Ditooo… Apa Lagi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 17 December 2013

Uahhhmmm… Dito menguap dengan malas. Pagi ini hawa dingin begitu menusuk, tapi yang begini malah asik buat bobo lagi. Eits… tapi ini sudah jam setengah tujuh saatnya bangun dan bersiap menuju tempat tugasnya. Proyek yang lagi dikerjakan kebetulan hanya berjarak tiga kilometer dari rumah sehingga cukup memanjakan Dito untuk bangun agak lebih siang dan bersiap lebih nyaman, karena waktu tempuh dari rumah ke proyek hanya memakan waktu sepuluh menit.

Oh iya temen-temen pasti belum mengenal siapa Dito, Dito adalah cowok imut berkaca mata minus, kelahiran dua puluh dua tahun yang lalu, baru setahun mengenal dunia kerja, setelah lulus tahun lalu sebagai sarjana Teknik Sipil jebolan sebuah universitas swasta ternama di kota Semarang.

Aktivitasnya sebagai pengawas lapangan menuntut badan yang selalu bugar, jadi wajar dong kalau hari ini setelah mandi, Dito menghabiskan sarapan dua piring nasgor buatan Bik Ipah. Itu bukan alasan juga kali ya… tapi alibi saja. Bukan karena lapar tapi memang karena doyan makan. Nasgor buatan Bik Ipak memang tak ada duanya, walau demi menghabiskanya harus berjuang sampai berkeringat-keringat (karena kepedasan… hehehe) tapi luaarrr biasa.

Kemarin Dito mengalami kejadian lucu tapi juga memalukan. Gara-gara hobinya pasang status menggoda di sebuah jejaring sosial (maklum kan masih tahap mencari pacar tetap) ternyata ada seorang cewek yang tergoda dan mengajak ketemuan. Waktu mengenalkan diri, si cewek gak ngaku kalau sudah tante-tante, ngakunya masih umur 25an maka Dito pikir it’s okay nambah kenalan sekalian kalau cocok bisa dipropose jadi pacar tetap. Maka Dito pun mengiyakan ajakan si cewek untuk ketemuan.

Beberapa menit sebelum waktu ketemuan, Dito diinbox si cewek, dia mengaku kalau dirinya sudah menikah dan udah punya anak juga. Nikah muda katanya itu pun karena dijodohkan ortu dan sekarang sedang dalam masa kritis dengan suaminya, ada banyak ketidakcocokan katanya. Dito pun mulai curiga, cuma ngerasa gak enak aja kalau mendadak dia ngebatalin janji bertemu. Sifat gentle nya sebagai seorang laki-laki teruji, walau dia curiga ada yang gak beres dengan cewek yang satu ini tetapi dipikir entar lah yang penting karena sudah janji ya ketemu dulu kan gak apa-apa.

Maka berangkatlah Dito menuju sebuah mal di pusat kota, sesampai disana ternya di HP nya telah nongol sms dari di cewek “q udh di mal C*****, kalo udh nyampe sms y”. maka setelah memarkir motornya Dito segera meng-sms balik “ok, q tunggu d pntu kluar H** B**”. Tak lama kemudian Dito pun masuk ke dalam mall dan HP nya berbunyi “Halo” “Halo, kamu di mana? aku tuh udah di depan H** B** kok aku gak liat kamu?” “Aku ada kok disini” Dito celingukan mencari cewek yang dimaksud tetapi sejauh mata memandang gak ada cewek cakep disitu, malah yang ada tante-tante dengan dandanan yang cukup mencolok… waduh alamat gak baik nih. Ternyata si tante itu juga sedang telponan. Kayaknya… mending kabbbuuurrr. Maka Dito pun buru-buru menutup telpon dan terlihat si tante juga menutup telponnya dengan wajah bingung. Ditto pun sudah bersiap ambil langkah seribu. Weits tapi terlambat, si tante sempat melihat dan sembari tersenyum dia mengulurkan tangannya “Dito ya?”. Wah ketahuan nih “Eeehhh… iya Bu” spontan Dito menjawab dengan terbata-bata. “Mau ngobrol dimana?” Dito yang masih belum hilang keterkejutannya masih memasang tampang bego-nya “Ih kmu imut deh kalo bengong gitu, ayo jalan dulu, ntar kita cari tempat yang enak buat ngobrol” Bak kerbau yang dicocok hidungnya Dito yang masih terbengong-bengong mengikuti langkah si tante. “T** T** aja ya, kita nongkrong disana?” “Eeehhh… iya Bu” jawab Dito. Si tante nampaknya mulai gak nyaman dipanggil Bu melulu sama Dito, “Dek, jangan panggil Bu dong, kan saya bukan Bu Guru mu di sekolah, panggil Tari aja” “Iiiyaa Tttaarrri” jawab Dito masih dengan grogi. “Udah santai aja” kata si tante sambil memegang lembut kedua tangan Dito yang bertengger di atas meja. Wah yang ini malah bikin tambah grogi. “Siang, mau pesan apa?” si pelayan T** T** menggusurkan daftar menu sambil tersenyum ramah. “Ice lemon tea aja Mbak” “Mas Dito mau pesan apa?” Tanya si Tante dengan ramah. “hot tea aja” jawab Dito datar sambil menarik tangannya dari genggaman si tante. “Gak pesan snacknya sekalian, Mas Dito?” “gak” jawab Dito ketus. Nampaknya setelah sadar bahwa si tante ini melakukan kebohongan yang luar biasa, Dito mulai sebel dengan si tante.

Rasa sebelnya ia lampiaskan dengan menunduk tanpa berbicara sepatah katapun. Hingga si tante mulai membuka percakapan, ia bercerita mengenai kehidupan rumah tangganya yang porak-poranda karena suaminya selingkuh dan bahkan berencana akan menikah siri dengan istri simpanannya itu, perlahan Dito mulai melunak. Dito pun mulai mau membalas “anakmu berapa orang?” “dua” jawab Tari terbata, Tari merasa pelupuk matanya mulai panas dan basah. “Ga, aku gak boleh nangis, sudah terlalu banyak air mata kucurahkan gara-gara lelaki keparat itu, dia sudah terlalu banyak menyakitiku, bahkan terang-terangan selingkuh” batin Tari bergejolak. Tetapi suara hati yang lain juga berbisik lembut “lalu… apa yang sedang kau lakukan kini? Berkencan dengan laki-laki muda yang lebih pantas menjadi anakmu?” suara yang lain berteriak “gak apa… ini kan pembalasan dendammu terhadap perlakuan suamimu, kamu berhak dan sah melakukan hal ini” … “Kok diem?” suara Dito membuyarkan lamunan Tari. “Eh iya Mas Dito, maaf tadi saya malah jadi melamun, habis Mas Dito ganteng sih” jawab Tari sekenanya.

Busyet ni tante makin berani aja ngerayunya… tapi kalau soal cakep itu sih udah pasti, sudah terbukti banyak yang bilang kok… hehehe. “Tari umur berapa?” “40” jawab Tari singkat. Wah ternayata ni tante pembohong berat 25 sama 40 itu selisihnya 15 taon kaleee… kalau ngebo’ong kira-kira nape! Buat Dito jadi bête lagi “Saya boleh panggil tante aja ya, panggil nama kok rasanya gak sopan banget” jawab Dito, sebelum si tante menjawab, Dito sudah melanjutkan kalimatnya “begini tante, dalam membina hubungan rumah tangga tuh yang terpenting komunikasi, apakah tante merasa sudah berusaha maksimal mengkomunikasikan dengan baik dengan suami tante? Apakah tante selalu konsisten dalam menjaga hubungan baik dengan suami tante sejak pertama kali menikah dahulu? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk langsung dijawab tetapi untuk tante renungkan dan cukup dijawab dari hati.” Mendadak Dito merasa dewasa banget bisa memberikan nasehat yang baik untuk si tante yang ada di hadapannya.

Si tante terdiam, menunduk, seribu pikiran kini berkecamuk di pikirannya dia tak menyangka seorang anak muda – cowok brondong yang kini duduk di hadapannya mampu memberikan nasehat yang begitu dalam, nasehat yang begitu mengena dengan keadaannya saat ini. Dia sadar saat-saat indah dulu saat pertama kali suaminya masih sangat menyayanginya, dia malah sering ketus dan marah-marah karena ketidakcocokan-ketidakcocokan sederhana, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi baik-baik tapi malah disikapinya dengan diam dan dingin. Hingga suaminya akhirnya mulai jenuh dan ikutan menjadi pemarah. Keduanya sama-sama merasa benar, sama-sama tidak ada yang mau mengalah.

Sifat sama-sama keras inilah yang akhirnya meruntuhkan pondasi rumah tangga yang dibangun dengan susah payah berdua. Tari kini sadar satu-satunya cara untuk memulihkan kembali keutuhan rumah tangganya adalah dengan cara komunikasi. Dia harus mengkomunikasikan apa yang selama ini terpendam di perasaannya, hal-hal yang dia kurang sesuai/kurang cocok dari suaminya dengan cara yang baik tentunya. Tapi apakah masih belum terlambat? Bukannya kini suaminya sudah bersama wanita lain, yang akan segera dinikahinya secara siri?
“Tante” suara Dito membuyarkan lamunannya “Tidak ada kata terlambat, pandanglah anak-anak, mereka itu yang akan menjadi korban atas keputusan kalian berdua, apakah tante ingin masa depan anak-anak tante hacur gara-gara keputusan dan emosi sesaat”

Mendadak Tari menuju ke meja kasir, mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan dan petugas kasir dengan cekatan menghitung lalu menggusurkan struk beserta uang kembalian. Sedetik kemudian Tari meninggalkan café itu sembari membuat Dito terbengong-bengong. “apa gua salah ngomong ya…” runtuk batin Dito.

Tetapi bukan Dito yang salah ngomong tetapi memang Tari mendadak bertekat bulat untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya. Selingkuh bukan penyelesaian. Ia bahkan berpikir rela diduakan dengan wanita lain asal suaminya masih mau tetap menjaga hubungan rumah tangga yang baik dengannya, terutama kedekatan dengan anak-anak mereka.

“tuut… tuuuut…” HP Dito berbunyi, “ah no tak dikenal, siapa nih, masa ada pengagum gelapku yang pagi-pagi begini udah sibuk nelponin aku…” batin Dito. “Halo” “Halo, selamat pagi mas Dito, maaf ya kemarin pas kita ketemuan tante langsung tinggalin begitu aja” suara di seberang sama nyerocos tanpa jeda titik koma membuat Dito yang masih setengah sadar jadi gelagepan. “Maaf siapa nih?” Tanya Dito dengan polosnya. “Tari, Mas Dito, eh ini tante ganggu Mas Dito ga?” “ooo… gak kok tante Dito masih di rumah” jawab Dito. “tante gak lama kok, cuma mau bilang makasih banget, berkat kamu masalah tante terselesaikan, papanya Tata dan Risya sudah kembali lagi, dia gak jadi menikahi istri simpannannya karena akhirnya ketahuan bahwa wanita itu hanya mau duitnya saja. Kini kehidupan rumah tangga tante sudah kembali harmonis, sekali lagi terima kasih ya. Berkat Mas Dito tante sadar dan bisa berkomunikasi dengan baik dengan suami tante, kami saling mengakui kesalahan masing-masing dan bisa saling memaafkan… benar-benar indah Mas, terima kasih, terima kasih sekali lagi” “Tan…” belum sampai Dito menyelesaikan kata-katanya Tari sudah nyerocos lagi, “oh iya maksud tante nelfon ini besok kan Risya ultah, dia minta dirayaain di K**, Mas Dito bisa datang kan, itu lho yang di Pandanaran?” “iiyyyaa.. bisa tante” “ok siip lah, sampai ketemu besok ya” tuuutt… tuuut… telpon ditutup tanpa memberikan kesempatan Dito untuk menanggapi lebih lanjut.

Esok sorenya, sepulang kantor Dito segera meluncurkan kendaraannya ke arah K** Pandanaran, disana dia melihat sekelompok anak usia play group sedang bernyanyi bersama, dan di tengah-tengahnya seorang gadis kecil yang cantik mengenakan gaun pink dengan tiara mungil menghiasi rambut ikalnya, sedang meniup lilin didampingi mama dan papanya. Ah… terima kasih Tuhan, Kau bolehkan aku menjadi penyambung lidah-Mu, mengirimkan nasehat kepada yang membutuhkan, sehingga suasana indah seperti ini tidak dihancurkan oleh keegoisan dua anak manusia. Ditto bergegas meninggalkan K** dia tak ingin kehadirannya diketahui, tapi terutama dia tak ingin ada yang melihat lelehan air mata yang mulai terasa membasahi pipinya.

Keesokan harinya di HP nya ada sms dari tante Tari, “Mas Dito kok kemarin gak jadi datang, sibuk ya? Tante boleh minta alamat rumah atau kantornya Mas Dito? Tante mau kirim sesuatu, diterima ya…” sedetik kemudian sebaris alamat kantor diketikkan Dito di HP nya, setelah tombol send ditekan beberapa detik kemudian muncul pesan bari di layar HP nya “terima kasih mas Dito”

Ada yang tak biasa hari ini di kantor, karena mendadak di kantor Dito ada pesta, siapa yang ngadain? Ternyata tante Tari mengirimkan 20 paket nasi lengkap dengan lauk pauknya ke kantor Dito, plus sebuah kado yang dibungkus kertas kado dengan warna pink mencolok. Setelah dibuka ternyata isinya sebuah lukisan crayon 4 orang yang saling bergandengan tangan dengan tulisan di atas masing-masing orang, papa, mas Tata, Risya, mama. Sepucuk surat terjatuh saat Dito merobek kertas pembungkusnya, surat itu bertuliskan “Terima kasih Mas Dito, ini lukisan Risya yang diberikan kepada kami di hari ultahnya, ia bahagia karena kami kembali rukun seperti dulu lagi dan ini semua berkat mas Dito, jangan kuatir ini fotocopynya kok, lukisan aslinya juga saya pigura dan saya letakkan di kamar tidur kami, supaya menjadi pengingat bagi kami berdua bahwa anak-anak sangat membutuhkan kami… terima kasih, Tari”

Mata Dito kembali terasa panas, sebelum nangis mending buru-buru ke kamar mandi en cuci muka deh, bisa tengsin berat kalo ketahuan nangis di kantor… hehehe.

Cerpen Karangan: Axas
Blog: http://andystnt.blogspot.com/
Saya seorang penulis amatir, baru beberapa tahun ini mulai menulis dengan sedikit hasil karya dikarenakan kesibukan di bidang yang lain. Saya sangat berharap ada banyak respon untuk tulisan saya, agar saya dapat berkembang dalam menulis.

Cerpen Ditooo… Apa Lagi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Penyakitku

Oleh:
Agustus 2005, adalah awal aku menjadi siswi baru di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah tepatnya di kabupaten Brebes, perkenalkan aku Dita Chintya Ramadhanti, siswi kelas X.3 waktu

25 November

Oleh:
Sore ini kembali aku rasakan sakitnya. Lukanya terlalu dalam. Malam nanti, bersama gerimis aku akan pergi tinggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan di sini. Aku rapuh jika tak segera

Please Say it Mom!

Oleh:
Pagi tiba, matahari dari ufuk timur menerangkan hariku ini, burung-burung berkicauan seolah memberitahuku bahwa pagi telah tiba. Tapi, entah kenapa aku seolah tak ingin lagi membuka kedua bola mataku

Ghost of Shania (Part 2)

Oleh:
“Kita harus cepet-cepet pergi dari rumah ini! Rumah ini berhantu!” “Ly..” potong Reyna yang nggak pernah percaya sama omonganku. “TURUTIN GUE KENAPA SIEEHHH!” Akhirnya mereka mau nurutin perkataanku dan

Candramawa Kehidupan

Oleh:
“Haish, pusing gue hari ini mikirin lirik melulu. Clubbing yuk guys!,” kata Brama dengan memukulkan stiknya dengan kesal. Dia, adalah seorang drummer di dalam band Pro Tecno. “Kalian berangkat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *