Penghuni Kamar Motel No. 14 (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Dane Tyler mengucapkan syukur dalam hati. Jika bukan karena kebiasaannya mengemudi di tengah cuaca yang kurang bersahabat, mungkin ia sudah terperosok masuk jurang sejak hujan deras turun sejam yang lalu. Ia duduk sendiri, di dalam sedan tuanya yang meraung menembus kegelapan malam sebuah hutan yang sepi. Tujuannya adalah kota Earling, yang terletak di sebelah timur, ratusan kilo jauhnya. Pekerjaannya memang mengharuskannya untuk selalu bepergian. Karena itulah ia sudah tidak kaget lagi dengan perubahan cuaca yang ekstrim, di mana ia diharuskan untuk dapat menangani segala kondisi yang datang, seperti hujan yang tengah ia lawan saat itu.

Dane mencoba untuk bertahan dari rasa kantuknya setelah berkendara selama kurang lebih tiga jam. Ia lelah, dan mulai merasa bahwa ia sudah tidak sanggup untuk berkendara lagi untuk hari itu. Ia harus mencari penginapan. Masalahnya, ia sama sekali tidak melihat adanya kota. Harapan Dane tidak sepenuhnya punah. Beberapa kilo setelah ia melewati hutan, ia masuk ke dalam kawasan pemukiman yang begitu tenang dan terlihat damai. Kegelapan masih menyelimuti setiap sudut yang dapat ia lihat, dan hujan masih mengeluarkan amarahnya. Blackwood. Dane tidak pernah mendengar nama kota itu sebelumnya, meski ia sudah begitu hafal dengan kota-kota kecil karena ia sering bepergian. Namun kota yang ia lewati malam itu benar-benar di luar pengetahuannya.

Apakah hal itu menjadi masalah? Tidak. Dane merasa beruntung dapat menemukan adanya kota di tengah hujan deras seperti saat itu. Ia harus berhenti dan mengistirahatkan tubuhnya untuk sementara waktu. Dane memelankan laju kendaraannya. Kedua matanya dengan tajam mengawasi setiap persimpangan, memandang ke arah papan-papan reklame tua yang masih berdiri di kota itu. Hingga akhirnya, setelah ia melewati sebuah sekolahan, ia melihat ada papan nama berpendar dalam gelap, bertuliskan ‘Penginapan’. Sebuah kata yang tepat, dan begitu ia idam-idamkan untuk saat itu. Baskerville Motel. Itulah nama penginapan kecil yang ia singgahi. Dane tertawa kecil setelah membaca papan nama motel itu.

Namanya, mengingatkanya akan novel Arthur Conan Doyle, dengan nama yang hampir sama. Mungkin pemilik motel itu memiliki hobi membaca novel misteri, dan pengagum berat Sherlock Holmes? Mungkin saja. Sedan Dane menjadi satu-satunya kendaraan yang menempati lapangan parkir motel kecil itu. Sesaat sebelum ia turun dari mobil, ia mengamati keadaan sekitarnya. Yang terlihat begitu sepi, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi ia yakin akan bisa menemukan seseorang yang dapat ia ajak bicara malam itu. Baskerville Motel merupakan sebuah gedung panjang dua lantai, dengan deretan pintu-pintu kamar terlihat dari area parkir di mana Dane menghentikan mobilnya.

Di ujung bangunan, terdapat sebuah kantor kecil, yang kemungkinan adalah bagian reception dari penginapan kecil itu. Dane menutupi kepalanya dengan koper kulit yang ia bawa, sambil berlari-lari kecil, bergerak cepat menuju beranda, lalu berjalan lurus ke arah kantor kecil itu. Di sepanjang perjalanannya, ia melewati beberapa kamar yang terlihat gelap, kosong. Ia mulai berpikir, bahwa mungkin dialah yang akan menjadi satu-satunya pengunjung malam itu. Sebuah lonceng kecil berbunyi ketika ia membuka pintu kantor kecil itu.

Di dalamnya terdapat sebuah meja panjang, khas meja sebuah reception, dengan sebuah papan berada di belakang meja itu, di mana terdapat banyak kunci tergantung. Dane bergerak ke arah meja, lalu membunyikan bel yang ada di atas meja ketika ia tidak melihat adanya penunggu di dalam ruangan itu. Dane memukul bel untuk yang kedua kali, sebelum akhirnya datang seorang pria yang berusia kira-kira 30an tahun, dengan tatanan rambut klimis ke arah belakang kepalanya. Pria itu terlihat rapi dengan kemeja biru yang ia kenakan. Pria itu tersenyum, lalu dengan ramah menyambut tamunya malam itu.

“Maafkan aku! Aku sedang ada kepentingan di belakang. Anda mau memesan kamar?”
“Ya.” Jawab Dane. Ia kemudian menerima buku tamu, di mana ia harus menuliskan nama pada daftar tamunya.
“Hujan yang menyebalkan, bukan begitu?” ucap pria berkemeja biru itu.
“Ya. Menyebalkan.” Balas Dane sambil menulis pada buku tamu di hadapannya.
“Kau bukan dari sini?”
“Aku pendatang.” Jawab Dane. “Hanya lewat. Besok mungkin aku sudah pergi dari sini.”
“Kau sendirian?”
“Ya.” Jawab Dane. Ia kemudian menyerahkan kembali buku tamu itu.

Sementara ia menunggu pria berkemeja biru itu menyiapkan kunci kamarnya, iseng-iseng Dane menarik sebuah koran yang ada di tumpukan majalah. Di headline-nya tertulis ‘TRAGEDI’. Namun sebelum Dane sempat membaca lebih lanjut, kunci kamarnya sudah siap.
“Kamar nomor 7.” Ucap pria berbaju biru itu. “Aku memberikanmu keberuntungan, kawan.”
“Terima kasih.” Ucap Dane. “Oh! Sebaiknya kau berikan keberuntungan pada motelmu ini, kawan. Kau sepertinya sedang butuh pengunjung.”
“Ya, memang sepi akhir-akhir ini.” Ucap pria berbaju biru itu sambil tertawa. Dane melambai, lalu pergi meninggalkan kantor kecil itu.

Hujan masih mengamuk di luar. Keadaan yang sebenarnya benar-benar tidak Dane inginkan, namun mau bagaimana lagi? Yang dapat ia lakukan malam itu mungkin hanya memeriksa sekali lagi pekerjaannya, lalu tidur. Dan berharap agar hujan sudah reda begitu ia bangun keesokan harinya. Dane masuk ke dalam kamarnya. Kamar nomor 7, yang terletak tidak begitu jauh dari tempat parkir, dan juga dari kantor kecil itu tadi. Jika ia membutuhkan sesuatu, mungkin ia bisa berteriak? Cahaya remang yang hangat melingkupi kamar itu begitu Dane menyalakan lampunya. Sebuah tempat tidur, yang terlihat hangat, menjadi satu-satunya furnitur besar yang ada di kamar itu, selain satu meja di sudut dengan sebuah tv 14 inci. Di sebelahnya, terdapat pintu yang mengarah ke kamar mandi.

Dane menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, lalu melepas jaket dan sepatunya. Ia melirik ke arah jam yang terletak di atas meja, yang baru menunjukkan pukul delapan malam. Sepertinya masih terlalu sore untuk pergi tidur. Kenapa ia tidak mulai memeriksa pekerjaannya saja? Dane mengumpat pelan saat ia sadari bahwa koper kulitnya tidak berada di kamar. Pikirannya langsung mengarah pada kantor kecil itu. Kemungkinan ia secara tak sengaja meninggalkan tasnya di sana. Dane baru akan mengambil kembali jaketnya saat tiba-tiba saja ia dengar tiga ketukan pada pintu kamarnya. Dane bergerak cepat, lalu membuka pintu kamarnya. Di depannya, berdiri seorang wanita yang kira-kira seusianya. Akhir dua puluhan, dengan rambut panjang mengombak berwarna kecokelatan. Kedua mata wanita itu berwarna hijau, cerah, dengan senyum yang sempat memukau Dane.

“Maaf!” ucap Dane cepat-cepat saat ia sadari bahwa ia hampir hilang kesadaran karena terpukau dengan wanita di depannya itu. “Kau, Dane Tyler?” tanya wanita itu. “Pria berbaju biru itu memintaku untuk mengantarkan ini. Ini milikmu, kan?”

Dane mengamati benda yang wanita itu bawa. Dan, ya. Itu memang tas cokelat kulit miliknya. Seperti dugaannya, tasnya telah tertinggal secara tidak sengaja di ruang reception. Dan wanita yang baik hati itu telah mau membawakan tasnya kembali padanya. “Terima kasih.” Ucap Dane seraya menerima kembali tasnya. Wanita di depannya itu tersenyum, dan sepertinya tidak terburu-buru untuk pergi. Dane mengambil kesempatan ini untuk bertanya lebih lanjut.

“Kau..”
“Aku menginap di sini.” Ucap wanita itu.
“Oh, ya?” balas Dane. Metodenya untuk mendekati seorang wanita sepertinya sudah mulai ke luar secara sendirinya. Ia tahu bahwa hujan yang membawa hawa dingin masih terus turun. Namun ia tahu pula bahwa ada panas membara di dalam dadanya, saat melihat senyum dan cara wanita itu memandang ke arahnya.
“Aku tidak melihat mobilmu di tempat parkir. Kau..”

“Temanku mengantarku ke sini.” Jawab wanita itu cepat. “Dan.., Oh! Maaf! Namaku..”
“Aku Dane Tyler.” Ucap Dane. “Sepertinya kau sudah tahu namaku sejak tadi, dan.. ehm! Maaf atas sikapku yang..”
“Tidak apa.” Balas wanita itu cepat sambil tertawa. Dane dapat melihat deretan gigi rapi dibalik senyuman yang memukau itu.
“Aku Teresa.” Ucap wanita itu. “Aku juga tamu di motel kecil ini. Di atas. Kamar nomor 14.”
“Senang bertemu denganmu, Teresa.” Ucap Dane. Dane sebenarnya ingin mengajak wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Mengobrol, sambil meminum kopi, dan bercengkerama. Dan untuk sementara, Jones ingin melupakan pekerjaannya. Namun ternyata penawarannya itu ditolak seketika oleh Teresa.

“Sepertinya kau perlu beristirahat.” Ucap wanita itu. Dane sadari, bahwa dandanannya saat itu bukanlah dandanan yang terbaik. Dan dapat ditebak dengan jelas, bahwa ia baru saja menjalani sebuah perjalanan yang panjang.
“Besok, mungkin?” ucap Dane. Teresa hanya melepaskan satu senyumnya, sambil melangkah pergi. Dane masih berdiri di ambang pintunya, mengamati wanita itu hingga wanita itu menaiki tangga, dan menghilang dari pandangan. Dane menggumamkan nama wanita itu dengan pelan, dan bertanya-bertanya apakah ia masih bisa menemui wanita itu besok pagi sesaat sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan?

Sudah lebih dari satu jam sejak Dane bertemu dengan wanita itu, dan ia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Namun usahanya untuk tidak memikirkan wanita itu berakhir sia-sia. Ya. Ia tidak bisa melepaskan pikirannya begitu saja dari wanita cantik yang ia temui itu. Ia tahu, bahwa ia harus menunda pekerjaannya untuk sementara, dan ke luar menemui wanita itu. Pukul setengah sepuluh malam, hujan akhirnya berhenti. Dane ke luar dari kamar nomor tujuh lengkap dengan memakai jaketnya. Ia bergerak menaiki tangga, kemudian mengarah pada sebuah kamar dengan nomor 14. Ia lihat cahaya kekuningan masih terpancar dari jendela kamar itu. Teresa mungkin belum tidur.

“Tn. Tyler!” ucap wanita itu terkejut saat membuka pintu kamarnya. Dane hanya berdiri, sambil melepas senyum.
“Hujan sudah berhenti.” Ucap Dane. “Kau mau menemaniku berkeliling?”
“Tapi.., ku rasa..”
“Kau sibuk?” tanya Dane cepat. Ia sempat melirik ke arah bagian dalam kamar wanita itu, dan tidak menemukan satu pun hal yang dapat menunjukkan bahwa wanita itu sedang sibuk. Mungkin Terasa sedang menonton tv.
“Tidak.” Jawab Teresa sedetik kemudian.
“Ayolah!” pinta Dane. “Malam belum begitu larut. Lebih baik ke luar bersamaku daripada berdiam di dalam kamar.”
Teresa terlihat sedikit ragu. Namun beberapa detik kemudian, ia mengangguk sambil melepas satu senyum menawan itu.
“Ku ambil jaketku telebih dahulu.”

Malam itu mungkin merupakan malam yang paling membahagiakan bagi Dane, mengingat sudah lebih dari dua tahun ia tidak mencoba untuk mendekati wanita sejak kepergian kekasihnya yang dulu. Dane terlalu takut untuk menjalin sebuah hubungan. Tapi Teresa, seolah memberikan napas baru bagi Dane. Entah bagaimana Dane dapat mengetahuinya. Ia merasa bahwa Teresa mungkin akan menjadi seseorang baginya. Hawa yang dingin, basah oleh bekas hujan sesore tadi tidak menyurutkan semangat Dane. Apalagi saat ia ditemani oleh seorang wanita cantik. Teresa mengenakan jaket cokelat, yang sewarna dengan warna rambutnya. Ia tersenyum manis. Lebih manis dari senyuman mana pun yang pernah Dane lihat. Sedan tua itu melaju di tengah sepinya kota Blackwood. Berputar-putar di jalanan, menjelajahi setiap lingkungan. Baik yang ramai maupun sepi. Selama dalam perjalanan, Dane-lah yang paling banyak bercerita mengenai dirinya. Sementara Teresa terdiam, terlihat serius mendengarkan.

“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Dane beberapa saat kemudian sesaat setelah ia selesai menjelaskan mengenai pekerjaannya sebagai penulis lepas.
“Aku?” balas Teresa. “Tidak banyak yang dapat ku ceritakan dari hidupku.”
“Oh, ya?”
“Selain mimpi besarku.”
“Apa mimpimu?” tanya Dane. “Ayolah! Semua orang punya mimpi. Kau tidak perlu malu untuk menceritakannya.”
“Ku rasa mimpiku dimiliki oleh sebagian besar orang.” Ucap Teresa. “Menjadi seseorang yang bisa diakui.”

Bersambung

Cerpen Karangan: G. Deandra. W
Blog: mysteryvault.blogspot.com
Untuk cerman lain, silahkan kunjungi blog saya mysteryvault.blogspot.com

Cerpen Penghuni Kamar Motel No. 14 (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yasa Pulang!

Oleh:
Di luar sana ada berbagai macam warna dari satu objek, warnanya berjuta-juta. Menyampaikan keindahan yang dimilki tuhan, yang katanya menciptakan semuanya hingga sehebat ini. Aku melihat ke arah utara

Misteri Waktu

Oleh:
Hal yang membahagiakan di dunia ini adalah dimana seorang manusia memiliki cinta, cinta akan seseorang yang kita sayangi, cinta terhadap keluarga dan cinta pada diri kita sendiri. Aku sendiri

Blackstreet

Oleh:
Malam semakin pekat, suara anjing liar melengking memenuhi telinga siapapun di tempat itu, Blackstreet. Sebuah kota kecil dengan nama terunik, menurutku nama tersebut lebih cocok untuk sebuah jalan atau

Pisau Saudari Tiri

Oleh:
Malam sudah semakin larut, meski begitu mata ku sama sekali tak mau terpejam. Bayang-bayang kejadian waktu itu selalu berputar di kepalaku. Seperti meminta agar aku segera menyelesaikannya. Ku matikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *