Gara Gara Oppo Neo 7

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 3 June 2020

Rumahku di Gunungkidul. Tepatnya di dekat Pantai Baron, Pantai Kukub, Pantai Indrayanti, Pantai Asuhan (heh?). Serius. Aku tinggal di dusun Ngresik, RT 001 / RW 018, Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul. Dan di daerahku ini ada signal, kok. Tenang aja. Ya.. meski sedikit pelosok*-

Oke. Kenalin, aku Mifal Qalbisya. Sering dipanggil Icha. Umurku baru 21 tahun, tapi nanti pas tanggal 14 februari 2018. Aku sekarang udah kerja di Jogja. Tepatnya di daerah Condong Catur. Alamat lengkapnya bisa dicari di google, kok. Aku bekerja dari jam 09:00 pagi sampai dengan jam 18:00. Tapi kadang juga bisa sampai jam 20:00 kalau lembur. Tahu aku kerja sebagai apa? Aku ini seorang penyervis produk Apple. Seperti: iPhone, iPad, iPod, MacBook, iMac, Mac mini, Apple Watch. Pokoknya semua Apple Product. Nama tempat servis yang kutempati saat ini: Pixelkomp. Sekali lagi kubilang sama kalian ya, alamat lengkapnya bisa kok dicari di google. (kalau mau)

Selain kerja fulltime di Pixelkomp, aku ini juga seorang guru les. Ya, meskipun aku nggak bisa keturutan jadi guru benaran lantara dulu cuma lulusan SMK, tapi dengan diberi kesempatan ngeles seperti ini, aku udah ngerasa sangat amat bersyukur. Tuhan terlalu baik denganku.

Di sini, aku bukan akan menceritakan tentang siapa aku dan kenapa namaku adalah itu. Tapi aku akan menceritakan pengalamanku yang baru saja aku alami dua minggu terakhir ini.

Benar. Ini ada kaitannya dengan kenapa aku menulis judul cerita ini gara-gara Oppo Neo 7. Memang itu yang akan aku bahas di sini.

Satu bulan yang lalu, HP-ku rusak. Aku memang tukang servis. Tapi untuk benerin HP yang bukan iPhone, aku nyerah. Dan betul. HP-ku it bukan iPhone. Melainkan Vivo V5s. Sumpah aku galau banget saat itu. Aku nggak bisa komunikasi dengan teman-teman di medsosku lagi. Sebenarnya aku masih punya HP. Tapi bisanya cuma kupakai nelpon sama sms doang. Gila, kan? Tahun berapa ini punya HP Samsung aja, Samsung Guru Musik. Benar, sih, bisa dipakai buat dengerin musik. Tapi harus pasang headset dulu, lalu putar musiknya melalui Radio.

Karena nggak betah, akhirnya aku coba buka-buka jual-beli online. Pertama yang aku buka adalah Bukalapak, Tokopedia, Lazada, dan terakhir OLX. Pas di OLX, aku lihat ada yang jual HP Blackberry Z10 dengan harga empat ratus lima puluh ribu rupiah. Cepat-cepat kutelpon ke nomor yang tertera di profil Pengiklannya, pengin menanyakan barangnya masih tersedia atau enggak.
Begitu diangkat sama Si Pengiklan, dengan langsung aku menanyakan apa-apa yang perlu. Seperti, barangnya masih ada atau enggak, kelengkapannya apa saja, masih segel atau enggak, 3G/4G, RAM, Processor, Kecepatan, Kamera, dan yang paling penting adalah: Harganya bisa nego lagi atau enggak.

Si Pengiklan nggak mau jawab lengkap. Dia cuma bilang: “Kalau menurut saya ini masih bagus, Mba. Tapi spek lengkapnya lebih baik Mba-nya langsung lihat di google saja, atau nanti bisa cek sepuasnya saat COD (Cash On Delivery), harga boleh nego, tapi jangan ngebut-ngebut ya, negonya.”

Pikirku, ya kali ngebut! Emang sini dikira apaan?

Akhirnya, harga kutawar 400 ribu dan dia mau. Selang beberapa jam, orang itu datang ke tempat kerjaku, dan kami COD-an di sana.

Nggak galau lagi, kan? (xi xi xi xi)

Seminggu kupakai, aku sedih. Aku terbiasa Video-Call-an sama kawan-kawanku melali Whatsapp. Dan dengan aku yang waktu itu punya HP BBZ10, itu nggak bisa dipake V-callan melalui WA. Bisanya Skype. Sedangkan tahun ini, udah nggak ada kawanku yang pake tuh aplikasi.

Dengan terpaksa kujual HP itu kembali ke OLX. Tapi aku juga nggak mau rugi, dong! Aku jual HP itu dengan harga lebih tinggi dari harga awal. 950 ribu. Baru beberapa menit iklanku itu aktif, udah ada yang menghubungiku, menanyakan kurang lebih seperti apa yang pernah kutanya sama Si Pengiklan HP BB itu dulu. Dia nawar 900 ribu. Aku belum berani ngasih, kubilang. Kalau dia mau nambahin 30 ribu lagi, baru hp itu mau kukasihkan. Akhirnya dia setuju. Dan YESSS!!! Tepuk tangan banggaku pun mulai muncul. Ternyata jiwa marketingku memang luar biasaaaahh!

Sore jam sehabis maghrib, Si Pembeli datang ke tempat kerjaku, dan aku kembali COD-an di sana. Tempat yang sama, HP yang sama, waktu juga yang sama, uangnya yang beda. Asekkk..

Ternyata, OLX bikin aku kecanduan. Aku jadi sering-sering buka tuh akun. Kembali kucari-cari HP yang sekiranya cukup dengan budget yang kupunya. Murah, tapi bukan murahan. Aku beli Xiaomi note 4 dengan harga 785 ribu. Fullset. Ori. Segel. Mulus, dan aku kembali tepuk tangan ria menerimanya. Mayaaaan, masih ada sisa uangku. He he he.

HP itulah yang sekarang aku miliki.

Oh, iya. Aku ini anak kos. Aku kos di JL. Aster 2 Nomor 28, Condong catur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Kenapa kos? Ya, karena jauh kali kalau harus pulang tiap hari. 2 Jam loh. Bayangin. Belum kalau macet. Belum kalau ada operasi jalan. belum kalau ban bocor atau apa. Jadi, ya, menurutku ini pilihan tertepat buatku.

Kembali ke HP, ya. Tahu nggak? Saking seringnya aku melakukan transaksi jual beli di OLX, kawan satu kosku memintaku untuk menjualkan HP-nya di OLX. HP dia adalah Oppo Neo 7 Black. Dia pasang harga satu juta seratus. Dan aku menyetujui permintaannya.

Satu hari kemudian, aku kembali pasang iklan HP Oppo Neo 7 Black di OLX dengan harga satu juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Baru juga dua hari kupasang, ada yang WA aku jam 6 maghrib dan itu tepatnya dua minggu yang lalu.
Tapi karena aku baru pulang kerja, dan itu adalah hari sabtu, aku nggak langsung balas. Aku ada jadwal ngeles soalnya. Selesai mandi dan sholat maghrib, aku baru membalasnya. 2 menit kemudian dia nelpon.

Dia: “Hallo, assalamu’alaikum,”
Aku: “Iya, wa’alaikumsalam, siapa?” karena dia pakai nomor yang bukan di WA.
Dia: “Gusti, Mba. Yang tadi menanyakan soal HP Oppo di WA.”
Aku: “Oh, iya, he’eh, gimana, Mas? Mas-nya tertarik atau bagaimana?”
Dia: “Iya, Mba.”
Aku: “Oh, gini aja, Mas. Sekarang, kan, saya lagi mau ngeles. Nanti jam 9 saya pulangnya. Kalau masnya hubungi saya lagi nanti jam 9 bagaimana?”
Dan dia pun mengiyakan.

Jam 9 aku pulang, dia benaran nelpon aku lagi. Dan kami bukan cuma ngobrolin masalah HP. Kami malah memperkenalkan diri masing-masing.

Jam 1:22 dini hari, aku sama dia baru selesai telponan. Gila. Aku diajak main gitar bareng dia lewat telepon. Dia yang main gitar, dan aku yang nyanyi buat dia. Anehnya, aku disuruh nyanyi lagu-lagu Armada yang udah jelas-jelas aku tuh nggak suka. Bukan benci, sih. Maksudnya bukan favorit aja. Aku, tuh, sukanya Iwan Fals, Sheila On 7, Judika, atau D’Bgindas-lah minimal. Tapi meski begitu, aku tuh teteeeep aja mau nyanyi buat dia. Malam itu, aku nyanyi lagunya Armada yang berjudul Hargai Aku.

Komunikasiku sama dia juga berlangsung gitu aja. Setiap aku ganti status di WA-ku, dia pasti melihat dan komen. Dan obrolan kami itu nyambung. Nggak melulu tentang HP. Sebenarnya tuh HP udah fix mau dia beli tanpa nawar. Pas kutanya alasannya, kata dia, dia belum bisa move on dari HP-nya yang lama. HP-nya dia dulunya juga Oppo Neo 7. Tapi karena hilang, akhirnya dia pengin cari HP lagi dan itu harus sama persis dengan HP-nya yang dulu.

Rejekiku memang alhamdulillah, ya… he he.

Seminggu komunikasian, malam minggunya dia nelpon aku lagi. Nggak tahu kenapa aku mau mau aja angkat telpon dia. Bahkan kalau mati, dia tuh, selalu nelpon lagi dan lagi, loh.

Aku seneng bisa ngobrol sama dia. Dia baik, jujur, lembut, sopan, dan tau agama banget. Wajar, sih. Katanya dia itu dulu santri di salah satu pondok pesantren yang ada di Jakarta. Tapi Papah-nya ditugaskan di Jogja, jadi dia-pun ikutan ke Jogja, dan kuliah di Jogja juga. Nama kampusnya Alma Ata. Yaitu Universitas Alma Ata Yogyakarta.
Dia cerita banyak tentang dirinya.

Dan aku nggak tahu, ini aku yang ke-ge-er-an atau memang ini benar adanya. Aku sering mikirin dia. Kadang aku tuh mikir: Kok, bisa, ya? Gara-gara HP Oppo doang jadi kayak gini?

Tapi kelanjutannya gimana, aku belum tau. Yang pasti sampai aku menulis cerita ini, aku masih dekat dengan dia.

Dan rencaranya, minggu sore besok adalah hari pertama kami buat janjian ketemu. Eh tapi bukan buat jalan. Melainkan untuk membeli HP Oppo Neo 7 nya. Cuman, kalau mau ngajak jalan sekalian, kayaknya aku nggak keberatan, deh. Soalnya kalau dilihat dari profil WA nya, dia, tuh, ganteng, putih, badannya bagus. Dan sedikit tinggi.

Ha ha ha..

Tapi kira-kira kayak gimana ya, aslinya..

Cerpen Karangan: Anna Safitri
Facebook: Anna Shafitriy
Blog: kumpulankaryapena.blogspot.co.id

Cerpen Gara Gara Oppo Neo 7 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


By Bus

Oleh:
Ini semua dimulai pada minggu pagi yang cerah. Candaan dan tawa menggema menjadi satu dalam benda berbentuk balok ini, tak ketinggalan sedikit perdebatan terselip di antaranya. Yang lain duduk

MOSIBA

Oleh:
MOSIBA. Satu kata itu yang aku dengar dari ucapan salah seorang pengurus yang sedang berada di depan puluhan santri baru. Rupanya itu adalah nama dari program penerimaan santri baru

Difoto sama Orang Jepang

Oleh:
“Mau pada kemana?” Tanya Yoan, si cewek tomboy “Ke Alfamidi” Jawab Luthfi “Dihhh Ikut atuh” Rengek Yoan “Yoan? Mau ke Alfamidi? Hayu atuh Aku ge mau” “Ayuk” Kami berdua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *