I Love You My Brother (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 14 July 2016

Hingga ujian Kakak yang memasuki hari kedua aku tetap menahan rasa haus di tenggorokanku bila aku merasa haus. Jika menunggu ia pulang aku pasti kehausan. Aku memutuskan untuk mengambil minum sendiri tanpa bantuannya.
Perlahan-lahan aku membuka pintu kamar dan mengeluarinya. Aku berjalan mengikuti arah tongkat penunjuk jalan yang memudahkanku melangkah. Sesekali tanganku meraba-raba di sekeliling agar aku bisa lebih tahu sudah sampai mana aku berjalan. Dengan usahaku sendiri, akhirnya aku sampai di dapur tanpa terjatuh. Aku kembali meraba-raba sekeliling untuk mencari gelas. Sampai akhirnya.
“Prrraaannnggg!”
Tidak sengaja aku menjatuhkan gelas yang seharusnya aku pakai untuk mengambil air minum. Aku langsung mencoba membersihkan pecahan gelas itu karena takut Ibu akan mengetahuinya. Disaat aku meraba-raba lantai untuk mencari pecahan gelasnya, tidak sengaja tanganku terkena pecahan itu. Aku berteriak kesakitan, dan menutupi luka yang ada di jari tanganku dengan bajuku. Mendengar teriakkanku yang kesakitan, Ibu datang menghampiriku.
“Vita, ada apa?” Ucap Ibu sambil membantuku berdiri.
“Kenapa banyak pecahan gelas? Terus tangan kamu kenapa?” Tanya Ibu yang melihat pecahan gelas itu berserakan dimana-mana, dan juga melihat jari tanganku yang berdarah.
“Maaf Bu, tadi aku mau minum. Nggak sengaja gelasnya jatuh, dan nggak sengaja pecahan gelasnya kena tangan aku saat aku mau membersihkannya.” Jawabku yang menjelaskan semuanya.
“Ibu kan udah bilang ke kamu, kalau mau apa-apa bilang ke Ibu. Lihat tuh, tangan kamu jadi luka kan.”
“Maaf Bu, aku gak mau bikin repot Ibu.”
“Kamu ini bicara apa sih? Ibu gak pernah merasa direpotin sama anak-anak Ibu, termasuk kamu. Jangan pernah bicara kaya gitu lagi ya!”
“Maafin aku Bu, maafin aku.”
Aku hanya bisa bilang maaf pada Ibu, karena keadaanku yang seperti ini pasti menambah repot dirinya. Selain mengurus pekerjaan rumah, Ibu juga harus mengurus aku yang tidak bisa melihat ini. Aku jadi benci dengan keadaanku ini, aku jadi tidak bisa melakukan banyak hal yang seharusnya bisa kulakukan sendiri. Aku juga jadi merasa tidak berguna jika harus dibantu dengan orang lain ketika mau sesuatu.

Aku kembali ke luar kamar ketika perutku terasa lapar. Jika menunggu Kakak pulang juga aku tidak kuat lagi menahan rasa lapar ini. Masalah minum aku sudah bisa mengambilnya sendiri, tapi kalau makan aku tidak bisa, karena selama ini Kakak yang membantuku. Aku memanggil Ibu agar bisa membantuku mengambilkan makan. Sebenarnya aku tidak mau meminta bantuan Ibu, tapi mau bagaimana lagi, Kakak belum pulang sekolah.

“Bu, Ibu!” Panggilku sambil berjalan perlahan dengan tangan kanan memegang tongkat dan tangan kiri meraba-raba sekitar.
“Iya, Ibu di luar!” Sahut Ibu sedikit meninggikan suaranya karena sedang berada di luar. Aku langsung menuju luar setelah tahu Ibu ada disana.
Kakak bilang, aku harus berjalan sebanyak 20 langkah dari kamarku untuk bisa sampai keluar. Aku menjalankan ucapannya itu. Ketika sudah 20 langkah, tongkatku membentur sesuatu yang tidak lain adalah pintu untuk bisa keluar rumah. Akhirnya aku bisa keluar tanpa ada rasa takut akan terjatuh lagi.
“Ibu!” Aku kembali memanggil Ibu, namun tidak ada jawaban darinya.
“Bu!” Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Ibu.
“Ibu kemana?” Hatiku bertanya-tanya.
Aku terus berjalan mencari Ibu, tanpa sadar aku sudah tidak lagi berada di halaman rumah. Panas matahari menerpa tubuhku. Suara kendaraan yang sedang dikendarai manusia terdengar selanjutnya. Aku dimana? Ini di jalan raya. Aku panik. Suara kendaraan yang sedang berlalu semakin jelas terdengar. Aku menghentikan jalanku ketika salah seorang pengendara memarahiku, dia hampir saja menabrakku karena aku tidak berjalan dengan baik. Bagaimana aku bisa berjalan dengan baik kalau aku tidak bisa melihat di sekelilingku?

Aku tetap terdiam berdiri di posisiku ini sambil memegang erat tongkatku. Aku tidak mempedulikan marahan orang-orang yang sedang berkendara, dan tidak juga mempedulikan suara klakson kendaraan mereka yang memberitahuku untuk segera pergi dari tempatku berdiri, karena posisiku ini menghalangi jalannya mereka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena takut akan salah melangkah yang mengakibatkan aku celaka. Kepanikanku semakin menjadi-jadi. Aku hanya bisa memanggil Ibu dan Kakak, berharap mereka berdua bisa menolongku disini. Tapi Kakak tidak mungkin menolongku, ia sedang ujian di sekolah. Sedangkan Ibu, aku tidak tahu entah dimana keberadaannya.

Namun tidak lama kemudian aku mendengar seseorang berteriak memanggilku dari kejauhan sana. Teriakkannya terdengar cemas. Aku mengenali teriakkan itu. Teriakkan itu? Itu teriakkan Ibu! Ya, itu Ibu! Aku langsung memberitahu ibu dimana aku berada, walau sebenarnya Ibu sudah tahu dimana aku berada setelah mendengar panggilanku yang memanggilnya.
“Ibu aku disini! Tolong aku Bu, aku takut!”
“Iya, kamu jangan kemana-mana ya! Ibu akan kesana!” Ucapnya yang kembali berteriak dengan nada kecemasan.
Aku menuruti ucapan Ibu itu. Aku tetap diam di tempatku berdiri sambil terus memegang erat tongkatku. Hanya tongkat itu yang kini setia menemani setiap langkahku, memudahkan aku berjalan kemanapun aku melangkah. Karena dengan adanya tongkat penunjuk jalan, aku bisa lebih tahu ada apa saja di depan langkah-langkah yang akan aku lewati. Meski dia tidak bermata, setidaknya ia bisa menjadi mata untukku, agar aku bisa melangkah dengan baik.

“Kamu gak apa-apa kan sayang? Ibu khawatir banget sama kamu!” Tanya Ibu ketika sudah membawaku pergi dari jalan raya.
“Aku gak apa-apa kok Bu!” Jawabku dengan kondisi yang sudah tenang.
“Kenapa kamu bisa sampai ke jalan raya?” Ibu kembali bertanya.
“Aku lapar Bu, aku mau makan. Tadi kan Ibu bilang Ibu ada di luar, makanya aku keluar buat bilang ke Ibu. Tapi pas udah di luar aku panggil-panggil, Ibu gak jawab aku. Aku coba cari Ibu, sampai akhirnya aku ke jalan raya. Maafin aku Bu, aku udah buat Ibu khawatir.” Jawabku yang menjelaskan semuanya.
“Ibu gak tahu kalau kamu bakal ke luar. Tadi Ibu pergi kerumah tetangga sebelah. Maafin Ibu juga ya!”
“Gak apa-apa Bu. Yang penting sekarang aku udah sama Ibu!”

Ibu menuntunku kembali ke rumah. Aku tenang, akhirnya bisa kembali ke rumah tanpa kenapa-kenapa. Aku benar-benar takut tadi akan celaka, aku masih mau bersama Ayah, Ibu dan Kakak. Setelah sampai di rumah, Ibu langsung membawaku ke meja makan, membantuku duduk di kursi dan menyendokkan sepiring nasi beserta lauknya untukku.
Baru beberapa sendok nasi masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba suara kakak terdengar dan membuatku terkejut.
“Gak nunggu Kakak pulang dulu makannya?”
Aku menghentikan makanku, dan berkata.
“Kakak udah pulang?”
“Iya, baru aja sampai! Tumben makan duluan, biasanya nunggu Kakak pulang dulu?” Tanyanya, karena biasanya aku selalu menunggunya pulang ketika mau makan siang.
“Aku udah lapar banget Kak, jadinya makan duluan deh.” Jawabku.
“Oh gitu. Ya udah, dihabisin ya makannya, Kakak mau ganti baju dulu!” Ucapnya sambil bergegas pergi meninggalkanku. Tapi sebelum dia pergi aku menghentikannya.
“Kakak tunggu!”
“Ada apa Dek?” Tanyanya.
“Kakak udah selesai belum ujiannya?” Jawabku yang berbalik tanya padanya. Kalau dihitung-hitung harinya, sepertinya sudah selesai.
“Oiya, hampir lupa bilang ke kamu kalau Kakak udah selesai ujiannya.” Jawabnya.

Akhirnya pelaksanaan ujian Kakak telah selesai. Kakak bilang dia bisa mengerjakannya tanpa mengalami kesulitan sedikit pun. Aku sangat senang mendengarnya. Hubungan aku dan Kakak kembali menjadi dekat seperti dulu. Dia juga kembali lagi membantuku dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan sendiri. Aku sudah tidak merasa sendiri dan kesepian lagi, karena Kakak sudah berada di sampingku lagi.

Sebulan pasca ujian nasioanl, pengumuman kelulusan Kakak pun tiba. Ia mengajakku untuk ikut bersama Ibu menghadiri acara pengumuman kelulusannya di sekolah, karena ia tahu aku pasti merindukan sekolah. Aku sempat terkejut mendengarnya. Kenapa dia mengajakku kesana dengan keadaanku yang tidak bisa melihat ini? Aku memilih menolak ajakannya itu, jelas saja, kalau keadaanku tidak seperti ini, aku pasti akan datang, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Bagaimana aku bisa melihat wajah bahagianya disaat mengetahui dia lulus nanti kalau aku saja tidak bisa melihat. Pasti aku juga hanya bisa membuat Ibu dan dirinya repot karena harus menuntunku berjalan.

Aku jadi sendirian di rumah ketika Ibu dan Kakak pergi untuk menghadiri acara pengumuman kelulusannya di sekolah. Tapi walaupun sendiri Ibu sudah menyiapkanku makan, dan Ibu juga mengganti gelas beling menjadi gelas plastik agar tidak pecah ketika jatuh ke lantai. Selagi menunggu Ibu dan Kakak pulang dari sekolah, aku memilih tidur karena merasa bosan dan tidak ada yang mengajak mengobrol. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, aku terbangun saat Ibu membangunkanku di malam hari. Ternyata sudah berjam-jam aku tidur. Ibu memberi kabar bahagia padaku, yaitu tentang kelulusan Kakak. Ternyata Kakak lulus dengan nilai yang terbaik. Aku sangat senang mendengarnya, akhirnya Kakak bisa lulus dengan nilai yang terbaik. Selain kabar bahagianya Kakak, Ibu juga memberi kabar bahagia untukku. Ada pendonor mata untukku, itu artinya aku akan bisa melihat lagi, melihat Ayah, Ibu dan Kakak. Ibu tidak memberitahu siapa yang mendonorkan matanya untukku, yang jelas besok pagi aku akan dioperasi. Aku tidak lupa memberitahu kabar bahagia ini pada Kakak, ia pasti senang mendengar kabar yang aku berikan ini.

Aku ke luar kamar untuk menuju kamar Kakak. Kamarnya tidak jauh dari kamarku, hanya beberapa langkah saja. Ia pernah bilang, kalau mau ke kamarnya cukup berjalan sambil berpegangan dinding saja, tidak seperti saat aku ke dapur, kemeja makan, atau keluar rumah. Ketika sampai aku langsung mengetuk pintunya, namun sudah tiga kali ketukan Kakak tidak juga membukakan pintunya, dan panggilanku pun tidak dijawab olehnya. Aku mencoba membuka pintu kamarnya, tapi tidak bisa dibuka, pintunya terkunci. Kakak kemana? Apa ia sudah tertidur karena capek habis pulang dari sekolah? Mungkin sepertinya begitu. Aku pun kembali lagi ke kamar, masih ada hari esok untuk memberitahu ini ke Kakak.

Pagi pun tiba, selesai mandi Ibu menyisiri rambutku dan merapikan penampilanku. Sebelum berangkat ke rumah sakit untuk dioperasi, aku sarapan terlebih dahulu. Pagi ini Kakak tidak ikut sarapan bersamaku. Ibu bilang Kakak sakit, jadi ia butuh istirahat. Pantas saja semalam pintunya dikunci, biar aku tidak mengganggunya. Padahal aku ingin Kakak ada di sampingku saat aku bisa melihat lagi nanti. Tapi tak apalah, aku tidak boleh egois, keadaan Kakak bisa tambah buruk kalau aku memaksakannya untuk menemaniku. Lagi pula aku masih tetap bisa melihatnya di rumah setelah pulang dari rumah sakit. Aku berangkat ke rumah sakit bersama Ibu, sedangkan Ayah menemani Kakak di rumah. Hari ini Ayah tidak bekerja.

Beberapa jam berlalu, akhirnya operasinya selesai dan berjalan dengan lancar. Tapi perban yang ada di mataku belum bisa dibuka, harus menunggu beberapa saat lagi. Aku sudah tidak sabar melihat Ayah, Ibu dan Kakak. Sudah lama aku tidak melihat mereka. Sampai pada akhirnya perban yang ada di mataku pun dibuka. Dokter menyuruhku membuka perlahan-lahan mataku setelah perbannya dibuka. Pandangan mataku masih belum jelas, tapi aku bisa melihat orang-orang yang ada di depanku. Tidak seperti saatku benar-benar tidak bisa melihat, yang pandanganku semuanya gelap. Aku menutup mata dan kembali membukanya, namun masih sama, tapi lebih baik dari yang sebelumnya. Sampai yang ketiga kalinya aku mencoba menutup mata dan membukanya, aku sudah bisa melihat dengan jelas orang-orang yang ada di depanku.
“Ayah, Ibu!” Ucapku dengan bahagia, lalu disambut dengan senyum bahagia mereka juga.
“Alhamdulillah, kamu sudah bisa melihat lagi!” Ucap Ibu yang juga sama bahagianya sepertiku. Akhirnya aku bisa melihat wajah mereka lagi. Tapi ada seseorang yang belum kulihat. Kakak! Dimana dia? Kenapa dia tidak ada disini, sedangkan Ayah ada disini? Aku pun langsung menanyakannya pada Ibu.
“Bu, Kakak mana?”
Ibu tidak menjawabku, ia hanya memandangku sedih. Aku tidak mengerti mengapa Ibu begitu. Aku kembali bertanya padanya, namun Ibu tetap tidak menjawabku, ia malah menangis. Ada apa ini? Aku samakin tidak mengerti. Karena Ibu tidak menjawabku, aku pun bertanya pada Ayah.
“Yah, Kakak mana? Kenapa Ayah gak mengajak Kakak? Katanya Ayah sedang menemani Kakak di rumah?”
Namun, lagi dan lagi pertanyaanku tidak dijawab. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Kakak? Apa sakitnya semakin parah?
“Kakak ada kok! Kamu mau lihat Kakak?” Akhirnya Ayah menjawab pertanyaanku.
“Iya Yah, aku mau lihat Kakak!” Kataku.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen I Love You My Brother (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Merindukan Ayah

Oleh:
Waktu sore hari, aku berniat untuk pergi ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Waktu di perjalanan menuju taman aku sempat berhenti melihat seorang, anak yang sedang

Program Penurunan Berat Manja

Oleh:
Melihat aksi tanteku yang lagi sibuk kejar-kejaran dengan Ifha, putrinya yang kelas dua SD, karena susah sekali disuruh mengerjakan PR, diriku teringat pada tulisanku yang akan Anda baca ini.

Bahagia Itu Indah

Oleh:
Saudara. Itulah kata yang mengadung penuh cinta dan kasih sayang. Saudara. Dimana kita bisa saling melindungi. Saudara. Benteng untuk dendam dan benci. Itulah makna saudara. Tapi tidak dengan pendapat

Kado Buat Mama

Oleh:
Aku tinggal di sebuah kota di komplek yang mayoritas pemilik rumahnya adalah kalangan pengusaha. Aku tinggal bersama mama dan seorang pembantu karena Papaku kembali ke Amerika setelah papa dan

Tinta Hitam

Oleh:
Pepohonan mengibas-ngibaskan ranting seraya mengamatiku tajam. Aku termenung dalam dekapan kesengsaraan yang kini menderaku. Dedaunan berjatuhan pelan, kadangkala mengenai kepalaku yang sedang semrawut. Di bawah pohon beringin ini yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *