Ternyata Itu Bukan Salah Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 October 2014

Reysha, gadis berumur 17 tahun itu harus bekerja agar ia bisa bertahan hidup. Di rumahnya ia hanya hidup berdua dengan ibunya.
“Haaahhgt…!! ini semua salah ayah..! karena ayah ibu jadi seperti ini… semua salah Ayahh..!!” Reysha menahan tangis ketika ia teringat akan masa 2 tahun silam.. Ketika keluarganya masih lengkap. Ayah, Ibu, dan adiknya. Hingga entah apa yang tengah ada di otak Ayahnya. Reysha melihat sendiri bagaimana Ayahnya melenyapkan nyawa Ryan, adiknya, dan bagaimana perilaku Ayahnya pada ibunya.

Reysha tersenyum tipis ketika ia juga teringat saat Ayahnya di ringkut oleh kepolisian dan dijebloskan dalam penjara. Namun, “Hiks..Hiks..” Reysha tak kuat menahan air matanya yang menetes ketika ia menyadari bahwa kini Reysha hidup seperti sendiri. Tapi ia bertekat kuat, ia harus tegar, dan ia tak boleh lemah. Karena saat ini Reysha masih mempunyai Ibu, walau bukan seperti ibunya yang dulu. Ibunya hanya bisa menangis setiap hari, menangis seperti halnya anak kecil.

Pagi-pagi sekali Reysha sudah bersiap berangkat ke warung milik bu Halimah untuk bekerja. Belum dua jam ia berada di warung, tiba-tiba ada seseorang datang mencarinya
“ada apa pak?” tanya Reysha pada bapak-bapak yang tadi mencarinya
“e..e.. anu mbak.. anuu…” bapak-bapak itu terlihat sangat gugup
“anu.. anu apa pak, yang jelas pak!”
“e.. ibunya mbak Rey.. tadi lari menuju kuburan..”
“Hahh?!” Reysha langsung berlari menuju arah perkuburan, ia tau kemana ibunya pergi. kemana lagi kalau bukan ke makam Ryan.

“ibuu..” Reysha tak tega melihat ibunya terus-terusan begitu. Sudah kedua kalinya Ibu Reysha melakukan itu.

Dan akhirnya Reysha memutuskan untuk menitipkan ibunya di tempat penampungan orang-orang yang juga mengalami depresi seperti ibunya. Karena ia takut kejadian serupa akan terulang kembali

3 tahun kemudian…
“tok. tok. tokk…” terdengar seseorang mengetuk pintu. Segera Reysha membuka pintu. Segera Reysha mempersilahkan masuk pada bapak-bapak yang mengetuk pintu tadi.
“Maaf.. saya diutus untuk mengirimkan surat ini pada mbak Rey. Ini.. surat terakhir dari Ayah mbak Rey.. sebelum ia meninggal kemarin malam..”.
“Ayaah?”
“Ia mbak. Maaf mbak.. saya harus pergi dulu, Saya masih ada tugas..” Kata bapak-bapak itu berpamitan.
“e… iya pak.. terimakasih…”

Segera Reysha membuka lipatan surat yang tak beramplop itu. Tangan Reysha gemetar dan ia merasakan ada air mata yang mengambang. Bagaimanapun, ia masih tetep Ayah Reysha terlihat tulisan tangan Ayahnya berderet di atas surat yang ada di tanganya. Perlahan, Reysha mulai membaca surat itu.

“Rey.. maafkan Ayah.. Ayah benar-benar minta maaf. Ayah tau Ayah memang salah. Tapi Ayah melakukan itu semua karena ada alasannya Rey, dan kini adalah saatnya kamu tau hal itu, kini saatnya kamu tau alasan Ayah membunuh adikmu..
sebenarnya.. Ryan adikmu itu bukanlah anak Ayah.. ia adalah anak dari perselingkuhan Ibumu dengan mantan kekasihnya dulu.. hal itu pun Ayah baru mengetahuinya sehari sebelum Ayah mengahabisinya.. Ayah sangat mencintai Ibumu Rey.. jadi Ayah sangat kecewa dan tak bisa mengendalikan emosi Ayah.. Maafkan Ayah Rey..”

“Ayaaah.. hiks.. hiks..” Reysha tak tau apa yang ia rasakan saat ini..

Cerpen Karangan: Aisyah Amalia
Facebook: shikai

Cerpen Ternyata Itu Bukan Salah Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Juga Manusia

Oleh:
Tiap harinya, yang dilakukan Finar adalah berdiri di depan kaca jendela, menatap lamat halaman rumahnya yang terhampar ratusan varietas bunga dan bila beruntung dapat melihat rona senja saat sore

Dewasa Sejak Kecil

Oleh:
Mentari ini kian membumbung tinggi dan terus memanas saja membakar kulitku. Tak pernah ada jenuh-jenuhnya memberikanku sengatan yang begitu dahsyat dan bahkan sampai melelehkan tubuhku. Sekilas mata memandang, Ibu

Pena Biru Laut

Oleh:
Langit yang semula gelap, perlahan terang karena matahari mulai menampakkan sinarnya. Udara pagi yang masih bersih dari polusi udara terasa segar di tubuh. Cuaca hari ini sangat bersahabat, dan

Sadar

Oleh:
Minggu sore yang cerah, waktu yang pas bagi Rika untuk membaca setiap koleksi buku yang ia miliki. Sore ini alam sangat bersahabat, angin yang sepoi-sepoi, simponi alam yang menenangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ternyata Itu Bukan Salah Ayah”

  1. okkyboy says:

    kumpulan cerpen yg bagus,saya suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *