Dua Langit Yang Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

Ku lihat bintang bertaburan di langit malam ini, tataan cahaya yang seirama, membuat malam semakin senada, aku terbawa hanyut dalam suasana, deru irama dari angin yang menerpa, membuat malam terasa sangat romansa. Kini aku bersama kawan sehati, mencurahkan lelah pada langit yang terlihat sunyi, bersenandung bersama bintang, di bawah cahaya bulan.

“Hai, untukmu langit malam yang sangat indah, kami di sini mengagumimu, namun terkadang kami sedih dengan perubahanmu, kini kau lebih mudah menangis. Mungkin, kau lelah dengan bumi yang memperlakukanku seperti ini. Semenjak kedatangan asap, warna malam indahmu sedikit memudar, kami merasakan itu di sini. Meski, kau tak pernah mengerti ataupun membalas pesan dari kami, kami hanya ingin kau tahu, bahwa di bawah sini masih ada yang peduli kepadamu, meski terkadang kau diacuhkan oleh sekumpulan orang #save langit malam.”
“Aku sudah menulis suratku yang ke-27 untuk langit, semoga satu pesan dariku dapat tersampaikan padanya.” ucap Sinta riang gembira.

Kami senang melakukan ini ketika kami masih bersama, meski kami telah terpisah, kami tidak lagi dapat menafsirkan nyanyian langit malam kembali, walaupun hanya sekedar bermain, bercengkerama, dan bercerita di kala malam tiba. Malam ini, aku membaca pesannya yang terakhir untuk langit. Bersama sang sahabat yang telah pergi untuk selamanya, aku akan menceritakan kisah kami kembali. Sebelumnya, aku akan memberitahu keberadaanku sekarang. Saat ini, aku sedang berada di kantorku menunggu hujan reda, melihat langit di balik jendela yang terbasahi embun karena hujan.

Keadaan pada masa itu, ketika mimpi yang seharusnya kami perjuangkan bersama, hancur ketika ia dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Keadaan yang mengajarkanku tentang keikhlasan yang sebenarnya. Kalian tahu, apa yang ia ajarkan padaku tidak pernah aku sadari. Tentangnya, yang selalu mengajakku keliling indonesia hanya dengan buku yang kami beli di perbatasan desa. Tetapi, hal itu terlambat aku sadari saat ia sudah terlampau pergi. Untuk bangkit menjadi seperti ini, aku belajar dari warna langit yang gelap dan sang sahabat yang bercahaya, mereka adalah dua warna yang tidak dapat disatukan menjadi satu rasa.

Namun aku mencoba mainkan irama di sana, aku mempelajari banyak hal tentang kedua warna tersebut, ternyata sangat mudah menyatukan keduanya, aku hanya perlu merasakan dan mencintainya. Lalu pada saat itu, aku harus mengikuti olimpiade sains di sekolahku. Sebenarnya, ajang ini sudah sangat lama ku tunggu tunggu bersama Sinta, aku dan Sinta telah lama mempersiapkan ini, agar kami terpilih menjadi salah satu perwakilan. Akan tetapi kali ini aku tidak bersama Sinta, apakah dengan tidak adanya Sinta aku mampu?

Kegelapan yang dominan dengan warna hitam membuatku terpenjara dalam luka yang mendalam saat itu. Tapi, setelah aku melihat langit malam kembali, aku teringat, “Jika langit tidak akan benar-benar indah tanpa cahaya bintang di sekelilingnya.” Mampukah aku mengikutinya? Itu adalah pertanyaan yang selalu terlontar dalam benakku. Namun, aku yakin jika Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Sehingga, hal itu membuatku yakin untuk mengikutinya.

Pada saat itu, aku sangat tertarik dengan beasiswa yang ditawarkan. Beasiswa itu akan membawaku ke negeri sakura. Oleh karena itu, aku belajar, membaca buku perpustakaan bahkan membaca segala hal yang berhubungan dengan pelajaran. Hingga tiba waktu olimpiade itu berlangsung, sudah sejak dua jam setelah aku mengerjakan soal, pembacaan pemenang belum saja diumumkan. Dag-dig-dug jantungku berdegup kencang, saat salah seorang kepala sekolah naik ke atas mimbar untuk membacakan pemenangnya.

Saat itu untuk pertama kalinya aku merasakan bahagia yang luar biasa, aku mendapat beasiswa itu, dan pada saat ini pula aku mendapatkan kembali air mata bahagiaku. Aku tidak melupakan Sinta aku berterima kasih atas pelajaran hidup yang ia berikan kepadaku. Hari ini, seorang anak kampung dari desa berhasil kuliah di universitas di Jepang, satu desa merayakannya. Sangat senang memang hari ini. Di sana kembali aku belajar, aku mempelajari banyak hal tentang astronomi, mengamati ribuan bintang Allah, dan paling istimewa aku dapat berdekatan dengan langit saat itu.

“Hai, langit malam yang sangat indah apakah kini kita setara? Bahkan aku telah menggapainya setinggimu, jika kau bertemu dengan Sinta ucapkan salam rinduku padanya.” Itu saat aku di Jepang kini aku kembali pada negaraku Indonesia, mengikuti takdir dan skenario Allah, hingga ia mempertemukanku pada titik cinta terabadiku yaitu Suamiku. Yang saat ini sedang dalam perjalanan menjemputku.

“Sinta, terima kasih atas inspirasi warna indahmu, hingga kini aku dapat mencintai banyak hal dengan penuh rasa, dan sampaikanlah pesanku pada langit bahwa aku merindukan hujan langit senja kita berdua.”

Cerpen Karangan: Nurani Rani
Facebook: Nuranirani
Namaku Nurani, jika ingin lebih dekat denganku boleh follow my instagram: nurani_20, “Seperti bintang aku bertahan hingga aku mampu bercahaya menerangi langit gulita.”

Cerpen Dua Langit Yang Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ruang Tunggu Pelabuhan

Oleh:
Pelabuhan Soekarno – Hatta, begitulah namanya. Salah satu pelabuhan yang berada di kawasan Indonesia Timur. Walaupun nama yang digunkan untuk menunjuk pada pelabuhan ini adalah dua tokoh proklamator Indonesia,

Hari Bersamamu

Oleh:
Mira POV Ah, di luar sedang hujan. Melihat hujan tiba-tiba rasa sedih dan rindu yang bercampur menjadi satu kembali memenuhi hatiku. Aku merindukan Atha. Sahabatku yang entah masih mengingatku

Fitnah

Oleh:
“Kamu itu jahat ya Nara, masa kamu mukul aku cuma gara-gara aku ngatain Erisa jelek. Kan emang bener Erisa itu jelek dan bodoh.” ucap Dita. “Mendingan mulai sekarang kamu

Bunga Sakura Yang Gugur

Oleh:
Aku telah menunggumu sangat lama, 5 tahun lalu berlalu saat kita bertemu.. “Namaku yukihara, panggil saja aku yuki, dan kau siapa namamu?” “Na-namaku Akino sara” “Aku panggil kamu sara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *