Kebencian Diselimuti Dendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Hari sudah menjelang sore sekitar pukul 17:00 WIB, namun entah apa yang membuat Mada belum pulang juga dari sekolah, Ibunya sangat mengkhawatirkannya dan pasti dipenuhi rasa cemas.
“Bu, sudah toh bu, Mada pasti baik-baik saja, jangan khawatir. Mada nanti juga pulang.” Dengan memegang bahu Ibunya. Hizah sebagai Kakak Mada, berusaha menenangkan Ibunya.
“Gimana nggak khawatir zah, Mada kan juga anak Ibu, sudah jam segini belum juga pulang. Ibu kan takut kalau dia kenapa-kenapa.” Ucap Ibu Mada, dengan mimik wajah sangat khawatir.
“Hizah yakin kok bu, Mada baik-baik saja, dia kan anak yang saleh, pasti Mada selalu dalam perlindungan Allah SWT.” Sang Kakak mencoba menenangkan Ibunya lagi, dengan perkataan tersebut sambil menegang tangan Ibunya itu.

Padahal dalam hati Hizah juga merasa cemas dan khawatir dengan Adiknya tersebut. Beberapa menit kemudian ada seseorang mengetuk pintu.
“Tok.. tok.. tok..” bunyi ketukan pintu terdengar. Bunyi ketukan pintu terdengar kembali.
“Bu, itu pasti Mada, sebentar ya bu, biar Hizah aja yang membuka pintunya” Ujar Hizah dengan perasaan mulai tenang sambil berjalan menuju pintu.
“Assalamualikum.. bu.. kak!!” seseorang berteriak memanggil Ibu dan Kakak, seseorang tersebut adalah Mada.
“Wallaikumsallam.. warahmatulahi waba.. massaalloh!! kamu kenapa dik, kok berantakan gini sih? ayo cepat masuk” Betapa terkejutnya Hizah melihat Adiknya dalam keadaan pakaian berantakan dan muka lebam, seperti habis berkelahi.

Mada pun langsung menuju kamar sambil merebahkan tubuhnya. Dia masih memikirkan kejadian di sekolah.
“Mada kamu kenapa nak, ayo ke sini cerita sama Ibu, jangan disimpan lama-lama dalam hati, nanti jadi tambah sakit loh, coba ceritakan semuanya pada Ibu.” ucap Ibunya dengan sangat lembut, Mada tidak menyadari kalau Ibunya ternyata sudah ada di kamarnya.
“Nggak ada apa-apa kok bu, Mada cuma kecapaian.” jawab Mada tanpa sedikit pun ia menoleh ke arah Ibunya.

Setelah itu Mada menuju kamar mandi, dengan masih memakai baju seragamnya. Mada adalah anak dari Ibu Salehah dan Adik dari Hizah, Bapaknya meninggal dunia ketika Mada berumur 1 tahun karena penyakit yang dideritanya. Untuk menafkahi kedua anaknya Ibunya sehari-hari bekerja sebagai buruh petani, dan berjualan gorengan, Mada termasuk anak yang pandai dan saleh, ia kini sekolah di SMP Karang Reja, desa Banaran dan berada di kelas 8-A.

Keesokan harinya. Seperti biasanya Mada selalu berangkat pagi-pagi sekali bisa dibilang lebih awal dari teman-temannya. Karena ia sudah terbiasa bangun pagi untuk menunaikan salat subuh setelah itu ia sarapan seadanya dan berangkat dengan ceria. Walaupun Mada sering dibully oleh Kakak kelasnya namun Mada tetap sabar, dan menerima apa yang perlakukan oleh Kakak kelasnya terhadap dirinya. Setelah sampai di sekolahnya sekitar pukul 06:17 WIB, jaraknya memang agak jauh dari rumahnya makanya Mada memerlukan waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki. Mada menuju kelasnya lalu ia membaca-baca lagi materi yang akan diajarkan oleh gurunya.

Tiba-tiba Mada yang sedang duduk, terkejut ketika seniornya datang dan menghina, dan membentak-bentak di depannya dengan memukul meja. Pada waktu tragedi itu berlangsung, seorang cewek datang, dan lain bukan lain adalah pacar salah satu seniornya. Setelah menyadari kedatangan pacarnya, senior-seniornya langsung beranjak pergi. Mada melihat cewek itu dengan tatapan yang tajam setajam silet. “Sungguh cantik sekali..” ujarnya dalam batin. Dan pada saat istirahat, seperti murid biasanya, ia menuju kantin. Tapi pada saat ia sedang berjalan, Mada tak sengaja menabrak salah satu seniornya, Mada lalu melihat nama yang tertera di seragam seniornya itu, dan namanya adalah Galih, dan setelah itu tentu saja Mada dimarahi habis-habisan dan dihina-hina karena ia miskin dan kampungan.

Setelah pulang sekolah. Sesampainya di rumah, Mada dengan perasaan sedih berkata pada Ibunya.
“Bu, kenapa kita terlahir miskin ya bu?” tanya Mada dengan nada rendah.
“Nak, memangnya kenapa? apa yang terjadi sama kamu? sampai-sampai kamu bertanya seperti itu kepada Ibu?” tanya balik Ibunya dengan ekspresi seperti seseorang yang habis menangis.
“Jadi gini bu, setiap Mada berada di sekolah, pasti Mada dihina-hina dan dicacimaki, katanya karena Mada miskin dan kampungan.” Mada mengucapkannya dengan meneteskan air matanya.
“Oh, jadi begitu, walaupun kita miskin, kita kampungan yang terpenting adalah kita selalu bersabar, selalu berusaha, selalu berdoa dan selalu beribadah. Karena harta itu tidak akan dibawa ke liang lahat. Ingat itu nak.. uhuk.. uhuk.. uhuk. ” Ujar Ibu Mada dengan terbatuk-batuk.
“Iya bu.” jawab Mada.

Setelah mendengar apa yang Ibunya ucapkan, dalam hatinya dalam benaknya ia akan terus bersabar, walupun ia selalu dihina-hina.
“Gue akan berusaha bersabar.” ucapnya dalam hati.
Selama Mada di sekolah, walaupun banyak yang menghinanya ia tetap bersabar, dan sampai pada akhirnya ia lulus dan menempati peringkat kedua. Ibunya pun sangat bangga padanya, dan Mada mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke SMA gratis.

Setelah Mada mendaftar Sekolah Menengah Atas, dan mengikuti MOS, ia seperti biasanya, berangkat lebih awal dari teman-temannya. Karena umurnya sudah 17 tahun Mada diberi hadiah berupa Motor untuk berangkat ke sekolah oleh Ibunya, karena jarak menuju ke SMA tempat ia sekarang menimba ilmu itu memakan waktu yang lama sekitar 3 jam menggunakan motor. Sesampainya di sekolah, mungkin sudah nasibnya seperti waktu di SMP, ia sekarang dihina-hina oleh orang yang sama yaitu Galih, karena Galih Kakak kelasnya dulu di SMP, juga bersekolah di SMA yang sama. Setelah bel pulang berbunyi, Mada pulang dan sesampainya di rumah, seperti biasa Mada curhat pada Ibunya.

“Bu, Mada sudah berusaha bersabar, tapi kenapa ya bu, ada orang yang menghina-hina Mada, seperti waktu di SMP, dan yang menghina-hina itu adalah orang yang sama.” curhat Mada pada Ibunya.
“Sabar aja ya nak, mungkin inilah cobaan hidup.” Ibunya menjawab sambil mengelus-ngelus rambutnya.
“Iya bu, Mada akan tetap berusaha bersabar.” ujar Mada dengan penuh semangat.
“Nah, begitu baru anak Ibu” Ibunya menimpali, sambil tersenyum manis pada Mada. Karena besok ada ulangan, jadi Mada di kamarnya belajar, belajar dan belajar sampai larut malam dan tertidur.

Hari sudah pagi waktu menunjukkan pukul 04:17 WIB, Mada segera bangun dan bergegas untuk salat subuh, setelah selesai Mada belajar lagi dengan sangat tekun, kemudian ia sarapan dan pamitan pada Ibu dan Kakaknya. “Mada pergi dulu, bu, kak” ucap Mada dengan langsung menuju Motornya.
“Iya.. Hati-hati” ujar Ibu Mada dan Kakaknya berbarengan. Kakaknya, Hizah tidak melanjutkan sekolah, ia hanya lulusan SMP, Hizah sehari-hari menbantu Ibunya. Hizah percaya bahwa Mada pasti bisa mengangkat derajat keluarganya.

Setelah sampai di sekolah, Mada terus belajar lagi, dan pas waktu ulangan dimulai Mada tidak kesulitan menjawab soal-soalnya. Bel istirahat pun berbunyi, Mada bergegas ke perpustakaan karena ia senang membaca buku, tapi saat ia sedang membaca Galih datang dan menghina-hina Mada. Setelah kejadian itu Mada curiga, karena tampak aneh.
“Kenapa ya, gue kan nggak salah apa-apa sama Galih, tapi kenapa dia tiba-tiba dateng terus ngehina-hina gue” ucap Mada dalam batin. Karena Mada sangat penasaran, ia pun mengikuti setiap gerak-geriknya Galih di Sekolah. Dan pada saat Mada menguping di kantin tanpa ketahuan si Galih, Mada mendengar sesuatu.

“Kenapa lo, nggak hajar si anak kampungan itu bos” ucap salah satu teman Galih.
“lihat aja nanti, gue akan terus bikin Si Mada Kampung itu menderita.” Ujar Mada seperti penjahat.
“Sampai kapan bos?” ucap lagi salah satu teman Galih.
“Ya sampai hutang Ibunya si Mada kampung itu lunas… lah…” Galih mengucapkannya dengan pelan-pelan.
“Oh.. gitu ya bos” ujar salah satu temannya.
“Hutang? Ibu gue punya hutang? apa maksudnya ini”

Seketika setelah Mada mendengarkan dengan apa yang Galih bicarakan bersama teman-temannya, Mada langsung murka. Ia pergi menghampiri Galih dengan sangat marah dan terjadilah adu pukul, sampai pada akhirnya Mada dan Galih, dibawa ke ruangan guru BP/BK (Bimbingan Konseling). Dan di situlah mereka berdua dihukum. Setelah pulang sekolah.
“Bu, Mada mau nanya sama Ibu, tolong Ibu jawab dengan jujur” pinta Mada dengan tatapan serius.
“Apa nak, Ibu pasti akan menjawab dengan jujur insya Allah” jawab Ibunya.

“Begini bu, saat Mada di sekolah, Mada mendengar pembicaraan Galih si penghina itu, katanya Ibu punya hutang sama dia, benarkah itu bu, tolong jawab dengan sejujurnya” pinta Mada dengan menatap wajah Ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Eeee.. eee.. ee.. sebenarnya mmm.. itu benar nak, dulu Ibu meminjam uang sebesar tujuh juta rupiah, untuk membayar pengobatan Ayahmu…” jawab Ibu Mada dengan meneteskan air mata.

“Jadi itu benar, kenapa bu.. kenapa Ibu merahasiakannya dari Mada!!!” teriak Mada dengan menangis.
“Maafkan Ibu nak, maafkan Ibu… uhuk… uhuk… uhukk..” Ibunya menangis meminta maaf dengan terbatuk-batuk dan akhirnya ia pingsan.
“Bu, bu, bu Bangun bu, bu Ibuuu!!!” dan pada akhirnya Ibunya pun meninggal dunia, dan sejak itu juka Mada bersumpah.
“Gue bersumpah akan membalas dendam ke Galih dan yang berhubungan dengannya. Aku akan membunuh semua keluarganya” Ucap Mada dengan perasaan marah diselimuti dendam di Kamarnya.

Setelah itu Mada setiap hari berlatih tinju untuk menjadi kuat untuk membunuh Galih.
“Awas kau Galih pecundang awas.. mati kau” ucapnya sambil berlatih tinju.
Setiap hari setiap saat ia terus berlatih untuk menjadi kuat dan bertekad untuk membunuhnya di pertandingan tinju.

Satu tahun kemudian…

Setelah satu tahun berlalu, kini Mada menjadi sangat kuat. Pada saat di sekolah Mada menuju ke ruang kelas 12-C di mana itu adalah kelas dari si Galih. Setelah sampai, ternyata Galih tidak ada di kelas. Setelah itu Mada bertanya kepada siswa yang ada di situ.
“Woy, ada yang tahu Galih nggak haahh. Jawab.. cepat jawab…” pinta Mada dengan penuh amarah.
Tanpa disadari Mada tiba-tiba.. “Hey, gue ada di sini mau apa lo, nyari gue, kangen..” ledek Galih.
“Nah.. datang juga lo ya.. he Galih gue nantang lo untuk ikut turnamen tinju! berani nggak lo” ujar Mada dengan tatapan benci dan dendam.

“Apa.. lo nantang gue hahaha” Galih tertawa seolah dia lebih hebat dari Mada.
“Heeh, kenapa lo ketawa, nggak ada yang lucu!! berani nggak lo, oh iya gue tahu lo takut kan? dasar pecundang!!” ucap Mada dengan meledek.
“Kurang ajar lo ya, lo pikir gue takut, haah… Gue terima tantangan lo” jawab Galih dengan sangat emosi.

Setelah hari pertandingan tinjunya tiba, mereka berdua dengan semangat api yang berkobar-kobar masuk ke dalam turnamen. Singkat cerita.. Mada di rounde pertama terus kewalahan dan di rounde terakhir Galih terkena pukulan bertubi-tubi dari Mada dan sampai pada akhirnya Galih tergeletak dan pingsan, wasit pun menghitung dan Galih dinyatakan kalah. Kemudian harinya Galih sudah sehat kembali dan minta maaf kepada Mada.

“Mada… maafin gue ya.. maafin please.. please!!! hfhfhfhfhf..” pinta Galih memohon dengan bersujud menghadap Mada sambil menangis.
“Mmm, sebenarnya gue benci banget sama lo dan dendam banget sama lo, tapi setelah gue menang dalam pertandingan kemarin, gue sudah puas, terlebih lo sudah minta maaf ke gue, dan tentu saja gue maafin. Nih ambil untuk melunasi hutang almarhum Ibu gue.” ucap Mada panjang lebar dengan menyodorkan koper berisi uang 7 juta Rupiah.
“Terima kasih da.. terima kasih lo mau maafin gue, soal hutang itu… gue ikhlas dan lo nggak punya hutang apa-apa lagi ke gue, Jadi buat lo aja da…” Galih masih meneteskan air mata dan langsung pergi meninggalkan Mada.

Mada tidak berucap satu kata pun, setelah mendengar bahwa Galih sudah mengikhlaskan hutangnya dan semenjak kejadian itu, kini mereka berdua menjadi sahabat, yang tak terpisahkan.

Cerpen Karangan: Sidik Hidayat
Blog: http://sidikgo.mywapblog.com

Cerpen Kebencian Diselimuti Dendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Telitilah Aku

Oleh:
Kring… kring… kring… bell sekolahpun berbunyi tepat pada pukul 07.00 WIB. Para siswa SMP Makroni bergegas menuju kelas mereka masing-masing termasuk pula guru yang mengajar di jam pelajaran pertama.

Karena Hujan (Part 1)

Oleh:
Sabtu pagi ini cuaca mendung. Aku melangkahkan kakiku berjalan ketaman dekat rumahku yang ada di komplek. Kenalkan namaku Sifa Harita Putri (nama yang panjang dan ribet), Aku sangat menyukai

Weirdest Couple

Oleh:
Hari itu hari minggu, Sandy masih terduduk di depan monitor dengan mata merahnya yang berkantung. Sambil mengenakan headphone dan kedua kakinya naik di atas kursi tempat ia duduk. “Woi!!!”

The Perfect Ending (Part 1)

Oleh:
Hari itu aku sudah bersiap pergi ke sekolah diantar ayahku. “sudah siap?” tanya ayah “sudah yah ayo kita berangkat” sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelasku tiba tiba aku

Cinta Berawal Dari Mimpi

Oleh:
Pada suatu hari, seorang teman sekelasku yang bernama Kevin membawa seseorang ke dalam kelas sebelum bel masuk berbunyi. Setelah beberapa menit bel pun berbunyi dan semua siswa masuk kelas.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *