Telat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 21 April 2017

“Hah?! Lo yakin?” Gadis kuncir kuda itu berbicara dengan volume yang keras. Seluruh siswa yang sedang menikmati hidangan di kantin memandang kami penuh tanda tanya.
Aku mendelik ke arahnya, “Bikin malu saja!”
“Sorry …,” pintanya, tertunduk penuh rasa bersalah. Aku melempar senyum ke arah teman-temanku dan menjelaskan bahwa semua baik-baik saja.
Aku berdiri dan menarik tangan sahabatku itu untuk pergi ke halaman belakang sekolah. Di sanalah tempat yang paling sepi.

Sesampainya di sana, aku pun melanjutkan ceritaku, “Aku tak menyangka Reifan setega itu padaku. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Dia siswa populer, sedang aku hanya gadis yang biasa-biasa. Tapi bukan berarti dia berhak berkhianat, bahkan sampai membuat selingkuhannya …” Aku tak sanggup meneruskan kata-kata. Aku pun tak sanggup lagi menahan air mataku. Sahabatku itu berusaha memelukku. Aku menangis sepuasnya dalam dekapannya.

Siang itu sahabatku mengajakku jalan-jalan di Mall. Buat menghibur diri katanya. Berlarut-larut dalam kesedihan tidak baik menurutnya. Aku pun menurut saja.

Di dalam area Mall aku justru berjumpa dengan Reifan dan cewek yang kemarin sore bertengkar dan menangis dengannya di halaman rumah. Tapi mereka juga beserta ibunda Reifan. Ketiganya tampak memasuki butik khusus penyedia busana-busana pernikahan.
Hatiku serasa hancur berkeping-keping. Aku tak berdaya melangkah pergi, walau tak henti-hentinya sahabatku menarik tanganku. Air mataku mengalir sangat deras. Tak bisa lagi kutahan. Dan, tak hendak kuhapuskan.

Aku melihat Reifan keluar dari butik sendirian. Menyadari adanya sosokku, dia berlari mendekat. “Key, kamu kenapa?”
“Nggak usah deket-deket! Gara-gara lo sobat gue jadi kayak gini.” Sahabatku menghalanginya mendekat.
“Ngaco lo! Emang gue ngapain? Gue aja baru ketemu dia.”
“Nggak usah pura-pura bego Fan. Kemaren sore aku ke rumah kamu. Aku lihat kamu lagi nenangin cewek yang nangis-nangis minta pertanggungjawaban. Aku dengar dia … bilang … dia … Sudah telat!” Aku menangis sesenggukan.

“Dasar anak nakal!” Entah sejak kapan Ibunda Reifan ada di dekat anaknya. Tiba-tiba saja kulihat dia mendapat hadiah jeweran.
“Ampun Mah… Ampun …” Dia meringis kesakitan.
“Nggak ada lagi ampun buat kamu! Kemaren kamu udah bikin adik sepupumu telat berangkat sekolah, gara-gara bangun kesiangan, padahal disuruh nganterin. Sekarang apalagi hah? Kamu bikin anak orang secantik ini nangis?”

Sepupu? Telat ke sekolah? Jadi, selama ini aku salah paham? Gubrak …!

Kulihat sahabatku langsung menepuk jidatnya.

Aku menghapus air mataku dan malah menertawakan tingkah lucu ibu dan anak itu. Sekarang aku tahu bahwa Reifan tidak berselingkuh, apalagi sampai menghamili selingkuhannya, seperti dugaanku sebelumnya. Aku bernafas lega. Ternyata hubungan kita baik-baik saja. Entah apa yang akan terjadi nanti. Biarkan waktu yang bicara.

Cerpen Karangan: Amalia Wardhani
Blog: Istana-cerita.blogspot.com
Ratu di istana-cerita.blogspot.com

Cerpen Telat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran Kesiangan

Oleh:
“KRINGGG” Alarm berbunyi dengan keras, hingga membuatku terbangun. ku lihat jam udah nunjukkin pukul 06.00, WAAHH!! gawat bisa telat ni!! akupun bergegas menuju kamar mandi untuk segera mandi. Gak

Angkot Ngot Ngotan

Oleh:
Hampir separuh hidupku kuhabiskan di angkot (supir angkot gituh?). Bukan deh, maksudnya adalah angkutan umum super canggih ini telah menemani hari-hari gua selama menjadi pelajar SMA sampe selesai kuliah.

Pemuda Tampan, Katanya

Oleh:
Cerita ini tentang kehidupan seorang pemuda tampan yang takut pada ibunya. Hm, bukan itu. ini tentang pemuda tampan yang menemukan jati dirinya. Sebut saja dia James. Gila, keren banget

Bukan Mirna

Oleh:
Mendengar hp-nya berdering, Marni pun segera mengambilnya dan menerima panggilan itu. Rupanya yang menelepon adalah Jentika ‘temannya waktu kuliah’. “Halo Mar,” Sapa Jentika. “Iya Jen,” Sahut Marni. “Apa kabar

Makro?

Oleh:
Ada medan magnet lain yang menyelimuti perpustakaan sekolahku. Entah kapan tepatnya hal itu bermula, yang jelas aku merasakan desiran asing setiap masuk ke dalamnya. Jantungku berdebar lebih kencang, namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *