, aku merasa sendiri, dan aku begitu takut ketika menyadari kemungkinan Ayah yang tak akan menyayangiku lagi. Aku rindu Ayah, di mana engkau sekarang? Aku.. aku ingin melindungimu, seperti yang kau lakukan terhadap hidup ini, hidup kami, aku dan Samuel.

Aku mencarinya, sementara tubuh ini sebentar lagi ambruk karena lelah. Mataku bahkan telah berkunang sejak tadi, dan tanganku gemetar menopang tubuhku dengan berpegang pada pintu galeri. Di mana ia? Sungguh, di mana ia sekarang? Ayah?! Ku mohon, bertahanlah sebentar lagi! Aku menggumam dalam hati, menyadari mataku yang mulai memejam. Perlahan. Aku payah, aku seorang lelaki, kenapa aku menjadi selemah ini?! Hampir saja. Ketika tubuh ini merosot, hilang keseimbangan, aku mendengar gerungan itu. Terlalu sayup, tapi meyakinkanku kalau itu adalah suara Ayah. Aku merambati dinding, sudah tak sanggup berjalan tegak. Dan pada menit selanjutnya ku temukan Ayah dengan perasaan terbelalak. Tanganku gemetar menutup bibirku yang menahan tangis, luar biasa membuncah dalam dadaku.

Mungkin sudut itu menjadi saksi, dimana Ayah menyandarkan punggungnya dengan begitu layu, mungkin lantai itu menjadi saksi pula bagaimana berat ia ditimpa tubuh Ayah bersama peluh penatnya, dan tubuh ini menjadi saksi nyata dimana untuk pertama kalinya aku menyaksikan seseorang tengah melahap seluruh akal sehatnya dengan menampakkan gurat sesakit itu. Aku.. dan pada akhirnya aku yakin, inilah akhir dari pelimpahan kasih sayangnya untukku. Namun, sebelum aku benar-benar yakin, aku melihatnya berucap begitu lirih hingga aku hanya sempat menangkap pergerakkan bibirnya.

Kini, keyakinanku yang barusan tergelincir karena dengan begitu bodohnya aku meyakini satu hal kini, bahwa sedetik yang lalu Ayah mengucapkan… “Ayah menyayangimu, Arthur.” Setetes air mata berhasil lolos dari pejamanku, pertahananku hancur. Aku ambruk. Terakhir kali ku ingat, Ayah menyerangku dengan melempari vas yang ada di sampingnya ke arahku tiba-tiba.

Terima kasih, Ayah, karena engkau telah melindungiku pada malam itu. Malam ketika sesosok wanita yang ku sayangi mencoba menghentikan jejakku dari kulit bumi, mencoba melenyapkanku. Aku mengerjap. Rintik yang ku harapkan merinai membangunkanku dari ingatan itu. Ingatan yang indah, dan pilu. Musim gugur memang gila.

Cerpen Karangan: NIka Lusiyana
Facebook: Haruka Yuzu

Cerpen Crazy Autumn (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lara Prihatini Si Gadis Prihatin

Oleh:
Malam yang sunyi, itulah yang senantiasa menemani malam malam ku. Tak ada yang istimewa, bintang bertaburan seperti biasanya ditemani bulan separuh yang berwarna putih. Sesekali terdengar suara lolongan anjing

Kembar Yang Terpisah

Oleh:
Halo namaku Arimbi! Aku punya sahabat namanya itu hampir sama kayak namaku, namanya Marimbi. Muka kami hampir sama, tanggal lahir kami sama lebih tepatnya tanggal 23 maret. Kami lahir

Banggakah Kau Denganku Pak?

Oleh:
Ini bakatku, ini duniaku, tolong hargai aku! Beri aku kebebasan, beri aku kesempatan, agar aku bisa menjadi ‘AKU’. “Pak, benjing jam sedoso saged tindak dateng Gedung Maharani mboten? Alhamdulillah,

Kenangan yang Terlupakan

Oleh:
Aku memandang papan tulis yang kosong di depan kelas. Sudah 5 menit semenjak bel pulang berbunyi. Hanya aku sendiri yang berada di kelas sekarang. Perasaan ini selalu muncul setiap

Tiga Cinta Satu Muara (Part 1)

Oleh:
Hujan mengguyur Semarang sore itu. Dua bidadari kecil asyik bercengkerama bersama sang Bunda di teras rumah. Dingin memang, tapi canda tawa menghangatkan suasana. Satu per satu perbincangan mengalir. Tentang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *