Jagal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 March 2015

David sejenak menghentikan langkahnya di jalan beraspal yang dihiasi beberapa lubang berair sore itu. Mata tajamnya menyapu ke sekeliling pekarangan luas yang gersang dan sepi itu. Sesekali titik air sisa hujan menerpa wajah pemuda kekar 25 tahun itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri nampak mobil tua yang sudah lumpuh tak terpakai lagi. Mendung hitam masih menggantung di langit, sesekali terlihat kilat di kejauhan. Lalu mata David terpaku pada bangunan tua dan usang. Di beberapa bagian dindingnya yang kokoh nampak dihiasi lumut dan retakan disana-sini. Disitulah dia akan bekerja sebagai jagal sapi. Pekerjaan yang terpaksa diambilnya setelah nganggur beberapa tahun. Dan diPHK dari pabrik plastik tempatnya bekerja sejak lulus SMP.

“Nak David…” terdengar suara wanita paruh baya mengejutkan David. “I… i… iya… saya buk” belum hilang kekagetan David. Lalu wanita itu mengajak David pergi menuju ruang kerjanya di samping tempat pemotongan sapi itu. David mengikutinya dari belakang sesekali membenarkan tas ranselnya. Dilihatnya tubuh wanita indo bernama Rita itu, tubuhnya semampai bak seorang model. Di usianya yang tidak muda lagi Rita masih terlihat sangat cantik, kulitnya putih mulus, matanya coklat bersinar, sebagai lelaki normal melihat wujud seperti itu, David sesekali menelan ludah.

“Jadi tugas nak David nanti membantu pak Narto untuk nyembelih sapi, hanya bantu-bantu saja kok.” jelas Rita, sambil menatap tajam mata David yang duduk di balik meja kerjanya. David nampak salah tingkah dengan pandangan Rita. Lalu dia mengusap wajahnya yang sedikit basah oleh air hujan yang bercampur keringat dingin. Tidak berapa lama, dari balik pintu. Seorang lelaki tinggi besar berumur 60 tahunan, wajahnya ditumbuhi bewok lebat yang mulai memutih, berjalan memasuki ruangan yang penuh barang-barang antik dan kuno itu. Dialah pak Narto, jagal senior yang sudah puluhan tahun mengabdi di tempat penyembelihan sapi itu. “Pak Narto, ini nak David, pegawai baru yang akan membantu pak Narto kerja, tolong dibimbing ya pak.” Rita dengan ramah memperkenalkan David. “Baik nyonya, itu sapi yang dari peternakan sudah dikirim belum ya nya?, sepertinya sudah beberapa hari. Tapi kok belum sampai disini. Mungkin nyonya bisa mencari informasi ke peternakan.” jawab pak Narto dengan suara beratnya. “Oiya makasih pak sudah mengingatkan. Baik nak David, saya rasa cukup penjelasan dari saya. Selebihnya soal di lapangan biar dijelaskan pak Narto. Karena sudah mulai malam nak David istirahat dulu. Pak… tolong tunjukan kamar nak David ya.”

Hari pertama, ke dua telah dilalui David…
David mulai merasa nyaman bekerja di tempat itu. Bila pekerjaan sudah selesai biasanya para karyawan yang rata-rata seumuran dengan David itu ngobrol, main catur atau bermain gitar di balkon kamar mereka. Tapi malam itu karena hujan turun sangat lebat, mereka memilih di kamar masing-masing. David baru saja selesai mandi, Alangkah terkejutnya dia ketika membalikan badan setelah menutup kamar mandi. Rita dengan baju tidur tipisnya sudah berada di dalam kamar itu. “Maaf nak David, kalau saya mengejutkan nak David. Saya tadi ketuk pintunya tidak ada jawaban, ternyata nak David sedang mandi.” kata Rita sambil terus memandangi tubuh David. “Iya bu, maaf ada apa?” David nampak kikuk, berdiri di depan bosnya hanya dililit handuk putih yang menutupi bagian bawahnya. Terlihat dada bidang dan sixpack terpahat di tubuh pemuda berkulit coklat itu. “Saya cuma memastikan kalau semua tidak ada yang keluar malam ini, karena besok kalian sibuk sekali, sapi-sapi dari peternakan besok sudah sampai. Oya… Firman mana ya?” Tanya Rita dengan pandangan mencari-cari. “Tadi masih di tempat sembelihan buk, waktu saya balik kesini.” “O iya sudah, nanti kalau sudah balik suruh cepat istirahat ya.” Setelah Rita beranjak keluar kamar, David lalu menuju lemari gantinya. Lagi-lagi David dikejutkan teriakan seseorang di balik pintu kamarnya. “Firman… Firmannn…!!!” teriak Leo karyawan di penyembelihan sapi itu juga. Sambil memakai celananya David membukakan pintu kamarnya. “Mana bajingan itu?!!!” Tanya Leo tinggi. “Firman masih di penyembelihan, dia belum balik kesini. Ada apa Leo?” selidik David, sambil melirik ke tangan kanan Leo yang menggenggam golok. “Hahhh… bukan urusanmu!!” jawab Leo melangkah ke dalam kamar. David sangat cemas takut terjadi hal yang tidak diinginkan. “Leo, tolong jangan macam-macam disini. Kalau ada masalah selesaikan dengan baik-baik.” “Aku akan menghabisi bajingan itu!” sambil terus mencari-cari Firman di kamar itu. “Aku sudah bilang Firman belum balik ke kamar, kamu tidak percaya dengan aku?” Tanpa penjelasan apapun, setelah memastikan Firman tidak bersembunyi di kamar, Leo pun beranjak pergi.

Jarum jam telah menunjuk ke angka satu dini hari.
Tiba-tiba David dikejutkan kedatangan Firman yang nampak ketakutan. Dan tergesa-gesa sambil mengemasi baju-bajunya dari lemari. “Firman… ada apa kamu?” Tanya David kebingungan. Firman masih terdiam dan terus memasukan baju-baju ke tasnya. Tanpa sepatah kata setelah selesai mengemasi barang-barangnya di kamar itu, Firman beranjak keluar dari kamar, tapi ditahan oleh David. “Apa-apaan kamu vid!” gertak Firman penuh emosi. “Jawab pertanyaanku, ada urusan apa kamu dengan Leo?!” “Bukan urusanmu!” Firman lalu menyingkirkan tangan David yang menghalanginya di pintu. Tak kuasa David pun membiarkan Firman pergi berlalu dan menghilang di ujung lorong rumah tua itu. David masih diselimuti rasa penasaran, sebenarnya apa yang terjadi antara Leo dengan teman sekamarnya itu. Lalu dia menuju jendela di kamarnya, dilihatnya masih turun hujan, kilat sesekali menghias langit diiringi gemuruh dan petir. Dari tempatnya berdiri di balik jendela, dilihatnya di bawah sana pak Narto sedang berlari menuju tempat penyembelihan. Ada apa kira-kira segelap ini pak Narto masih ke tempat penyembelihan. Hahhh… mungkin ngecek sapi-sapi yang mau dipotong besok pikir David. Sejenak dia kembali ke tempat tidurnya, tapi pertanyaan atas perselisihan Leo dengan Firman tadi masih mengganggu pikiranya. Sampai akhirnya dia pun terlelap.

Pagi yang basah dan berlumpur mewarnai tempat penyembelihan sapi itu. Dan sinar mentari menembus jendela kamar David. David pun terbangun dan melangkah menuju jendela dan membukanya. Tiba-tiba pandanganya terarah ke bawah tepat di tempat penyembelihan. Dilihatnya hal yang tidak biasanya, kerumunan para pekerja disana. Tanpa membasuh muka, David bergegas turun menuju tempat penyembelihan. Semakin dekat langkahnya, semakin terlihat ada mobil polisi juga disana. David sedikit mempercepat jalanya. Dan dia pun mendapati kepala yang terpenggal dari tubuhnya. Itu kepala Firman. Beberapa polisi nampak sedang olah TKP memeriksa beberapa tempat dan pekarangan penyembelihan sapi itu. David benar-benar tidak menyangka kepergian Firman semalam menjemput mautnya. Masih tidak percaya apa yang dilihatnya, David terdiam mematung tak jauh dari posisi kepala Firman yang mulai dimasukan kantong mayat. Kasak kusuk dari para pekerja lain menyebutkan, Firman berantem dengan Leo, karena Firman telah merebut pacar Leo. David hanya tertunduk lemas, sesekali dia menghela nafas panjang. Ketika dia mulai mengangkat kepalanya, dilihatnya pak Narto yang sedang dimintai keteranganya oleh polisi. David teringat semalam selepas Firman pergi dia melihat pak Narto berlari menyelinap ke penyembelihan ini. Nampak pak Narto tersenyum sinis ke arah David. Seakan-akan tahu apa yang sedang David pikirkan. Tapi… Bagaimana dengan Leo? yang jelas-jelas ada masalah dengan Firman. Dimana dia? Setelah bertanya pada beberapa teman, ternyata Leo juga telah menghilang sejak semalam.

“Saya merasa ada masalah di antara ke dua karyawan saya itu pak” Samar terdengar Rita menjawab pertanyaan dari polisi. Setelah semua jawaban dari beberapa karyawan dan penemuan golok yang biasa dipakai Leo. Pembunuhan ini mengarah pada Leo yang menghilang. Siang itu penyembelihan harus diliburkan beberapa hari. Dan polisi pun sampai malam hari belum menemukan potongan tubuh Firman.

Hujan deras kembali menyelimuti malam itu. David terpaku di depan jendela kamarnya beberapa saat. Pikiranya terus berputar-putar memikirkan misteri kematian Firman. Tiba-tiba tanpa sengaja dia melihat seseorang menyelinap ke arah gudang yang tak jauh dari tempat penyembelihan. Di dorong rasa penasaranya, David bergegas keluar kamarnya dan mengendap ke arah gudang. Dalam hatinya dia yakin orang yang menyelinap itu ada hubunganya dengan misteri kematian Firman.

Sesampainya di gudang, disana nampak gelap tak satu pun lampu dinyalakan. Pelan David coba membuka pintu kayu yang berat itu. Begitu pintu terbuka, agar langkah kakinya tidak bersuara, David pun melepas sendalnya. Hanya mengandalkan sorot lampu dan kilat di luar sana, David terus masuk ke dalam gudang kosong itu. Langkahnya terhenti saat terdengar ada seseorang membuka salah satu pintu di dalam gudang besar dan memiliki beberapa ruangan itu. David lalu menyembunyikan tubuhnya di bawah meja besar. Dengan mata kepalanya sendiri David melihat sesosok tubuh Firman tanpa kepala diseret melintas di depan persembunyianya. Siapakah pemakai sepatu boot itu? David tidak dapat melihatnya dengan jelas. Setelah dirasanya aman, David pun keluar dari persembunyianya. Lalu dia melangkah menuju ruangan dimana sosok misterius itu masuk. Diintainya dari lubang kunci, Nampak sedikit ada cahaya di dalam sana walau tidak begitu terang. David seperti tidak percaya melihat sosok yang ada di dalam sana sedang ********** tubuh Firman, dan di sudut ruangan mayat Leo tergantung berlumuran darah. Lidahnya kelu, tubuhnya lemas, keringat dingin mengucur dari semua pori-pori tubuhnya. Sangking lemasnya tubuh David tersungkur masuk di ruangan itu. Pintu yang tidak terkunci itu pun terbuka lebar. Pembunuh misterius itu terhenyak lalu melangkah ke arah David, tanpa berlama-lama pembunuh itu mengayunkan kan pisau pemotong daging ke arah leher David. Sesaat sebelum pisau pemotong daging itu menebas leher David, sekilas David melihat ke arah cincin berlian biru di jari manis pembunuh itu.

“Tidaaaakkk… jangan… jangggaaannn…!!!” Darah segar pun muncrat ke dinding dan membanjiri lantai ruangan itu.

“Maaf nyonya, saya menemukan cincin nyonya terjatuh di gudang.” kata pak Narto sambil menyodorkan cincin berlian biru pada Rita. “Terima kasih pak” ucap Rita sambil menyematkan cincin itu di jari manisnya.

Lalu…

“Nak… nak… David, saya rasa cukup penjelasan dari saya. Selebihnya soal di lapangan biar dijelaskan pak Narto. Karena sudah mulai malam nak David istirahat dulu. Kasian sampai tertidur disini, Pak… tolong tunjukan kamar nak David ya pak” David terhenyak, mendapati dirinya tertidur di ruang kerja Rita, lengkap dengan tas ransel nya.

“Pak saya tadi tidurnya lama ya pak?” Tanya David sambil berjalan mengikuti pak Narto di lorong panjang menuju kamarnya. “Iya nak… mungkin tadi nak David kecapean di perjalanan, sampai-sampai kami tinggal ke penyembelihan saja nak David tidak tahu.” jawab pak Narto ramah.

Sesampainya di kamar…
“Saya Firman. Saya yang akan jadi teman sekamar kamu.” kata Firman sambil mengulurkan tanganya pada David. David terhenyak dan terdiam sesaat, sebelum membalas uluran tangan Firman. “Nah… kalau ini Leo, jelek jelek begini, pacarnya cuuuaaannnttiiikkk… hahahaha” Firman memperkenalkan Leo yang baru datang di kamar itu. Lagi-lagi David terkejut dibuatnya.

min… kasih masukan dong tuk cerpen akku ini.

Cerpen Karangan: Shendy Allymozza
Facebook: Chrysalis Mozz[-at-]yahoo.com

saya sangat mencintai keluarga sayaan
dan aku gak punya lagu apapun tuk pacar akku.
semua lagu favorite aku, aku persembahkan tuk ke 2 orangtua saya.

Cerpen Jagal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa? (Part 1)

Oleh:
Namaku Tissa. Aku tinggal di kota yang tidak pernah tidur. Bukan Jakarta maksudku, tapi kota Tangerang. Namun, tempat tinggalku berada di perumahan yang agak sepi. Sering kubertanya-tanya, mengapa orangtuaku

Who I’m (Part 1)

Oleh:
Entah bagaimana aku bisa berada disini, tempat yang terasa asing bagiku. Tanpa sedikit pun ingatan tentang jati diriku. Yang lebih terasa aneh lagi, tak ada satu orang pun yang

Ketika

Oleh:
Di pagi itu, tepatnya awal desember, aku melewati jalan setapak yang kecil. Tak ada yang istimewa jalan ini tapi, ada sebuah Toko boneka di tengah jalan ini, persis menghadapku.

Misteri Rumah Pak Midin

Oleh:
Suatu ketika aku pulang dari mesjid bersama temanku dengan berjalan kaki. Namaku Umar dan kedua temanku Usman dan Zakir. Kami berhenti di depan sebuah rumah papan di ujung desa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Jagal”

  1. Dwi yanti says:

    waw ini yg nmanya cerpen, endnya sukar ditebak..

  2. Nanda Insadani says:

    ceritanya seru dan menegangkan, tapi bagian akhir di cerpennya saya rasa mengganggu sekali. 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *