Kenangan Terakhir Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 2 July 2019

Pagi yang cerah, matahari terbit dan sang senja terbentang dari kutub barat hingga kutub timur di bawah langit yang cerah menampakkan keagungan sang kuasa. Ditengah mimpi malam kemarin menyatu dengan balutan gemericik air hujan sisa kemarin. Terbangun dan terngiang benda itu, benda yang aku simpan hingga saat ini.

Benda yang sangat bermakna bagiku dan telah menyatu di hidupku, karena benda ini menyimpan banyak kenangan dengan seorang yang pernah mengisi hari hariku dengan candaan dan tawanya. Tapi kini ia telah pergi.

“Hai kak, mau kemana?”. Tanyaku sebelum ia pergi.
“Hmmm… aku mau pergi”. Jawabnya.
“Kemana?”. tanyaku penasaran.
Tapi ia tidak menjawab pertanyaanku yang terakhir, lantas ia pergi dengan membawa tas ransel besarnya dan pamit kepada semua.
Semuanya terasa biasa dengan kepergiannya, mungkin mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan, tapi aku sadar mungkin ini sudah akhirnya untuk ia pergi dari sini.

Sebelum ia pergi ia sempat menitipkan suatu barang kesayangannya yang ia simpan baik baik dan selalu dijaganya, barang itu dibungkusnya dengan rapi.
“Ini…”. Ucapnya dengan tangannya memberikan barangnya.
“Apa ini kak?”. Tanyaku.
“Tolong jaga dan simpan baik baik, sebagaimana aku menyimpannya”. jawabnya.
Tanpa banyak pertanyaan lagi yang aku lontarkan padanya, aku terdiam dan berfikir “apa istimewanya barang ini?”. Tak lama ia pergi dan menjauh.

“Selamat jalan kak…!”. Ucapan terakhirku untuknya.
“Jaga diri baik baik ya…”. sahutnya dengan jauhnya kendaraan itu.
“Kakak juga ya…”. Suaraku yang terucap.

Saat setelahnya rasanya hidupku terlalu hampa karena salah seorang yang mengisi hidupku kini telah berkurang satu, hari itu awal perubahanku yang sangat kurasakan, nilaiku menerun, konsentrasiku buyar dan hidupku kini lebih banyak untuk menyendiri dan tidak memperhatikan lingkungan.

Semua keluargaku bertanya “Apa yang terjadi?”. Bukan hanya mereka tapi juga guru serta teman temanku, tapi aku tak menghiraukan mereka semua, karena menurutku itu pertanyaan yang tidak perlu untuk dibahas.
Karena kunilai perubahanku sangat drastis aku berfikir untuk mengembalikan lagi sifatku yang dulu, yaitu aku yang selalu ceria dan selalu menghibur, bukan sifatku sekarang sedih, penyendiri dan tertutup.

Setelah banyak perubahanku yang kurubah sedikit demi sedikit, aku mulai dengan melupakan kenanganku dengan sosok kakak yang selalu ada. Aku simpan semua barang barang pemberiannya yang membuatku mengenangnya lagi, sontak aku terkejut melihat barang terakhir pemberiannya kepadaku.

Karena penasaran, aku membuka isinya dan aku melihat sebuah buku catatan kecil yang masih terawat. kubuka setiap lembar buku itu dan kubaca isinya, kini aku pun mengerti apa yang ia lakukan selama ini, karena ia selalu menceritakan dan menuliskannya di buku ini. Kini aku mengerti alasannya pergi karena ia ingin menyelesaikan tugasnya, dan mungkin ia tidak akan kembali lagi.

Cerpen Karangan: Buyung Wijianto
Blog / Facebook: Buyung Wijianto

Cerpen Kenangan Terakhir Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Sebuah Mimpi

Oleh:
Aku tidak tahu dari mana semua berawal. Jatuh, rapuh, kecewa, dan bahagia. Ya, itulah hidup. Ada baik ada pula yang buruk. Ada hitam dan ada yang putih. Ada manis

Senyuman Via

Oleh:
Livia Maharani Alfaro atau yang lebih dikenal dengan ‘VIA’ adalah seorang gadis SMA yang amat cantik, kulitnya kuning langsat, tubuhnya langsing, tinggi semampai, rambutnya yang panjang dipirang berwarna merah

Kakak Ku Hidup Di Hati Ku

Oleh:
Saat itu. Aku terisak-isak dalam tangisanku. “Karin, Karin kenapa? kok nangis gitu,” Tanya Kak Syahrin kepadaku dengan lembut. “itu ka Mama dan Papa bertengkar lagi, aku takut kak,” Jawabku

Tersisa Sebuah Pohon

Oleh:
Orangtuaku memiliki banyak tanah, salah satunya di sebelah rumah. Disana banyak ditanam pohon mangga. kini sekarang sudah besar-besar dan berbuah lebat. saat mulai masak aku memberitahukannya kepada Ibu. “Bu,

Bandara dan Banda Neira

Oleh:
Aku menatap jalan raya yang dilalui bising kendaraan yang lalu-lalang. Polusi dan riuhnya klakson yang saling bersahutan sudah tak lagi aku risaukan. Yang ada di jemalaku hanyalah awan hitam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *