Indahnya Cinta Ratih (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 19 November 2015

Rumah sakit yang besar ini ternyata sudah penuh sesak dengan petugas maupun sanak keluarga dari korban bus rombongan yang terjatuh di jurang itu. Tak ada tawa yang terlihat di sini, hanya isak tangis, suara rintihan serta wajah tabah yang mengiringi setiap tancapan infus dan lilitan perban. Bau obat-obatan yang menyeruak pun membaur bersama derap kaki yang hilir mudik ke mari. Begitupun dengan Ratih dan sang Ibunda, satu persatu perawat ditanyai tentang keberadaan Amelia.

Tapi semua perawat yang ditanyainya tak satupun yang tahu, mereka hanya menggeleng lalu meninggalkan pergi. Terpaksa Ratih pun harus memeriksa satu persatu kamar rawat yang ada di rumah sakit itu. Kebetulan sang Ibunda menemui guru pembimbing Amelia, ia pun menanyai keberadaan cucunya. Dengan wajah sangat menyesal sang guru pun memberitahu keadaan buruk yang telah menimpa Amelia. Tampaknya Ratih pun telah siap dengan semua kenyataan yang akan diterimanya, walaupun ternyata kenyataan itu terlalu pahit baginya.

Ternyata tak butuh waktu lama untuk menemui kamar putri kecilnya. Ratih langsung berhambur memeluk putrinya yang terbebat banyak perban itu. Amelia langsung tersenyum ia pun mengeratkan pelukannya. “Nenek…”
“Amelia kamu nggak apa-apa sayang?” sambar Ratih sambil menggenggam tangan putrinya.
“Kamu siapa? Nenek mana? Kamu bukan Nenek..”

Dengan berat hati Ratih pun melepaskan tangannya dari Amelia, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat baginya untuk memberitahu Amelia bahwa ia adalah Ibu kandungnya. Hati Amelia pasti akan sulit menerimanya ditambah keadaannya yang telah berbeda sekarang.
“Nenek di sini sayang. Kamu jangan takut..” Sambut sang Nenek sambil mencium kening cucunya.
Sekilas senyum terbentang di bibir mungil Amelia, ia pun mengenggam tangan sang Nenek erat.

“Nek, mata Lia kenapa gak bisa kebuka. Lia kenapa nek. Kenapa badan Lia semuanya sakit. Lia di mana? Lia gak bisa lihat nek, mata Lia juga sakit.”
“Tenang ya sayang, kamu jangan banyak gerak nanti badan kamu tambah sakit. Lebih baik kamu sekarang tidur, besok kalau badan kamu udah enakan, Nenek akan jelasin semuanya ke kamu..”
“Tapi Nenek jangan kemana-mana ya, jangan ninggalin aku.” tambah Amelia.
“Nenek janji sayang..” Setelah mengecup kening Amelia, sang cucu pun langsung terlelap dengan mengenggam sebelah tangannya.

Ratih memerhatikannya dengan seksama, ia bahagia putrinya itu ternyata mempunyai Nenek yang sangat menyayanginya. Hati kecilnya pun bertanya, masih butuhkan Amelia dengan Ibu yang selama ini sudah menelantarkannya. Ditambah sekarang keadaan Amelia yang kehilangan penglihatannya akibat terbentur pecahan kaca mobil yang mengenai kedua matanya. Perasaannya kembali berkecamuk, terkadang ia merintih pada Tuhannya, “Ya Robb, mengapa engkau timpa aku dengan suatu masalah lagi, padahal kebahagiaan baru saja datang menghampiri.”

Langit yang gelap perlahan membiru seiring mencairnya embun yang bergelayut di ujung dedaunan. Pagi ini Ratih terbangun dan menjawab sahut-sahut suara adzan yang menggetarkan kalbunya. Sekilas ia melihat Amelia yang masih tertidur pulas bersama Ibundanya. Untuk sesaat ia memandangi wajah Amelia yang masih sangat bersih itu, walaupun beberapa perban melilit wajah putri kecilnya, tapi itu tidak menghilangkan kecantikan yang terpancar. Oh, ia pun seperti melihat bayangan dirinya di wajah Amelia. Ternyata anaknya sangat mewarisi karateristiknya. Ratih tersenyum simpul, tampaknya kini ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Keajaiban air wudu ternyata memang benar adanya. Buktinya walaupun Ratih hanya membasuh sebagian tubuhnya tapi kesegaran itu merambat hingga ke seluruh tubuhnya bahkan hingga ke dalam pikiran dan hatinya. Dengan penuh khusyuk Ratih memulai takbiratul ikhram dengan perlahan dilanjutkan ruku, sujud, dan kemudian diakhiri dengan salam. Dalam doanya Ratih kembali merintih dan memohon kesembuhan atas putri kecilnya. Selesai salat langsung bangkit dan mencium kening anaknya sambil membisikkan, “Ibu mencintaimu nak.”

Dengan langkah mantap Ratih berjalan ke ruangan dokter yang menangani Amelia. Tanpa basa-basi Ratih langsung menanyakan detail tentang kondisi putrinya.
“Tidak ada masalah yang cukup serius dengan putri anda. Hanya memar ringan di bagian lutut, tangan serta pelipisnya. Kalau untuk mata, saya harus mengatakan sejujurnya. Mata putri anda terkena pecahan yang menusuk cukup dalam hingga mengenai retina matanya. Bola mata itu pun rusak parah, dan tidak bisa diselamatkan. Bisa kami simpulkan Amelia akan mengalami buta permanen. Anda tidak perlu khawatir, kami pun telah memasukkan nama putri anda sebagai pencari donor mata. Namun memang itu membutuhkan waktu yang lama, kiranya anda harus bersabar..”

Ratih berpikir sejenak, ia tak mungkin tega membiarkan putrinya berlama-lama menanti donoran mata. Amelia pasti akan depresi dan sedih berkepanjangan. Bukankah tujuannya menemui anaknya itu untuk mencari kebahagiaan. Mana mungkin ia akan bahagia jika anaknya tidak bahagia. Dan bagaimana bisa Amelia mempercayainya sebagai Ibu yang telah melahirkannya, sedangkan Amelia sendiri tak dapat melihat wujud dirinya. Akhirnya Ratih pun menyimpulkan suatu keputusan bulat. Ya! Ia sendiri yang akan mendonorkan matanya.

Operasi pemindahan retina mata itu langsung terjadi siang itu juga. Ratih sendiri yang memintanya begitu. Ia tak mau menunda-nunda, karena semakin ditunda itu akan membuat putri kecilnya semakin sedih. Sebelum menjalankan operasi, Ratih menyampaikan diri untuk melihat kembali wajah putrinya yang masih tertidur pulas. Ia pun menitikkan air mata, menyadari ini adalah saat terakhir kalinya ia dapat memandangi wajah putri kecilnya yang sudah delapan tahun tidak ditemuinya. Walaupun hanya sesingkat ini, Ratih yakin ia akan mampu mengingat wajah putrinya walau nanti ia tidak bisa melihatnya lagi. Karena wajah itu bukan tersimpan di memori otaknya yang seiring waktu bisa saja hilang, melainkan ia menyimpannya di hati, yang akan abadi dan tak mampu lekang oleh waktu.

Sang Ibu yang baru mendengar kabar pendonoran mata Ratih, langsung mencari-cari anak sulungnya itu dengan hati cemas. Ternyata Ratih sedang duduk dekat ruang operasi bahkan telah berganti dengan pakaian operasi.
“Nduk Ibu cari kemana-mana ternyata kamu di sini. Kamu ngapain Nduk pake baju ini?” tanya sang Ibu.
Ratih langsung bangkit dan memeluk Ibunya erat sambil menitikkan beberapa air mata yang dengan kilat langsung diusapnya. “Bu, doain Ratih ya, Ratih mau mendonorkan mata buat Amelia biar Lia bisa melihat lagi bu..”

Sang Ibu pun tak bisa menyembunyikan lagi air matanya yang ingin ke luar. “Kenapa harus kamu Nduk? Kita kan bisa nunggu pendonor mata yang lain..”
“Tapi itu pasti lama bu, Ratih nggak mau Lia nunggu terlalu lama. Mata Ratih ini sudah terlalu banyak berbuat dosa bu, sekarang saatnya untuk mata Ratih ini menghapus dosa-dosanya. Lagi pula orang yang akan menerima mata Ratih ini, anak Ratih sendiri bu. Jadi Ratih sama sekali nggak ragu..”
“Baiklah kalau begitu yang kamu mau. Tapi Ibu tetep nggak tega kalau kamu yang harus mengorbankan matamu Nduk..” jawab sang Ibu masih tersedu.

Ratih mengusap air mata yang mengaliri pipi Ibundanya. “Ibu harus yakin, ini demi kebaikan Amelia. Dia yang lebih membutuhkan sepasang mata, daripada Ratih. Lia masih harus bermain dan tertawa seperti teman-temannya yang lain yang masih mampu melihat indahnya dunia..”
“Tapi gimana dengan kamu Nduk? Kamu pun juga membutuhkan itu..”
“Nggak bu, Ratih nggak butuh apa-apa. Yang Ratih butuhkan itu cuma senyum dan tawa Amelia. Kalau Lia bahagia, Ratih pun bahagia..” jawab Ratih mantap.

Tak lama, seorang perawat pun datang menghampiri Ratih dan memintanya untuk segera masuk ruang operasi, karena operasi itu akan segera dimulai.
“Bu doain Ratih ya, semoga operasinya berjalan lancar..” ucap Ratih sambil mencium tangan Ibundanya dengan penuh rasa hormat dan cinta.
Operasi itu telah selesai setelah berjalan dua jam lamanya. Amelia dan Ratih ditempatkan di ruang rawat yang berbeda. Sang Ibu langsung menghampiri anak dan cucunya bergantian, dalam hatinya ia terus melafalkan doa agar anak dan cucunya bisa cepat pulih kembali.

Tak terasa senja kembali membias bersama jingganya langit di ufuk barat. Ratih hampir tak percaya, inilah senja pertama yang dilewatinya tanpa sepasang mata. Ya, memang agak berbeda, tapi ia masih mampu merasakan desiran angin yang membelai wajahnya lembut. Ratih bergumam, “Walaupun senja kini tak dapat ku pandangi, tapi aku bahagia masih mampu merasakan kedamaian dan keteduhannya. Sungguh ini tak jauh berbeda. Terima kasih ya Robb, kau memang maha adil, kehilangan penglihatan ternyata bukan berarti kehilangan segalanya..”

Suara ketukan pintu.
“Ibu…”
“Iya ini Ibu Nduk. Kamu sudah siuman ternyata.” ucap Ibu sambil membelai rambut anaknya yang tergerai panjang.
“Iya bu. Amelia gimana, dia sudah siuman atau belum?” balas Ratih.
“Alhamdulillah sudah, Ibu barusan menyuapinya. Kamu mau makan Nduk?”
“Nanti saja bu, Ratih masih kenyang. Ibu saja dulu yang makan, Ibu pasti belum makan.”

“Ibu sudah makan kok Nduk. Ya sudah kalau ada apa-apa panggil Ibu aja ya Nduk, atau kamu tekan belnya. Ini, bel-nya ada di samping tangan kananmu ya. Ibu mau ke kamar Lia lagi.” ucap sang Ibu lalu mengecup kening anaknya lalu membisikkan, “Ibu mencintaimu Nduk.”
Setelah pintu terdengar ditutup, Ratih menitikkan air mata. “Kenapa aku baru sadar bahwa selama ini aku mempunyai Ibu yang sangat perhatian dan sayang padaku. Kenapa baru sekarang…” lirihnya sambil terus mengusap butiran bening yang membanjiri pelipis matanya.

Pagi ini benar-benar membahagiakan untuk Ratih, karena hari ini Amelia sudah diperbolehkan pulang. Ia mencoba membayangkan senyum di wajah putrinya sambil bergumam, “Pasti ia akan tersenyum seperti itu..” Walau di luar langit meradang dan rintik hujan mulai turun perlahan, rasa bahagia itu tak luput dari hati Ratih. Ia malah berpikiran, hujan ikut mengamini kebahagiannya saat ini.
“Nenek, hari ini aku boleh pulang kan?” ucap Amelia semangat.
Sang Nenek menghampiri cucunya dan membelai wajahnya dengan lembut, “Iya sayang, mulai hari ini Lia boleh tidur di rumah..”

“Yes. Horee. Lia udah bosen nek tidur di sini, kasurnya sempit, nggak ada mainan dan nggak ada temen..”
“Iya, tapi kalau udah pulang Lia jangan banyak main dulu ya, luka Lia belum sembuh benar.”
“Siap nek.” balas sang cucu sambil merekahkan senyum lebar di antara katup bibirnya.
“Oh iya, Lia pakai jaketnya ya, kayaknya di luar gerimis..” Sang Nenek memasangkan jaket di tubuh cucunya lalu kembali membelai rambut cucunya yang tergerai sebahu.
Ratih yang mendengarkan percakapan itu betul-betul merasa bahagia. Ini adalah kali pertamanya ia mendengar suara putrinya yang begitu bergembira. Andai ia juga mampu melihat raut wajah gembiranya Amelia, mungkin dunia dan seisinya pun tak akan sebanding dengan itu. Sekali lagi Ratih harus meneguk kepahitan dan berlirih pelan. “Itu tak mungkin terjadi.”

Semilir angin mulai menghembus perlahan. Menggeretak bebatuan hingga memecah keheningan di sela katup bunga yang hampir mekar. Dedaunan pun ikut bergoyang seolah menikmati irama yang didendangkan oleh angin. Sang raja siang mulai beranjak menuju tahtanya, sinar keemasan pun mulai berlomba menyelinap di balik sela-sela sempit, menembus air, dan menggelayut di tulang dedaunan. Semuanya bertasbih, memuji keagungan sesuai dengan titah Tuhan-nya.

Rumah sederhana berpagar tanaman itu kini tampak lebih ramai dari biasanya. Ya, karena sudah dua minggu ini rumah itu bertambah satu penghuni yang mungkin akan tinggal menetap di sana. Kini. Di balai depan rumah itu terlihat seorang wanita muda sedang bercengkerama dengan seorang gadis kecil yang asyik memainkan boneka barbienya. Terkadang wanita itu tak sengaja menjatuhkan mainan yang dipasang sang gadis kecil, tapi gadis itu tetap tersenyum dan seakan mengerti keadaan wanita muda yang selalu berpegangan pada tongkat kayu.

“Maaf ya Lia, pasti mainanmu kesenggol Tante lagi.” ucap Ratih sambil meraba-raba mainan yang tadi disenggolnya.
“Udah nggak apa-apa Tante. Biar Lia yang ambil.” balas Amelia dan meraih mainannya yang jatuh ke lantai.
Ratih tersenyum mendengar jawaban putri kecilnya itu. Ternyata putrinya memiliki hati yang sangat lembut, yang berbanding terbalik dengan dirinya. Kalau begini, ia ingin cepat-cepat memberitahu Amelia bahwa ia adalah Ibu kandung yang sebenarnya, tapi.. entah bagaimana cara mengucapkan itu semua.

“Lia.. Apa Lia tahu sekarang Ibu Lia di mana?”
“Nggak. Dari kecil, Lia cuma punya Nenek, Kakek dan Mas Imam. Kata Nenek, Ibu Lia lagi kerja yang jauuuh di sana sama seperti Ayah Lia yang juga lagi kerja jauh.”
Ratih tersentak mendengar kata Ayah dari mulut anaknya. Ia benar-benar tak sempat berpikir, bagaimana jika ia memperkenalkan diri sebagai Ibunya, lalu Amelia bertanya padanya tentang keberadaan Ayah anak itu. Bagaimana mungkin ia bisa menjawab. Bahkan sampai sekarang pun, ia tidak tahu lelaki mana yang telah menghamilinya. Ratih berpikir keras, tapi ia memilih mengabaikan itu.

“Tapi kalau ternyata Ibu Lia sudah kembali, apa Lia mau memeluknya?”
“Pasti. Lia udah kangen banget sama Ibu. Lia nggak akan ngelepas Ibu lagi buat kerja. Lia akan minta Ibu buat nemenin Lia tidur. Lia akan nunjukin semua hasil ulangan Lia selama ini, dan minta Ibu buat ngambil rapor Lia nanti”
“Dan kalau Ibu Lia ada di hadapan Lia sekarang, apa yang mau Lia katakan pada Ibumu nak?” tanya Ratih dengan penuh harap.
Gadis kecil itu sedikit mendongak menghadap wajah Ratih lalu kembali merunduk sambil mengatakan “Ibu.. Lia kangeen banget sama Ibu. Walaupun Lia belum pernah lihat wajah Ibu, tapi Lia sayaaang sama Ibu. Lia janji, Lia nggak akan jadi anak yang nakal lagi. Tapi Ibu juga harus janji, nggak akan tinggalin Lia lagi”

Mata Ratih seketika langsung basah tergenang air mata. Dirinya terguncang kuat, kakinya bergemetar, ia pun mencoba menggapai-gapai tubuh putrinya dengan kedua tangannya. “Kemari nak, ini Ibumu. Peluk Ibumu seperti yang kau bilang nak.”
Amelia menoleh, mendapati Ratih yang sedang tersedu. “Tan..te.. ini Ibuku?”
Ratih mengangguk lalu Ibu dan anak itupun berpelukan erat seakan tak ingin lepas.

“Maafkan Ibu ya nak, Ibu sudah menelantarkanmu selama ini. Seharusnya Ibu lebih cepat pulang dan memelukmu seperti ini. Apa Lia mau memaafkan Ibu?”
“Lia mau bu. Tapi apa Ibu janji nggak akan pergi lagi?”
“Iya sayang.” Ratih mencium kening anaknya dengan penuh cinta.

Air matanya terus mengalir deras. Selama delapan tahun ini, ia baru merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Walau kedua matanya kini sudah tidak dapat melihat indahnya dunia lagi, tapi ia yang akan membiarkan dunia melihat keindahan kasih cintanya bersama putri kecilnya -Amelia.
“Ibu ingin dengar kata-kata yang kau ucap tadi nak, jika Ibumu sudah ada di hadapanmu”
Lia berbalas mencium kening Ratih lalu membisikkan ke telinganya. “Lia mencintai Ibu.”

Selesai

Cerpen Karangan: Tutut Setyorinie
Blog: tututsetyorinie.blogspot.com
Kunjungi Blogku juga ya.. tututsetyorinie.blogspot.com

Cerpen Indahnya Cinta Ratih (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Membisu

Oleh:
Sudah dibuat terheran-heran orang menghadapinya. Lelaki yang bernama Joni itu masih saja setia berkawan dengan kursi ruang tamunya. Duduk tentram dan menyaksikan apa saja yang terjadi di luar sana

Ke Mana Dia Pergi

Oleh:
Ruangan besar yang tertata rapi masih terasa sesak sekali. Udara terasa hangat sekali di dalam walau di luar terlihat hujan begitu lebat. Berkali-kali telunjuk tanganku hanya mengetuk-ngetuk meja dengan

Irisan Mata Lisa

Oleh:
Namaku Lisa, aku seorang wanita berumur 18 tahun yang bersiap menuju jenjang universitas. Orang lain memberikan berbagai argumen tentang kecantikan wajahku, akan tetapi, aku tak merasakan kenikmatan itu melekat

Pesan Yang Kurang

Oleh:
Sepi. Berat. Itulah yang setidaknya ku rasakan saat ini. Semua indraku belum berfungsi dengan baik. Telingaku, tengah berusaha menyempurnakan pendengarannya. Aku menarik nafas kembali. Mataku, masih terpejam dan seluruh

Untuk Kakak Dan Panda

Oleh:
Sikap, sifatnya dan cara dia menatapku berbeda dengan semua orang. Ketika dia marah, dia berusaha menyembunyikan amarah supaya aku dan orang-orang disampingnya tidak tahu apa dia sedang marah atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *