Sesal di Penghujung Nafas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 December 2020

Detik demi detik terus berlalu. Mengiringi tiap desah nafas yang kuhirup dan kuhembuskan. Begitu kelabu kisahku saat itu..

Aku Bella, perempuan yang kata orang cantik, tapi aku fikir hanya cantik pada namanya. Sebagian orang mengataiku gadis belia yang baik, sederhana, jarang mengeluh, dan kukuh pada tekadku. Tapi, tak sedikit pula orang-orang disekitarku menggunjing dan mengolok-olok keadaanku. Terutama karena aku terlahir sebagai anak kurang mampu. Tidak sedikit yang membenci setiap aktivitas yang aku lakukan, tapi aku hanya diam dan menanti datangnya balasan bagi mereka tanpa harus aku turun tangan. Karena aku percaya, Tuhan masih dan akan selalu menyayangiku dan keluargaku.

Hingga tiba waktunya ayahku terjatuh sakit. Awalnya memang aku tak peduli. Bahkan aku sempat mengedepankan ego yang seharusnya tak layak diberikan kepada orangtua sendiri. Aku masih terngiang masa-masa ketika dulu ayah memarahiku dengan berbagai macam cara. Entah apakah memang saat itu ayah benar-benar peduli padaku atau hanya ingin meluapkan amarahnya padaku? Ah aku tak peduli itu. Yang pasti, aku masih memendam luka dari setiap kejadian-kejadian pedih itu.

Hingga aku tersadar, ketika ayahku benar-benar terlihat sakit, dan nampak lebih lemah dari biasanya. Walaupun memang, selemah apapun keadaannya, dia tetap tak lepas dari sifat kerasnya. Ia sempat menentang untuk dirawat di rumah sakit. Bukan sekali, berulang kali ia mengelak. Sedang ibuku. Meski ia sering tersakiti oleh ungkapan-ungkapan kasar suaminya, ia tetap sayang dan peduli tethadap keadaannya. Berulang kali ibu membujuk ayah untuk dirawat di rumah sakit. Berulang kali pula ibuku dibuat malu atas perilaku ayahku. Tapi ibuku selalu bersabar. Hingga akhirnya ayahku bisa merasa lebih tenang.

Aku menghubungi kakakku yang berada di luar kota perihal sakitnya ayah. Hingga kakakku merasa lemas seketika. Tak lama ia pulang ke rumahku dan menjaga ayah. Betapa bahagianya ayahku ketika melihat anak perempuannya berada disampingnya. Meskipun itu bukan aku. Entahlah, mungkin ayah memang sayang denganku, tapi mungkin aku masih terlalu kasar untuk menyaring ungkapan sayang ayahku, hingga hanya kakak perempuanku itulah yang mampu mengambil hatinya. Namun tak masalah bagiku. Asal ayah bisa tersenyum meskipun sakit.

Tak terasa sudah satu minggu ayah dirawat di rumah sakit. Hari ini, aku ada kegiatan di sekolah dan harus diikuti seluruh kelas. Acara itu menyenangkan, dan entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja air mata mengalir begitu saja. Jantungku berdetak hebat kala itu. Ada apa? Beberapa teman di sekitarku menanyakan ada apa denganku. Entahlah. Aku sendiri tak tahu kenapa. Tiba-tiba saja aku mengingat ayahku, dan seketika aku menangis sejadi-jadinya sampai kakiku terasa lemas menopang tubuhku.
Sejenak aku melupakan kejadian itu. Aku kembali melakukan aktivitas sekolahku.

Selang waktu beberapa minggu. Ayahku meminta untuk pulang dan dirawat di rumah saja. Tadinya ibu dan pihak rumah sakit tidak setuju. Tapi akhirnya dipertimbangkan lagi dan akhirnya diperbolehkan pulang. Meskipun perlu dilakukan kontrol rutin.

Kakakku telah kembali ke luar kota. Ia melanjutkan aktivtasnya pula. Tapi dia tetap selalu bertanya keadaan ayahku. Hingga satu minggu setelahnya, ayahku terbaring semakin lemah diatas ranjang reot itu. Aku tak tega melihatnya. Aku mendekatinya, memijat kakinya yang dingin, menggenggam tangan yang dulu selalu menggandengku saat kecil. Aku ingat betul ketika ayah menarikku untuk berjalan lebih cepat menyusuri jalan kota, saat ia menggandeng tanganku membantuku naik kereta, dan banyak kenangan manis lainnya. Air mataku tak sanggup kutahan, hingga aku pergi dari kamarnya. Aku tak ingin terlihat sedih didepannya.

Beberapa hari setelah itu, ayahku mengerang kesakitan. Awalnya ibuku hendak membawanya ke rumah sakit. Tapi beberapa warga menyarankan untuk tetap di rumah saja karena melihat keadaan ayahku yang semakin melemah. Akhirnya ibuku pasrah. Saat ibuku hendak membeli sayur untuk makan keluarga, aku disuruhnya menjaga ayahku. Tentu segera kulakukan. Aku melihat gelagat anehnya. Saat ia berusaha mengusir sesuatu di atas kepalanya. Padahal saat kulihat tak ada apapun disana. Aku berusaha berfikr positif. Kemudian aku memeluk dan mencium keningnya.

Saat ibuku pulang, banyak orang yang ingin menjenguk ayahku. Hingga akhirnya aku keluar dari kamar karena kapasitas kamar yang sempit. Tak beberapa lama aku meninggalkannya, kemudian ia terbatuk beberapa kali, dan pada saat batuk terkhirnya.. tak kusangka ia akan mengakhiri hidupnya..

Aku tak menyangka secepat itu Tuhan mengambil nyawa ayahku. Belum sempat aku membahagiakan hidupnya. Belum sempat memperlihatkan kesuksesanku kepada ayahku. Tapi, ayah telah meninggalkanku. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Maafkan aku ayahh.. Akan slalu kuingat semua kenangan manis bersamamu..

Cerpen Karangan: Yunn
Blog / Facebook: yunn

Cerpen Sesal di Penghujung Nafas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangiku Yang Telah Hilang

Oleh:
Aku menunggu pelangi datang dalam derasnya hujan. Derasnya hujan memberiku harapan datangnya dia. Hujan semakin deras, namun dia tak kunjung datang. Semakin derasnya hujan, aku ragu akan kedatangannya. Bahkan

Seiring Waktu Berlalu

Oleh:
Seiring waktu berlalu Aku akan terus mencintaimu Seiring waktu berlalu Kau adalah sinar di tiap pagi Temani aku selamanya Sampai kulihat rambut indahmu memutih Temani aku sampai akhirat Sampai

Sekuntum Bunga Kamboja

Oleh:
Mengayuh sepeda tua berpuluh-puluh mil jauhnya, bersandar di bahu angin jalanan yang panas, berkelok-kelok medan terjal dan sekarung beras mengiringi kayuhan sepeda tuanya. Pagi buta menyambar keriputnya kulit bapak

Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku,

Step Mother (Part 2)

Oleh:
Tasha terjaga hingga tengah malam masih dengan posisi yang sama saat dia pulang. Dia mengeluarkan sebotol pil tidur yang dibelinya sebelum pulang setelah menemui Andre. Dia memegang dengan gemetar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *