Pesan Yang Kurang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 12 June 2013

Sepi. Berat. Itulah yang setidaknya ku rasakan saat ini. Semua indraku belum berfungsi dengan baik. Telingaku, tengah berusaha menyempurnakan pendengarannya. Aku menarik nafas kembali. Mataku, masih terpejam dan seluruh tubuhku terasa kaku. Meski begitu, samar-samar ku dengar suara indah itu. Yang membuatku tenang dan sangat tenang. Hujan. Ya, suara hujan adalah nada terindah yang pernah ku dengar selama ini.

Tenagaku terasa memudar. Aku tau, aku tengah berbaring sekarang. Di suatu tempat yang bahkan aku sendiri belum mengetahuinya. Sebenarnya, bisa saja saat ini aku membuka mataku dan memeriksa dimana diriku sekarang. Tapi… aku. Aku ingin bersantai dulu. Ya, seperti ini. Dengan tubuh lemah, yang dapat ku lakukan memang hanya seperti ini bukan? Berbaring dengan memejamkan mata. Setidaknya ada suara rintik itu yang membuatku tak bosan. Sudahlah, kalau bisa aku ingin melakukan ini selamanya. Entah kenapa.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi padaku sebelumnya?

“hey.. cepat.. sadarlah sayang..”
Tunggu. Suara lembut itu? Suara lembut yang seolah menyadarkan bahwa aku harus cepat sadar, bahwa ada seseorang yang tengah menungguku kini, dan ya, aku bukanlah gadis malas yang senang membiarkan tubuhnya terus berdiam kaku. Aku, aku harus bangun sekarang..!
Jadi, suara siapa tadi? A.. Abang? Benarkah?
Ku kumpulkan seluruh tenaga yang masih tersisa untuk membuka pejaman ini. Sulit, sangat sulit. Kenapa? Awalnya.. aku ingin menyerah, awalnya.. aku ingin berhenti, awalnya.. aku tak kuat. Sungguh pedih. Dan akhirnya sia-sia semua pikiranku tadi. Karena sekarang aku berhasil. Berhasil membuka kelopak ini.

Ah.. sungguh. Tapi..

Yup, akhirnya.. tepat waktu juga, pikirku senang. Kerja kerasku selama ini untuk menyisakan uang saku selama 6 bulan akhirnya selesai. Tepat seminggu sebelum Study Tour dilaksanakan, dan aku berhasil mencapai target yang ditentukan. Uang sebesar 350.000 rupiah itu, segera aku berikan kepada petugas administrasi yang menangani masalah pembiayaan Study Tour ini.
Aku senang. Tapi, aku tidak mau berlebihan mengekspresikannya. Sebisa diriku, ku tahan semua kegembiraan yang melonjak. Aku hanya tersenyum dan tidak berjingkat-jingkat seperti yang lainnya, ketika mereka masuk dalam list siswa yang mengikuti study tour.

Aku selalu ingat pesan terakhir ayah sebelum ia benar-benar meninggalkan aku dan abangku untuk selamanya. ‘Ketika kalian tengah berusaha untuk menghasilkan sesuatu, janganlah berpikir untuk mendapatkan hasil terbaik. Pikirkan hasil terburuk yang kan terjadi, itu membuatmu bekerja lebih keras. Dan juga membuatmu siap untuk menerima apa pun hasilnya, membuatmu lebih bersyukur ketika pikiran hasil terburuk itu benar-benar tak terjadi, membuatmu lebih menghargai apa arti usaha’.
Hah, setujukah aku dengan pesan terakhirnya itu? Bagaimana dengan abangku?
Nyatanya tidak! Aku tak dapat menerima dengan baik pesan terakhirnya itu pada awalnya, terlebih lagi abangku. Bagaimana bisa kami harus berpikiran mendapatkan hasil terburuk setiap kali kami berusaha? Aish, sungguh..
Tapi lambat laun, sadar atau tidak, sepertinya aku mulai melaksanakan pesan itu. Aku tak mengerti. Entahlah. Semua terasa nyaman. Tak ada emosi yang berlebihan, kekecewaan yang menyakitkan ataupun perasaan yang membludag. Yang ada hanya rasa syukur kepada-Nya atas apa yang ku peroleh dalam hidup ini. Apa pun.
Ayah.. Ini kah sebenarnya yang kau maksud? Tapi kurasa ada yang KURANG..

Sekarang, aku duduk di dalam sebuah bus pariwisata bersama teman-teman yang lainnya. Perjalanan pulang sehabis Study Tour serasa melelahkan. Udara begitu dingin, di malam yang kelam. Aku menyandarkan punggungku letih sambil memandang keluar jendela bus. Menatap bulan yang anggun dan seakan-akan setia mengikuti laju kendaraan kami.
Anggun? Ah, aku jadi ingat julukanku yang kerap kali teman-teman lontarkan kepadaku akhir-akhir ini. Lily yang anggun. Lucu bukan?
Aku tidak berbesar kepala. Tapi pernah suatu kali ku tanyakan pada mereka, mengapa menjulukiku seperti itu. Tahu, apa jawabannya? Ya, ‘karena kau lebih tenang dan anggun sekarang ini, Lily..’

Tiba-tiba sebuah guncangan mengejutkan kami semua. Kami menjerit, mobil yang kami tumpangi oleng dan akhirnya..
Aku tak ingat lagi setelah itu.. hanya mataku saja yang terasa perih luar biasa.

Gelap. Degup jantungku begitu kencang. Aku yakin, ini bukan gelap karena listrik mati. Ini.. gelap yang sempurna.

“Abang.. kau di sampingku?”

“Lily.. kau sudah sadar? Apa ada yang salah?” tanya abangku khawatir.
“Tatap mataku bang, kelopakku.. sudah terbuka kan?”
Tak ada jawaban. Sunyi. Yang ada hanya desah abangku.

Jadi, benar ya? Aku.. buta. Karena kecelakaan kemarin. Aku? Sedih? Kecewa? Menyesal? Ah, tidak! Sama sekali. Aku.. bersyukur, karena aku ingat. Pikiran terburuk sesaat sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya adalah kematianku.

Ya, meski kini aku buta, harapan masih ada di dadaku. Karena pesan yang kurang itu adalah ‘jangan berhenti berharap pada-Nya’.

Cerpen Karangan: Nika Lusiyana
Facebook: Haruka Yuzu
Follow my twitter : @NLusiyani
aku hanya seorang pelajar yang akan belajar sampai kapan pun. Karena aku, fakir ilmu.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜›

Cerpen Pesan Yang Kurang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantian Bersama Senja

Oleh:
Senja sore ini tampak begitu indah, ditemani nyiuran kelapa yang tengah melambai-lambai di tanah pertiwi, hembusan angin menyejukkan hati, segenap alam ini sungguh tak tertandingi. Deburan ombak itu menyerbu

Rumah

Oleh:
Aku tak menyesali keputusan ini. meninggalkan rumah memang sudah menjadi cita-citaku. haha, lucu bukan, tapi begitulah hidup. Saat kau benar-benar ingin pergi saat itulah โ€˜merekaโ€™ benar-benar menahanmu. Aku pergi

The Secret of Adriana (Part 2)

Oleh:
“Mas Rasydan!!” seru wanita itu sambil berlari, Rasydan yang tengah memandangi desain bangunan seketika menoleh, wanita itu mendekat, wajahnya sumringah. “Mas, aku bawa berita apa coba?” Rasydan mengernyitkan dahinya.

Penting Niatnya Sayang

Oleh:
Pagi itu, Arina diajak ayahnya jalan-jalan ke pasar. Arina yang belum pernah datang ke pasar tradisional, tak menyangka dengan keadaan yang ada. Benar-benar di luar dugaannya. Pasar itu sangat

Seribu Malaikat

Oleh:
Nisman terperangah. Entah kenapa matanya langsung berair, tak pernah-pernah dia menangis begitu mudah selama ini. Kebahagiaan dalam hatinya membuat dia beku. Saat kesadarannya sudah kembali disalaminya Bu Bidan dengan

โ€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?โ€
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *