Dreamer

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 October 2014

Kelas 9 bagi Dinda adalah waktu penentuan untuk kehidupan Dinda bagaimana tidak, di kelas 9 ini Dinda akan menentukan nasibnya untuk sekolah di SMA impiannya. Tetapi semua impian itu terhambat oleh ekonomi orangtuanya yang melemah. Salah satu jalan adalah Dinda harus ikut beasiswa, demi mendapat beasiswa tersebut akhir-akhir ini memang Dinda selalu belajar dengan rajin, dia tak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk melakukan hal yang tidak penting.

Dinda memang pintar di semua mata pelajaran dan dia tak pernah absen untuk mendapat juara kelas maupun juara sekolah. IPS ya itulah mata pelajaran yang paling dia sukai terutama tentang sejarah.

Akhir akhir ini Dinda lagi sibuk sibuknya belajar untuk mempersiapkan lomba OSN IPS di Manado. Dia mentargetkan juara 1 karena dengan jalan itu Dinda bisa mendapat beasiswa selama dia menempuh SMA dan juga hadiahnya 12 juta.

“Dinda, makan dulu gih. Belajarnya nanti dilanjutin lagi” Ajak Umi nya yang menyiapkan makan malam.
“Tanggung mi” Jawab Dinda
“Dinda makan dulu, belajarnya bisa nanti, kalau kamu sakit kamu sendiri yang rugi” Ajak Umi.
Umi, ya itulah Dinda memanggil ibunya. Sudah lama abinya meninggal karena kecelakaan dan selama ini Dinda hidup dengan adiknya dan Uminya saja. Adiknya sekarang kelas 5 SD namanya Anisa, Anisa juga sama pintarnya dengan Dinda. Impian Dinda selama ini ingin membahagiakan keluarganya sejak abinya meninggal. Keadaan ekonomi keluarga Dinda mulai menurun.

“Umi, do’ain Dinda ya, besok Dinda ke Manado untuk lomba. Do’ain Dinda mendapatkan juara 1 ya mi” Tanya Dinda.
“Dinda, setiap saat Umi selalu mendo’akanmu dan adikmu nak. Umi selalu ingin yang terbaik untuk anak anak Umi. Nanti kamu sholat tahajud ya” Ujar Umi.
“Ya mi, nanti Dinda sholat tahajud” Jawab Dinda.

Hari penantian bagi Dinda tiba, Dinda pun pergi ke bandara dengan guru pembimbingnya, sebelum berangkat Dinda pamit kepada Umi dan adiknya.

Setelah 1 jam perjalanan, Dinda tiba di Manado, Rasa senang, bangga pun dirasakannya. Akhirnya Dinda menuju hotel berbintang 5 yang dikhususkan untuk para calon juara.

Setelah diberikan pembekalan sebelum lomba, Dinda mewakili Provinsi Jawa Timur pun siap meluncur untuk bersaing lomba OSN IPS.

Ketika lomba dimulai Dinda ragu, karena pesaingnya sangat ketat. Hanya tuntunan do’a yang Dinda harapkan. Suara suara sporter yang begitu berisik, membuat Dinda kehilangan konsentrasi. Tapi Dinda berusaha untuk tetap tenang.

“Akhirnya lomba nya selesai juga” Ucap Dinda.
Setelah lomba selesai, inilah waktunya pengumuman juara 5 besar. Dari urutan 5 sampai 4 Dinda belum disebutkan. Akan tetapi mukjizat datang padanya. Dinda pun meraih urutan pertama. Wajah senang, gembira pun dirasakannya.
“Aku harus berjuang ke tahap final. Aku tak boleh menyerah” Ucap Dinda dengan wajah semangat.

Setelah tahap final selesai. Maka diumumkan 3 besar yang nantinya akan memperebutkan medali perungu, perak, dan emas. Dalam tahap final ini Dinda harus menjawab 100 soal dalam waktu 10 menit.
Setelah diumumkan ternyata point Dinda cuman 8,97 yang akhirnya mendapat medali perak dengan uang binaan 10 juta.

Setelah pengumuman, Dinda pun kembali ke Surabaya dengan medali perak dan membanggakan nama orangtua, sekolah, dan dirinya sendiri.
“Mi, Dinda pulang dengan medali perak” Ucap Dinda.
“Alhamdulillah, meskipun gak mendapat medali emas, tetapi kamu bisa meraih impianmu.” Jawab Umi.

Akhirnya, Dinda pun ikut jalur beasiswa dengan prestasi peraih medali perak OSN IPS. Yang membawanya sekolah di SMA favorit tanpa beban apapun.

Di SMA, Dinda tidak pulang ke rumah. Dinda harus ngekost di tempat lain. Dinda pun banyak prestasinya. Tatapi tanpa diketahui Dinda, Uminya sudah berpulang ke rahmatullah. Setelah libur akhir tahun, Dinda pun liburan ke rumah.
“Dik, dimana Umi?” Tanya Dinda kepada adiknya Anisa.
“Ibu sudah meninggal 1 bulan yang lalu kak, karena kecelakaan.” Jawab Anisa.
“kenapa kamu nggak ngasih kabar dik?” tanpa disadari tetesan air mata keluar dari kelopak mata Dinda.
“Dulu Nisa ingin beri kabar ke kakak, tapi dilarang Umi katanya takut bikin konsentrasi kakak terganggu akibat berita ini, kakak saat itu katanya mau menyelesaikan skripsinya.” jawab Nisa dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ya ampun dik, kenapa ini bisa terjadi!”
Dinda mencoba untuk menenangkan adiknya yang sudah mulai tidak terkontrol tangisannya. Walaupun di dalam hati Dinda juga sangat menyesal sekali kenapa disaat terakhir hayat Uminya, dia tidak berada di dekatnya. Betapa durhakanya dia dengan Uminya.

Dinda ingin sekali pergi ke makam ibunya untuk berziarah dan Anisa juga diajak. Saat tiba di makam isak tangis kedua saudara itu kembali pecah.
“Umi, maafkanlah aku Mi. aku udah jadi anak yang durhaka, di saat terakhir Umi aku tidak berada di dekat Umi.” Tangan Dinda lalu memeluk nisan Uminya begitu eratnya, tangannya gemetar menyentuh nisan itu, sekarang Dinda tidak bisa berkata-kata lagi.
Hanya penyesalan yang begitu dalam yang ada di dalam hati Dinda, begitu lama mereka disana. Langkah kaki Dinda terasa berat meninggalkan makam itu, dan harus dituntun Adiknya.

7 tahun berlalu kedua kakak beradik menjadi yatim piatu, Anisa sekarang udah besar dan sudah tamat SMA dan mau melanjukan kuliah di Inggris. Dinda sekarang sudah menjadi Dokter dan bisa menguliahkan adiknya yang selama ini hidup sendiri. Cita-cita Dinda selama ini udah tercapai, meski banyak rintangan yang dilaluinya. Besar dari keluarga yang kekurangan ekonomi tak menghalangkan cita-citanya, meskipun kedua orangtuanya sudah pergi. Dinda tetap harus bisa membahagiakan Adik satu-satunya ini.

Cerpen Karangan: Indri
Facebook: Dwi Indriastuti

Cerpen Dreamer merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimana Kasih Sayang Untukku

Oleh:
Kehidupan selalu berjalan tanpa hentinya. Itulah kalimat yang membebani pikiran Fara saat ini. Fara adalah siswi yang duduk di bangku kelas tiga SMP, dia bersekolah di SMPN Harapan Mulia.

Tidur Untuk Tenang

Oleh:
Perempuan dengan baju ungu yang duduk di teras itu adalah ibuku. Diana namanya. Seorang dengan wajah khas keturunan tionghoa dengan tubuh mungil dan mata yang sedikit merah karena terkena

Menjebak Pencuri Mangga

Oleh:
Entah ide apa yang ada akan dilakukan Roni. Saat ini, ia sangat kesal dengan ulah pencuri mangga. Meskipun sudah diberi pagar berduri, pencuri masih tetap nekat “membersihkan” pohon mangga

Titik Terang

Oleh:
“Panas sekali pagi ini.” kata Laura dengan letih sambil merapikan sekumpulan barang yang ia bawa. “Panas pagi baik untukmu Nduk, kata orang-orang ‘Baik untuk kulit’.” kata Nenek Laura yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dreamer”

  1. Madeline Priscilla says:

    Kan jurusan IPS, kenapa jadi dokter? Kalau dokter kan jurusan IPA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *