Tak Tersampaikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 July 2017

“brisik” grutuku mendengar orang-orang di sebelah rumahku sedang melakukan pembangunan rumah. Bangunan tingkat dua sama seperti rumahku. Rumah itu sudah hampir jadi sekarang. Aku tak sabar menuggu rumah itu jadi, karena suara bisingnya yang selalu mengganguku. Aku jadi tidak bisa fokus membaca novel yang kubaca. Dan hal itu membuatku kesal!.

Esok hari aku sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, aku dan tetanggaku sekaligus sahabatku dian dan ulfa. Berangkat bersama sama, namun aku dan dian harus berpisah dengan ulfa di persimpangan jalan karena dia beda smp.

“hay” sapaku terhadap windy, ayu, rahma, niken dan destri teman dekat di kelasku.
“hay” balas mereka semua bergantian, namun ada juga yang hanya membalasnya dengan senyuman. Aku pun langsung ikut gabung dengan mereka yang sedang asik membahas acara drama korea di tv. Kadang kami tertawa karena mengingat hal lucu di dalam drama itu!

Sudah beberapa hari dan sekarang kulihat rumah di sebelahku sudah selesai. Aku bersyukur tidak akan menemukan kebisingan lagi! Namun rumah itu masih kosong seminggu ini. Jadi agak terkesan horor deh. Kadang aku sampai tak berani melihat rumah itu saat malam hari.

Pagi hari ini aku sudah hampir selesai bersiap siap, di luar rumah aku masih sibuk memakai sepatu. Aku lihat mobil pindahan di depan rumah yang kosong itu. Aku pun tak terlalu mempedulikanya dan langsung berangkat ke sekolah, dan sesampainya di sekolah aku pun langsung menuju perpus, aku sudah menyelesaikan novel yang kubaca sejak seminggu yang lalu. Aku memutuskan untuk meminjam novel lainnya. Aku pun memilih milih buku, setelah kutemukan buku yang menarik, aku langsung menarik buku itu dari rak. Tapi anehnya buku ini tak bisa diambil. “berat sekali pas ditarik, kenapa?” batinku
“aduh” pekikku. Ketika buku yang kutarik tak sengaja menghantam kepalaku
“maaf” ucap seseorang di balik rak aku hanya dapat melihat wajahnya seluas 3 cm saja dari buku yang kuambil. Jadi alasan kenapa buku ini begitu susah diambil itu.. Karena dia juga menariknya?
“hah? Iya gak papa” balasku masih meringis kesakitan sambil menggelus-ngelus kepalaku.
“sekali lagi maaf ya” ucapnya tampak tulus. Entah sejak kapan sekarang dia ada di depanku, wajahnya tampak asing bagiku. Wajahnya yang tampan membuatku terpesona dalam beberapa detik.
“oh ya aku.. David” ucapnya sambil mengulurkan tanggan.
“aku talita” sambil menyambut tanggannya yang halus. Wah aku merasa bertemu malaikat sekarang “oh ya.. Kok aku baru lihat kamu?” tanyaku heran.
“aku baru pindah di sekolahan ini. Aku kelas 2c. Kamu?”
“aku kelas 2a” balasku singkat. Hening “eh ya udah aku ke kelas duluan ya” ucapku, lalu david menjawab dengan senyum. “deg” aku rasa hatiku tergerak saat melihat senyumnya. Aku pun langsung membalas senyumnya sebelum pergi. “kenapa tadi? Kok aku jadi gugup” kataku dalam hati

Sepulang sekolah aku menunggu dian di depan gerbang sekolah.
“maaf, lama ya nungunya?” tanya dian
“enggak kok, ya udah pulang yuk” ajakku. Kami pun pulang berjalan kaki karena rumah kami cukup dekat dari sekolah cuma 7 menit mungkin waktu yang ditempuh.
“eh dian, tau gak anak baru kelas 2c itu?” tanyaku
“oh david ya?” tanyanya lalu aku mengganguk
“ternyata ada anak baru ya di sekolahan kita”
“kok kamu baru tau sih!? Dia pindah di sini dari kemarin loh!. Dan juga, dia itu tetangga kamu yang baru tau!” jelasnya
“masa sih? Rumah yang baru dibangun itu? Kok aku malah baru tau” balasku agak terkejut.

Saat malam aku berdiam di kamar sambil melakukan hobbyku membaca novel. Lalu aku menghentikan aktivitas membacaku saat tiba tiba aku mendengar alunan denting piano. Aku pun menengok dari jendela kamarku. Lalu aku melihat david dari balik kaca rumahnya “tenyata dia bisa main piano ya?” kataku dalam hati. Aku pun memperhatikanya dan menikmati alunan pianonya yang indah. Tak sengaja kulihat david menoleh ke arahku lalu tersenyum. Aku pun melambaikan tangan dan membalas senyum padanya.

Semenjak itu setiap malam aku selalu memperhatikan david yang asik dengan pianonya. Dan semenjak itu juga aku mulai mengagumi david. Karena aku merasa aku tak bisa melepas pandanganku dari david.
Setiap bertemu di sekolah aku dan david kadang saling menyapa juga bercanda dan setiap aku berpapasan di jalan dia tak pernah lupa tersenyum untuku. Senyum yang sangat indah sehingga tak mudah untuk kulupakan. Aku mulai merasa ada yang berbeda setiap aku di dekat david rasa nyaman dan rasa ingin selalu di dekatnya. Kadang kalau dia tersenyum atau sekedar menyapa saja aku bisa langsung gugup, salting dan kadang bertingkah konyol di depanya. Juga kadang jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Kanapa? Aku tak mengerti. Kata orang itu cinta, tapi aku kan cuman mengagumi david.

“woy ngelamun aja” ucap windy sambil mengibaskan tanganya di depan wajahku
“iya nih, talita mikirin apa sih?” tanya niken tampak penasaran. Kenapa tiba tiba mereka mempedulikanku? Padahal tadi mereka asik sendiri dengan cerita drama korea baru di tv.
Aku hanya diam menanggapi mereka “ada apa sih ta? Cerita dong” bujuk ayu, destri dan rahma juga menatapku penasaran.
Aku pun menghela nafas panjang “mungkin tak ada salahnya juga kan aku cerita sama mereka” pikirku. “tau david kelas 2c itu?” tanyaku. Mereka berlima mengganguk “aku kagum sama dia deh” ujarku sambil tersenyum manis
“hah? Kamu udah suka sama cowok? Padahal aku kira orang polos kaya kamu gak bakalan ngerti cinta” balas destri
“apaan sih des” “aku bilang cuma kagum! Bukan suka atau cinta” bantahku
“hmm masa?” tanya rahma tak percaya. Aku mengganguk mantap

Aku benci semenjak kejadian itu! Di sekolah semua mendengar gosip aku suka dengan david. Aku hanya bisa mendengus kesal, siapa sih di antara mereka berlima yang sampai ember ke mana-mana? Aku nyesel cerita sama mereka, lagian aku sudah bilang cuma kagum bukan suka. Semuanya jadi salah paham kan tentang perasaanku. Aku pun berjalaan menuju kelas melewati koridor sekolah.

“cie yang lagi fall in love sama david” ejek seseorang. Aku pun segera menoleh dan mendengus kesal
“siapa yang suka sama david sih?” bantahku setegah membentak. Tak lama setelah itu david berjalan melewatiku dengan wajah datar. Bahkan tidak ada senyum sedikitpun. Kenapa? Dia mulai berbeda sejak kabar ini beredar “eh.. Astaga! Apa david juga denger yang barusan aku katakan? Haduh gimana kalo dia denger.. Eh tapi aku tidak sedang menyangkal bukan? Aku memang tidak suka david kok. Kenapa aku jadi khawatir kalo david denger aku bilag gak suka sama dia” kataku dalam hati

Semenjak itu david semakin jauh. Dia mulai beda sikap ramahnya yang dulu ke mana? Kenapa sekarang dia menjauh dan bersikap cuek? Dan entah kenapa aku mulai benci keadaan ini. Kenapa? Dan aku rindu dia yang dulu.
Malam ini aku tidak lagi mendengar suara piano lagi? Kenapa? Aku juga tak tau kenapa dia tidak bermain lagi. Andai bisa kutarik lagi ucapanku waktu itu! Mungkin david kira aku membencinya atau apalah. Aku pun mengirim pesan kepada dian dan ulfa untuk datang ke rumahku, aku berniat curhat pada sahabatku ini. Aku pun menceritakan dari a-z yang kualami.

“itu artinya kamu suka sama david” kata dian
“sudah kubilang aku cuma kagum, kenapa semua orang berangapan aku suka sama david?” tanyaku kesal
“heh ta, sekarang aku tanya. Emang kamu pernah jatuh cinta?” tanya ulfa, akupun menggeleng
“tuh enggak kan? Kamu masih enggak bisa ngerti diri kamu sendiri ta!” aku hanya terdiam
“terus gimana nih? David kayanya benci sama aku. Sekalipun aku emang beneran suka sama david aku gak yakin david bisa bales perasaan aku kalo dia terus terusan cuek kaya gitu” ucapku pasrah sambil menunduk memeluk lutut. Tampa sadar aku menitihkan air mata aku pun langsung mengusap mataku.

Waktu terus berlalu sejak itu. Aku berjalan melewati koridor sekolah
“hay” sapaku saat melihat david
Aku rasa david benci padaku, dia bahkan tak menoleh sama sekali. Aku kangen senyumnya yang sekarang sangat aku rindukan. Aku ingin tau kenapa dia menghindar, namun aku tak pernaah punya kesempatan untuk bertanya padanya karena dia terus menghindar dariku. Entah kenapa hatiku perih sekali karena sikapnya. Dan karena aku tak mau lebih menyakiti hatiku sendiri. Aku juga mulai menghindarinya juga berusaha melupakanya, rasanya menyebalkan sampai sekarang hari kelulusan smp. David masih dingin padaku. Kenapa? Aku sangatlah rindu dengan dia yang dulu selalu tersenyum padaku. Sudah satu tahun lamanya sikap dinginya bahkan tak berubah. Setelah hari kelulusan smp. Kami semua mendaftar ke sekolah yang berbeda-beda. Semenjak itu aku semakin jarang bertemu david meski tetanggaan. Rumahnya selalu tampak sepi 2 minggu ini. Sudah satu tahun lamanya juga aku tak pernah mendengar suara pianonya lagi. Kenapa? Bahkan di rumahnya seperti tak ada lagi tanda tanda kehidupan.

Hari ini aku sedang menghabiskan waktu bersama sahabtku, kami mampir di sebuah restoran favorid kami. Kami pun memesan steak dan milkshake coklat. Meski ini makanan favoritku aku tampak tak berselera makan. Aku hanya asik memutar mutar sedotan minumanku.
“ada apa sih ta? Aku jadi khawatir sama kamu” ucap dian sambil mengusap pundaku
“kok aku gak pernah liat david ya?” tanyaku
“jadi kamu kepikiran sama david ya?” aku hanya mengganguk lemah
“eh ta, berarti kamu belum denger ya?”
“denger apas ih?” tanyaku sedikit penasaran
“ayahnya david itu tukang mabuk, suka j*di, dan suka main cewek ta.. Rumah mereka jadi dijual karena gak mampu ngelunasi utang ayahnya david” jelas dian aku mengganga tak percaya
“hah? Masa sih?” tanya ulfa yang juga baru mengetahui hal tersebut “kamu tau dari mana sih emangnya?” tanya ulfa penasaran
“mamaku yang cerita” jelas dian. Bahkan mamaku saja tidak pernah memberi tau, parah banget aku yang tetangga dekatnya gak tau kabar ini.
“terus david sekarang di mana?” tanyaku masih tak percaya. Aku merasa sakit ketika mendengarnya. Aku sekarang pun sedang membendung air mata yang hendak keluar.
“aku gak tau ta” balas dian.
“eh aku pulang duluan ya udah kenyang” ucapku
“tapi kamu belum makan sama sekali kan ta?” kata ulfa. Aku tak mengubrisnya dan langsung berlari pergi meninggalkan mereka berdua. Aku gak mau kelihatan lemah kalo nangis di depan mereka “hiks.. Hiks” akhirnya air mataku luruh juga. “kenapa rasanya sesakit ini mendengar dia pergi? Apa aku benar benar suka sama david? Kenapa aku baru sadari perasaanku sebenarnya? Kenapa dulu aku selalu menyangkal tentang perasaanku sendiri! David kamu di mana? Aku pengen ketemu kamu! Segalanya berubah gitu aja tampa sadar waktu berlalu cepat dan aku sudah kehilangan kamu david. Kenapa kamu pergi tiba tiba gini? Setidaknya aku ingin kamu tau perasaanku sebelum kamu pergi. Kenapa aku baru menyadari perasaanku setelah akhirnya kamu menjauh pergi. Kenapa? Dan bahkan mungkin aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi.” tangisku kembali pecah tak terbendung lagi aku pun segera menepis air mataku. Aku pun menyadari cinta pertama yang kualami, mungkin perasaanku tak akan pernah sampai padanya. Dan aku berharap suatu saat aku bisa bertemu lagi denganya.

1 bulan kemudian
Saat hari libur aku hanya menatap kosong rumah david. “tok tok tok”
“masuk” balasku. Pintu kamarku pun terbuka “ada apa ma?” tanyaku penasaran
“ada paket nih, tadi ada tukang pos ke sini. Katanya ini untuk kamu” aku segera menerima paket itu “ya udah ya mama mau masak dulu” ucap mama sambil menutup pintu.

Aku pun segera membukanya. Aku menyungingkan senyum setelah melihat kotak musik berbetuk bulat dan terdapat 2 beruang couple di sana. Aku pun segera memutar kuncinya, alunan nadanya “ini kan..” grutuku “bukanya ini nada piano yang sering dimainkan david?” batinku. Apa iya ini dari dia? Aku yang tengah penasaran langsung mengorek ngorek kotak paket itu lagi “flashdisk?” gerutuku heran setelah menemukanya di dalam kotak. Aku pun segera mengambil laptopku dan langsung menyalakanya. Dan aku melihat isi flashdisk itu ada satu buah video. Aku yang penasaran pun segera membukanya

“dear talita” aku agak terkejut melihat david di vidio ini, aku pun segera mengeraskan volume.
“aku sebenarnya gak tahan ta, terus ngejahuin kamu! Hatiku sakit kalo terus terusan kaya gitu ta! Asal kamu tau! Kamu inget waktu kamu bilang “siapa yang suka sama david?” aku pikir aku harus jauh dari kamu ta! Padahal awalnya aku kira kamu juga punya perasaan yang sama buat aku, dan aku mulai menjauh juga karena takut kamu gak bisa bales perasaan aku. Dan asal kamu tau ta, aku hampir frustasi saat aku harus jauh dari kamu. Dan kamu tau gak? Keluargaku mulai hancur dan aku harus pindah ikut dengan ibuku. Karena kami gak tahan dengan sikap ayahku ta. Aku harap dimasa mendatang kita bisa ketemu lagi ya! See you. I love you talita” ucapnya lalu tersenyum dan melambaikan tangan. Lalu kuklik pause dan menempelkan tanganya dengan tanganku “aku gak nyangka kamu juga suka sama aku, tapi kenapa kamu pergi? Kamu harusnya jangan pergi karena ku juga sayang kamu”. Aku pun kembali menangis setelah menonton vidio yang dibuat david terakhir

Cerpen Karangan: Arifatul Mukarromah

Cerpen Tak Tersampaikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Rasa Yang Terpendam (Part 2)

Oleh:
1 minggu kemudian.. Ujian Kenaikan Kelas berlangsung yang membuatku harus sering belajar. Bahkan Handphoneku pun disita agar aku fokus belajar selama ujian. Hari demi hari berganti sampai akhirnya selesainya

Moranica

Oleh:
Nama aku Ali (Alli Nur Magribi). Aku punya temen namanya Andzar, dia tuh baik dan orangnya kalem. Suatu hari dia ngajak aku buat pergi ke toko buku gramedia yang

Menjemput Cinta di Melbourne

Oleh:
Malam ini langit Melbourne terlihat begitu cerah. Bintang-bintang nampak tersenyum seraya terus memancarkan sinar mereka yang terang secara serempak seperti pertunjukkan sirkus yang begitu menakjubkan. Bintang-bintang itu terus menghias

Menolong Adalah Kesalahan

Oleh:
“Ahhhhhhh” Kakinya sontak berhenti mendengar suara teriakan itu, iya membalikkan badanya, kakinya melangka pelan dengan rasa penasaran dan takut “tolong” Suara itu semakin jelas dari mana asalnya, suara itu

Perbedaan

Oleh:
Pagi ini, seorang pemuda tampan telah berada di kampusnya dengan senang pemuda ini berjalan cepat menuju taman kampus untuk menemui seseoang yang spesial untuknya. Setelah sampai di taman terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *