Mentari Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 October 2017

Di sebuah desa terpencil di pinggir jalan hidup seorang gadis yang cantik dan periang. Dia tak mengenal kata putus asa. Setiap hari dia selalu membantu pekerjaan kakeknya. Gadis tersebut bernama Syifa Rahmawati. Yang akrab dipanggil syifa oleh masyarakat di desanya.

Syifa terlahir sebagai anak yang sehat dan ceria tapi berbeda dengan adiknya. Adiknya terlahir dengan penyakit otak yang membuatnya merasa sakit. Bahkan, setiap hari dia harus bergantung dengan obat-obatan yang begitu banyak jumlahnya. Hingga suatu hari dia masuk ruang UGD karena kedaanya yang semakin mengkhawatirkan. Sebagai seorang kakak syifa sangat terpukul mengetahui hal itu. Sedihnya, dia tak dapat menemani adiknya di rumah sakit karena jarak yang jauh.

Syifa hanya bisa diam dan termenung akan hal itu. Hanya doa kado satu-satunya yang bisa ia berikan pada adiknya. Dia berusaha tetap tersenyum, bahkan dia tak mau menceritakan hal itu kepada siapapun. Dia hanya bisa diam dan menyimpannya dalam hati. Tak dapat dipungkiri lagi jika setiap malam ia harus menghabiskan air matanya untuk seorang adik yang sedang terbaring lemah di ruang UGD.

Berbeda dengan syifa, Kedua orangtuanya lebih tegar menghadapi cobaan itu. Walaupun mereka tahu biaya yang mereka keluarkan itu sangatlah mahal. Tapi, mereka tak memikirkan hal itu. mereka rela memeras keringatnya demi anak-anaknya. Mereka tak pantang menyerah karena mereka yakin dibalik itu semua ada tuhan yang selalu ada untuknya. Mereka bukan hanya membiayai anaknya yang terbaring lemah di ruang UGD tapi juga membiayai anaknya yang pertama. Bahkan biaya anaknya itu pun juga dibilang sangat mahal.
Sebagai orangtua mereka rela melakukan apapun demi anaknya walau harus nyawa mereka pun taruhanya. Karena kasih sayang mereka tak dapat ternilai oleh apapun. Bagi mereka kedua ankanya adalah semangat hidup untuknya.

Satu minggu berlalu adik syifa dirawat di rumah sakit. “assalamualaikum, mba adik sudah diperbolehkan pulang hari ini” pesan singkat dari ibu “alhamdulillah bu, semoga adek lekas sembuh. Doaku selalu menyetainya” balas syifa kepada ibunya. “belajar yang rajin ya nduk jangan kecewain ibu dan bapak” kata ibu memberi semangat untukku “iyaaaa buu” mengakhiri percakapan.

Usai membalas pesan dari ibunya, syifa kembali ke kamar lalu mengambil air wudlu persiapan melaksanakan sholat ashar berjamaah di mushollah dekat rumahnya. Agenda syifa hari itu sangatlah padat. Malamnya dia juga harus belajar untuk persiapan ujian semester. Saat itu pikiranya sangat-sangat kacau, hingga dia tak bisa berkonsentrasi belajar. Tapi, dia berusaha menukik semua itu, dia berusaha untuk berkonsentrasi dan serius dalam belajar. Dia tak mau kedua orangtuanya sedih karena melihat nilainya yang hancur.

Pagi itu, Seperti biasa dia harus bangun pagi sekali, persiapan berangkat ke sekolah. Seusai mandi dia mengambil air wudlu dan persiapan sholat subuh jamaah. Lalu, dia melanjutkan aktifitasnya yaitu membaca al-qur’an.
Pukul 07.00 dia berangkat sekolah bersama teman-temanya. Tapi, hari itu dia tidak seperti biasanya. Syifa yang terkenal ceria berubah menjadi syifa yang sering melamun dan sedih. Teman-temanya heran dengan sikap syifa belakangan itu. Salah satu teman baiknya bertanya kepada syifa tapi tetap saja syifa tak mau menceritakan hal itu kepadanya. Hingga lama-kelamaan air matanya menetes membasahi pipi chubbynya. Dia benar-benar tak kuasa menahan itu semua. Tapi, disisi lain dia takut jika dia menceritakan hal itu kepada teman-temanya membuat mereka sedih. Cukup hanya dia saja yang merasakan kesedihan itu.

“kring…. kring… kring” bel sekolah berbunyi. Anak-anak berlarian masuk kelas. Hari itu merupakan hari kelima mereka melaksanakan ujian semester satu. Ujian dilaksanakan dengan tertib. Semua siswa-siswi mentaati semua peraturan yang telah dibuat panitia ujian. Tepat jam 09.00 siswa-siswi keluar dari ruang ujian. Mereka keluar dengan wajah bahagia karena semua soal mereka jawab dengan baik. Lalu mereka melanjutkan belajar untuk mengingat pelajaran yang telah ia pelajari di rumah tadi malam.
“kring.. kring… kring” bel masuk ujian kedua berbunyi. Anak-anak masuk kelas dengan wajah tegang. Tapi, berbeda dengan syifa, dia masuk ruang ujian dengan wajah sedih. Karena dia masih teringat dengan adiknya yang masih sakit.

Bel ujian berbunyi pertanda bahwa ujian telah berakhir dan siswa-siswi diperbolehkan keluar kelas. Mereka berlarian pulang ke rumah masing-masing. Tapi, syifa masih terdiam di teras sekolah. “syifa” ucap bu Santi yang membuyarkan lamunannya “i…ya buuu” jawab syifa kaget “kok masih di sini? Kamu nggak pulang?” tanya bu Santi sambil memegang pundak Syifa “nanti pulang kok bu, masih pengen di sini aja bu soalnya di rumah sepi”
“daripada kamu di sini sendiri. Ikut ibu aja yuk ke rumah” sambil merangkul syifa dan tersenyum
“iya bu makasih. Tapi nggak usah bu nggak papa saya di sini saja” tersenyum
“ya udah kalau gitu ibu pulang dulu ya” melepaskan tanganya dari pundak syifa dan beranjak pergi meninggalkan Syifa
“iya bu. hati-hati bu” mencium tangan Bu santi.

Sepuluh menit kemudian dia beranjak pulang ke rumah. Karena dia takut kakek dan neneknya cemas mencarinya. Apalagi dia belum meminta izin kepada mereka. “assalamualaikum” mengetuk pintu rumah “waalaikumasalam” sahut nenek dari dalam rumah “nek” tersenyum dan mencium tangan nenek “kok baru pulang syif? Kemana saja? Nenek khawatir”
“iya nek maaf tadi syifa ada urusan di sekolah” jawab syifa bohong karena dia tak mau membuat neneknya sedih “ya udah sekarang masuk habis itu makan, nenek sudah siapkan makanan kesukaanmu” merangkul Syifa dan beranjak masuk ke dalam rumah. sebelum makan syifa ganti baju dan cuci tangan terlebih dahulu. “lho kakek mana nek?” Duduk di meja makan
“kakek masih di sawah syif”
“kok belum pulang nek? ini kan udah sore” tanya syifa khawatir
“mungkin masih ada pekerjaan di sawah, sebentar lagi juga pulang” jawab nenek yang berusaha menenangkan syifa.
“assalamualaikum” Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar sangat jelas diruang makan.
“waalaikumsalam” sahut nenek dari ruang makan dan beranjak membuka pintu

Di depan rumah.
“kok baru pulang kek?” tanya syifa
“iya nduk tadi kakek masih ada pekerjaan di sawah”
“ya udah kek ayok masuk”

Kembali ke dalam rumah dan melanjutkan makan bersama. Setelah makan agenda syifa hari itu adalah belajar kelompok dengan temanya. “nek syifa pamit ya ke rumah teman soalnya mau ada belajar kelompok” sambil mencium tangan nenek “iya nduk hati-hati. Jangan larut malam ya pulangnya” mencium kening syifa “siap nek” tersenyum dan meninggalkan nenek.

Sampai di rumah temanya, syifa disambut dengan banyak omelan karena hari itu dia datang telat. Sedangkan teman-temanya telah menunggunya sejak 20 menit yang lalu. Tapi, itu tak berujung lama. Setelah perdebatan itu selesai. Mereka duduk kembali dan membuka pelajaran yang akan mereka diskusikan. Hari itu mereka berdiskusi tentang “KLONING”. mereka mencari referensi dari berbagai sumber salah satunya adalah internet. Sertiap anggota kelompok telah membawa laptopnya masing-masing dan mereka sibuk mencari referensi tema diskusi hari itu. Tapi, berbeda dengan syifa. Dia hanya mencari referensi dari majalah dan buku yang dia punya. Karena baginya mencari di buku itu lebih banyak pengalamnya. Selain itu di sisi lain dia juga sangat gemar membaca buku-buku yang berkaitan dengan agama ataupun pendidikan.

Selama 2 jam berdiskusi dan mencari referensi dari berbagai macam sumber. Akhirnya, tepat pukul 02.00 siang mereka mengakhiri diskusi tersebut. Setelah itu, mereka berpamitan pulang. “asslamualaikum” mengetuk pintu rumah. “waalaikmsalam” beranjak ke ruang tamu dan membuka pintu. “nek” mencium tangan nenek. “kok baru pulang syif?” tanya nenek khawatir. “iya nek, tadi banyak yang kita bahas”.
“ya sudah ayo masuk, habis itu langsung makan. Nenek sudah siapkan” merangkul pundak syifa dan beranjak keruang makan.
Selesai makan, syifa beranjak ke kamar untuk belajar karena hari senin esok dia akan melaksanakan ujian nasional. Dia belajar sungguh-sungguh agar nilai yang dia peroleh sangat memuaskan dan bisa membanggakan kedua orangtuanya.

Hari ini, tepatnya hari senin. Siswa-siswi SMP HARAPAN BUNDA melaksanakan ujian nasional. Mereka melaksanakan ujian selama empat hari lamanya. Seusai ujian, mereka akan lulus dan mengadakan acraa perpisahan sekolah.
Acara perpisahan dilaksanakan hari ini tepatnya tanggal 07 juni 2012. Syifa sangat berharap jika namanya akan dipanggil ke atas panggung. Karena ia ingin ibunya menyaksikan dirinya berdiri diatas panggung dengan membawa prestasi yang membanggakan. Sampai di penghujng acara, siswa-siswi berprestasi dibacakan satu persatu. betapa terkejutnya syifa bahwa namanya dipanggil di atas panggung dan mendapatkan predikat juara 2 ujian nasional tingkat Kabupaten. Setelah nama-nama siswa berprestasi dibacakan, mereka diminta untuk menuju ke atas panggung dan menerima piagam serta piala penghargaan. Bagi syifa itu adalah kado terindah untuknya. Dia memberikan kado itu untuk adiknya dan kedua orangtuanya. Setelah menerima penghargaan tersebut mereka diperkenankan untuk kembali ke tempat duduk masing-masing yang telah disediakan. “selamat ya nak, kamu sudah membawa nama baik keluarga. Alamdulillah belajarmu selama ini tidak ada yang sia-sia” mencium kening syifa dan merangkulnya. “iya bu, terimakasih. Ini semua juga berkat doa dan dorongan motivasi dari ibu” jawab syifa menangis di pundak ibunya.

Tidak terasa kurang satu bulan lagi syifa akan masuk ke jenjang SMA. Dia bingung akan melanjutkan ke mana. “kamu kenapa nduk?” menghampiri syifa dan memegang pundaknya. “syifa bingung bu, syifa harus melanjutkan ke mana?” menatap ibu bingung “ibu ingin kamu melanjutkan ke SMA FAFORIT, karena di sana kamu bisa sekalian mondok” saran ibu “kalau memang itu baik menurut ibu, aku akan menuruti saran dari ibu” memeluk ibu. Tersenyum dan membalas pelukan syifa lalu beranjak pergi meninggalkan syifa di ruang tamu

Satu bulan berlalu…
Syifa telah siap berangkat ke pondok. Keberangkatanya ke pondok membuat keluarga besarnya bangga denganya. Ayah dan ibunya sangat antusias mengantarkan keberangkatan syifa. Mereka bahkan yang sangat sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa syifa. “syifa seneng melihat ayah dan ibu bisa tersenyum karena syifa” memeluk kedua orangtuanya. “ayah dan ibu selalu mendoakanmu nak, jangan pernah putus asa dalam menjalani kehidupan ini” membalas pelukan syifa.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya syifa beranjak menuju kakek dan neneknya. “kakek, nenek syifa berangkat ya” memeluk kakek dan neneknya. “iya nduk, jaga diri baik-baik di sana” ucap nenek sambil mencium kening syifa. “ingat pesan kakek syif, jangan pernah pedulikan 1 atau 2 orang yang membencimu karena di luar sana masih banyak orang yang sayang sama kamu” memeluk syifa. Mendengar pesan kekeknya tersebut air mata syifa mengalir begitu deras. Keadaan rumah seketika hening. “iya kek syifa akan selalu mengingatnya, terimakasih karena selama ini banyak motivasi yang kakek berikan untuk syifa”. Tersenyum mencium kakek. Lima menit setelah itu, syifa berangkat ke pondok bersama dengan kedua orangtuanya dan adiknya.

Sampai di tempat tujuan, syifa beranjak pergi ke kamar yang telah disediakan oleh pengurus pondok. Dia sangat menyukai tempat tersebut. Syifa juga sangat antusias menjalani kehidupan barunya di pondok. Dua puluh menit berlalu, kedua orangtua syifa harus kembali ke rumah. aktifitas pondok saat itu belum dimulai secara efektif. Hari kelima di pondok syifa merasakan kenehan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Karena keanehan tersebut air mata syifa menetes. Syifa tak dapat berbohong pada ibunya bahwa dia mulai tidak nyaman tinggal di pondok. “bu, kenapa hari ini aku merasakan keanehan?” ucap syifa memulai pembicaraan melalui telepon “keanehan? Keanehan apa nduk? Tanya ibu kaget “syifa mulai tidak nyaman tinggal di sini bu” menangis “itu hal yang wajar nduk, awal memang seperti itu tapi nanti lama-kelamaaan hal itu akan hilang dengan sendirinya, ibu yakin kamu pasti bisa. Kamu anak kuat”
“iya bu syifa akan buktikan itu, mohon doanya selalu bu”
“doa ibu selalu menyertaimu sayang, sekarang kamu masuk kamar lalu belajar. Jangan fikirkan hal itu lagi. Yakinlah kamu bisa”
“iya bu, assalamualaikum”
“waalaikumsalam” mengakhiri pembicaraan.
Selesai menelepon ibunya syifa kembali ke kamar dan merapikan buku-buku pelajaran yang akan ia pelajari hari itu.

Keesokan harinya syifa berangkat sekolah. Di sekolah dia mendapatkan banyak hal baru yang selama di SMP belum dia ketahui. Enam jam di sekolah, tepat jam 12.10 syifa dan teman-temanya kembali ke pondo untuk melaksanakan solat dzuur berjama’ah. Sesai sholat mereka diwajibkan kembali ke sekolah dan melanjutkan pelajaran jam ke delapan dan kesembilan. “kring… kring… kring” bel pulang berbunyi. Anak-anak berlarian menuju lapangan untuk apel siang. Lalu setelah itu mereka diperbolehkan kembali ke pondok.

Malam hari saat jamaah sholat maghrib telah usai. Tiba-tiba syia mendapat panggilan dari salah satu pembina asrama putra bahwa barangnya ada yang tertinggal di rumah. “barang yang tertinggal? Apa? Perasaan nggak ada barangku yang tertinggal Kalau memang ada mengapa tidak diantar saja?” batin syifa
“baik pak, tapi saya izin ke pembina putri dulu ya pak”
“sudah saya izinin, syifa tinggal mengambil tas syifa dan barang-barang yang sekiranya perlu dibawa pulang. pak guru tunggu di sini, jagan lama-lama”
“baik pak” berlari menuju kamarnya.

Selesai membereskan barang-barangnya. “syifa lo mau ke mana? Malam-malam gini bawa tas” tanya seorang temanya “iya ge mau pulang”
“pulangggg?” sahut semua temanya kaget
“iya katanya ada barang gue yang ketinggalan di rumah”
“barang apa? Kok nggak diantar saja?” sahut salah satu temanya
“gue juga nggak tau, ya udah gue pulang dulu ya guys” beranjak keluar kamar menuju ke tempat pak guru tersebut.

Di perjalanan menuju rumahnya. Syifa sangat bahagia karena hari itu syifa diperbolehkan pulang. sampai di rumah dia merasakan ada yang ganjil. Hatinya terus bertanya-tanya “mengapa ada banyak orang di rumahku?”. Lalu, tanpa pikir panjang dia berlari menuju rumahnya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya saat itu. “ada apa ini bu? ibu mengapa menangis seperti ini? Apa yag terjadi bu?” ucap syifa kepada ibunya. Ibunya tak kunjung memberi jawaban pada syifa. Dia memeluk syifa erat-erat. Air matanya bahkan semakin deras mengalir di pipinya. Syifa yang melihat hal itu merasa bingung. Tak kuasa air matanya pun juga ikut menetes. “ibu… ibu.. ada apa ini bu? jawab syifa bu?” ucap syifa sambil memegang tangan ibunya. “kakekmu syif” jawab ibu sedih. “kekek? apa yang terjadi dengan kakek bu?” tanya syifa denagan suara tangisan yang semakin keras. “kakekmu sudah meninggal” memeluk erat anaknya. Setelah mendengar berita tersebut air mata syifa semakin deras. Dia tak dapat menguasai dirinya hingga dia pingsan dan membuat suasana hari itu seketika tegang.

Tapi, tak lama syifa terbangun. Matanya merah, badanya sangat lemah hingga dia disarankan untuk istirahat. Akan tetapi, syifa meghiraukannya. Dia tetap bersih kukuh untuk menemani kakeknya dan membacakan surat yasin. Dia berusaha kuat menghadapi hal itu. Semenjak kejadian tersebut syifa menjadi lebih dewasa dalam menghadapi cobaan yang diberikan kepadanya. Karena kesabaranya itu, banyak masyarakat di desanya yang mengagumi sifatnya.

Cerpen Karangan: Devi Ardelia Wardani
Facebook: Ardelia Devi

Cerpen Mentari Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis di Pemakaman

Oleh:
Perlahan namun pasti kucoba untuk membuka mata tapi mata ini tetap saja sulit untuk kubuka, lalu kucoba menghilangkan selimut yang telah membalut tubuhku, kupandang sekeliling tapi hanya gambaran cat

Surat Untuk Presiden

Oleh:
02 Juli 2013 Kayu-kayu itu masih berserakan. Sampah dimana-mana. Rumah-rumah kokoh itu sekarang tinggal kepingan-kepingan yang berserakan. Guncangan besar telah terjadi di tempat ini rupanya. Entah, aku tak tahu

Gadis Di Tengah Hujan

Oleh:
Desy melakukan pendidikan homeschooling. Tidak pintarnya dalam bersosialisasi dan penyakit asmanya yang menyebabkan ia melakukan pendidikan homeschooling. Jam menunjukan pukul 12.00. Desy sudah selesai belajar bersama Miss Tika. Hari

The Truth

Oleh:
“Serius lo, Gi?” Yogas menatap Egi geram. Seakan tak percaya dengan apa yang baru dikatakan sahabatnya barusan. Egi pun berusaha menatap Yogas dan perlahan mengganggukan kepalanya. “Gi, lo bebal

1 Minggu

Oleh:
“Hahahaha apa?, mentang mentang lo tau gue gak akan tinggalin lo, jd lo belaga suruh gue istirahat?” Lagi-lagi caci maki terucap dari mulut Hani untuk kakaknya Cipta. “Uwes toh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *