Krayon Keajaiban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 May 2017

Sajakku berhenti, lamunanku terputar kembali tentang warna krayon kehidupan yang pernah beliau berikan. Teringat lima belas tahun silam, aku lahir sebagai peri kecil satu-satunya di gubuk ini, tinggal sebagai anak bungsu membuatku tumbuh jadi anak yang manja. kehidupanku tidak seperti anak-anak pada umumnya, memiliki dayang-dayang yang selalu siap melayaninya.

Suatu ketika, Aku merengek meminta dibelikan sepeda, “ayah belikan Elisabet sepeda punyanya Aurora”. Dengan belaian lembut Ayah mengelus kepalaku “ya nak, besok Ayah belikan…”. Seketika itu ada sinar pelangi di kedua bola mataku, Ayah yang melihatnya pun ikut senang meskipun Ia tak tau dari mana Ia mendapatkan uang untuk membelikan Aku sepeda. Aku yang masih polos itu berlari-lari sambil berputar-putar “Horeeee…!!! besok Elisabet punya sepeda baru” Aku tak mengetahui seberapa berat yang ditanggung di pundak Ayah “Nak Ayah akan berusaha membahagiakan kamu”, bisikan hati Ayah ambil memeluk Aku

Setelah usiaku beranjak remaja, aku mulai mengenal apa itu cinta, menghias dinding hatiku dengan nama cowok selain ayah, saat itu Ayah mulai curiga, dengan perubahan sikapku, yang senyum-senyum sendiri di depan layar telepon. Aku yang berbunga-bunga tak menyadari kalau Ayah selalu mengawasiku, Aku pikir setelah usiaku beranjak remaja Ayah akan memberi aku kebebasan.
Ketika malam mulai larut, aku masih sibuk dengan ponselku cengar-cengir sendir, seakan-akan aku seperti trumbellena dengan seribu keajaiban, lengkap pangeran tampan yang sangat mencintaiku, dengan kekuatan menyihirku merubah dunia dongeng, dikelilingi ribuan bunga siap mekar yang akan menjadi calon peri-peri cantik.

Mentari mengintip di balik cela-cela jendela kamarku, sorotan cahayanya membangunkanku, pagi ini aku bangun kesiangan karena begadang semalam, untung saja hari ini liburan sekolah. “tok tok…!!” suara pintu kamarku terdengar jelas sepertinya Ayah mengetahui kalau tadi malam aku tak tidur, “Elisabet… bangun..” dengan panik aku berusaha menjawab “Dah bangun dari tadi kok yah…” Aku sudah berani membohongi Ayah, satu hal yang belum pernah aku lakukan sejak kecil. “Dah bangun kok, masih ileran gitu…!!!” Ayah menggodaku, aku pikir kondisi aman, akhirnya aku bernapas lega, selepas itu aku basuh tubuhku dengan butiran-butiran air di bak kamar mandi. “klunting…!!!” Satu pesan masuk “Mat pagi cinta..!!” ooh… Tuhan kau hadirkan pangeran layaknya kau pindahkan singgasana ratu Bilqis.

Khayalanku tentang negeri dongeng dengan pangeran tampan, terhipnotis dengan teriakan “Elisabet…” telinagku merangsang getaran gelombang yang mengalir vertikal dari arah kamarku, terdengar suara sang Ayah memanggil. Ayah duduk di tempat kebesaran dengan wajah bijaksananya, layaknya raja. “ada gerangan apa Ayah memanggil Elisabet”. Tanganku pada saat itu masih menggengam erat ponsel, sedikit melirik aku mencuri kesempatan untuk membalas pesan singkat dari pangeran “sini ponselnya!!” Sontak wajahku yang berseri-seri jadi padam, mengkerut ketakutan. “Buat apa Ayah?” Pertanyaanku polos. “sini ponselnya ayah pingin lihat isinya apa, ayah tau kamu tadi malam gak tidur kan?” Tamparan keras, buat peri imut seperti aku, Aku pada saat itu mencoba mencari mantra untuk menyihir ayah “Emmmm… ayah kok tau, tapi Ayah Elisabet gak tidur gara-gara ngerjain tugas kuliah kok,” Sepertinya ayah tersihir oleh omonganku wajahnya yang merah seperti kepiting rebus agak padam. “Sini ponselnya..” dengan rasa gak rela aku melepas ponselku. Ayah membaca pesan dari pangeran, untungnya aku sudah hapus pesan tadi malam sebelum kedahuluan dibaca oleh Ayah.

Braaak…!!! ponseklku dihantamkan ke lantai, pecah bberkeping-keping tidak berbentuk, tak sepatah kata pun Ia ucap, Ayah hanya menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Terasa dunia pada saat itu layaknya bom yang diledakkan di Japan. Oh… dunia dongengku lenyap, peri-peri tak dapat lagi terpahkan sayap, Jeritan dalam hatiku. Ayah hanya memberiku isyarat untuk diam duduk di sebelahnya. “Ada apa dengan Ayah, roh mana yang berhasil merasuki otaknya”.

Aku terrtunduk pilu, rasa takut berbias kebencian. Ayah melihatku dengan mata melotot, Ia seperti tak mengenali siapa Aku, pikirku begitu. Namun tanganya yang kekar itu membelai rambutku, wajahnya yang seram jadi sayu. Terasa seperti mimpiku terbangun kembali, tapi entah dengan dongeng di dalamnya, masih adakah seorang pangeran yang mencintaiku.

“Nak, Ayah sangat sayang sma Elisabet, Ayah tidak ingin masa depan anan Ayah hancur cuma gara-gara kamu terlalu sibuk dengan cowok, Ayah tau kamu ini sudah remaja, tapi alangkah baiknya Elisabet menfaatkan masa emas ini untuk mengembangkan potensi kamu, jadilah anak yang bisa memberi manfaat untuk sesama. Ingat pesan Ayah kalau kamu baik pasti dapat yang lebih baik, kalau kamu pintar pasti dapat yang lebih pintar, begitupun sebaliknya, Alloh tidak akan salah memilihkan jododh untuk hambanya, tugas kamu sekarang ini, ya belajar untuk masa depan kamu kelak”.

Butiran-butiran kristal turun di bola mataku, membias jadi permata kepedihan. Bunga-bunga bugenviel di karangan rumah memandang iba, musim semi, berlalu, daun berguguran, tiupan angin dari jendela kamar menambah sesak jantung, mendung di sore hari, Aku berharap matahari akan muncul mencairkan salju di tebing-tebing kepilaun, agar esok pagi peri-peri dapat lagi terbang.

Ayah…
Maafin Elisabet, Ayah akan tetap menjadi cinta pertama buat Elisabet

Cerpen Karangan: Nujum As Shoqier
Facebook: Bua vita

Cerpen Krayon Keajaiban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian Anak Desa

Oleh:
Bermimpilah selagi langit masih sanggup menampung mimpimu. Kata-kata itulah yang selalu membuatku semangat untuk bermimpi. Orang sering mengatakan bahwa ‘Bermimpilah setinggi langit’, aku sempat mempertanyakan hal tersebut pada guruku.

Siapa Kamu?

Oleh:
Pagi sekali Heri terbangun oleh suara alarm ponselnya yang terus menjerit. Dengan rasa kantuk yang berat dia menguatkan diri untuk bangun. Ia meregangkan tubuh bagian atasnya dibarengi mulut yang

Uang Kas

Oleh:
Aku Candra Ayu Julianty biasa dipanggil Candra. Aku sebagai bendahara 2 di ekstrakulikuler kording. Suatu hari Ratih selaku bendahara 1 berhalangan untuk membantu sekretaris membeli alat dan bahan untuk

Odin Yang Bego

Oleh:
Ada seorang anak laki-laki bernama Odin. Odin adalah anak yang baik hati dan sangat penurut. Apapun yang disuruh ibunya selalu ia lakukan tanpa mengeluh sedikitpun. Namun Odin anaknya agak

Bad Day

Oleh:
Butiran air memenuhi dedaunan di halaman rumahku. Cahaya pagi menyongsong dari ufuk timur, udara yang sedikit berkabut, serta sejuknya angin pagi menemani pagiku ini. Tanpa teman, tanpa sahabat. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *