Dosaku Kepada Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 April 2013

Aku seakan tak bisa mengampuni diriku sendiri. Aku tega berbuat sekeji itu kepada orang tua, yang setengah mati berjuang demi kehidupanku, berjuang agar hidupku bisa selayak anak lain. Tapi, apa yang aku berikan kepada Ayah? Bentakan? Cemoohan? Kedurhakaan? Ayah, apakah di sana, Ayah bisa mendengarku? Apakah Ayah bisa memaafkanku?

Ayah, adalah seorang penjual air bersih yang diambilnya dari gunung. Aku tau, penghasilannya tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Aku selalu marah kepada Ayah, yang tidak pernah mampu memberiku uang saku, membayar tagihan sekolah, ataupun yang lainnya. Tapi, Ayah tak pernah sedikitpun marah, atau bahkan memukulku. Ayah hanya bisa terdiam dan selalu mengatakan, “Maaf, Nak. Esok akan Bapak carikan lebih banyak.” Apalagi, Ibu sudah meninggal sejak aku berumur 5 tahun. Ayah menanggung bebannya sendirian, dengan perih hatinya karena perkataanku tiap hari.

Kini, memang Ayah sudah renta. Aku sama sekali tak pernah membantu Ayah dalam bekerja. Aku hanya bisa meminta dan menuntut banyak kepada Ayah.
“Pak! Aku ingin tas baru! Tasku sudah rusak.” kataku.
“Sabarlah, Nak. Bapak semakin hari semakin tua, Bapak tak bisa memberimu banyak.” kata Ayah.
“Sudah pasti Ayah bilang begitu. Seharusnya aku tak pernah minta kepada Ayah! Aku benci!” kataku sambil pergi ke kamar dan mengunci pintu. Aku menangis dan Ayah tak tega mendengarku. Ayah menjual sepatu satu-satunya yang ia gunakan untuk menaiki gunung, hanya untuk membeli tas baru.
Kadang hatiku terluluh melihat Ayah, tapi perasaan kesalku juga tak kalah besarnya. Kadang, aku merasa malu memiliki Ayah seperti Ayahku ini. Tapi, jujur saja.. aku sangat menyayangi, dan mengagumi sosok Ayah seperti itu.

Hari lebaran pun tiba. Aku tak bisa merayakannya seperti anak-anak yang lain. Tidak ada baju baru, ketupat ataupun opor ayam, yang ada hanyalah setoples kue dari Ayah di meja tamu.
“Kapan Ayah bisa membeli ketupat? Aku malu kalau begini terus! Teman-temanku selalu mengejekku.” kataku kesal.
Ayah hanya diam, dan meneteslah air mata mulianya. Aku semakin kesal kepada Ayah, saat Ayah bilang, Ia terkena penyakit paru-paru. Ayah masuk rumah sakit, dan aku yang mencari uang. “Aku benci Ayah! Aku benci!” gerutuku setiap aku berjualan air bersih dari gunung. Pernah aku hampir terjatuh dari kaki gunung karena tak hati-hati. Terlintaslah pikiran mengenai perjuangan Ayah tua nan renta setiap harinya. “Ayah pasti sudah sering terjatuh dari sini.” pikirku sejenak.

Perjalanan ke gunung untuk mencari air sangatlah berbahaya. Ayah.. seperti selalu mencoba menyerahkan nyawanya setiap Ia bekerja.
Aku pun pergi menjenguk Ayah. Aku ingin meminta maaf kepada Ayah atas tingkah lakuku selama ini. Tapi, aku sudah terlambat. Ayah sudah menghembuskan nafas terakhirnya sepuluh menit yang lalu. Aku hanya bisa menangisi kepergian Ayah.
“Ayah.. jangan tinggalkan aku Yah.. Ayah.. Aku minta maaf… Ayaaaaah. Maafkan aku Ayah..”

Semenjak itu, aku hidup sendiri dan berjuang untuk hidup sendirian. Hingga pada suatu hari, aku tersandung kayu dan terjatuh ke jurang saat mencari air. Nyawaku hilang bersamaan dengan dosa besarku, dan aku pergi menyusul Ayah. Ayah, apakah Ayah mau menganggapku sebagai putrimu lagi atas dosaku?

SELESAI.

Cerpen Karangan: Annisa Berliana Dewi
Facebook: Annisa Berliana Dewi
Enjoy Reading~!

Cerpen Dosaku Kepada Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret Birthday

Oleh:
Siapa bilang jadi anak tunggal itu enak. Pernyataan itu dibuktikan oleh Ailee, kelas 2 di SMP Kastrajaya. Hidupnya hanya dihiasi poster k-pop dan Dvd drama korea di kamarnya. Orang

Cry For Love (Part 1)

Oleh:
‘Mengertikah cinta saat aku menginginkan ia datang untuk mengisi ruang hatiku yang kosong? Tahukah ia saat aku sangat merindukannya untuk menemaniku dalam kesunyian yang menyiksa? Pahamkah ia saat aku

Raka Si Tukang Kayu

Oleh:
Raka mengusap keningnya, melihat karyanya yang sebentar lagi selesai. Karya yang entah sudah keberapa diciptakannya. Sebuah kipas sederhana yang terbuat dari kayu cendawan asli yang didapatnya ketika berkeliling hutan

Hatimu Hatiku

Oleh:
Kenalin gue Rama cowok terganteng di Indonesia itu kata nyokap gue. Gue punya saudara kembar yang menjadi saingan kegantengan gue karena mirip. Walau sebenernya lebih ganteng gue dikit. Walau

Sakit Hati Yang Luar Biasa

Oleh:
Di setiap pagi kujumpai orang-orang yang kusayang, hari-hari kujalani dengan keceriaan dan kesedihan yang bergiliran mengiringi jalan hidupku. Aku tahu aku tidak sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik allah swt,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dosaku Kepada Ayah”

  1. Wow … bagus banget storynya . . . bikin terharu deh …. 🙂

  2. Raihanah Shabirah says:

    walaupun ceritanya pendek, tapi sukses membuat air mataku hampir meleleh. Jadi teringat bapak … 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *