Xeo Kedua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 1 April 2017

Sinar mentari begitu terik hari ini. Keringat panas bercucuran dari kening jenong Xeo. Seperti biasa hari ini ia bergembala bebek miliknya sendiri di lapangan depan kampungnya. Ia begembala ratusan ekor bebek untuk memenuhi kebutuhan warung yang dijalankannya dan kakeknya itu. Nampak wajahnya tak seperti biasanya yang selalu ceria. Sepertinya suasana hatinya hari ini kurang enak mengingat kejadian kemarin yang telah memusnahkan bebeknya sebanyak 10 ekor. Sehingga ia harus dimarahi habis-habisan sama si Cao, kakeknya yang sedari kecil merawatnya. Ia sudah tidak bisa melanjutkan pendidikan kuliah dikarenakan biaya. Tetapi ia sangat ingin suatu saat nanti usaha bebeknya maju dan bisa menjadikannya biaya untuk pendidikannya nanti. Terpaksa untuk beberapa waktu. Entah sampai kapan. Ia harus menggembala bebek untuk kebutuhannya sehari-hari. Sejak orangtuanya meninggal, ia hidup mandiri dengan kakeknya. Meratapi nasib hanya akan membuatnya sedih. Mending dijalani saja.

Hal yang tak biasa juga terjadi di langit lapangan, kali ini langit tak nampak biru di atas. Melainkan hanya awan hitam tebal menyelimutinya. Suasana di sekitar lapangan juga menjadi seperti tempat yang sangat sunyi. Seketika Xeo bangkit dan dengan berat langkah, ia menggiring bebeknya untuk pulang dengan harapan hari ini tiada yang hilang lagi. Dengan teliti ia mengabsen bebeknya masing-masing. Seekor demi seekor dihitungnya dan ternyata tiada yang hilang lagi. Betapa leganya si jenong itu. Bisa pulang tanpa omelen dari si Cao.

Cao terlihat kusut di teras rumah. Entah apa yang dipikirkan orang tua itu. Xeo mencoba mendekati kakeknya itu. Mungkin bertanya hanya akan membuat Cao semakin kusut. Xeo putuskan langsung melesat masuk ke rumah. Tiba-tiba tangan Cao dengan cepat menyergap tangan Xeo. Ia sangat terkejut. Cao menarik tangannya yang tak seberapa panjang itu dan mempersilahkannya untuk duduk di pangkuannya. Ia semakin tidak enak dengan tingkah Cao yang tidak seperti biasanya.

Mereka mengobrol sejenak dengan mata yang tidak saling memandang. Usut punya usut Cao kusut begitu karena teringat akan nasib bebeknya kemarin. Karena dengan itu, ia tidak bisa memenuhi pesanan pelanggannya. Dan karenanya juga ia mendapat komplain dari pemesan. Xeo hanya bisa merunduk terpaku mendengar kata-kata yang sedikit menyakitkan hatinya itu. Dalam hatinya, ia bersumpah untuk mencari siapa saja yang mencuri bebeknya itu. Sekali waktu air matanya menetas sedikit tanpa ketahuan si Cao.

Sekejap kakeknya itu melepaskan dekapan lembutnya kepada Xeo dan meninggalkannya begitu saja. Sontak, Xeo mengeluarkan ponselnya dan mengajak ketemu sahabat karibnya untuk membantu memecahkan masalah yang cukup rumit ini. Mereka berencana bertemu di salah satu sudut desa dekat rumah adik keponakan sahabatnya itu.

Ternyata Fao sudah sampai dulu di tempat yang dijanjikan. Sementara Xeo agak terlambat menemuinya karena ia harus menunggu kakeknya tidur. Ia tak mau jika melibatkan kakeknya dalam hal ini.

Suara jangkrik berbunyi tanpa ada suara obrolan mereka. Mereka malah tampak bingung tak bicara apa-apa. Lama berselang, suara “Aaaahhaaa” dari mulut Fao dengan menepuk kedua tangannya sehingga merobek imajinasi Xeo. Ide ternyata sudah didapat. Xeo hanya mengangguk saja karena pikirannya buntu dengan permasalahan yang selama ini menggelayuti pikirannya.

Pulang dari pertemuan, ada suara aneh di kandang. Apa itu suara maling?. Xeo dengan cepat menuju kandang dan memeriksanya. Ada beberapa ekor bebek lagi yang hilang. Xeo kalah cepat dengan maling itu. Ia menyandarkan punggungnya di kayu yang renta itu dan menangis ala kadarnya. Ia berpikir bahwa selama ini dia kurang baik dalam menjaga amanah yang diberikan oleh kakeknya. Sinar rembulan dan kesunyian menemani lamunannya. Sampai tak sadar ia dengan pulas merengkuh di kandang itu.

Sinar mentari menyoroti wajahnya yang manis itu. ia memicingkan matanya tak tahan dengan sinarnya dan bergegas mandi siap-siap ke lapangan. Ia bingung menjelaskan apalagi kepada si Cao. Langit tampak biru dengan cahaya mentari yang menerangi. Diiringi merdunya suara burung yang bernyanyi.

Langkah demi langkah dilalui dengan ratusan ekor bebek berbaris di depannya. Bebek itu berbaris dengan rapi dengan panduan tongkat kayu panjang sakti milik Xeo. Tak berselang lama akhirnya sampai juga di istana bebek.

Baru saja menyandarkan punggung Xeo di bebatuan besar, suara petir Fao terdengar dari jarak jauh, ia datang dengan semangat berapi. Sesuai yang dijanjikan sebelumnya. Fao mulai memberikan idenya yang katanya brilian itu. Sesuai rencana, Fao memberikan topi yang sudah diberi kamera di gambar topi. Sehingga tak terlihat jika di topi itu ada kamera.

Xeo mulai menjalankan rencananya. Ia pura-pura tertidur. Dalam kepura-puraannya, sayup-sayup ia mendengar suara geretan kaki di rumput. Xeo mengira kalau itu memang benar pencurinya. Xeo berniat untuk menangkap basah. Tapi kalau tiada bukti buat apa. Kurang dari 1 menit suara itu tiba tiba tak terdengar lagi. Tetapi ketika membuka kedua matanya dan terbangun, sudah ada 10 bebek lagi yang hilang. Tapi syukurlah sudah ada bukti siapa pencuri selama ini.

Keduanya dengan rasa penasaran menuju sandaran gawang yang ada di lapangan besar itu untuk memutar video yang ada di kamera itu, alangkah terkejutnya ketika melihat wajah yang ada di kamera itu adalah seorang Xeo. Tapi bagaimana mungkin. Ia selama kejadian itu, pura pura tertidur. Dan mendengar suara jejak kaki lain. Fao pun terkejut akan hal ini. Karena dia melihat sendiri Xeo pura-pura tertidur ketika melakukan tugas ini.

Kasus ini makin rumit saja. Fao yang pintar itu memberikan ide lagi bagaimana mengetahui siapa sebenarnya wajah Xeo kedua itu.

Tetapi sebelum itu, Xeo harus menyiapkan alasan untuk kakeknya supaya diperbolehkan pergi menelisik kasus ini. Ide sudah didapat. Yang pada akhirnya membuat Cao memberikan izin kepada cucu kesayangannya itu.

Keesokan hari sebelum fajar datang, Xeo dan Fao bersiap dengan peralatan mereka untuk menelisik. Mereka memutar kembali video itu untuk mengetahui di mana arah lari pencuri itu. setelah mengetahuinya, mereka mengikuti petunjuk video itu dan beruntung telah didapatkan ada jejak kaki di sekitar situ. Mereka mengikuti jejak kaki itu dan mereka menemukan sebuah gubuk yang keadaannya sudah mau tidur ke tanah.

Mereka menghampiri gubuk yang horror itu dan tak menemukan tiada siapa-siapa di situ. Ketika mereka memberanikan diri untuk masuk, ada pukulan yang begitu keras menghantam tengkuk mereka, hingga membuat mereka pingsan.

Kedua bola mata mereka sudah mulai terlihat. Mereka menyadari ada yang aneh. Tangan dan kaki mereka diikat di sebuah kursi dan mendapati Xeo kedua berdiri menghadapnya. ”Selamat datang di dunia baru kalian.” Katanya sambil senyum kejahatan. ”Mau apa kamu? Kami tidak ada salah sama sekali kepadamu. Kenapa kamu membuat masalah seperti ini.” Kataku sambil mencoba membuka ikatan tali.

“Apa? Tidak punya salah katamu? Memang bukan kamu yang punya salah kepadaku. Tapi kakekmu telah membuangku di sini. Kakekmu mengira kalau aku sudah mati. Tapi aku tak mati semudah itu. Aku diselamatkan oleh yang tinggal di sini dulu dan sekarang ia sudah meninggal. Aku mencuri bebekmu itu hanya untuk membuat kakekmu itu menyesal akan perbuatannya selama ini.”

Seketika kepala Xeo sangat pusing setelah mendengar kata-kata dari seseorang yang wajahnya mirip dengannya. Dan ketika itu juga Xeo teringat masa kecilnya dan remajanya yang ia habiskan dengan Xeo kedua. Ia memang pernah koma selama 6 hari dan tidak ingat apa-apa. Ternyata yang di hadapannya sekarang adalah sudara kembarnya.

Saudara kembarnya langsung memeluknya dan melepaskan ikatan tali di tangannya dan sahabatnya. Xeo berencana memberi pelajaran kepada kakeknya. Mereka bertiga pulang dalam hati yang sudah tidak diselimuti rasa benci.

“Kek, maafkan aku. Bebeknya hilang lagi 20 ekor.” Jelas Xeo dengan nada melas.
“Apa?. Kamu memang anak tidak tahu diuntung. Menjaga bebek saja tidak bisa. Bagaimana kamu menjaga diri kamu sendiri?” Jawabnya dengan nada membentak
“Apa kakek selama ini juga tau diuntung. Kakek begitu tega membuang apa yang selama ini terdekat denganku.” Bicara sedikit menangis.
“Maksudmu apa bicara seperti itu, hah?”
“Maksudku adalah… Ini!” Kataku member kode untuk saudara kembarku masuk
“Xea… Bukannya kamu sudah…” Kakek Xeo terlihat gugup
“kenapa? Kaget? Aku yang selam ini mencuri barang kesayanganmu itu. seperti kamu mencuri apa yang menjadi kesayanganku. Yaitu adikku.” Jawab Xea tegas hingga membuat Cao terpaku.

Selang tak seberapa lama kakek Cao bersujud di hadapan Xeo dan meminta maaf akan semua ini. Cao melakukan ini karena Cao merasa tidak mampu menafkahi keduanya. Maka dari itu ia putuskan untuk membuang salah satu.

Mendengar alasan kakek kesayangannya itu, hati mereka luluh dan memeluk kakeknya itu. Dan kakeknya berjanji akan mengembalikan keadaan seperti semula. Dan Xea berjanji mengembalikan bebek yang selama ini dicuri.

Ketiganya sekarang menjadi seperti anak dan orangtua. Mereka membuka usaha yang lebih besar. Dengan harapan akan semakin sukses nantinya.

Cerpen Karangan: Achmad Bahrul
Blog: adneyartist.blogspot.com
Achmad Bahrul. penulis amatir yang pengen eksis.

Cerpen Xeo Kedua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu (Part 3)

Oleh:
Penutup mataku dibuka dan aku melihat Fera ada di hadapanku. Apa maksud semua ini? Kenapa Fera ada disini? “Akhirnya aku menemukanmu, sayang,” ucapnya sambil mengecup keningku. “Mmmmpppphhhhh,” aku berusaha

Di Balik Jubah Hitam

Oleh:
Pagi yang cerah ini, tampak cahaya matahari yang bersinar memasuki lubang-lubang yang ada di jendelaku. Aku mulai terbangun dari tidurku. Saat itu aku malas untuk pergi ke sekolah karena

Sebuah Pisau Di Matamu

Oleh:
Saat kau datang padaku dengan pisau di matamu tadi malam, aku histeris. Apa maksudnya ini, batinku. Kau tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun. Biarpun darah mengucur deras dari sela-sela

Brave Girl

Oleh:
Hari itu cuacanya benar-benar tidak mendukung. Dihiasi oleh kabut yang entah dari mana datangnya. Seorang gadis belia yang tak peduli dengan cuaca kali itu akhirnya pergi ke luar rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *