Selamat Jalan Kepala Puskesmas!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Ruangan itu memang tidak terlalu luas, sehingga tidak cukup menampung semua staf puskesmas yang siang itu hadir, sebagian terpaksa berdiri di luar sambil sesekali mengintip dari balik pintu. Bahkan ada beberapa yg saling pangku sementara yg lain uring-uringan mencari tempat duduk yg strategis. Ada isak tangis yg sesekali terdengar dari balik pidato singkat yang disampaikan oleh perempuan paruh baya yg tengah duduk di bagian paling depan persis berhadapan dengan puluhan staf yg berjejer rapi mendengar setiap untaian kata yg dilontarkan oleh pembicara di depan, sejenak suasana terasa hening serasa berusaha memahami arti dari setiap kalimat yg diucapkan, mencoba mengeja kembali setiap untaian kata, dan tak terasa bulir-bulir air menetes dari balik kelopak mata yang seakan tak mampu menahan derasnya kesedihan atau mungkin penyesalan, entahlah… yg pasti bahwa siang itu semua larut dalam perasaan, entah itu perasaan sedih, suka, atau malah kebahagiaan, hanya pribadi masing-masing yg mampu memaknai arti dari sebuah kata “perpisahan”.

“saya mungkin bukan tipe pemimpin yang pandai memanage bawahan, barang kali setelah kepergianku nanti akan digantikan oleh sosok pemimpin yang jauh lebih baik dari saya dan bisa membawa puskesmas tuppu ke arah yg lebih baik, saya hanya bisa memohon maaf jika sekiranya selama pengabdian saya di tempat ini ada yg pernah tersakiti atau merasa kurang adil atas kepemimpinan saya, melalui moment ini saya ucapkan maaf yg sebesar-besarnya”. Ucapnya sedikit tersendat di sela-sela isak tangis yg membuat kedua bola matanya mulai memerah.

Mataku mulai lembab, ada titik air yg terasa ingin terjun dari balik sungai air mata yg kemudian tertahan di balik kelopak mataku yg mulai basah, namun segera kusembunyikan dengan menundukkan wajahku sembari menghela nafas panjang. Sementara isak tangis semakin jelas terdengar dan seakan membahana di dalam ruangan sempit tempat di mana aku duduk.

“Saya juga ingin minta bantuan pada staf laki-laki untuk membantu saya beres-beres sekalian angkat barang-barang saya jika sekiranya nanti saya harus meningggalkan perumahan ini, dan saya harap bahwa dengan kepergian saya nanti tidak mengurangi semangat kerja kalian, justru saya berharap bahwa dengan kepindahan saya ada semangat baru untuk berbuat yang lebih baik lagi”.

Mataku kembali berkaca-kaca, namun tidak sampai mengucurkan air mata, ku lihat yang lain bahkan terpaksa keluar memeras sapu tangan yg sejak tadi di paksa menampung derasnya air yang muncrat dari balik mata yang sembab akibat kelamaan menahan tangis.

Sesaat setelah beliau menutup pidatonya, beliau kemudian mempersilahkan rekan-rekan yg ingin menyampaikan sesuatu, beberapa rekan mulai angkat bicara sekedar curhat segala isi hati atau hanya sekadar basa-basi, semuanya ambil bagian tak terkecuali dengan saya, moment itupun tak ku sia-siakan, segera saja aku berdiri hendak berbicara, spontan seluruh mata tertuju ke arahku, aku seakan tak kuasa berdiri lama saat ku lihat semua mata merah menyala menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.. seakan ingin menghakimi aku atau mungkin geram terhadapku, nyaris saja aku kembali duduk dan mengurungkan niatku untuk berbicara jika saja nalarku tak segera menangkap arti dari tatapan mata mereka yang tajam dan memerah, yah… kornea mereka meradang akibat desakan air yang mangikis selaput bening dan membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga tampak kemerahan bak kobaran api yang menyala di siang bolong.

“setiap pertemuan pada akhirnya akan diakhiri dengan perpisahan” ucapku mengawali pembicaraan, “dalam rentang waktu selama 10 tahun kebersamaan kita memang telah banyak peristiwa yg telah kita ukir dan tanpa kita sadari bahwa ikatan emosional antara kita telah terjalin sedemikian erat, itu kemudian yg tergambar pada hari ini, saat ada isak tangis dan linangan air mata yg turut menyertai seremonial perpisahan kita kali ini. Meski tidak tampak ada lelehan air mata di kedua mata saya, namun sebetulnya jauh dari lubuk hati ini merasakan kehilangan yg mendalam saat mendengar Kepala puskemas akan dipindahkan.” Sejenak suasana jadi berubah saat mendengar ucapanku, isak tangis yg sejak tadi bergemuruh kini berganti dengan sura tawa lirih mendengar celotehanku yg sepertinya terasa agak menggelitik.

“Tidak banyak yg dapat kami berikan selain dari sebuah cindera mata yg jika di nilai dengan materi tidaklah punya arti apa-apa, namun kami berharap bahwa cindera mata yg kami berikan setidaknya mampu mengingatkan tentang keberadaan kami di sini, dan melalui kesempatan ini pula kami ucapkan maaf jika sekiranya selama kebersamaan kita ada secuil kesalahan yg membekaskan sejumput kesal baik yg kami sadari maupun yg tak disadari, melalui kesempatan ini kami moohn dimaafkan, dan sebagai penutup kami hanya mampu mengucapkan selamat jalan dan semoga sukses di hari hari berikutnya” ucapku mengakhiri pembicaraan disertai anggukan kepala oleh seluruh yg hadir.

Pertemuan itu cukup singkat, tidak seperti acara formal yg biasanya sarat dengan sepatah kata dari beberapa pihak serta kesan pesan yg kadang menjenuhkan dan tak jarang di buat-buat. Entah mengapa saya justru menikmati acara dadakan yg terkesan murni tanpa ada air mata buaya ataupun kata-kata mutiara yang penuh dengan kamuflase. Semuanya berjalan seperti apa adanya tanpa ada persiapan dengan seabreg pernak pernik dan hadiah mewah ataupun iringan musik yg justru membekaskan kesan gembira pada situasi yg jauh bertolak belakang dengan makna perpisahan yang sesungguhnya. Yach… begitulah setiap pribadi memaknai sebuah kata “perpisahan” tak selamanya perpisahan itu dimaknai dengan kesedihan, linangan air mata, ataupun perasaan haru, tidak sedikit yg memaknai perpisahan itu sebagai sebuah pesta kemenangan dengan gelak tawa riang atau bahkan ada sebagian yg memaknai perpisahan sebagai sebuah penyesalan, aku hanya berharap bahwa acara perpisahan kali ini adalah murni mencerminkan perasaan yg tulus tanpa ada air mata buaya ataupun secuil dendam masa lalu yg tak terbalaskan, hanya ada satu kalimat yg mampu aku ucapkan.. “Selamat Jalan Kepala Puskesmas Tuppu…”

Cerpen Karangan: Afif Natsir
Facebook: pusafif[-at-]rocketmail.com
Penulis adalah Perawat yang bekerja di Puskesmas Tuppu, kec. Lembang, Kab.Pinrang, Sul-sel. lahir : tgl 07 juli 1979 di dusun Lombo, Desa Benteng Paremba, Kec. Lembang,Pinrang.

Cerpen Selamat Jalan Kepala Puskesmas! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melepasmu

Oleh:
Kisah ini dimulai saat aku duduk di bangku smp kelas 2. Namaku adalah mirha aku mempunyai seorang sahabat yang namanya Herlita, herlita itu cantik, putih, baik. Bel sekolah pun

Without Goodbye (Part 2)

Oleh:
“… sudah bangun?” “Belum, tuan.” “Dasar tidak berguna! Sudah seharian dia tidur!” Samar-samar telinga Hans medengar percakapan di dekatnya. Dia juga merasa badannya bergoyang-goyang. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan

Penantian Tanpa Ujung

Oleh:
Malam ini aku merasa kesepian. Aku menginginkan sesuatu yang entah ada ujungnya atau tidak. Sudah bertahun-tahun aku merasakan hal seperti ini, kosong dan sendirian. Namaku Dhelia, umur 20 tahun,

Di Hatiku Ada Namamu

Oleh:
Cuaca hari ini panas sekali, aku, rena, dan prita. Kami mulai sibuk menghilangkan keringat yang mengucur di dahi kami, udah 1 jam kami mengantri beli tiket untuk naik turnado,

Partner Senja (Part 1)

Oleh:
Angin sore itu lembut menyapanya, Ia menikmati suasana sore yang begitu romansa dalam indera penglihatannya. Ia selalu jatuh cinta pada suasana sore hari, saat mentari yang lelah bergelayut manja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *