Dalam Dekapan Cinta Langit dan Bumi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 May 2014

Desiran ombak menghantam di balik bebatuan, menyapu pasir putih, selingan musik gong dari timur, bersama hangatnya sang mentari di pagi yang cerah ini, aku berjalan menyusuri jalan setapak di desa yang permai ini.
Hari demi hari berlalu, aku bersama kenangan masa kecil yang dulu sempat bersemi di tanah ini, kini kembali terngiang di ingatanku. Aku yang masih kecil dulu, tak tahu apa-apa menjalani hidup yang keras di tanah pelayaran ini.
Aku bersorak keras, ku ingat masa itu saat ayahku menyapa di tengah lautan sana, melambaikan tangan kemenangan dari melaut, membawa ketentraman di jiwaku.

Ku menanti di bawah senja, saat itu sosok ayahku tak kunjung jua datang dari desiran air yang keras itu, rasa takut, cemas, bahkan pikiran negatif menghantui setiap alunan otakku di sore ini hingga waktu itu datang jua.
Aku bukan sosok yang patut dibanggakan dalam setiap jalinan waktu orangtuaku, aku tak mengenal pendidikan, aku tak tahu membaca, aku tak tahu apapun kecuali kegiatan yang namanya menunggu.

Aku gadis berumur 14 tahun yang terlahir dari ayah sebagai nelayan dan ibu sebagai pemecah batu di pinggir sungai, aku terlahir dari Kota Butta toa atau yang lebih dikenal dengan nama Kabupaten Bantaeng.
Aku sekarang hidup di kota panrita lopi yang dikenal dengan kabupaten Bulukumba, aku pindah dari kota kelahiranku karena desakan ekonomi, ayahku telah diusir oleh orangtuanya karena menyusahkan orangtua setelah ia menikah.

Setahun lalu kami memutuskan untuk tinggal di Desa Mattoanging ini karena ayahku ingin ikut bersama pamannya, mengadu nasib di lautan dalam sana.

Aku adalah Fatin supriyanto, nama belakangku adalah nama ayahku, sedangkan ibuku bernama St. Jamilah, kini aku adalah anak sulung dari enam bersaudara.

Aku kini meratapi hidup, aku mempunyai teman yang bernama Zakinah Rasyid, ia kini duduk di bangku SMP kelas 2, kami sering bermain bersama jika Inah tidak belajar, bahkan aku sering ikut ketika Inah belajar bersama degan teman-temannya, aku tak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan, aku sering bingung sendiri, aku ingat sekali dengan kata aljabar yang sering disebut oleh Inah, jujur aku tak mengerti hal itu namun aku tak pernah jua bertanya, aku malu aku lebih tua dari mereka namun aku tak tahu artinya, walaupun aku tidak sekolah.

Aku duduk di serambi rumah yang hampir roboh ini, aku berbincang dengan ibuku,
“ibu, apa ibu tahu apa itu aljabar?”. tanyanya
“maafkan ibu nak, ibu tak pernah sekolah bahkan ibu tak pernah memegang yang namanya pulpen atau buku, ibu hanya tahu apa itu pulpen, apalagi apa tadi, nah?”. jawabya dengan sedikit lupa.
“aljabar, buuu!!!”. Jawabku menegaskan
“yahhh itu, abarrr!!!, ibu tidak tahu sama sekali dengan itu nak, itu kata-kata orang profesional.”. jawab ibunya malu
Setelah percakapanku malam ini dengan ibuku, aku sadar aku dan keluargaku betul-betul tak punya pendidikan, aku saja yang muda seperti ini tak tahu harus mengerjakan apa, aku bahkan sering berpikir “semut saja yang kecil mengalahkanku dalam bekerja, mereka bekerja untuk mencari makan sedangkan aku yang besar seperti ini kerjaaannya hanya menunggu ayahku pulang dari lautan di bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi di pinggir pantai”.

Aku kini tak bisa menahan deraian air mataku yang terus mengalir tak ada hentinya, aku berpikir kembali “aku menyesal dilahirkan di keluarga ini, aku ingin pergi dari sini”. Tak sadar ayahku memegang pundakku dari belakang, kemudian beliau memberi semangat hidup untukku.
Bintang yang memberi cahaya disana, yang kunikmati di balik atap rumahku yang bocor, menatapku dan membiarkan aku masuk di dalam lelap tidurku, hingga aku tak sadar lagi.

Sebelum fajar menyingsing dari ufuk timur, aku beranjak dari tidurku. Ku menuju tempat tersuciku di gubuk goyah ini, aku ingin melaksanakan sholat Subuh untuk meraung kepada rabbku tentang segala kehancuran jiwa dan rasaku dalam hidup ini,
Ya allah, aku bukan sosok seperti teman-temanku,
Aku tak berdaya di hadapan siapapun, apalagi di hadapanmu.
Aku hanya selembar kertas yang diterbangkan angin kesana kemari
Ya allah, dalam dekapmu kulinangkan air mataku,
Bantu hambamu ini ya allah.

Dalam setiap sujudku lantunan pertolongan nasibku kepada tuhanku selalu kulantungkan walau aku tak tahu doa khusus untuk berdoa kepadanya, aku hanya ingat kata seorang ustadz di kampungku “Allah akan selalu mendengar doa hambanya walau itu bahasa apapun”.

Mentari sudah mulai terbit, memberi warna jingga bagi bumi dan seisinya, aku menatap hingga ku tak sadar dengan keindahan yang tak bisa ku tahan lagi keindahannya, terus kunikmati tanpa berhenti pada jarak yang sangat jauh ini.
Aku hanya mampu menikmatinya, tak mampu ku tafsirkan keindahannya, bahkan aku pergi, ku rasa ingin kembali lagi menikmati indahnya bersama mentari. Namun keindahan itu tak jua bisa berjalan bersama keindahan hidupku bersama orang tuaku dan kelima adikku, aku hanya merasakan gelapnya hidup bahkan tak ada lentera satu pun di hidupku, ku menyesal.

Jauh ku terdampar. Aku dan ibuku telah lama menunggu kepulangan ayahku namun aku tak tahu harus berbuat apa lagi aku kini hanya pasrah, dibawah pohon kelapa kesayanganku ini,
“ya allah pulang kan ayah kami, kami tak makan selama ayah kami tak pulang jua”. Aku membatin.
“kakak, kapan ayah puuulaaangg, akuu la…pa…rrr kakak”. Tanya adikku melemas.
“tunggu saja dik, ayah akan pulang sebentar lagi kok. Minum air kelapa ini dulu yah…!!!”. pintaku pada adikku.

Lama kami menunggu bahkan senja telah menyapa kembali, aku tak sanggup menahan air mataku melihat adikku yang sengsara seperti ini, ibuku terus meneteskan air matanya, menangis pedih melihat anak-anaknya bahkan adikku yang masih kecil yang masih berumur 2 tahun tak sadarkan diri karena kelaparan.
Namun, rezeki menghampiri kami saat menunggu kepulangan ayah kami, ada sosok gadis menghampiri kami,
“ibu, nih makanan sisa di rumah, kan aku kasian lihat ibu dan anak ibu”. Katanya dengan sifat rianya.
“makasih nak”. Kata ibu sangat senang.
“itu Cuma makanan kucing di rumah, dasar orang miskin”. Katanya sedikit berbisik.
Lalu gadis yang congkak itu pergi menuju ke barat kami.

“ibu, ini makanan yang sudah basi”. Keluhku.
“tak apa-apa nak, kita sangat bersyukur. Ayo makanlah”. Seru ibuku.
“Andre, bangunlah nak, ibu punya makanan untukmu nak”. Seru ibuku.
“ibuuu… andre kenapa ibu?”. Tanyaku dengan cemas.
“Andree.. Andre…. Andre… jangan tinggalkan ibu nak!!!”. Teriak ibuku sambil diikuti air mata.
“ibu.. andre kenapa bu?”. Resahku lalu ku pergelangan tangan adikku.
“Adikmu telah pergi untuk selama-lamanya nak, kamu ikhlaskan yah…!!!”. jawab ibuku dengan pasrah. Lalu kami membawa Andre ke rumah.

Sesampai di rumah aku dan ibu kebingungan untuk meminta pertolongan kepada siapa, karena tetangga kami yang dekat pergi merantau sedangkan aku dan ibu tak mempunyai uang untuk membiayai perkuburan adikku.

Aku memutuskan untuk menjual baju kesayangan ayahku yang merupakan barang paling berharga di rumahku, setalah terjual sebesar RP.10.000,- aku meminta tolong kepada teman ayahku untuk membelikan kain putih bekas di penjual cakar yang selalu menjual di depan rumahnya, lalu beliau membawakanku.

Aku kembali ke rumah dan membungkus adikku dengan kain putih itu, sementara ibuku menggali tanah di depan rumahku dengan cangkul milik kakekku. Di gelap malam ini aku dan saudara-saudaraku membantu ibuku menguburkan Andre, sambil kami tak tahan ingin berteriak dan aku sempat tak sadarkan diri.

Aku menatap langit-langit rumahku dengan mata sembab, aku hidup dalam penjara kenistaan. Tak sanggup aku hadapi semua ini, aku dalam dekapan yang erat yang sangat menyesakkan dadaku.
Setiap jiwaku ingin bergerak pergi dari kenistaan ini, masih saja ada ruang yang menghambat kepergiaanku, aku tak mengerti kunci apa yang bisa membuatku lepas dan berlari jauh
Ayahku telah tiada, sebulan ia telah pergi meninggalkan kami di lautan luas sana, ayahku berjuang mencarikan kami sesuap asi untuk hidup, malah ia meregang nyawa bersama kapal laut yang rapuh itu.

SEMINGGU KEMUDIAN
Aku bingung dengan keadaan ini, seminggu berjalan ini semenjak Andre adikku meninggal dan kabar meninggalnya ayahku jua, kami hanya makan atas bantuan sepupu ayahku yang melaksanakan study tour di kampungku.
Aku malu bergantung dengan bantuan Minah, karena ia juga mahasiswa yang masih sekolah dan membutuhkan banyak uang, aku memutuskan untuk bekerja, namun aku tak tahu apa yang harus ku kerjakan.
Aku berpikir untuk menjual kue dan ibuku yang membuatnya, aku beranjak dari karpet ini, dan mencari bahan kue yang tak dibeli sama sekali.
Aku memanen singkong di belakang rumahku. Lalu ibu memasaknya dan aku jajakan keliling kampung. Hasilnya lumayan untuk membeli empat bungkus nasi untuk enam orang.

Hari demi hari kulalui dengan berusaha menjual kue jajakan kami keliling kampung. Hingga saat ibuku sedang sakit namun ia tetap memaksakan ntuk membantuku memasak kue jajanan ini, aku membiarkan saja karena aku tahu ibuku sangat keras kepala.

Aku beranjak membereskan alat untuk membuat kue di serambi rumahku, sedangkan ibuku sedang memasak bersama keempat adikku. Namun tak lama kemudian, aku mencium aroma tak sedap dari dapur, ternyata dapur yang dipakai ibuku terbakar, apinya telah berkobar bahkan aku tak mendengar suara teriakan siapapun. Aku tak sanggup menahan derai air mataku sedangkan aku tak bisa melakukan apa-apa.

Kerumunan orang telah datang menangisi kepergian ibu dan keempat adikku, mereka memelukku satu persatu merasakan duka lara bersamaku, aku memeluk foto keluargaku bersama kelima adikku serta ayah dan ibuku.
“kalian telah meninggalkanku sebatang kara”. Aku membatin

Kini ku tak tahu harus kemana lagi kini aku hanya menggengam uang sebesar Rp.20.000,- dan aku berjalan tanpa arah di pinggir pantai tanjung bira ini bersama ratusan orang yang sedang mearasakan kebahagiaan berbeda denganku.

Aku memutuskan untuk bermain di tengah laut dengan menyewa perahu di pengurus tanjung ini, aku pun berkeliling di laut yang biru ini.
Aku digerogoti pikiran berbagai pikiran negatif,
“aku ingin mati saja”. Aku menggumam dalam hati.
“maafkan aku tuhan aku tak sanggup lagi hidup”. Lanjutku dalam celoteh hatiku.
Aku mulai berpikir untuk bunuh diri, lalu aku melompat dari perahu itu dan ajal pun menjemputku di panrita lopi ini. akhir panrita lopi di singgasana Bulukumba.
Aku telah tiada, tuhanku dalam kenistaanku aku tak mengharap ridhomu.

Cerpen Karangan: Nini Mahrus Bela
Facebook: Niny Mahrus Bella
sekolah: sma islam athirah boarding school bone, sulsel, indonesia
umur: 16 tahun

Cerpen Dalam Dekapan Cinta Langit dan Bumi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Membenam Rasa Kepedihan

Oleh:
Hati ini belumlah lupa bagaimana ia menilaiku. Tak melihatku dan semakin melupakanku, terdiam tiba-tiba aku di tepi jembatan kota jakarta ini. Dengan berlinangan air mata dalam hati ku pantulkan

Menerima

Oleh:
“Felly! Sini sayang!,” seru Mama dengan melabaikan tangannya saat acara pesta berbeque keluarganya. Dengan senyuman lebar, Felly berjalan ke arah Mamanya. Memeluk Papanya dan juga Adik laki-lakinya yang telah

Maaf Dari Ayah

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku berjalan di bawah langit biru dengan hembusan angin yang begitu sejuk. Kerja kerja dan kerja itulah pedomanku selama ini, agar aku, ibu dan adikku

Lembayung Kota Juarez

Oleh:
Matahari saat itu mulai berayun ke arah barat. Nampak sinarnya yang terik mulai memudar berubah menjadi cahaya lembayung berwarna ungu yang indah terhampar di langit Kota Juarez di Meksiko

Crush

Oleh:
“Kamu yakin, Rey?” Aku menatapnya ragu. Kini Reyhan -laki-laki yang menjadi sahabatku- berada di sampingku yang masih terus fokus menyetir mobilnya. Dari balik kemudi, dia menoleh padaku. “Info yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *