Drama King

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 May 2016

Aku berjalan sendirian di koridor sekolah. Benar. Sendirian. Tak ada yang aneh memang. Bahkan keberadaanku di sini tak pernah dipedulikan orang lain. Rasanya aku hanya sebuah pohon yang tak terlihat dari angkasa sana. Aku selalu ingin pergi ke atas sana. Melihat betapa indahnya bumi yang semakin tua renta ini. Dan melihat betapa kecilnya aku jika dibanding dengan mereka yang menganggap dirinya sebagai lautan. Besar dan berkuasa? Lupakan soal itu. Aku tahu kalian tidak mengerti. Gadis aneh sepertiku terkadang memang sulit dimengerti, dan seharusnya kalian mengerti itu. Oke.. aku mulai lagi.

Kembali lagi saat aku kembali menapakkan kakiku di atas lantai keramik bercorak burung kasuari ini. Menundukkan kepalaku, menatap betapa indah ukiran di setiap sudut keramik segi empat ini, terus mengagumi sang seniman yang rela bersusah payah untuk membuat karya yang pada akhirnya tercipta untuk diinjak. Rasanya keramik ini sama sepertiku. Tak peduli bagaimanapun bentuknya, seberapa indahnya, semencolok apakah gradasi warnanya, tetap dibuat untuk diinjak bukan? Sama sepertiku. Tak peduli seberapa besar aku berusaha, seberapa besar aku mencoba membuat mereka menganggap atau bahkan melihatku, rasanya sama saja, mereka tetap ‘menginjak’ku. Kalian masih belum mengerti? Oh baiklah aku akan lebih to the point lagi nanti.

Samar-samar aku mendengar namaku disebut. Ya. Ada yang memanggilku sepertinya. Aku menghentikan langkahku kemudian mendongak. Itu dia. Dialah satu-satunya bintang yang menemani sang bulan. Tidak. Itu terdengar konyol. Maksudku dia satu-satunya yang menganggapku ada -selain guru, kepala sekolah, Ayah, Ib.. ah sudahlah terlalu panjang jika ku sebutkan semua. Dia sahabatku satu-satunya. Satu-satunya. Satu-satunya orang yang bisa menerima ke-nerd-anku apa adanya. Satu-satunya orang yang bisa menerima segala kekurangan, kelemahan, dan semua yang mereka benci apa adanya. Tanpa memikirkan risiko yang akan ia dapatkan jika berteman denganku -seperti dikucilkan, dibully, di.. semacam itu pokoknya. Jangan berpikir soal penganiayaan, sekolahku tidak membenarkan soal itu.

Gadis itu berlari seperti bocah 5 tahun ke arahku. Datang dengan senyum cerianya, tak peduli tatapan aneh dari siswa maupun siswi lain, dia tetap melakukan kebiasaannya hingga sekarang. “Ayo kita ke Perpustakaan,” ajaknya. Tentu saja aku tak bisa menolak. Perpustakaan adalah spot utama yang paling aku suka di sekolah ini. Satu-satunya tempat yang bisa membuatku tenang dan tenteram, tanpa merasa takut mereka akan menatapku dengan tatapan jahanamnya ataupun membunuhku dengan ancaman-ancaman klisenya.

Kami berjalan beriringan menuju Perpustakaan. Namun langkah kami tiba-tiba terhenti ketika melihat segerombolan siswi yang ramai dengan suara horornya yang memekakkan telinga. Aku dan sahabatku -Talia- sama-sama menoleh dan saling berpandangan. Sudah biasa menemukan pemandangan mengganggu itu. Ya. Para gadis yang tengah sibuk mengerubungi tiga cowok tampan nan populer di sekolah. Huh bahkan aku benci mereka. Maksudku siapa yang tak akan terusik dengan tingkah sok raja tiga cowok itu. Meskipun mereka memang tampan -sangat tampan maksudku- tapi tetap saja aku benci karena gaya mereka yang terkesan angkuh.

Ditambah lagi kebiasaan mereka yang suka duduk nongkrong di depan pintu Perpustakaan -yang tentu saja mengundang keramaian disana sehingga mereka menutupi atau bahkan memblok jalan menuju perpustakaan. Aku benci saat-saat harus melewati kerumunan itu ketika ingin masuk ke Perpustakaan di jam istirahat seperti ini. Faktor utamanya? Karena Thomas -si ketua geng- selalu menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku baca. Bagaimana bisa ku baca? Aku saja selalu mengalihkan pandangan ketika ia melirikku terang-terangan, hanya saja mata dan kacamataku ini mampu menangkap dia dengan segala tatapan anehnya. Aneh? Mungkin terdengar agak kasar. Bagaimana dengan jijik? Oh itu terdengar lebih buruk.

“Siap melewati ribuan anak angsa yang kelaparan?” Tanya Talia sarkas. Aku tersenyum simpul meski wajahku kelihatannya tetap membosankan. Aku dan Talia mulai menerobos melewati sekumpulan zombie yang siap melahap kami -tentu saja itu hanya perumpamaan. Gadis-gadis puber itu mulai melontarkan berbagai macam umpatan kasar yang menyebabkan telingaku gatal. Tak biasa aku mendengar kata-kata kasar seperti itu. Mungkin karena aku yang terlalu fokus menatap ke depan mencari jalan ke luar, akibatnya aku tak melihat sebuah kaki yang menjulur di depanku dan menyebabkanku terjerembab ke bawah sana. Aku menghela napas lelah, hal ini sering kali terjadi padaku. Entah orang itu sengaja atau tidak, tapi intinya dia menyakitiku sekaligus mempermalukanku.

“Em.. maaf,” ujarnya. Hei tunggu.. aku mengenal suara itu. Suara yang aku benci karena nada suaranya yang angkuh. Bahkan kata maaf pun tak terdengar tulus dan sakral ketika ia yang mengatakan. Aku berdiri. Menepuk debu di rokku dan membenarkan posisi kacamataku. Aku berniat ingin mengacuhkannya dan berjalan menjauh, namun belum sempat aku melangkah dia sudah menahan lenganku. Aku menghela napas kasar kemudian menoleh padanya.

Ya Tuhan..
Dia..
Dia tampan sekali..
Bagaimana bisa..
Dia benar-benar tampan dalam jarak sedekat ini..
Matanya yang tajam..
Hidungnya yang mancung..
Rahangnya yang tegas..
Rasanya aku seperti sedang bermimpi..
Bagaimana bisa aku membenci pria setampan ini..

Oh tidak, Dissa. Ingat betapa angkuhnya pria ini. Ingat betapa ia dengan sengajanya menyandung langkahmu dan mempermalukanmu. Ingat betapa tampannya dia. Arghh fokus Dissa!

“Bisa.. aku tahu namamu?”
Apa? Apa yang baru saja ia katakan? Ia bilang ingin mengetahui namaku? Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu yang keras? Rasanya aneh sekali.
“Dissa,” jawabku santai. Padahal jelas sekali bahwa aku gugup ditatap sedekat ini oleh Thomas dan bicara dikelilingi orang sebanyak ini.
“Good name,” Pria ini aneh sekali. Rasanya ingin sekali aku tertawa di hadapannya, tapi tentu saja tak aku lakukan.

“Permisi,” ujarku kemudian menarik lengan Talia untuk bergegas masuk ke Perpustakaan. Mereka membuatku sesak, sungguh. Seperti aku kehabisan oksigen saja. Selain itu juga karena sesuatu di bagian dadaku berdetak lebih cepat. Apa-apaan ini? Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya? Bahkan ini terasa menyesakkan. Apa aku punya penyakit? Tidak mungkin, ini tak pernah terjadi sebelumnya. Apa karena aku baru aja berbicara dengan Thomas?

“Hei, kau melamun,” ujar Talia mengejutkanku. Ah aku benci mengatakan ini. Rasanya pahit sekali membayangkannya. Ya. Aku melamun lagi. Membayangkan hal yang selalu aku harapkan terjadi padaku. Ini terjadi setiap hari. Bahkan setiap saat. Kalian masih belum mengerti?

Baiklah akan ku jelaskan. Namaku Dissa Scottach. Aku hanya seorang gadis nerd yang bersahabat dengan gadis normal bernama Talia Verkish -dia ada darah Turki. Aku nerd. Sungguh. Bahkan penampilanku menjijikkan. Dengan rambut pirang pasir yang selalu ku ikat layaknya ekor kuda, kacamata bulat dan besar yang mengganggu -jika aku tak menggunakannya semua yang aku lihat hanya akan terlihat buram, dan sialnya aku phobia benda lunak, basah, dan tipis. Silahkan pojokkan aku bahwa softlense adalah benda utama dari yang aku deksripsikan tadi. Singkatnya aku phobia terhadap softlense, dan mau tak mau aku harus mengenakan kacamata ini. Wajahku tidak cantik, meskipun Talia seringkali mengatakan, “Di, kau hanya tinggal melepaskan kacamatamu dan menggerai rambutmu, aku akan mengoleskan sedikit lipgloss untuk bibirmu yang kering, dan pakailah sesekali rok di atas lutut. Sungguh, Thomas akan jatuh hati padamu.”

Pers*tan atas semua kalimat itu. Aku tak peduli. Bagaimana jika jadi diriku sendiri? Apa Thomas akan menyukaiku juga? Kenyataannya tidak. Dia bahkan sepertinya tak mengenal diriku. Meskipun fakta mengatakan bahwa aku dan dia sudah berada di sekolah ini selama kurang lebih tiga tahun dan sebentar lagi kami akan lulus tentu saja. Tapi dari dulu hingga sekarang aku masih saja menyukainya. Aku menyukainya dari kelas satu SMA dan sekarang aku sudah kelas tiga SMA. Bodohnya aku karena memendam perasaanku selama ini.

Tak pernah ada peningkatan selain memandangnya dari jauh. Mengobrol atau sekedar menyapa? Faktanya dia saja tak tahu aku ada. Bagaimana bisa Thomas mengajakku berbicara? Hanya ini yang bisa ku lakukan. Membayangkan adegan pertemuan seperti di sinetron dan berharap Thomas merasakan ‘love at the first sight’. Juga membayangkan seperti yang tadi aku bayangkan. Kalian masih belum percaya? Hei yang tadi itu hanya imajinasiku saja. Mungkin Taylor Swifr bilang dalam lagunya ini disebut ‘Wildest Dream’. Ya ini mimpi liarku. Hanya pada Thomas saja aku sering berfantasi. Thomas memberikan pengaruh buruk padaku sepertinya. Aku tak mau membicarakannya lagi. Lebih baik aku memperhatikan Mr. Lucas yang tengah menjelaskan matematikanya di depan sana. Tapi berkali-kali Talia mengatakan bahwa Thomas menyukaiku. Bullsh*t macam apa itu? Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa Thomas sama sekali tak mengenalku. Tapi Talia kembali mengatakan bahwa banyak hal yang menguatkan fakta bahwa Thomas menyukaiku. Seperti ini contohnya.

“Di, dia selalu menatapmu ketika kau lewat di depannya dan teman-temannya.”
“Di, dia selalu melirikmu ketika kau meng-shoot bola basketmu dengan mengesankan.”
“Di, dia pernah bergumam bahwa kau cantik.”
“Di, dia suka permainan pianomu.”
“Di, lagu kesukaanmu sama seperti lagu kesukaannya.”
“Di, dia tak punya pacar karena dia selalu menunggumu.”
“Di, dia benar-benar tertarik padamu.”

Aku bosan. Setiap kalimat yang Talia katakan selalu sama. Mungkin kalau gadis seperti biasanya akan terlihat senang atau histeris, tapi sayangnya tidak denganku. Aku bosan mendengar kata itu selama 3 tahun. Talia tak pernah berhenti meyakinkanku, bahkan pada saat aku saja tak yakin pada diriku. Temanku memang aneh. Biarkan dia. Thomas memang seringkali menatapku ketika aku lewat, mungkin karena aku terlihat norak atau semacamnya. Dia juga pernah bergumam mengatakan bahwa aku cantik, itu karena dia baru saja mengalami kecelakaan akibat balapan liarnya. Semua yang terjadi memiliki alasan. Dan alasan itu menyakitkan bagiku. Namun yang ini terasa begitu nyata.

“Aku menyukaimu, Di,” ujar suara berat itu. Ya. Itu Thomas. Dan jangan berpikir bahwa aku mengkhayal. Tidak yang ini nyata. Ingat pelajaran matematikaku? Itu baru saja selesai. Dan ketika aku dan Talia ke luar dari kelas, lenganku ditarik seseorang berjalan menjauh. Dan aku terkejut ketika menyadari aku sedang berada di halaman belakang sekolah sekarang. Bersama Thomas. Dia baru saja menyatakan perasaannya padaku. Dan aku merasa ini aneh.

“Hentikan permainanmu, Thomas,” jawabku ketus. Thomas masih menatap mataku. Hei, apa dia tidak menyadari bahwa aku gugup dibuatnya.
“Tidak bisakah kau berhenti membuatku memohon?” Ucap Thomas lirih. Ini pertama kalinya aku melihat Thomas selemah ini. Sorotan matanya terlihat lemah dan memohon. Dia juga agak.. rapuh? “Aku tak mau ikut campur urusanmu.” Ini pasti taruhan. Aku yakin itu, dan aku tak mau mencampuri masalahnya. Bahkan aku tidak percaya bahwa Thomas baru saja memohon padaku.

“Aku benar-benar menyukaimu, Di. Kau satu-satunya yang membuat nada bicaraku melembut seperti ini. Bahkan mereka tak bisa mengubah nada angkuhku.” Benar. Thomas benar tentang semua itu. Ini pertama kalinya seorang Thomas memohon. Dan itu karenaku. Ingin sekali rasanya aku tersenyum bangga. “Dissa, kau alasan kenapa aku mau meneruskan pendidikanku. Rencananya aku mau ke luar saat kelas dua, tapi kau membuatku sadar bahwa di sekolah lebih indah dibanding dunia luar. Kau.. harapanku. Satu-satunya gadis yang mengubahku menjadi Thomas yang lebih baik.”

Apakah benar begitu, Thommy? Kenapa itu semua terdengar tulus seakan-akan berasal dari hatimu? Bukankah kau sedang menjalani taruhan? Mestinya tak akan terdengar selembut ini.

“Kau masih mengira aku taruhan? Bagaimana bisa aku menjadikanmu sebagai bahan taruhan, Di?”
Aku tak tahu harus bagaimana. Ini terlalu sulit dari yang biasa aku bayangkan. Bahkan kehadiran Talia di balik pohon sana tak membantu sama sekali -dia menguping tentu saja. “Tapi.. aku kira kau sedang taruhan,” ucapku lirih. Thomas masih saja menatapku tepat di manik berwarna biru ini. Menyulitkanku untuk membuka suara.
“Tidak bisakah kau melihat sorot mata menyedihkanku? Aku kira kau peka.” Thomas merajuk dan berhenti menatapku. Dia mengerucutkan bibirnya. Dia terlihat lucu sekaligus tampan dalam waktu yang bersamaan.

“Tapi.. bagaimana bisa?” Tanyaku tak percaya.
“Tentu saja bisa, Dissa Scottach. Kau begitu cantik. Kepribadianmu yang elegan dan tertutup membuatku penasaran. Kau menarik perhatianku sejak lama. Bahkan aku sudah tertarik padamu dari kelas satu dulu,” jelasnya. Benarkan? Begitukah aku? Pipiku memanas. Sepertinya pipiku ini mulai terlihat seperti udang rebus.
“Jadi.. bagaimana? Aku tak bisa lagi menahan perasaanku padamu? Will you be my girlfriend?”

Tentu saja aku mau. Tak mungkin ada gadis waras yang menolak seorang Thomas Brodie-Sangster. Tuan Sangster, I always be yours. Aku pun mengangguk. Kemudian pada saat itulah aku mendengar suara terompet yang nyaring dan banyak orang -maksudku para murid-murid- ke luar entah dari mana. Mereka bertepuk tangan dan memberi selamat pada Thomas. Termasuk Talia. Oh tidak, ada apa dengan raut wajah gadis itu? Dia menangis? Bukan tangis haru, melainkan tangis duka. Dia menatapku sendu kemudian mengatakan kata ‘maaf’ tanpa suara. Pandanganku beralih pada Thomas. Dia tengah menerima sebuah benda kecil dari sahabatnya -Roger- yang tengah merangkulnya. Tunggu.. apa itu? Sebuah kunci?

“Mobil baruku milikmu, dude.” Ucap Roger kemudian ia tersenyum miring padaku. Senyum meremehkan!

Harusnya aku tahu itu, bahwa Thomas tak pernah benar dengan perbuatannya. Apa yang dia lakukan selalu berakar dari sebuah alasan. Dan sekarang ia mempermainkanku karena sebuah mobil. Begitu? Apa harga diriku sama harganya dengan sebuah mobil? Bagaimana bisa? Lalu apa Talia mengetahui ini semua? Talia tahu apa yang terjadi? Kenapa Talia begitu tega padaku? Aku benci dia. Aku benci Thomas. Aku benci semua orang yang telah mempermainkanku. AKU BUKAN BONEKA. Kalian dengar itu? Bisa kalian hentikan permainan bodoh kalian?

Aku berjalan penuh emosi dan air mata yang sedari tadi ku tahan menuju Thomas. Dia menatapku dengan tatapan angkuhnya yang telah kembali. Bahkan aku muak melihat tatapan itu. Sungguh membuatku ingin memuntahkan seluruh isi perutku tepat di wajahnya. “Hentikan permainanmu! Sebelum takdir mempermainkanmu!” Ucapku sarkas. Bahkan aku terlalu lelah untuk sekedar berteriak di hadapannya. Lagi pula tak ada gunanya. Aku berjalan menjauh. Menghindari tatapan benci semua orang itu. Tapi apa aku salah melihat ketika aku menangkap penyesalan di mata Thomas? Sepertinya aku keliru, Thomas tak mungkin menyesal atas perbuatannya. Sebuah pohon tak bisa melakukan apa pun jika dibandingkan lautan? Benarkan? Terima kasih untuk lukanya, Thomas. Akan ku kenang selalu.

– Dissa benar-benar pergi dari hadapan Thomas. Rasanya benar-benar sakit ketika ia ditampar kebenaran. Ia merasa begitu bodoh. Dan jelas sekali bahwa ia tak mendengar kalimat yang terucap dari dalam hati Thomas. Pria itu mengatakan.. “Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa pernyataan itu benar-benar dari hatiku. Aku terlalu takut untuk mengatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku terlalu egois untuk semua ini. Gengsi ini menguasai diriku. Mungkin dengan melukaimu dan membuatmu pergi dari hidupku mampu membuatku lupa padamu dan semua perasaanku padamu. Terima kasih Dissa Scottach.” –

Tidak semua kisah harus berakhir dengan bahagia bukan? Pada kenyataannya mengatakan bahwa terkadang cinta itu menyakitkan. Jatuh cinta? Menurutku itu menyakitkan. Karena ketika aku mulai mengenal cinta, di situlah aku mulai terjatuh. Seperti namanya.. jatuh cinta. Tak ada jatuh yang menyenangkan, tak ada jatuh yang tak membuatmu terluka, biarpun jatuh cinta sekalipun. -Dissa Scottach.

Cerpen Karangan: Awaliatul Fazri
Facebook: Awaliatul Fazri
Hai. Salam kenal dari saya, cuma penulis amatir yang masih butuh banyak saran dan kritik juga masukan sangat membantu pastinya. Tertarik baca karya saya yang lain? Boleh yuk mampir ke akun wattpad saya: LiaFazr. See ya next time 🙂

Cerpen Drama King merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mencintai Dalam Diam

Oleh:
Hai semua aku mau cerita dikit tentang kisahku ini. Aku nadya, pertama kali kami sekolah setelah seminggu masa orientasi siswa. Aku mendapatkan kelas X IPA 1. Jujur aja aku

Bukan Ayah Idola

Oleh:
Rasanya aku malas sekali untuk ke luar dari kamar. Semenjak kejadian tadi, hatiku sedikit terluka. Aku memilih untuk menuliskan perasaanku ke dalam sebuah buku diary bersampul ungu di hadapanku.

Kesetiaan Si Mantan Pacar

Oleh:
Perkenalkan, namaku Viona, umur ku mau beranjak 17 tahun. Aku terlahir di dalam keluarga yang cukup kaya dan terpandang, sehingga orang tuaku disegani hampir semua orang. Menurutku materi itu

Tentang Dia

Oleh:
Namanya seperti kartun, itu hal pertama yang muncul di benakku. Laki-laki berwajah imut dan bermata sayu itu yang berhasil menaklukkan hatiku. Alasannya karena dia mirip dengan laki-laki yang pernah

Stella

Oleh:
“Buta ya?!” cerca Stella seketika saat dirinya terhuyun ke belakang dan hampir ambruk. Untung nya sang penabrak segera menarik lengannya. Setengah berpelukan pun tidak terhindari. Stella menyadari tubuhnya sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *