Impian Sang Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 June 2015

Namaku Bintang Nesya Permata Putri, aku biasa dipanggil Bintang oleh kedua orangtuaku. Saat ini aku berusia 15 tahun, aku duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas.
Aku bersyukur dan merasa bangga bisa masuk ke sekolah Favorit, karena aku mendapatkan beasiswa di sekolah itu. Semua itu tak lepas karena dukungan kedua orangtuaku. Hidup dengan berkecukupan, tak menghalangiku untuk berprestasi dan mencapai cita-cita ku, belajar dengan sungguh-sungguh itu adalah tekad ku.

Di pagi hari yang cerah ini, aku dengan riang gembira menuju ke sekolah, aku melangkahkan kakiku di sekolahku yang baru. Di depan pintu gerbang, aku berandai dan berharap, semoga impianku tercapai di sekolah ini. Semangat baru, teman baru dan lingkungan baru itulah yang terlintas di benakku. Aku berusaha menebarkan senyuman di wajahku.

Aku menghampiri sebuah mading pengumuman kelas, di mana aku melihat namaku tertulis jelas dan berada di kelas unggulan. “Bintang Nesya Permata Putri”, hal itulah yang membuatku bertambah semangat untuk menuntut ilmu disini. Aku berjalan menelusuri kelas-kelas, dan mencari dimana letak kelasku.
“braakk!!” aku tak sengaja menabrak seseorang.
“maaf-maaf, aku gak sengaja” Bintang meminta maaf
“Eh, hati-hati dong kalau jalan!!” dengan nada kesal
“iya, maaf. Hay, perkenalkan namaku Bintang!” Bintang mengulurkan tangannya dan mengajaknya berkenalan.
“Riska!” jawabnya dengan cetus dan berlalu begitu saja.
Ya ampun, kenapa aku harus bertemu dengan Mak Lampir!! Gerutu Bintang dalam hati.
Upss, tapikan aku yang salah, dan aku juga yang gak hati-hati karena terlalu bersemangat. Bintang menyalahkan dirinnya sendiri

Bintang terus berjalan dan mengingat-ingat letak kelasnya dan ia berharap semoga tidak sekelas dengan orang yang tadi ia tabrak.
Dan akhirnya Bintang menemukan kelasnya..
Kelas X-A, yapss ini kelasku. Bintang segera masuk ke dalam kelas, dan ia memilih bangku yang berada di tengah, tampak orang-orang asing yang nantinya akan menjadi teman-temannya. ia tercengang, saat melihat seseorang yang tadi ia tabrak, betapa angkuhnya dia, oh tidak!! Mengapa aku harus sekelas dengannya!.. Rasa semangat Bintang seketika luntur, karena harus sekelas dengan Riska.

Hari pertama masuk sekolah, adalah hari yang sangat menyebalkan buat Bintang. ia merasa minder berada di sekolah itu, bahkan ia merasa berbeda dengan anak-anak yang sekolah disitu.
“Rasanya tak ingin aku melanjutkan sekolah disini, tapi bagaimana dengan impianku?” Ucap Bintang
Sebuah impian yang ingin ia wujudkan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah disitu.

Jam pelajaran pun telah usai, bel pun berdering, “kring, kring, kring”. Seluruh siswa dan siswi pun diperbolehkan pulang, hari pertama masuk sekolah, pulang begitu cepat karena hanya sekedar berkenalan dan menyusun struktur kelas.
Bintang pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda miliknya, sedangkan teman-temanya banyak yang menggunakan motor, bahkan ada yang menggunakan mobil.
Bintang pun sampai di rumahnya
“Assalamu’alaikum” ucap Bintang ketika sampai di rumah.
“Wa’alaikum salam” jawab kedua orangtuanya Bintang.
Bintang pun tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya.
“Bintang, sudah pulang, bagaimana sekolah barunya?” Tanya Ibunya bintang.
“Alhamdulillah bu, Bintang senang sekolah disitu..” jawab Bintang sambil merangkul pundak Ibunya.
Bintang bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia merebahkan badanya ke kasur. “rasanya sangat lelah” gumam bintang, saat itu juga ia terlelap dengan nyenyak.

Keesokan harinya ketika Bintang masuk sekolah.
“Eh, ada si miskin” ejek Riska CS.
“minggir teman-teman si miskin mau lewat” ejeknya lagi sambil tertawa.
Seketika itu juga Bintang lari menuju taman belakang sekolah, ia berlari dengan berlinangan air mata. Bintang duduk di taman itu, sambil meratapi nasibnya.
“masuk sekolah yang katanya terfavorit memang membuatku senang bisa sekolah disini. tapi apakah aku tidak pantas bisa sekolah di sini, memang benar aku hanyalah orang biasa”. Ucap Bintang dalam hati sambil tersedu-sedu. Ia sangat sedih mengingat perkataan Riska.

Tap.. tap.. tap, terdengar suara langkahan kaki yang menghampiri Bintang.
“hay, Bintang” sapa seseorang yang menghampiri Bintang.
Bintang mengusap air matanya dan membalikkan badannya
“hay juga,” jawab Bintang dengan ramah.
“namaku Fitri, mau berteman denganku?”
Bintang mengangukan kepalanya, “sepertinya aku baru melihatmu hari ini?” tanya Bintang.
“Ya, aku memang baru masuk hari ini..” jawab Fitri.
Bintang bersyukur masih ada Fitri, setidaknya dia masih mau berteman dengan Bintang.
Setelah mereka mengobrol, mereka pun kembali ke kelas dan sekarang Bintang pun mempunyai seorang teman. Yaitu Fitri. Mereka pun berteman dengan baik.

Jam pelajaran pertama dimulai, Pak Tejo adalah seorang guru killer, namun baik hatinya.
Pelajaran matematika, memang pelajaran yang membosankan. Namun tidak untuk bintang, karena ia memang hobi berhitung sejak dulu. Ia terus memperhatikan Pak Tejo yang sedang mengajar.
Pak Tejo memberikan soal di papan tulis dan bertanya “siapa yang bisa mengerjakan soal ini!!”
Bintang pun mengangkat tangannya, namun ia kalah cepat dari Riska.
Riska pun maju ke depan, ia mengerjakan soal dengan cepat, secepat kilat tanpa menghapusnya.
“Kurasa, ia sudah terlatih” bisik Bintang kepada Fitri.
“Riska, memang orang yang cerdas” jawab Fitri
“Bagaimana kamu tau?” Tanya Bintang lagi. karena ia bingung sepertinya Fitri dan Riska sudah lama kenal.
“Aku dan Riska memang satu sekolah sejak SMP, dan Riska memang terkenal pandai, tapi sifatnya yang cendrung angkuh, membuatku tak ingin berteman dengannya lagi”. Jawab Fitri menjelaskan panjang lebar.
Pelajaran matematika telah usai, Pak Tejo tak lupa memberikan PR.
“Bintang, ngerjain PR bareng yukk!!” ajak Fitri
“ayo, boleh-boleh, ngerjain dimana?”. Tanya Bintang
“Di sekolah aja, abis pulang sekolah…”
“Oke” Bintang meng-iyakan ajakan Fitri
Eh, teman-teman nanti siapa yang mau ikutan belajar bareng? Teriak Fitri.
Semuanya mengacungkan tangan kecuali Riska. Fitri mencoba mengajak Riska agar ia ikut
“Riska, mau ikutan gak?”
“kayanya engga deh, aku mau ngerjain PR di tempat les ku aja!!” jawab Riska tanpa mengubah pikirannya.

Sepulang sekolah, mereka dengan antusias mengerjakan PR bersama, semakin lama, mereka semakin akrab, semenjak mereka sering ngumpul bersama. Bahkan mereka selalu melakukan kegiatan rutin belajar kelompok bersama sepulang sekolah.
“Ulala, pelajaran Pak Tejo lagi!!” ucap Fitri menggerutu.
“tenang pit, kita kan udah belajar bareng!”
“tapi, aku kan gak sepintar kamu Tang!” Fitri memuji Bintang.
“Ststtstt, sudah-sudah Pak Tejo sudah datang”
Anak–anak, apa kalian sudah mengerjakan PR semuanya!! Tanya Pak Tejo dengan garang.
“Sudah Pak!” Jawab siswa dan siswi dengan kompak.
Bagus-bagus! Ucap Pak Tejo
Riska, kerjakan nomor 1! Perintah Pak Tejo.
Riska pun maju ke depan, dan seperti biasanya ia selalu mengerjakan soal dengan mudahnya.
Pak Tejo membuka buku absen, dan menunjuk 1 orang untuk maju selanjutnya.
Seluruh siswa dan siswi merasa deg-degan, karena takut menjadi sasaran selanjutnya yang akan dipanggil oleh Pak Tejo.
“Fitri Indah Sari” kerjakan nomor selanjutnya
Fitri mulai mengerjakan soal itu dengan gemetaran, Fitri berkali-kali menghapusnya, tapi ia berhasil mengerjakanya walaupun ia mengerjakanya tak secepat Riska.
“Wah, hebat kamu Fitri, kamu yang biasanya gak bisa ngerjain, sekarang pandai sekali!” Kata Pak Tejo, memuji Fitri ketika sudah selesai mengerjakan soal.
“Hehe, iya dong Pak!!” jawab Fitri ia pun kembali ke tempat duduknya.
“Anak-anak, Bapak bangga dengan kelas ini, karena kelas ini menunjukan kemajuan yang sangat pesat dalam belajar”.
Seluruh siswa dan siswi bertepuk tangan, karena merasa gembira.
“Iya dong Pak, kita kan mengadakan kegiatan belajar kelompok, dengan rutin!” Sahut Fitri
“Bagus-bagus! Belajar kelompok memang salah satu cara yang paling ampuh dalam belajar. Selain soal menjadi mudah, kita juga mempunyai banyak teman, daripada kita harus mengerjakanya sendiri!” Respon Pak Tejo.
Saat itu, tiba-tiba ibu kepala sekolah masuk ke kelas X-A. Seluruh siswa dan siswi merasa bingung, karena tidak biasanya ibu kepala sekolah datang ke kelasnya. Seluruhnya merasa deg-degan dibuatnya, karena mereka tidak tau apa maksud kedatangan Bu Kepsek.
“Anak-anak ibu akan membawa kabar gembira” ucap Bu Kepsek
“Kabar gembira apa bu?” Tanya seluruh siswa dan siswi serempak.
“Anak-anak, sekolah kita akan mengikuti sebuah olimpiade matematika, dan Ibu akan memilih perwakilanya dari kelas ini, dan Ibu akan memilih…”
Saat seluruhya serius menunggu siapa nama yang akan di ucapkan oleh Bu Kepsek, tiba-tiba bel istirahat berbunyi “kring, kring, kring”
“Yahh,” ucap seluruh siswa dan siswi sambil tertawa.
“Siapa Bu orangnya, lanjutkan Bu,” teriak seluruhnya.
“Riska dan Bintang! Kalian yang akan menjadi perwakilan sekolah.” Ucap Bu Kepsek dan Pak Tejo.
“Wahh, selamat ya Tang!” Fitri memberi selamat kepada Bintang.
“Iya, maksih pit..”
Bintang merasa senang karena ia terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba olimpiade matematika. karena ini merupakan pengalaman pertamanya di SMA.
Saat itu ia meluapkan kegembiraanya lewat buku kecilnya yang selalu ia bawa saat sekolah, buku itu berisi curhatan-curhatan Bintang.

Dear Diary
Hari ini, aku senang sekali, karena aku terpilih menjadi peserta lomba olimpiade matematika, aku janji aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berharap aku bisa mewujudkan keinginanku!!
Pasti bisa Tang? semangat!! good luck..

Setelah ia merasa lega telah menulisnya, ia menutup buku kecilnya dan menyimpannya di tas.
“Tang, ke kantin yukk!” Fitri datang menghampiri Bintang.
“Ayok, pit!” Sambil menarik tangannya Fitri.
“Makan bakso yuk tang!” Ajak Fitri ketika sampai di kantin.
“Emm, enggak deh aku lagi ngumpulin uang buat ditabung nihh!” Tolak Bintang
“Eh, tenang aja aku yang bayarin kok!” Tawar Fitri
Belum sempat Bintang menjawabnya, Fitri sudah memesan baksonya.
“Hehe, makasih Pit..”
“Iya, sama-sama tang, kamu kan udah ngajarin aku matematika.”
“Tang, besok semangat ya, buat lombanya, jangan mau kalah sama Riska!” Kata Fitri sambil mengacungkan jempolnya.
“Tapi aku gak yakin Pit,” jawab Bintang pesimis.
“Duh, kenapa harus pesimis sih Tang”
Dia itu pintar banget, kan kamu sendiri yang pernah bilang!
“iya sih, dia itu emang orang terpintar di sekolah ini.. tapi gak ada yang gak mungkin Tang, di dunia ini”
“Butuh usaha yang keras Tang, untuk hasil yang maksimal” seketika Fitri berubah menjadi sang motivator.
“Dan ini kesempatan kamu Tang, untuk ngebuktiin ke dia, kalau gak hanya dia yang paling pintar, karena di atas langit, masih ada langit..” ucap Fitri menjadi motivator tiada henti-hentinya.
“Udah-udah ngobrolnya nanti lagi, sekarang makan aja dulu” jawab Bintang dengan santai.
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke kelas, dan ketika sampai di kelas
“Tang, semangat ya, Buat lombanya!” Terdengar suara teman-teman sekelasnya menyemangatinya
“Iya, makasih kawan” jawab bintang

H -1 nih, pikiran Bintang mulai was-was. Takut, senang, itulah yang saat ini ia rasakan
Mengapa tidak? Sebab ia tidak menyangka akan terpilih sebagai peserta lomba olimpiade matematika, dan ia takut dengan pesaing-pesaing nya yang jauh lebih pintar darinya.
Optimis Tang, optimis! Bintang berusaha meyakini dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan buku kecilnya lagi dan ia menulis isi hatinya di buku itu

Dear Diary
H -1 lomba, gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Hmm, bener juga kata Fitri..
Pengen banget buat ortu bangga

Hari ini adalah hari saatnya Bintang berlomba, Bintang pun percaya diri setelah mendapatkan motivasi dari sahabatnya.. kini impianya bukan hanya 1. tapi, selain ia ingin membahagiakan orangtuanya, bintang juga ingin membuktikan kalau dia bisa, ia tidak ingin dipandang sebelah mata oleh Riska. Ia ingin menunjukan kebolehanya, tanpa tinggi hati. Ia ingin tetap menjadi bintang yang rendah hati.

Teng, waktu dimulainya mengerjakan lomba. Berbagai macam peserta, dari sekolah yang ada di seluruh indonesia. karena ini merupakan olimpiade Nasional. Beratus-ratusan peserta yang ikut.
Bintang mengerjakannya dengan tenang, ia tidak terpengaruh dengan peserta-peserta yang telah selesai.. ia tetap percaya kepada kemampuanya karena ia telah berusaha dan berdoa.
Sedangkan Riska ia mengerjakannya dengan terlalu percaya diri dengan kemampuannya yang ia miliki. Ia sangat menyombongkan diri, dan ia sangat yakin, kalau dialah yang akan menang.

Lomba telah selesai, kini seluruh peserta hanya tinggal menunggu pengumuman siapa yang akan menjadi sang juara.
2 jam telah berlalu, kini saatnya yang paling mendebarkan, dan akhirnya
Juara 1 jatuh kepada “Bintang Nesya Permata Putri”..
Bintang pun menangis karena terharu, ia tidak menyangka, bahwa ialah pemenangnya.
Sedangkan Riska hanya meraih juara harapan 1, orang yang biasanya terpintar di sekolahnya.

Seluruh teman-temanya memberi ucapan selamat kepada Bintang. Semuanya pun ikut menangis karena bahagia.
Riska yang pada saat itu kalah dari Bintang, ia pun kini menyadari karena ia terlalu menyombongkan diri. Dan kini ia pun mengakui bahwa Bintanglah “Sang Juaranya”.
Dan Riska pun memberanikan dirinya untuk minta maaf kepada Bintang. karena ia pernah mengejeknya. Bintang pun memaafkannya.

Kini impian Bintang telah terwujud, tak hanya menjadi seorang bintang, tapi juga menjadi seseorang yang rendah hati. karena keberhasilan yang telah ia peroleh bukan saja karena kemampuanya, tapi karena motivasi orang-orang sekitarnya lah yang membuat ia menjadi berhasil.

Cerpen Karangan: Puji Lestari
Facebook: Lestaripuji741[-at-]yahoo.com

Cerpen Impian Sang Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Mereka Berharga

Oleh:
Siang yang mendung dengan milyaran rintik hujan turun dari langit. Matahari bersembunyi di balik awan kelabu, seakan enggan melakukan aktivitasnya menyinari bumi. Hujan selalu bisa membuatku nyaman. Terkadang aku

Ini untuk Ia yang Berjiwa Aktor

Oleh:
Puntung r*kok itu sudah mati diinjak-injaknya. Ia masih membeku menatap langit yang biru. Awan-awan masih walau perlahan, kadang burung-burung gereja juga terlihat mondar-mandir di atas sana. Sudah tiga jam

Akhir Pekan Nuri

Oleh:
Ceritanya tuh sekarang gue lagi nonton bioskop bareng temen-temen gue yang bernama Amel, Nadia, dan Liza judulnya ‘Akhir Pekan Miko’ sumpeh… menurut gue tuh film bagus banget bermoral banget.

LDR Yang Berawal Dari Game

Oleh:
Aku berkenalan dengan seorang laki-laki seusiaku, perkenalan dari sebuah game COC (Clash Of Clan) yang sampai sekarang masih jadi kesukaan orang-orang, dari situ aku semakin dekat dengannya, namanya Bagus.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *