Dialah Segalanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 December 2015

Saat itu, panas terik matahari sangat menyengat. Peluh keringat diiringi suasana panas ruang kuliah yang ada di lantai 3 Lab bahasa sangat membuat tidak nyaman. Aku sudah mulai mengeluh dengan keadaan yang tidak mendukung itu, kondisi tubuhku juga tidak bisa dikontrol. Suhu tubuh yang panas dingin, dan kepalaku sangat pusing waktu itu membuat tidak konsen dengan mata kuliah yang sedang dibahas. Mata kuliah pertama selesai, ada jam selanjutnya di ruang yang berbeda.

Aku berpikir untuk minta izin dengan dosen, saat itu ada temanku yang mengetahui keadaanku sedang tidak fit, Aini menyentuh keningku dan dia menyuruh untuk pulang saja ke asrama atau pondok. Tapi aku menolaknya, setelah itu dia memaksa aku untuk periksa ke dokter, dengan terpaksa karena sudah tidak kuat dengan kondisi saat itu aku ikut saja apa yang dikatakan Aini. Setelah Aini pinjam motor teman sekelas, akhirnya aku diantar ke klinik dekat kampus. Di situ aku sudah mulai mual dan rasanya seperti ingin pingsan.

Setelah menunggu akhirnya aku dan Aini masuk ke dalam ruangan, setelah diperiksa aku disuruh dokter untuk cek darah di PKU sebelah klinik, aku langsung pulang ke asrama dan meminta salah satu teman di asrama untuk menemani cek darah di PKU. Setelah cek, aku dinyatakan positif kena Typus, aku langsung istirahat di asrama, pengen banget pulang ke rumah ketemu Ibu, rasanya ingin menumpahkan segala rasa sakit ke sosok yang bisa melindungi itu. Tapi aku mencoba untuk menahannya. Di asrama aku dirawat oleh teman-teman sekamar yang sangat perhatian dengan keadaanku saat itu.

Entah itu firasat seorang Ibu atau hanya kebetulan semata, Ibu meneleponku dan menanyakan bagaimana kabarku saat itu, aku menjawabnya dengan lemas dan bilang kalau aku baik-baik saja, tetapi Ibu bilang kalau merasa ada yang aneh dari suaraku. Akhirnya aku bilang kalau aku positif kena typus. Saat itu aku bisa membayangkan bagaimana wajah Ibu mendengar anaknya terkena typus. Pasti Ibu sangat khawatir dengan keadaanku pada saat itu. Maklumlah aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara yang semuanya perempuan.

Dari sejak lulus SMP aku sudah sekolah di luar kota dan jauh dari orangtua, aku sudah mulai hidup mandiri jauh dari orangtua. Aku adalah anak yang dinanti-natikan oleh Ibu dan Bapak setelah menunggu 4 tahun menikah baru bisa dikaruniai anak yaitu aku Umi Qoyyimah. Aku adalah anak yang sangat ketat diawasi oleh Bapak dan Ibu sejak dari kecil, maklumlah mungkin Bapak dan Ibu sangat khawatir dengan putri kecilnya yang sudah mulai beranjak dewasa.

Setelah tahu keadaanku yang sakit, Ibu langsung menyuruh aku untuk pulang, “pulang aja ya nduk, atau besok Ibu sama adek ke sana, nginep sana biar kamu ada yang jaga?” aku berusaha untuk menenangkan Ibu. “gak usah bu, besok paling udah sembuh tenang aja Ibu gak usah khawatir…” Ibu langsung menjawab dengan nada agak tinggi.
“ya udah kalau gak mau, besok kamu biar dijemput sama Mas Mat, besok pagi Mas Mat sampe asrama kamu langsung pulang ya?” dengan pasrahnya aku bilang ke Ibu dengan nada agak pelan.
“iya bu.” Mas Mat adalah teman Bapak yang bekerja di rumah untuk usaha mebel milik Bapak, Mas Mat sudah dianggap keluarga sendiri untuk Ibu sama Bapak.

Keesokan harinya, sekitar jam 7 Mas Mat sudah sampe di asrama, aku langsung siap-siap untuk pulang, aku pamit ustad dan teman-teman yang ada di asrama, sampai rumah sekitar jam 10-an, aku langsung memeluk Ibu dengan air mata yang sudah menetes, saat itu rasanya aku seperti ditransfer energi yang sangat kuat untuk bisa langsung sembuh. Aku merasakan bahwa inilah sosok yang membuat aku bisa kuat bertahan di asrama. Di rumah aku bagaikan anak kecil yang sangat diperhatikan dari mulai makan, minum obat sampai pola tidur juga diperhatikan oleh Ibu. Aku merasa beruntung mempunyai sosok wanita yang disebut Ibu itu di sampingku.

Setelah beberapa hari di rumah keadaanku mulai membaik, dan mau tidak mau aku harus kembali ke solo untuk memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa dan untuk meraih mimpi di sana. Sangat berat untuk pulang ke solo, rasanya masih ingin di rumah menikmati masakan Ibu, menikmati rasa manja yang diberikan oleh Bapak, dan semua keluarga di rumah yang sangat hangat dan penuh rasa nyaman. Sudah menjadi kebiasaan kalau aku mau pulang ke pesantren raut wajahku selalu berbeda dengan di rumah, rasanya malas sekali pergi ke pondok, dan Ibu selalu mengetahui apa yang aku rasakan ketika pulang ke pesantren.

Minggu pagi aku diantar Ibu ke kota, maklumlah desaku terletak di pelosok jadi untuk bisa menaiki kendaraan umum harus pergi ke kota dulu. Dalam perjalanan aku tidak bisa menyembunyikan raut wajahku yang sangat malas untuk pulang ke pondok, gak tahu kenapa dalam perjalanan itu, aku batuk-batuk terus dan malas sekali untuk memandang arah jalan yang sudah sangat dekat dengan kota. Ibu menitipkan sepeda montor di tempat penitipan sepeda, aku kaget aku tanya sama Ibu kenapa sepeda motornya dititipin dan tidak langsung pulang? Ternyata Ibu ingin mengantar aku sampai terminal solo atau terminal tertonadi.

Aku melarang Ibu dengan nada yang agak tinggi. “gak usah bu, ngapain to aku bisa sendiri aku sudah besar.” Ibu lalu menjawab dengan nada tinggi juga. “emang Ibu tahu kalau kamu sudah besar, kalau kamu bisa sendiri emang salah kalau Ibu mau ikut ngantar kamu ke solo.” pertengkaran itu terjadi di jalan banyak orang-orang yang melihat kami bertengkar.

Sesaat aku diam, Ibu langsung bilang, “kalau kamu gak mau lihat Ibu kamu naik ke bus yang pertama saja, Ibu bus yang di belakang kamu.” aku menangis mendengar Ibu berbicara seperti itu, aku terus diam tanpa menjawab apa yang dikatakan Ibu. Sekitar 5 menit aku dan Ibu menunggu bus, sampai bus itu datang aku dan Ibu diam tanpa berbicara apa-apa.

Di dalam bus, aku duduk di belakang Ibu kami tidak satu tempat duduk, rasa marah atau lebih tepatnya sedih atau terharu melihat perjuangan seorang Ibu kepada anaknya, membuat aku diam seribu bahasa membuat aku bingung mengungkapkan perasaan yang berkecamuk di dalam hati, rasa terima kasih yang sangat ingin aku ucapkan rasanya tertahan di bibir dan tidak bisa diungkapkan secara langsung, di bus aku masih menangis melihat sosok yang begitu hebat untukku, sosok yang tangguh, sosok yang kuat, dan sosok yang sangat aku hormati. Di bus Ibu selalu memperhatikan aku, Ibu mengajakku untuk duduk di samping dia, dan aku menolaknya. Gak tahu kenapa aku masih enggan untuk mendekati Ibu, rasa bersalahkah atau rasa haruskah yang aku rasakan saat itu, aku belum bisa menafsirkan itu.

Hingga setengah perjalanan, Ibu mengajakku untuk duduk di sampingnya lagi, aku pun mengikuti apa yang beliau katakan aku pun langsung memeluk beliau dan minta maaf dengan tangisan yang begitu deras. Aku sangat bangga bisa memiliki sosok wanita yang melahirkanku, merawatku, menggendongku dulu ketika aku masih kecil, yang selalu ada ketika aku ingin bercerita tentang susahnya menata hati, yang selalu memberikan semangat, yang selalu memberikan petuah-petuah tentang masa depan yang akan aku rangkai nanti. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan telah melahirkan aku dari sosok rahim wanita yang kini hampir berusia 45 tahun itu, izinkan aku Tuhan untuk bisa membalas semua yang telah beliau berikan untuk hidup hambamu ini Tuhan.

Cerpen Karangan: Umi Qoyyimah
Facebook: Umi Qoyyimah

Cerpen Dialah Segalanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketikan Hidup Langit

Oleh:
Kembali menekan tuts keybord. Hari sudah larut malam. Tapi hati masih saja memikirkan keadaan di rumah. Entah Puri atau Dio. Bagimana keadaan mereka sekarang mebuat nya gusar hingga waktu

Hikmah di Balik Musibah

Oleh:
Sabtu, 20 Juli 2013 seperti biasanya aku bangun pagi karena akan berangkat bekerja. Tapi hari itu lain dari biasanya, aku lebih bersemangat untuk bangun pagi. Rasanya ingin cepat-cepat sampai

Jendela Biru

Oleh:
Semua terasa berbeda. Pagi itu penuh sesak, penuh amarah, penuh aura negatif dalam pikiran Aura. Ya pagi itu pagi dimana embun sejuk berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan dada. Udara

The Greatest Fear

Oleh:
Petang itu aku sangat gembira. Senyum senantiasa mengembang di bibirku. Bagaimana tidak, pihak HRD mengabari bahwa Hasna Lestari lulus dalam psikotes dan interview di salah satu perusahaan di Bekasi.

Saat Terakhirku

Oleh:
Diagnosa dokter membuat Silvi menjadi bersedih dan takut akan kematian sebab ia didiagnosa menderita sakit kanker otak stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi. Silvi menerima cobaan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *