Toleransi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 31 August 2016

Seorang wanita bernama Ria, marah-marah pada adiknya yang bernama Anna. Kemarahan ini diakibatkan karena Anna meneguk segelas es teh di siang hari pada bulan puasa. Ria marah, lantaran walaupun ia tahu Anna tidak bisa berpuasa karena halangan, menurutnya tak seharusnya Anna minum di depannya seperti itu. Mereka lalu bertengkar.

“Kau seharusnya toleransi pada kakakmu dong! Kan hari ini Kakak puasa, mana cuaca panas lagi!” Teriak Ria, yang sudah berkeringat kepanasan di tengah puasanya.
“Kakak dong yang harus toleransi! Sah-sah saja dong aku minum di jam segini karena aku tak bisa berpuasa!”

Mereka masih ribut dengan argumentasi mereka, sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk saling tak menegur sampai hari esoknya. Bahkan di meja makan pun, mereka tetap tak bertegur sapa sedikit pun. Kedua orangtua mereka, yang menyadari hal ini hanya bisa berdecak curiga dalam hati mereka. Namun belum berpikir untuk menyampuri urusan keduanya, mereka pikir semua ini akan berakhir besok pagi.

Tapi selepas hari, kejadian kembali terulang. Ketika itu, Ria baru saja pulang dari rumah temannya, dan menemukan adiknya sedang makan nasi di kamar mereka. Mereka tidur sekamar, hal inilah yang membuat Ria kembali marah. Ditambah dengan kejadian kemarin yang belum bisa dilupakannya. Ia bergeram dan meledak.

“Sudah kakak katakan kamu seharusnya toleransi!”
“Tapi di mana aku harus makan? Di ruang tamu takut Ibu dan Ayah yang melihat. Di kamar, kamu tiba-tiba pulang..”
“Setidaknya makan atau minum ketika aku tidak melihat!” Ria tetap tak mau kalah.
“Mana kutahu kapan kau tak melihat!” Anna ikut berteriak.

Hal semacam ini terus terjadi selama beberapa hari kemudian. Mereka tak bertegur sapa, dan akan saling berteriak begitu kejadian serupa terjadi lagi. Tapi sejujurnya, semua ini membuat diri mereka sendiri merasa lelah. Selain karena tak bisa menyapa seperti biasa, mereka menganggap pertengkaran ini hanya karena kesalahpahaman. Tapi mereka tak mencoba mengatakan masing-masing isi hati mereka, dan membiarkan diri mereka terus terjebak di dalam lingkaran kesalahpahaman tersebut.

Sampai akhirnya, mereka menyaksikan sebuah berita di TV. Ketika itu malam hari dan Ria baru saja pulang dari tarawihnya, mereka duduk di kursi yang sama dan menyaksikan sebuah berita. Berita itu menyebutkan, ada seorang Ibu penjual nasi yang warungnya disita oleh petugas, hanya karena ia berjualan di bulan puasa. Menyaksikan hal ini, keduanya merasa bodoh. Mereka pun saling menatap, berpikir betapa mereka mencintai satu sama lain, dan saling meminta maaf.

“Maaf…” Ria sebagai Kakak memulai. “Kurasa aku sangat bodoh, karena telah mengatakan yang tidak-tidak terhadapmu. Kenapa Kakak harus melarang kau makan? Karena jika Kakak memang ikhlas menjalankan puasa ini, tak seharusnya Kakak tergoda jika melihatmu melahap apapun.”
“Begitu juga aku,” Kata Anna tak kalah menyesal. “Aku berjanji, akan sebisa mungkin tak terlihat oleh Kakak ketika aku akan menyantap sesuatu. Maafkan aku, tak mencoba menghindar darimu…”

Mereka sadar, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan juga minum, tapi juga benar-benar ikhlas ketika melakukannya. Mereka sadar pula, bahwa toleransi sesama manusia sangat penting. Karena hanya toleransi, yang bisa menerima perbedaan. Dan dalam hidup ini, selalu ada perbedaan. Harus ada toleransi, dalam setiap perbedaan…

Cerpen Karangan: Jaka Ahmad
Blog: realmfiksi.blogspot.co.id

Cerpen Toleransi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Laa Tahzan Innallaha Ma’ana

Oleh:
Malam-malamku sebulan terakhir ini bertabur doa lewat istikharah. Doa harapan senantiasa kumohon dalam sujud-sujud wajibku dan qiyamul lail. Semoga Allah segera mengabulkan doaku ini. Egois memang rasanya tak berhak

Derita Seorang Anak

Oleh:
Di suatu desa terpencil, ada keluarga yang hidup harmonis. Mereka hidup berkecukupan, ayahnya bekerja sebagai seorang petani dan ibunya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kehidupan mereka sangat bahagia. Mereka

Aku dan Ayah

Oleh:
“Hoaahhmm…” Hari Sabtu yang melelahkan. Pagi-pagi berangkat sekolah, lalu mengerjakan PR, dan lalu mengikuti kegiatan Pramuka. Aku beranjak tidur karena sangat lelah. Minggu pagi yang cerah, aku segera mandi

Mimpi Sebelum Pergi

Oleh:
Malam itu aku mendapat telepon dari bibiku. Katanya, kondisi bapakku semakin parah. Ia hanya bisa tiduran di atas ranjang tapi tatapan matanya kosong menerawang. “Pulanglah sebentar, bapakmu sangat membutuhkanmu,

Air Mata Hasna (Part 1)

Oleh:
Hening yang bening. Hasna menghela napas dalam. Ditutupnya alquaran setelah sholat tahajut. Sebelum menyimpan di rak buku paling atas, hasna mencium alquran terlebih dahulu. Di luar hujan reda. Sepertiga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *