Fallen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Nasihat, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Apakah kalian sudah pernah merasakan ‘jatuh’ dalam hidup kalian? Bukan Jatuh Cinta, oke? Jatuh yang ku maksud di sini adalah jatuh dalam jurang kegagalan dalam hidup. Terdengar mengerikan, bukan? Tapi, kenyataannya kan memang sudah seharusnya semua manusia di muka bumi memiliki masalah masing-masing. Dan dalam hal ini, tidak semua manusia berhasil mengatasi masalah tersebut dan merangkak naik dari dasar jurang kegagalan. Yah, meskipun ada juga beberapa manusia super yang berhasil melewati masalah mereka masing-masing. Kenapa aku biang super? Karena bagi kalian yang belum mendapat masalah atau tantangan yang cukup untuk berpikir kalian tidak berguna di dunia ini, mengatasi masalah itu sangat sulit.

Dan tentunya, tiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Tapi pada umumnya, semua masalah itu menunjuk kepada satu hal yang sama. Yaitu ingin dilihat oleh orang lain. Yaitu ingin dianggap ada oleh orang lain. Yaitu ingin bisa diandalkan oleh orang lain. Entah itu orang yang disayangi, maupun orang yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dan sekarang ini, aku tengah mengalami masalah paling besar dalam hidupku yang belum pernah ku rasakan selama hidup 15 tahun di dunia.

Semua orang ingin dianggap pintar oleh orang lain. Termasuk diriku. Aku, seorang gadis biasa berumur 15 tahun juga ingin dianggap pintar oleh orang-orang di sekelilingku. Alasannya sederhana. Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku ingin dianggap ada. Terlebih lagi, hal yang paling ku benci adalah dianggap tidak ada oleh orang-orang. Sebenarnya, sebelum aku menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas, aku dikenal sebagai gadis yang cukup pintar. Aku bahkan tidak perlu belajar keras selama aku hidup 15 tahun di dunia untuk mendapat nilai yang cukup bagus. Setidaknya, itulah yang orang-orang katakan sebelum aku berada di Sekolah Menengah Atas terbaik kedua di Negaraku.

Tetapi setelah itu? Aku hanya dikenal sebagai gadis biasa berotak rata-rata. Tak ada yang spesial dari diriku, kecuali otakku sebelumnya. Dan sekarang setelah otakku sudah tidak sepintar dulu akibat pengaruh lingkungan sekitar, tidak ada daya tarik lagi dalam diriku. Di SMA, aku sudah mulai sedikit terbiasa dengan perubahan ini. Pada awalnya, memang aku menangis histeris kala menatap nilai akademikku dan membandingkannya dengan teman sekelasku yang ajaib. Itu awalnya. Sekarang tidak lagi. Mungkin itu karena lama kelamaan, aku semakin sering menangis.

Dan tentunya tidak ada orang yang tahu akan hal itu. Sederhana saja, aku tidak suka ada orang yang menatapku kasihan. Itu menggelikan. Dan karena aku semakin menyadari bahwa aku semakin sering menangis, aku akhirnya menghentikkan kebiasaan burukku kala mendapat nilai terjelek sekali pun. Tentu, aku pernah mendapat nilai terjelek kedua di kelas. Benar-benar hari yang sulit. Tapi kemudian aku menyadari, Untuk apa aku menangis? Apa ada gunanya aku hanya menangis meratapi kertas ulangan bertinta merah bertuliskan angka? Tentunya, tidak akan ada perubahan yang terjadi dalam bidang akademikku.

Pada akhirnya, aku menyadari kesalahanku selama hidup 15 tahun di dunia. Aku terlalu sombong. Itulah yang terlintas di benakku saat meneliti permasalahan inti dari salah satu tantangan di hidupku. Senyumanku mengembang saat mengetahui hal ini. Perlahan tapi pasti, aku mulai tergerak untuk melakukan perubahan dalam diriku. Dimulai dari mata pelajaran yang paling tidak ku kuasai. Meskipun aku tahu, akan sangat sulit perjuangan yang akan ku lakukan, sangat berbeda dari 15 tahun belakangan ini. Tetapi aku tetap tidak akan menangis untuk kesekian kalinya. Tidak akan.

Oh ya, aku jadi punya sedikit saran untuk kalian yang mungkin tengah berada di dalam jurang kegagalan kalian masing-masing setelah aku berhasil menemukan inti masalahku sendiri. Jangan pernah menjadi langit, meskipun kau memang dalam keadaan begitu. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kedepannya. Dan hadapi masalahmu dengan kepala dingin, maka kau akan bisa merangkak untuk ke luar dari Jurang Kegagalanmu. Tak apa untuk merangkak, tidak perlu terburu-buru, asal, selalu ada perubahan dalam dirimu meskipun sedikit. Berusahalah sampai bisa ke luar dari Jurang meskipun itu memakan habis napasmu. Berusahalah sampai akhir. Usahamu tidak akan sia-sia. Percayalah.

Cerpen Karangan: Annisa Salsabila
Facebook: Annisa Salsabila
Annisa Salsabila 15 tahun. Berusaha menyempurnakan jati diri. untuk menjadi manusia sepenuhnya.

Cerpen Fallen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Bu Dian

Oleh:
Hidup itu memang Luar Biasa. Segala peristiwa yang bahkan tak pernah aku bayangkan terjadi. Aku pernah membaca salah satu buku motivasi yang berjudul “The Secret” dalam buku itu dituliskan,

This Is Me

Oleh:
Begitu banyak ujian dalam hidupku, semakin lama semakin berat. Itu yang aku rasakan. Beberapa minggu sebelumnya ibuku menyusul kepergian ayahku ke sisi Tuhan. Sekarang aku harus ikhlas kehilangan kedua

Kenangan Malam ini (Part 1)

Oleh:
Cuaca langit begitu cerah mentari pagi mulai memancarkan cahaya terangnya yang indah, sampai-sampai cahaya itu menembus ke dalam kaca jendela yang menerangi ruangan kamar yang belum terpancar akan cahaya

Peti Emas Pak Husen

Oleh:
Aku tinggal di desa Kalijati yaitu sebuah desa yang terletak di kaki gunung dimana merupakan desa yang tentram, damai dan terkenal ramah penduduknya. Namaku Ranum, aku adalah anak perempuan

Serakah Membuang Semuanya

Oleh:
“Yah, sudah tau berita baru nggak? Katanya di kampung sebelah banyak perampokan. Jadi kita musti hati hati yah” Ujar Bu Dahlia pada suaminya. Mereka bisa dibilang orang kaya di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *