Selamat Jalan Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 January 2014

Pagi itu diriku lagi asyik nongkrong di depan tv sambil bbman, tiba-tiba ada pesan masuk di hpku, lalu ku buka pesan itu, ternyata dari sepupuku yang mengabarkan kalau ayah teman aku kecelakaan, ku balas dengan penuh pertanyaan, kecelakaan dimana? Kapan? Dan sekarang ada dimana?, tapi dia hanya menjawab sudah ada di rumahnya karena meninggal dunia, “innalillahi wainnalillahi rajiun”

Beberapa detik kemudian ada bbm masuk yang bertuliskan teks kalau sahabatku “yunita salam” juga meninggal, tapi aku tidak percaya dengan BC Itu, Namun informasi Dari Adik kelasku Itu cukup Membuktikan. Terkejut mendengar berita itu, diriku terjatuh, menangis dan tak tau harus Bagaimana, Ya Allah Ada Apa Dengan sahabatku itu.

Dengan air mata yang tak hentinya mengalir, ku tenangkan perasaanku, lalu ku broadcast pesan ke teman-teman SMAku termasuk sahabatku juga desy fahmi dan umbranah yang juga 1 geng denganku dan Yunita, ku Bc tentang berita duka itu, tapi satu persatu menelponku. “Serius kow ancy, jangan kow bercanda?” Dan aku hanya menjawab, kenapa aku harus bercanda dengan hal seperti itu.

Tanpa fikir lagi, ku ambil motor Dan segera menuju ke rumah sahabatku itu, sesampai di rumahnya, aku tak sanggup melihat jenazah keduanya. Sahabatku dan Ayahandanya terbujur kaku dengan ditutupi sehelai sarung dan kain putih.

Air Mata pun tak hentinya mengalir, di depan jenasah Sahabatku, ku iringi doa semoga dia dan ayahandanya diterima di sisi Allah SwT.

Aku masih tidak percaya kalau yang terbujur kaku itu sahabatku “yunita salam” Karena semalam aku masih bbman dengannya, dia masih bercanda dengaku, beri aku semangat, menasehatiku. Ya Allah… Aku sungguh tak menyangka kalau itu adalah malam terakhir bercanda dengannya.

Sahabatku yang akan menuju ke tempat kerjanya di Mall gtc dengan dibonceng ayahnya mengendarai sepeda motor Honda beat warna orange, tiba-tiba di tengah perjalanan diseret oleh mobil avanza warna putih ke dalam selokan di depan perumahan espana tanjung Bunga. Begitu tragis kematian sahabatku ini.

Mungkin sulit untuk di percaya, kenapa dia pergi begitu cepat, tapi itulah kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada, Tuhan tau apa yang terbaik untuk Yunita dan Ayahandanya, dan mungkin itulah yang terbaik buat mereka berdua.

Yunita Sang ceria selalu, kini Hanya tinggal kenangan, Sosok Yang Sulit untuk dilupakan, Namamu Akan selalu di hatiku kawan, dan kau tetap jadi sahabatku hingga saatnya nanti kita dipertemukan di Alam yang Sama.

Begitu Banyak kenangan indah saat bersamanya, seseorang yang tak pernah menampakkan kesedihannya, seseorang yang tak pernah marah pada diriku, hingga terbujur kaku pun dia masih tersenyum “subhuhanallah”.

Selamat Jalan sahabatku “yunita salam”
Selamat jalan Om
Semoga Kalian mendapat tempat yang layak di sisi Allah swt.

Ya Allah Titip Sahabatku, peluk dia, Jaga dia, dan terima dirinya di sisimu Ya Allah, Aminn Aminn Ya rabbal Alamin

Catatan :
Jaga dan sayangilah sahabat/orang-orang yang kalian sayangi selagi dia masih bersamamu, karena kalian akan merasa kehilangan jika dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

R.I.P Yunita Salam dan AyahNya (6 Juli 2013)

Cerpen Karangan: Nursyamsi Syam
Facebook: Nursyamsi syam

Cerpen Selamat Jalan Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesedihan yang Terlalu

Oleh:
Kesedihan masih terpampang jelas di wajah bunda. Kehilangan ayah membuat kami terpukul, bunda menangis sejadi-jadinya. Tidak berhenti, kini hanya ada aku, bunda dan dik Rena. Sebelum lanjut, namaku Zacheya

Selamanya

Oleh:
Aku membuka mata dengan perlahan-lahan tapi entah mengapa berat sekali rasanya membuka mata ini. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur di ranjang ini tapi yang kuyakini adalah aku

Soulmate

Oleh:
Kakiku bergetar, aku berdiri tepat di depanya dengan sebuah nama indah yang sama. hanya raganya yang kulihat, di balik gudukan tanah merah bertabur bunga tujuh warna. Tiga tahun enam

Rumah Tak Berdinding

Oleh:
Malam minggu itu, bulan bersinar terang, cahaya di bawah pohon rimbun tampak remang-remang. Suara jangkrik seakan ikut bernyanyi menikmati suasana malam itu. Di atas bale-bale depan rumah, aku, ayah,

Air Mata Hasna (Part 2)

Oleh:
Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *