Kertas dan Pena

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 June 2017

Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya.

Tanpa dirasa, waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Bersama dengan perkembangan sayap-sayap karir gadis lugu itu. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak ia sangat mencintai kegiatan menulis cerpen. Ia tumbuh begitu cepat, bahkan dalam usia empat tahun ia telah mampu membaca dengan lancar. Dan saat menginjak usia delapan tahun, bakatnya pun tidak disia-siakan begitu saja, karya demi karyanya bahkan menjuarai lomba menulis antar Sekolah Dasar. Sewaktu di Sekolah Menengah Pertama puluhan novel karyanya telah tersebar hingga ke penjuru Nusantara. Di tahun ini ia memasuki Sekolah Menengah Atas yang tergolong sekolah favorit di kotanya.

Namun, hidup tidak seperti madu yang selalu manis adanya. Dibalik kesuksesannya, ia hanya tinggal bersama seorang wanita paruh baya, dalam sebuah rumah sederhana. Sebetulnya ia mampu membeli rumah mewah serta kendaraan bermerek dari hasil menulisnya, namun ia memilih menyumbangkan setengah dari hasilnya untuk sebuah panti asuhan di pojok Kota. Panti yang kini terlihat lebih terawat dari yang ia lihat pertama kali. Neneknya tidak pernah buka mulut mengenai ke mana perginya kedua orangtua biologis dari gadis berambut lurus dengan warna hitam pekat yang memikat itu. Maka tidak heran jika sebagian besar atau bahkan bisa dibilang hampir semua karyanya mengangkat tema yang sama yaitu “Kerinduan Pada Sosok Orangtua”.

“Ossaaaaa…. Ossa Kanesya we love you… Ossa yang terbaik…” Ossa melangkahkan kaki dengan sangat anggunnya keluar dari Daihatsu hitam, dengan iringan teriakan dari ratusan penggemarnya yang telah memadati halaman sebuah Mall di Jakarta Pusat. Setelah berhasil berdiri tegak dengan senyum mempesonanya yang sedari tadi tidak luntur sedikit pun dari wajahnya, tangan gemulainya melambai-lambai menyambut teriakan demi teriakan, bak nyiur hijau yang melambai-lambai di tepi pantai. Hari ini adalah hari penerbitan Novelnya yang ke-70. Tentu dengan tema yang sama namun alur cerita yang lebih unik dan menarik.

Setelah berjam-jam ia meladeni para penggemar yang meminta tanda tangannya, bagai anak kecil yang meminta permen pada ibunya. Ia terduduk dengan lesu, musik alamiah dari dalam perutnya menandakan bahwa cacing-cacing di dalamnya tidak bisa diajak berkompromi lagi, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke sebuah restaurant di Mall tersebut. Namun, niatnya terhenti oleh teriakan seorang lelaki. “hei Ossa mau ke mana kamu? Ada seseorang yang ingin menemuimu sekarang” pemilik suara tersebut adalah seorang crew dari acara hari ini. “Aku hendak pergi makan. Bisakah ditunda sebentar” katanya sedikit memelas. “ah tentu saja tidak bisa. Kebetulan sekali, ia meminta kau menemuinya di restaurant sebelah, meja nomor 29, namanya Bapak Musthofa Nova.” Terangnya memberitahu lebih rinci. “baiklah” jawabnya tidak bersemangat.

Biru lazuardi menawan itu telah hilang berubah hitam pekat berhias taburan bintang bak permata, tidak terlupakan sang wulan pun tersenyum dengan sangat mempesona. “Assalamu’alaikum Nenek, Ossa pulang” teriaknya sembari membuka daun pintu. Senyumnya berkembang begitu lebar bahkan lebih lebar dari pada saat ia menuruni mobil hitamnya saat matahari masih berusaha meninggalkan ufuk timur. Matanya berbinar-binar tidak mau kalah dengan bintang-bintang di atas sana.
“Wa’alaikum salam… Kelihatannya kamu sangat bahagia hari ini, ada apa?” jawab Nenek dengan imbuhan pertanyaan seperti biasa.
“Nenek tahu, novelku kali ini akan difilmkan” katanya kegirangan. Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan barunya.
“kamu memang hebat Nak” puji sang Nenek sembari tersenyum, disudut-sudut bibirnya terlihat kerutan garis halus, khas orang lanjut usia.
“terima kasih Nek”

Detik ke menit, menit ke jam, dan jam ke hari. Hingga telah terhitung oleh gadis itu bahwa dua hari telah terlewati. Dan entah mengapa Ossa mengajak Neneknya untuk bertemu dengan Sutradara kali ini, perihal penandatanganan kontraknya. Sebelumnya Ossa sangat jarang mengajak Nenek kemana pun. Kecuali pengambilan rapot di sekolah. Serta mengajak Neneknya untuk sebuah party bersama temannya, itu pun diadakan di rumahnya.

“ah itu mereka di sana” kata Ossa sambil menunjuk sebuah meja yang saat itu dihuni dua orang lelaki berjas. Namun terlalu terkejutnya sang Nenek melihat salah satu lelaki di antara mereka, hingga ia berlari dengan kencangnya. Walaupun kekencangan berlarinya masih kalah dengan harimau karena faktor usianya, tetapi tatapannya tajam membidik pada lelaki berjas hitam. Nampaknya kehadirannya diketahui oleh yang dituju sang Nenek, yang saat itu dengan cepat berdiri tegak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Dengan sigap Nenek merengkuh badan atletis itu dalam pelukan hangat erat.
“apakah Nenek mengenal Bapak ini?” Tanya Ossa yang telah berada di belakang Neneknya.
“kau ke mana saja Nak. Kenapa tidak pernah pulang, atau sekedar menengok Ibumu ini?” ucap Nenek masih dalam pelukan.
“Ibu? Jadi ini pamanku atau…”
“ayahmu” jawab Nenek dengan genangan di pelupuk matanya, yang sekarang telah menatap berseri pada Ossa.
“ayahku?” Tanya Ossa tidak percaya.
“jadi ini anak yang telah membunuh istriku?” kata lelaki itu dengan mata mendelik mengarah pada Ossa.
“jangan bilang begitu Nak. Berterima kasihlah pada istrimu karena telah melahirkannya untukmu dengan nyawanya sendiri. Lihatlah perjuangan besar dari istrimu. Itu semua bukan salah anak ini” katanya sambil menatap Ossa “tapi itu semua adalah takdir yang telah ditulis Tuhan” lanjutnya.
“Nenek tidak pernah cerita jika aku masih punya Ayah dan Ibu telah meninggal?” tuntut Ossa kepada Neneknya agar memberi penjelasan.
“Ibumu meninggal sesaat setelah melahirkanmu. Dan Ayahmu tidak bisa menerimamu karena ia menganggap bahwa kaulah yang telah membunuh Ibumu. Tapi ia salah besar tentang itu” jelas Nenek.
“itu memang benar” sanggah Bapak Musthofa Nova dengan sangat lantang.
“bisakah kita melaksanakan tujuan kita bertemu” potong lelaki lain di samping Bapak M. Nova (Ayah Ossa)
“tidak bisa, mari kita mencari penulis lain, dan membatalkan yang satu ini” dengan sigap Ayah Ossa menjawab pertanyaan rekannya.
“apakah kau waras? Kau tau betapa susah mencari penulis handal seperti dia?” Tanya rekannya sedikit membentak.
Dan pada akhirnya Ayah Ossa mengalah sehingga acara pertemuan pun dilakukan sesuai perjanjian. Berlangsung dengan formal, seperti air yang mengalir dan hanya meneriakan gemuruh yang sama, seperti saat ini tidak ada lagi bahasan lain selain penandatanganan kontrak serta honor atas novel yang akan dibuat sebuah film.

Waktu begitu gesit untuk berlalu. Tiga bulan telah terlewati. Tersisa satu bulan lagi, sebelum akhirnya film tersebut selesai digarap. Itu artinya kesempatan untuk bertemu Sang Ayah bagi Ossa semakin sedikit. Dan ia mulai membuat rencana agar dapat terus bertemu sang Ayah.

“maaf, bisakah kita berbicara sebentara Pak” bahkan agar novel itu dapat dijadikan sebuah film ia harus berpura-pura bahwa tidak ada hubungan sama sekali diantaranya dengan Ayahnya. Tetapi alasan utama dari itu semua adalah agar ia dapat menemui Lelaki berwibawa yang ia ketahui adalah Ayahnya, dari beberapa bulan lalu.
“Maaf saya sangat sibuk” jawabnya ketus tanpa menatap wajah cantik putrinya.
“Ayah sampai kapan aku harus begini, berpura-pura tidak ada apapun di antara kita. Itu sangat menyakitiku” bulir-bulir air mata dengan perlahan menjelajahi pipi putih meronanya. “tak bisakah Ayah mengakuiku sebagai putrimu” ditundukkannya dalam-dalam wajah sendu. Kali ini kata –kata Ossa mampu merasuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Dari sudut mata sipit, lelaki itu melihat wajah kesedihan putrinya yang mampu menarik rasa simpatinya.
“maaf” ucap Bapak M. Nova yang sangat dingin itu dilontarkan dengan satu tarikan nafas.
“maafkan saya yang telah lancang, tapi saya ingin berbicara dengan Ayah, tidak peduli Ayah mau atau tidak” kali ini kedua tangan lembut gadis itu mencengkeram dengan kuatnya tangan sang Ayah.
“aku bilang aku tidak mau, cepat lepaskan tanganku, dan jadilah anak yang tidak membangkang orang tua.” Suaranya terdengar menggelegar, hingga mampu memekakan kuping, namun itu terdengar ada rasa kasian dari dalam kalbunya. Serta lengkap dengan aksen mata yang hendak keluar dari tempatnya.
“aku mohon, sekali ini saja” titik demi titik air yang keluar dari sarangnya semakin deras dan menggila.
“sudah kubilang jangan membantah kata orang tua” dihempaskannya tangan putih mungil itu dengan sangat kasar, berpura-pura tega melakukan itu. Tangan kiri gadis itu tak sengaja menampar sebuah gelas sehingga jatuh dan berubah menjadi kepingan beling, secepat petir yang menyambar-nyambar di luar sana. Beberapa detik kemudian tubuh ideal itu jatuh beralaskan anak-anak beling.
Tanpa mempedulikan penderitaan yang menimpa Ossa, Pria dengan balutan jas hitam seperti biasa. Satu dua tiga langkah yang diambilnya semakin membuat jarak di antara mereka. Jeritaan Ossa memanggil nama Pria tersebut tidak pernah dihiraukan. Tangisnya semakin meledak menahan hatinya yang tercabik-cabik yang mungkin lebih pedih dari tusukan demi tusukan pecahan kaca. Air mata yang yang tak ada habisnya membuat mata itu memburam, sebelum akhirnya badan lemah itu tersungkur sempurna di lantai dingin itu.

Satu jam setengah jam semenit setengah menit bahkan untuk satu detik pun gadis itu belum membuka matanya. Ini telah memasuki akhir bulan dan hari ini pukul 17.00 WIB film yang bersumber dari hasil karyanya akan ditayangkan untuk pertama kalinya di boskop ternama. Nenek yang selalu senantiasa ada di samping ranjang, sangat kerap membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia merasa tenggorokannya sangat kering sehingga ia menuntaskan kegiatannya, dan mengambil langkah mungil yang bisa mengantarnya pada seteko air mineral.

“Ayah…” panggil gadis yang terbaring lemah selama kurang dari empat minggu, namun mampu ditangkap oleh sepasang telinga tua itu.
“Ossa…” ucap Nenek sembari melengkungkan ke dua sudut bibirnya ke atas. Dengan segala kemampuannya, ia berlari menemui dokter untuk mendapatkan pemeriksaan. Dan dokter berpesan agar tidak banyak bergerak. Karena itu akan membuka lukanya.
“putriku…” ucap lelaki yang baru saja menampakan batang hidungnya dari balik daun pintu.
“A a a ayah… ayah ke sini… jika aku tahu ayah akan menjengukku, aku akan melakukannya dari pertama kita bertemu Ayah” mata sipitnya menatap pada sosok lelaki kekar dengan peluh yang membanjiri dahinya.
“jangan bilang begitu… mari kita menonton filmmu saja, ayah mendapatkannya dari bos ayah” diputarnya film itu, bagai roda kehidupan yang menelusuri setiap jengkal jalan kehidupan tanpa henti.

01.30.00 durasi film tersebut. Dan selama itu Ossa menggenggam tangan Ayahnya erat. “selamat tinggal” ucapnya lirih dan begitu lemah. Dikecupnya tangan Nenek dan Ayah dengan sangat lembut. Bersamaan dengan usai mengecup tangan kedua orang yang ia sayangi, tangannya melemas, perlahan berubah sedingin es. “Ossaaaaa” teriak Ayahnya setelah menyadari nyawa putrinya itu telah di lepas.
“bangunlah Nak, jika kamu bangun sekarang. Ayah akan mengajakmu tinggal bersama, makan bersama, dan melindungimu. Kau tau Nak setiap ayah melihatmu, ayah selalu teringat oleh sosok ibumu, cantikmu persis seperti ibumu, dan bakatmu juga sama persis dengan ibumu.” Hatinya bergumam, menyesali setiap tindakannya.
“jangan menangis, saat dia masih hidup dia berpesan, jika dia pergi jangan tangisi dia. Karena dia juga akan ikut menangis di sampingmu.” Kata Nenek menyampaikan pesan yang dikatakan sebelum menemui Ayahnya beberapa minggu yang lalu.
“kau tahu, dia mengidap penyakit Hemofilia, dimana darah itu tidak bisa secara cepat pulih, seperti orang-orang lain. Setiap ia menstruasi badannya menjadi begitu lemah, karena banyaknya darah keluar dan itu sangat sulit membeku, ia hidup bergantung dengan obat penambah darah. Bahkan tidak cuma satu dua tablet yang ia makan dalam sehari, dia bisa mencapai 5 tablet konsumsi dalam setiap harinya. Dan saat ia ditemukan beberapa minggu yang lalu, ia dalam keadaan hampir kehabisan darah, lebih dari setengah darah itu keluar dengan cepat. Dokter bahkan memvonisnya malam itu juga. tapi lihatlah betapa ia sangat ingin bertahan hidup.” Nenek menceritakan pahitnya jalan hidup yang cucunya alami sembari menatap wajah yang mulai memucat di pembaringan.
“Selamat jalan Nak. Selamat meninggalkan penderitaanmu” ucap Nenek sebelum ia mengecup dahi Ossa.
“Selamat jalan putriku” Ayah Ossa pun melakukan hal yang sama persis dengan nenek. Lalu keduanya tersenyum bersamaan.

“Ayah. Kau tahu, Ayah. Aku hanyalah sebuah kertas. Begitu rapuh dan mudah untuk lenyap. Dan kau adalah pena, yang aku harapkan akan mengukir sesuatu dalam kertas kehidupanku. Namun, ujungmu begitu tajam. Hingga membuatku takut, bahwa kau akan melenyapkanku dengan beberapa tusukan dari pena itu. Ayah bahkan aku sangat ingin percaya bahwa reinkarnasi itu benar adanya saat ini. Dan aku akan terlahir kembali sebagai seorang putrimu, dan aku berjanji tidak akan membantah segala ucapanmu, walaupun itu sangat menyakitkan untukku.” Ucap Roh Ossa yang menatap Ayahnya dengan penuh cinta.

Cerpen Karangan: Asa Kusuma
Facebook: Asa Kusuma

Cerpen Kertas dan Pena merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan Kosong :(

Oleh:
Alina Nur Meilani anak pertama dari 2 bersaudara ini selalu mendapatkan nasib jelek dalam hal PACARAN. Tetapi sekarang saat alin merasa hidupnya sangat hampa ,seorang lelaki bernama Reza Arveadi

Rhina

Oleh:
Ai berlari dengan kencang. Kekhawatiran tergurat di wajahnya. Kaki mungil itu terus meluncur sepanjang koridor berlantai keramik putih. Tatapan cemas beradu dengan kecepatan mata: mencari nomor itu di antara

Wol, Nama, Bintang

Oleh:
Bel tanda pulang sudah berbunyi dari arah speaker kelas. Ini bagaikan surga dari nerakanya hari ini. Dimana semua mata pelajaran dihinggapi UTS yang menguras energi dan memusingkan kepala. Ya,

Mata Sebening Kristal

Oleh:
Siang hari tanpa sinarnya, tanpa panasnya, dan tanpa teriknya. Matahari sudah tertutup oleh awan yang membawakan rintik-rintik hujan. Ku lihat dari jendela kamarku sekelompok lelaki yang kira-kira berumur sepertiku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *