Ku Hanya Butuh Kasih Sayangmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 April 2017

Mentari telah memancarkan sinarnya, menyambut milyaran manusia. Seberkas cahaya yang masuk melewati kaca jendela kamar mampu menyilaukan mata seorang lelaki muda yang biasa disapa Raka. Pemandangan nan indah yang dibuatnya telah menjadi awal tatapan Raka seusai sholat shubuh. “Subhanaallah” kata pertama yang keluar dari bibir kemerahan Raka, menjadi awal rasa kekagumannya kepada ciptaan Allah, diusapnya kaca jendela yang terpenuhi oleh titik embun. Dihirupnya udara bersih yang sedikitpun belum tercampur oleh polusi. Merasakan hangatnya mentari pagi dan senyuman manis. Melepas semua kepenatan di hati yang akan tergantikan dengan semangat pagi. Raka bergegas untuk sarapan, karena menurutnya sarapan membuat ia fokus dalam belajar.
Di Sekolahnya, Raka termasuk anak yang cerdas, dan berbakat. Nilainya selalu diatas rata-rata kelas. Raka juga salah satu murid favorit guru. Ayah dan Ibunya jarang di rumah mereka lebih sering berada di luar negeri. Dan tak ada waktu untuk anaknya, membantu Raka menyelaisekan PR sekolahnya saja tidak ada waktu. Kini ia mulai merasa tidak nyaman di rumahnya. Raka menyantap nasi goreng buatan Mbak Surti, dia adalah pembantu di rumah Raka yang sudah bekerja lebih dari 2 tahun. Bebarapa menit kemudian Raka selesai sarapan. Seusai sarapan, ia bergegas untuk memakai sepatu dan pergi ke sekolah.

Di sekolah
“Selamat pagi murid-murid?” sapa Bu Erlin selaku wali kelas 9A. “Pagi bu” jawab murid-murid serentak. “Untuk merayakan ulang tahun sekolah, akan di diselenggarakan pentas drama, kepala sekolah memerintahkan Ibu untuk menampilkan karya drama kalian, jadi mulai besok kita akan latihan drama untuk mempersiapkan pentas drama.” Kata Bu Erlin panjang lebar. “Baik bu.” Jawab para murid kompak.

Beberapa jam berlalu, kini saatnya istirahat. Murid murid berhamburan keluar kelas. Berlarian ke Kantin untuk mengisi perut yang kosong setelah 3 jam pelajaran. Begitu juga dengan Raka, ia menghabiskan jam istirahat dengan duduk di kantin memesan makanan ringan dan minuman, sembari berbincang bincang dengan Hendra yang berada di samping kirinya. “Menurutmu siapa yang akan menjadi tokoh utama dalam pentas drama?”, Tanya Hendra, mengawali perbincangan. Tiba-tiba Fadli datang dengan membawa selembar kertas yang ia ambil dari mading sekolah. Fadli menghentakan meja membuat Raka dan Hendra merasa tekejut. “Kau ini mengagetkan saja” ucap Raka yang sedang menutup botol. “Apa kau tahu, Kau menjadi tokoh utama di pementasan.” Sambung Fadli. “Yang benar saja?” Kata Raka tidak percaya. “Lihat ini”. Ucap Fadli dengan menujukkan kertas yang ia ambil dari mading. Raka melihat kertas itu dengan rasa tidak percaya. “Wah hebat pasti penampilanmu bagus” saut Hendra kagum. “Tentu, Raka kan pandai berakting, gurunya saja sampai menangis. Saat melihat Raka latihan berakting” ucap Fadli “Ah tidak Itu hanya kebetulan saja” jawab Raka.
25 menit berlalu, kini saatnya para murid untuk kembali ke kelas. Di kelas 9A waktunya pelajaran matematika, pelajaran yang paling Raka sukai, dari dulu ia memang sudah akrab dengan angka dan rumus-rumus matematika.

3 jam kemudian. Bel sekolah berbunyi menandakan sekolah telah usai, murid-murid segera mengemasi alat tulis dan buku masing-masing. Hendra sebagai ketua kelas pun memimpin doa. Berdoa sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh murid 9A. “Amiin…” ucap murid-murid mengakhiri doa. Dan segera keluar kelas. Begitu juga dangan Raka ia mulai melangkahakan kakinya keluar kelas berjalan menuju gerbang sekolah untuk menemui Pak Topan supir pribadi keluarga Raka, namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang lelaki berpenampilan lusuh dengan baju yang tak layak, bermandikan keringat yang terus mengucur deras di tubuhnya. Terik matahari tak dihiraukannya, kata lelah juga tak dirasakannya, mengambil botol-botol bekas yang tercecer di sudut trotoar demi menghidupi keluarganya. Di benak Raka mulai muncul perasaan iba, saat lelaki tadi ada di hadapannya. Raka mengurungkan niatnya menemui Pak Topan, ia melangkah mendekati pemulung itu. Raka memberikan sedikit sisa uang jajannya untuk lelaki tadi. “Pak tolong diterima sedikit uang dariku semoga bisa membantu bapak” kata Raka dengan menyodorkan uang miliknya. “Tidak nak” tolak si pemulung. “Ambil saja Pak, mungkin dengan uang ini bisa membantu bapak dan keluarga bapak” ucap Raka kembali. “Tidak nak, aku tidak meminta sepeser uang pun kepada seseorang, aku ingin mendapatkan uang dengan kerja kerasku sendiri, meminta bukanlah caraku untuk bekerja keras” tegas si pemulung menolak. “Kau tidak meminta uangku, tetapi aku yang memberi uangku untuk membantumu, tolong terimalah!” Kata Raka dengan meletakkan uangnya ke tangan si pemulung. Akhirnya uang milik Raka diterima juga olehnya. Raka merasa bahagia karena ia dapat membantu orang lain. Menolong adalah salah satu sifat baik Raka. Ia kembali berjalan menemui Pak Topan yang sedang berdiri di samping mobil milik ayah Raka.

Setelah 15 menit berada di perjalanan, mereka pun tiba di rumah. Raka segera memasuki rumahnya. Tak seorang pun terlihat di dalam rumahnya, tiba-tiba Mbak Surti datang menghampirinya. “Tadi ibu dan bapak pesan bahwa mereka akan pergi ke luar negeri untuk sementara waktu.” Ucap Mbak Surti. Ayah dan ibu Raka sudah biasa meninggalakan Raka seperti ini. Entah untuk bekerja atau berlibur. Dengan begini Raka merasa kesepian, menjadi anak tunggal dan tanpa kehadiran orangtua di dekatnya.

Raka beranjak menuju kamarnya, merebahkan badannya di atas kasur miliknya. Di letakkannya tas ransel hitam di atas lantai kamarnya. Raka membaringkan badannya menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa biru muda. Dirasakannya hembusan angin yang perlahan masuk melewati jendela kamar Raka, dan mampu mengibaskan sepasang tirai yang terletak di samping kusen jendela. Diputarnya sebuah lagu yang memecah kesunyian di dalam kamar Raka. Ia mulai berangan-angan dengan suara musik bertempo lambat. Membayangkan dirinya berdiri di atas panggung, dengan tatapan mata penonton yang fokus memperhatikannya, menatap seorang lelaki berbadan ideal dengan rambut lurus yang sedang menampilkan aktingnya. Raka ragu dengan pilihan Bu Erlin untuk menjadikannya seorang tokoh utama. Ia takut jika aktingnya tidak bagus dan akan mengecewakan banyak penonton. “Tidak Raka kau harus optimis, kau bisa Raka” Ucapnya menyemangati diri.

“tok… tok… tok” ketukan pintu kamar Raka mampu mengagetkannya. Ternyata Mbak Surti yang ada di balik pintu untuk menawarkan makan siang kepada Raka. Raka pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu. “Maaf mas, makan siangnya sudah siap.” Ujar Mbak Surti. “Iya mbak makasih nanti saya turun” jawab Raka. Mbak Surti pun kembali ke dapur. Raka segera ganti baju dan melangkah keluar kamarnya menuju ruang makan. Sudah terhidang makanan kesukaaanya yang mampu menggoda lidah Raka untuk segera menyantapnya. Tak lupa ia berdoa sebelum menikmati masakan buatan Mbak Surti itu.

Matahari senja siap menghilang dari barisan pepohonan. Warna orange telah memenuhi langit luas. Burung-burung bersuara ramai, terbang kembali pulang. Lampu-lampu di rumah-rumah pun sudah mulai menyala, menyinari pelataran rumah warga. Di kamarnya Raka mengenang semua foto-foto yang terpajang di dinding. Dilihatnya foto ayah, ibu, dan dirinya saat ia berusia 2 tahun. Kisah semasa kecilnya tergambar di foto-foto itu. Masa kecilnya dulu sangat menyenangkan. Namun ini semua telah menjadi kenangan yang entah kapan akan kembali. Raka mencoba menghubungi ayahnya dengan telepon rumahnya, tetapi tak ada jawaban. Ia beralih menghubungi ibunya, tersambung, “Halo, Assalamualaikum” salam Raka di telepon. “Maaf Raka, saat ini ibu sedang sibuk” jawab ibunya. Begitulah jawaban seorang ibu kepada anaknya, saat ia mulai asik dengan pekerjaaan. Jawaban ibunya membuat Raka merasa sedih.

Keesokan harinya…
“Allahuakbar… Allahuakbar” Takbir berkumandang membangunkan para umat muslim yang masih berlindung di bawah hangatnya selimut tebal. Tapi itu tidak untuk Raka. Ia terbiasa bangun di awal waktu. Tetes demi tetes telah jatuh di tangannya, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat telah menjadi kegiatan awal Raka di pagi yang masih gelap ini. Membaca lantunan ayat suci Al-Qur’an sehabis sholat shubuh menjadi suatu kebiasaan yang dilakukannya. Raka bergegas untuk mandi, sarapan, dan kembali pergi ke Sekolah. Hari ini Pak Topan yang mengantarnya, biasanya Ayahnya yang mengantar dan memberi nasehat sebelum ia berangkat ke Sekolah. Sekarang tak lagi, semuanya telah berubah, sejak Ayahnya naik pangkat di perusahaan yang ia tekuni dan sibuk dengan pekerjaannya itu. Pak topan menginjak pedal gas dan mobil pun mulai berjalan, jalan demi jalan telah mereka lewati. Kini sudah sampai mereka di depan gerbang sekolah. Raka pun turun dari mobil dan melangkah menuju kelas 9A. Ia menyapa semua guru ataupun murid saat di perjalanan menuju kelas.

Di kelas…
“Wah tokoh utama sudah datang” Sambut Hendra saat Raka menginjak lantai kelasnya. Raka pun segera duduk di samping Hendra. “Apakah orang tuamu akan datang ke pementasan?, orangtuamu kan selalu sibuk.” Tanya Hendra. “Tentu mereka akan datang” jawab Raka dengan ragu. Dalam benaknya Raka ragu untuk kedatangan orangtuanya karena mereka selalu sibuk dengan pekerjaan. Tiba-tiba Bu Erlin masuk kelas, murid-murid pun segera mempersiapkan diri. “Selamat pagi” Kata Bu Erlin mengawali. “Pagi bu…” jawab murid-murid kompak. “Nanti pukul sepuluh kita akan mulai latihan drama.” “Baik bu”

“Kriiiiiiing…” bel istirahat berbunyi. Semua murid bergegas berlarian ke Kantin. Adapun murid yang mengisi jam istirahatnya dengan mengobrol, bermain, dan ada pula bagi murid kutu buku untuk pergi ke perpustakaan sekolah, membaca berbagai macam buku. Raka, Hendra, dan Fadli pun menghabiskan jam istirahat dengan bersantai, duduk-duduk di kantin sembari menghafalkan teks skenario pementasan yang mereka dapat dari Bu Erlin pagi tadi. Latihan drama dimulai… murid-murid latihan sungguh-sungguh, menjalankan perannya masing-masing. Latihan hari ini berjalan dengan baik. Sudah tiga jam latihan berlangsung. Kini saatnya sholat dhuhur, murid-murid segera mengambil air wudhu dan memasuki mushola sekolah. Membentuk shof-shof.

Sholat dhuhur telah usai, murid-murid segera keluar mushola dan kembali pulang. Begitu juga dengan Raka ia kembali pulang dengan menaiki angkutan umum, karena Pak Topan tidak bisa menjemputnya karena ia harus menjenguk ibunya di rumah sakit. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju halte dan menunggu datangnya busway. Akhirnya busway pun datang, Raka segera naik dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah 20 menit di perjalanan Raka pun sampai di halte dekat rumahnya, ia kembali berjalan menuju rumahnya yang berada di seberang jalan.

Setibanya di rumah, Ayah dan Ibunya sudah pulang dari luar negeri. Raka langsung menghadap orangtuanya membicarakan kehadiran Ayah dan ibunya di pementasan. “Ayah ibu apakah kita bisa bicara” ajak Raka. “Saat ulang tahun sekolah akan diadakan pentas drama, dan aku menjadi tokoh utama di pementasan, apakah ayah dan ibu bisa hadir dalam pementasanku?” Kata Raka. “Sepertinya Ayah tidak bisa datang karena ada pekerjaan yang sangat penting.” Jawab Ayah. “Ibu juga sepertinya ada pemotretan” jawab Ibu. “Apa semua pekerjaan kalian sangat penting, apa aku tidak penting bagi kalian, apakah kalian bisa untuk sehari saja kalian meninggalkan pekerjaan demi aku.” Kata Raka yang mulai kesal dengan sikap orang tuanya. “Ayah ibu aku bukan Cuma butuhuang tapi aku juga butuh kasih sayang kalian.” Ucap Raka kembali. Orangtuanya tak menghiraukan kekesalan Raka, Raka yang semakin kesal segera pergi ke luar rumahnya. Menghirup udara segar mencoba untuk melepas semua kepenatan dalam dirinya. Raka terus melangkahkan kakinya menyusuru trotoar. Berjalan tanpa arah dan tujuan. Raka teru menatap tajam jalan yang sedang ia injak. Pepohonan rindang di jumpainya, kendaraan-kendaraan pun berlalu lalang di jalan raya. Bermacam-macam merek mobil telah ia temui. Setiap menit telah dihabiskannya, ia masih berjalan tanpa arah. Menit berganti jam, waktu terus bergerak dengan cepat. Raka duduk terdiam di bawah pohon rindang menatap keadaan sekitar yang mulai sepi karena seiring berjalannya waktu.

Kini langit biru sudah tak lagi terlihat, nampaknya langit biru telah digantikan dengan warna gelap yang dihiasi bintang-bintang dan disinari oleh cahaya bulan. Malam itu Raka duduk seorang diri di bangku taman kota. Ia masih tak percaya bahwa orangtuanya sudah tak memperhatikannya lagi. Raka melanjutkan langkah kakinya menuju masjid untuk berserah diri kepada Allah atas semua masalahnya. Saat diperjalanannya ia mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an dari sebuah bangunan kokoh bercas merah. Dilihatnya papan nama didepan bangunan itu “Panti Asuhan Kasih Bunda” matanya menatap tajam kepada papan nama itu. Tiba-tiba datang seorang lelaki berambut hitam lurus berpakaian koko dan sarung bermotif kotak-kotak menghampiri Raka, Raka pun tersentak kaget. “Mengapa kau di sini?” Tanya lelaki tadi. “Aku hanya ingin melihat anak panti di sini” jawab Raka. Lelaki itu pun mengajaknya duduk. “Aku Rahman, santri di pondok ini.” Katanya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya kepada Raka. “Raka” balas Raka dengan menyalami tangan Rahman. Mereka bercakap-cakap. Raka menceritakan semua yang dialaminya. “Ayah dan ibuku tak memperhatikanku lagi mereka lebih mementingkan pekerjaan dibanding diriku sendiri.” Ucap Raka. “Kau tahu menurutku orangtua adalah segalanya bagiku, Sesibuk apapun, Ayahmu dia tetap ayahmu orang yang merawat dan mendidikmu hingga kau menjadi seperti ini, dan sesibuk apapun Ibumu dia tetap ibumu orang yang sudah bersusah payah meahirkanmu, orang yang berjuang keras demi hidupmu. Sabarlah atas semua kesibukan orangtuamu, karena sesibuk apapun orangtuamu mereka tetap menyayangimu.” Kata lelaki tadi memberi nasehat. “Tetapi aku…” ucapan Raka terpotong saat lelaki tadi memotong pembicaraan. “Saat ini mereka telah tiada. Andai saja aku bisa membanggakan mereka sebelum mereka meninggal, cobalah untuk membanggakan dan membahagiakan mereka, sebelum mereka telah tiada.” Lanjutnya. Raka memikirkan semua kalimat yang lelaki itu bicarakan, “Dia benar aku harus bisa membuat Ayah dan Ibu bangga denganku.” Kata Raka dalam hati. Ia pun kembali melurukan niatnya untuk sholat isha.

Seusai sholat Isha Raka kembali mengobrol dengan Rahman, mereka mulai akrab. 15 menit kemudian Raka kembali pulang ke rumah. Kembali melangkahkan kakinya ke rumah, jalan demi jalan telah ia lewati, akhirnyaia sampai juga di depan rumahnya. Dibukanya pintu rumah yang menuju ke ruang tamu. Raka ingin segera merebahkan badannya di kasur empuknya. Ia bergegas untuk membuka pintu kamarnya, dilihatnya jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh malam. Raka meletakkan badannya di tempat tidur dan berpikir akan rencananya dalam pementasan drama. Ia akan membanggakan orangtuannya meskipun mereka tidak datang ke tempat pementasan. Beberapa detik kemudian ia mulai berada di alam mimpi.

Mentari terbit lagi mengantarkan semangat pagi, cahayanya membangunkan milyaran manusia di muka bumi ini. Kicauan burung sudah banyak terdengar. Malam telah berakhir berganti dengan hangatnya mentari dan indahanya langit yang cerah membiru. Raka segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kini Ayahnya yang mengantarnya karena supir pribadinya Pak Topan sedang menjaga Ibunya di rumah sakit sehingga tidak bisa mengantarkan Raka ke sekolah. Dalam perjalanan Raka kembali merayu kepada Ayahnya akan kedatangannya ke pementasan drama. Tetapi keputusan Ayahnya tidak dapat lagi diubah. 15 menit dalam perjalanan akhirnya Raka sampai juga di sekolah, tak lupa ia menyalami tangan sang ayah, dan melangkah menuju kelasnya. Di kelas sudah banyak anak yang hadir, mereka sedang berbincang-bincang tentang pementasan drama.
Latihan drama pun berlangsung di aula sekolah, murid-murid berlatih dengan sangat giat mereka tak mau memalukan atau mengecewakan penonton. Raka juga berlatih dengan sungguh-sungguh, dan sangat baik.

2 minggu kemudian… saat pementasan drama
“Nanti kau letakkan camera ini di depan panggung saat aku mulai pementasan, oke” Kata Raka sambil mengacungkan jempolnya ke arah Rahman. Rupanya mereka punya rencana untuk merekam pementasan drama dan akan memberikannya kepada Ayah dan ibu Raka. Pementasan pun berlangsung, Raka melakukan semua aktingnya di depan para penonton, camera yang sudah terencana mewakili kehadiran orang tua Raka di pementasan. Raka ingin sekali melihat orangtuanya bangga padanya.

Pementasan drama pun telah selesai, penonton bertepuk tangan ramai. Para orangtua juga merasa bangga dengan pementasan anaknya. Raka dan teman-temannya turun dari atas panggung menyudahi pementasan drama ini, mereka segera berkumpul untuk evaluasi. Raka memutar Video pementasan di televisinya yang berada di sudut ruang keluarga, volumenya ia keraskan agar ayah dan ibunya terganggu dan keluar dari kesibukannya. Dan itu benar, Ayah dan ibunya keluar dari ruang kerja mereka saat mendengar suara dari ruang keluarga, dilihatnya video pementasan drama di layar kaca televisi. Mereka terus menatap tajam video itu, sampai video itu selesai. Bulir-bulir air mata jatuh dari mata ibu. Ibunya merasa bangga akan akting anaknya di dalam drama. Ayah juga tak menyangka anak yang selama ini tak dihiraukannya, mampu menampilkan akting yang sangat bagus. Pada hari itu orangtua Raka meminta maaf kepada Raka, dan di hari itu perhatian mereka kembali terlihat.

Cerpen Karangan: Thalia Anzalita
Facebook: Thalia Ramadhani

Cerpen Ku Hanya Butuh Kasih Sayangmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Daughter’s Father

Oleh:
Tangan kecil dan halus itu menggapai jari-jariku, mata kecilnya membuka perlahan menatap ke arahku. Aku tak tahu apa yang kurasakan ketika melihat bayi kecil di hadapanku ini, bayi ini

Sebuah Penjelasan

Oleh:
Hari ini aku sangat bahagia karena kembali dari liburan dua mingguku. Ketika di pesawat rasanya aku sangat ingin cepat-cepat sampai dan segera kembali tidur di kasur empukku. Dan salah

Nasihat Terakhir Ibu

Oleh:
Hai kenalin namaku adelia rahma nisa biasa dipangil adel, aku tergolong tidak mampu, tapi itu tak masalah bagiku yang penting hanyalah ibuku, yup aku sangat menyayangi ibuku, aku tidak

Toleransi

Oleh:
Seorang wanita bernama Ria, marah-marah pada adiknya yang bernama Anna. Kemarahan ini diakibatkan karena Anna meneguk segelas es teh di siang hari pada bulan puasa. Ria marah, lantaran walaupun

Perjalanan Hidup Ami

Oleh:
Hi, namaku Ami. Aku seorang PRT, janda beranak satu. Ziandra nama anakku. Pendidikanku yang rendah membuatku harus pasrah membesarkan anakku sendirian sambil mengais rezeki demi membesarkan si kecil. Asalkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *