Terbaring Lemas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 April 2016

Banyak orang bermasker putih dan berbaju biru langit berada di depanku. Aku berbaring. Wajahnya tak terlihat jelas olehku. Mereka mendorongku di atas tempat tidur beroda. Seorang di antaranya membawa tempat yang berisi cairan merah dan di bawahnya terhubung selang kecil yang menempel di tanganku. Apa yang terjadi? Banyak orang menangis. Aku terlelap lemas. Tersadar, aku masih merasa lemas. Mataku tak bisa terbuka lebar dan tubuhku tak bisa digerakkan. Sebuah suara terdengar, berirama mengikuti detak jantungku. Banyak selang kecil yang menancap di tubuhku dan kain putih yang menutupi kaki dan tanganku. Mulutku pun terbungkam dengan pelastik yang membantuku untuk bernapas.

Ingatanku terlintas. Saat itu aku bertengkar dengan seorang wanita tua hanya gara-gara aku tak diberi uang. Aku sempat menamparnya. Dan aku lekas ke luar dengan membanting pintu dan pergi memakai motor. Baru itu yang ku ingat. Seseorang datang menghampiri. Dia menangis dan memeluk erat tanganku sambil membaca doa. Walaupun sakit tapi aku merasa nyaman, hingga seseorang berbaju biru langit menyuruhnya untuk ke luar. Terlintas ingatanku kembali. Aku sedang berada di motor, mengeluh kesal, menjalankan motor tak karuan. Ingat kata-kata kasar yang ku ucapkan. “Anj*ng, gak ada yang bisa ngertiin gua apa?!” Ingatanku hanya sampai di situ. Aku kembali tertidur lemas.

Aku terbangun. Kondisiku tidak seperti tadi. Sekarang tubuhku semakin tak berdaya. Namun masih terasa angin sejuk dari luar jendela mengusap pori-poriku yang tak terbalut kain putih. “Ini pagi hari.” aku berkata dalam hati. Seseorang kembali menghampiriku, melakukan hal yang sama seperti kemarin. Tapi sekarang, tangisnya lebih keras pegangan tangannya pun semakin erat. Siapa dia?

Tubuhku semakin tak berdaya dan mataku pun tak bisa terbuka. Orang berjubah biru langit kembali datang tapi sekarang lebih banyak. Satu orang di antaranya menyuruh orang yang memegang tanganku ke luar secara paksa. Aku mendengarnya. Mereka memberiku tegangan listrik yang membuat tubuhku kaget hingga terangkat. Saat itu aku ingat semuanya. Aku menabrak mobil besar dan .. aku lupa. Sebuah cahaya dalam kegelapan menghampiriku. Menarik dadaku. Memisahkanku dari tubuhku. Aku tak bisa melepaskan diri. Padahal aku ingin sekali kembali dan berkata pada orang yang memeluk tanganku, menangisiku, dan mendoakanku.

“Maafkan aku, Ibu.”

Cerpen Karangan: Cahya Dwi P
Facebook: Cahya Dwi Pamungkas

Cerpen Terbaring Lemas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meraih Kesuksesan

Oleh:
Dika adalah murid yang cerdas, dan pintar. Walau cerdas dan pintar ia tidak sombong terhadap prestasi yang pernah ia capai. Lain dengan Kika, dia adalah anak yang pandai dan

Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

Maaf

Oleh:
Terlihat sorang gadis muda tengah duduk di kursi taman di bawah pohon yang bisa dikatakan hampir gugur daun-daunnya. Sangat nampak dari air mukanya yang murung, ia sedang bersedih. Ya,

Kata Terakhir Emak

Oleh:
Sudah hampir lima tahun, Rian tak menatap wajah lelah emak. Bukan mereka tak bertemu. Hampir seminggu sekali emak pulang ke rumah. Emak bahkan berusaha memancing Rian untuk bicara. Namun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *