Menikam Hati (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 March 2014

Setelah Sholat duhur kami pulang. Di rumah ada Ibu. “Na baru pulang nak.” Katanya. “Iya bu”. Aku langsung masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di ranjang. Tepat kulihat pukul 14:35 WIB. Ku tersadar bahwa tadi Ilham akan ke rumah Sinta. Ku berusaha untuk memakai baju yang tidak mencolok tapi terlihat mempesona tanpa harus membuka aurat. Kupakai baju putih lengan panjang dan rok putih panjang sampai mata kaki.

Kulihat di luar mendung dan akan hujan. Aku memakai jaket coklatku. Panjangnya sampai paha. Kugunakan jins ketatku yang berwarna biru gelap.

Kulihat hujan semakin deras saja. Jadi ku duble kan dengan mantel kuning dengan penutup kepala. Aku memakai ranselku agar kelihatan benar benar akan belajar.

Di depan rumah kunaiki sepeda Mio hijauku, Lampu kunyalakan dan aku pun berangkat. Aku berfikir apakah nanti aku akan salah tingkah bila bertemu dengan Ilham, atau apakah penampilanku akan sungguh berlebihan. Air hujan menabrak helmku seperti embun.

Sesampainya di depan rumah Sinta kulihat pintunya tertutup. Tapi di terasnya ada payung dan lantainya agak basah. Hujan benar benar menciprati rumahnya.

Tirainya tertutup rapat, kulihat dari luar sepi tapi dari jendela terlihat bahwa ada orang. Kuketuk pintunya. “Assalamualaikum.” Kataku dengan suara agak parau dan menggigil. Suara hujan membuat suaraku tak terdengar jadi perlahan kudorong pintu rumahnya. Perlahan kulihat pintu itu sampai kulihat 2 kepala, yang satu berambut panjang dan yang satu pendek, muka mereka sangat dekat sampai aku baru tahu kalau mereka berciuman.

Tangan Sinta meremas rambut kepala seorang laki laki. Dia memejamkan mata dengan amat angggun. Kulihat sosok laki laki itu. Dia ternyata adalah seseorang yang selalu kuharapkan sedang berciuman dengan sahabatku sendiri.
Mereka duduk di sofa dengan amat mesra. Tak lama kemudian Mereka sadar bahwa aku melihat mereka dari pintu yang telah kubuka. “Zafrinaaa” Kaget Sinta dengan terkejut.
Hati ini benar benar remuk dan menangis. Luka yang sudah sembuh karena David kini harus terluka kembali. Luka ini menganga lebar. Aku tidak tahu harus bagaimana. Airmataku menetes dan hati ini perih, selama ini sahabatku telah menusuk hatiku dari belakang. Dia telah menikam hatiku. Sakit. “Zafrina Zafrina. Aku bisa jelasin ini semua.” Kata Sinta sembari berdiri mendekat. Aku sudah muak dan jijik. Jadi aku langsung berlari di tengah tengah hujan yang lebat. Ilham hanya melihatku dengan wajah mempesona itu.

Aku berlari tanpa memperdulikan sepedaku. Hujan membasahi rambut dan bajuku. Sinta terus terusan mengejarku. Aku berlari dan berlari, suara petir terus menerus bergemuruh, Aku berlari dengan menangis. Air mata ini tak mau berhenti menetes. Nafasku tak beraturan ditambah dinginnya hujan. Sinta masih saja mengejarku. Hati ini telah terluka ditusuk oleh sahabatnya sendiri. Nafasku mulai memburu dan sebenarnya aku mulai lelah. Tapi hati ini terlalu sedih dan membawaku lari. Suasana yang gelap karena hujan dan berkabut membuat pandangan semakin tidak terlalu jelas. Di sebuah perempatan jalan aku berlari. Kemudian aku mendengar teriakan Sinta yang paling keras. “Zafrina Awaaaas.” Entah apa maksudnya. Kutoleh ke arah samping sebuah cahaya kekuningan yang terang mendekatiku. Semakin cepat dan aku terlalu panick jadi kakiku terlalu kaku untuk berlari.
Tubuhku akhirnya terpelanting setelah mobil Taxi itu melintas dan menabrakku dengan keras. Hujan masih mengguyuriku. Kakiku terlindas rodanya. Kepalaku berdarah terkena aspal yang basah dan terbanjiri air. Tak lama kemudian semua pandangannku gelap.

Entah apakah aku sudah mati. Mungkin itu yang terbaik karena aku bisa menjauh dari kenyataan itu bahwa sahabatku telah menikam hatiku.

Aku melihat sebuah titik cahaya. Titik cahaya itu semakin besar dan semakin besar. Aku akhirnya mulai membuka mata. Kulihat di sekelilingku ada Ayah, Ibu, Om Imron, Kakek. Mereka berada di sampingku. Aku merasa sedikit aneh. Dingin sekali dan kepalaku terasa pusing dan berdenyut denyut. Tanganku diinfus, hidungku diberi alat bantu nafas. “Dimana aku?” Tanyaku dengan suara pelan dan parau. “Zafrina kamu sudah sadar nak.” Kata ibu mendekatiku bersama keluargaku. “Apa yang terjadi bu?” Tanyaku karena aku masih sedikit bingung. “Kamu mengalami kecelakaan nak.” Kata Ayah.
Kini aku baru ingat. Kejadian yang amat memukul diriku itu. Kejadian yang sangat sangat membuat hatiku hancur berkeping keeping. Kejadian yang telah menghancurkan harapan terindahku. Kejadian seorang sahabat berciuman disaat hujan dengan orang yang kucintai dan hampir saja kugapai.

Airmataku keluar ke samping. “Bu aku ingin pulang bu.” Kataku. Aku memang ingin melupakan masa menyakitkan itu. Tapi kakiku tak terasa apa apa. Padahal aku masih ingat bagaimana kakiku terlindas roda Taxi itu. “Ayah, Ibu kenapa kakiku tidak merasakan apa apa?” Tanyaku. “Maaf nak. Kata dokter kecelakaan itu telah membuat saraf saraf kakimu mati. Jadi kau difonis Lumpuh.” Kata Ayah dengan air mata yang membasahi pipinya. “Apa.” Kataku dengan menutup mulut. Aku tidak bisa berhenti menangisi keadaanku.
Pertama Sahabatku yang menyakitiku, Kedua orang yang aku cintai begitu saja mau dengan sahabatku, Ketiga aku harus menerima kenyataan bahwa aku lumpuh.

3 Minggu telah berlalu. Kini aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Aku benar benar telah kehilangan cahaya hidup. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Saat sampai di rumah. Di depan gerbang ada seorang wanita berdiri. Dia memakai baju lengan panjang ber garis garis biru dan memakai rok hitam. Rambutnya dikuncir ke belakang. Aku sudah tahu siapa itu. Aku turun dari mobil dan dibantu ayah menaiki kursi roda. Ayah mendorongku menuju wanita itu. “Ngapain kamu kesini?” Tanyaku dengan nada ketus. Mengingat dia yang membuat aku jadi seperti ini. “Maafkan aku na. Maafkan aku. Aku akuin aku khilaf. Aku minta maaf Na.” Kata Sinta dengan menangis dan melihat diriku yang duduk di kursi roda ini. “Maaf. Kamu bilang minta maaf. Enak ya. Habis ciuman dengan orang yang tampan yang hampir dimiliki sahabatnya sendiri. Kamu tahu enggak sih. Kamu telah menikam hatiku. Dengan mudah kamu mau minta maaf. Aku gak bisa. Luka ini masih basah dan terlalu menyakitkan untuk memaafkanmu. Mulai detik ini. Aku tak mau mengenal kamu lagi. Anggap aja seolah olah aku tak pernah ada.” Kataku dengan meneteskan air mata. “Aku mohon Na maafin aku.” Pinta Sinta dengan mengemis ngemis. Matanya merah dan sembab. “Aku gak bisa. Sekarang lebih baik kamu pergi. Pergi dan nikmatin pacaran dengan Ilham.” Sergapku. “Ayah Anterin aku ke kamar” Pintaku. Sinta akhirnya pergi juga.

Di dalam kamar aku menangis dan membuka semua album foto, Figura dan semua yang memiliki kenangan dengan dia. Foto yang ada gambarnya kupotong dan kubakar. Bjau pemberiannya ku buang. Semua yang ada hubungannya dengan Sinta kubuang dan kuhapus. Aku menangis sendirian.

Hari rabu. Aku mulai masuk sekolah. Sekolah dengan kursi roda. Syukur temen temen tidak ada yang mengejekku. Mereka terlihat kasihan padaku. “Zafrina. Syukur kamu akhirnya bisa sekolah kembali”. Sahut Tika saat aku baru masuk kelas. Tika langsung memelukku.
Seperti biasa. Saat ke hisbullah aku dibantu Tika. Ia yang mendorongku ke masjid. Sinta mengejarku lalu dia dengan menangis berkata. “Zafrina. Aku mohon maafkan aku. Aku minta maaf. Aku akuin sebenarnya dulu aku juga cinta sama Ilham. Tapi aku mohon maafkan aku Na.” Katanya. Dia benar benar mengemis maaf kepadaku. Hatiku mulai luluh. Tapi ingatan dia menikmati ciuman itu dengan penuh nafsu membuatku jijik.
Tanpa peduli aku meninggalkannya begitu saja. Hatiku lebih sakit dari pada siapapun. Sahabat seperti itu. Tak perlu kuingat lagi.

3 Tahun Kemudian
Hampir setiap hari Sinta menemuiku hanya untuk minta maaf. Bahkan disaat kini akan mencapai semester akhir kelas 3. Entah apa jalan fikirnya. Aku lumpuh dan sampai sekarang masih belum juga ada tanda tanda aku bisa jalan kembali. Musim panas kali ini telah membuat angin besar bertiup. Debu menari nari di atas rumahku. Sore ini aku belajar untuk persiapan ujian akhir.
Aku malas bila ke sekolah setiap pagi bertemu Sinta. Tapi seiring waktu kulihat wajahnya memang pucat sekali. Badannya semakin kurus. Tadi pagi saja dia menangis untuk meminta maaf. Tapi hatiku terlanjur sakit dan tak bisa sembuh. Jadi seperti biasa ucapannya hanya kuanggap suara anjing yang menggonggong.

Keesokan harinya. Pagi pagi sekitar pukul 06:35 WIB Ibu mendorongku ke sekolah. Ya selama 3 tahun hidupku seperti ini. Dulu aku berjalan, Berlari dan bercanda bersama Ilham ataupun Sinta. Tapi itu hanyalah kenangan yang menyakiti hatiku. Saat di depan masjid. Aku melihat di atas Gedung SMAI tepatnya di lantai tiga. Ada wanita yang akan menjatuhkan dirinya dan menaruh tali di lehernya. Pakaiannya sepertinya anak MA. “Bu bawa aku mendekat.” Pintaku. “Jangan Nak.” Larang Ibu. “Kumohon Bu.” Pintaku dengan amat memohon. Ibu mendorongku masuk ke SMAI. Lapangan kecil itu dipenuhi siswa. Ternyata orang yang akan bunuh diri itu adalah Sinta. Tapi kenapa harus di gedung SMAI. “Sin Sinta kamu jangan nekat.” Teriakku. “Apa gunanya aku hidup bila kau tidak mau memaafkan aku. Aku akan dikejar rasa bersalah. Aku takut Na, Aku takut…” Katanya. Tali itu sudah terikat di lehernya. Dia tidak memakai kerudung. Bila dia menjatuhkan tubuhnya. Maka dia akan tergelantung pas di bawah lantai tiga. Dia akan mati. “Kumohon Na. Maafkan aku.” Pinta Sinta. Aku bingung. Aku juga akan berdosa bila aku membiarkan dia mati bunuh diri. “Baiklah, Baiklah. Aku, Aku, Aku memaafkanmu. Tapi tolong jangan lakukan ini.” Teriakku. “Terimah kasih. Bila kau benar benar memaafkanku datanglah kemari dan peluk diriku.” Teriaknya lagi. Akhirnya aku pun naik. Entah kenapa karena dorongan adrenalin tiba tiba kakiku bisa bergerak. “Ya Alloh. Terimah kasih ya Alloh. Bu aku sembuh. Aku bisa jalan lagi.” Kataku. Teman teman semua memperhatikanku. “Alhamdulillah.” Syukur Ibu. Tanpa basa basi aku langsung berlari ke atas. Kutinggalkan kursi rodaku di bawah. Semua siswa SMAI mendongak ke atas. Bahkan sebagian siswa MA juga ikut melihat aksi nekat Sinta.

Sesampainya di lantai 3. Aku akhirnya menemui Sinta. “Sinta sahabatku. Aku memaafkanmu.” Kataku dengan berlinang air mata. “Kemarilah.” Pintaku. Dengan perlahan ia menuju arahku. Saat itu juga kukumpulkan semua kekuatanku untuk memaafkannya. Kami langsung berpelukan seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu. “Kamu adalah sahabatku Sin. Aku memaafkanmu Sinta.” Kataku dengan mengusap kepalanya. Entah kenapa rambutnya tidak seperti rambutnya. Teksurnya sangat berbeda dengan rambutnya yang dulu. Bahkan bisa dibilang ini seperti wig. Tidak kerasa Sinta tidak mau melepas pelukannya. Saat kulepaskan. Ternyata dia telah pingsan.

Guru dan murid murid lain membantuku membawanya ke rumah sakit. Dia dilarikan ke rumah sakit Medika Lawang. Sinta langsung dibaringkan di ruang Aisiu. Orangtuanya datang. “Apa yang terjadi dengan Sinta nak?” Tanya Ibunya. “Sinta pingsan Tante.” “Pasti Leukimianya kambuh lagi.” Sebut Ibunya.
“Apa?” Kagetku. Jadi selama ini Sinta menderita Leukimia.” Selama ini Sinta telah berjuang. Rambutnya habis. Itu adalah Wig. Yang dia kenakan selama 2 tahun terakhir.” Kata Ibunya. Ibunya bernama Vina. Jadi aku memanggilnya Bu Vina. “Kini Sinta telah mencapai Leukimia stadium lanjut. Usianya tak lama lagi.” Lanjut Ibu Vina dengan menangis. Aku juga ikut menangis. Selama ini aku egois. Aku hanya memperdulikan penderitaanku. Tidak melihat apa yang dialami Sinta selama ini.

Ibuku hanya duduk di ruang tunggu. Aku masih mengenakan seragamku. Pintu ruang Aisiu akhirnya terbuka. “Zafrina. Yang namanya Zafrins.” Panggil Dokter. “Ia saya.” Jawabku. “Anda dipanggil pasien.” Kata Dokter. “Iya Dok.”

Aku masuk dan menemuai Sinta. Ia terbaring lemas. Wajahnya pucat dan kepalanya botak. Wignya telah dilepas. “Zafrina. Maafkan aku. Aku ingin kamu membawa ini.” Dia menyerahkan buku hariannya itu yang berwarna hijau matang. “Terima kasih.” Kataku. “Ibu aku ingin kau menemaniku dan menuntunku. Aku akan pergi bu.” Kata Sinta parau. Infusnya terus menetes. “Apa yang kamu bicarakan nak. Kamu pasti sembuh.” Kata Bu Vina dengan menangis. Ia menggenggam tangan anaknya kemudian mencium keningnya. “Sinta mohon Bu.” Paksa Sinta. Akhirnya Ibu Vina membisikkan 2 kalimat syahadat. Sinta menirukannya. Kemudian Sinta memintaku untuk menggenggam tangan satunya. “Terimah kasih Na. Kamu telah memaafkan aku.” Kata Sinta. Perlahan akhirnya kelopak matanya tertutup. Bibirnya tersenyum. Tapi keluar air mata di matanya. Airmatanya keluar menymping. “Bu Vina.” Panggil dokter setelah mengecek Sinta. “Ibu yang tabah ya. Sinta sudah tiada Bu.” Ibu Vina menangis dengan amat histeris. Aku juga. Aku memluk Ibuku.

Kini sahabatku telah pergi. Suasana duka menyelimuti kami. Tepat pukul 11:00 WIB Sinta meninggal dunia. Kini dia telah tenang. Selamat tinggal sahabatku.

Beberapa jam kemudian. Aku pun menuju makamnya. Sinta baru selesai dikebumikan dan didoakan. Aku membawa buku Diary yang dia berikan padaku. Kubaca di depan makamnya. Di depan batu nisan yang bertulis namanya.

“Kami bersahabat sudah cukup lama. Kami seperti saudara yang saling memiliki. Persahabatan kami bagaikan air yang terus mengalir. Kenangan kenangan Indah yang harus kami pertahankan agar persahabatan kami tetap utuh.”
Tapi akulah yang bersalah. Aku menodahi persahabatan kita. Entah kenapa aku mencintai Ilham. Orang yang dicintai Zafrina. Seharusnya aku tidak boleh begitu. Tapi getaran cinta itu semakin kuat sampai mendorongku untuk memiliki keinginan memiliki Ilham. Ilham ternyata mau saja sama aku. Tapi itu adalah kesalahan terfatal dan tak terampuni yang pernah kulakukan.”
“Karena mencintainya. Persahabatanku hancur dan menghantui batinku. Aku tak bisa hidup seperti ini. Bagaimana aku bisa menyatukan persahabatan kami lagi. Apapun akan kulakukan walau harus dengan nyawa. Penyakit ini sudah cukup menjadi arti bahwa ini adalah dosa yang menggumpal menjadi penyakit.”
“Zafrina adalah orang yang baik. Dia tidak pernah membuatku menangis. Dia selalu menjadi cahayaku. Dia adalah sahabat sejati. Tapi aku malah merusak keindahan persahabatan kita. Aku benar benar menyesal.”

Itulah tulisan terakhir Sinta. “Sinta kau adalah Sahabatku.” Kataku. Kini semua tinggal penyesalan. Persahabatan kami telah hancur karena cinta. Cintaku pada Ilham telah menjadi petaka karena Sahabatku.
Semoga kau tenang di alam kubur sana. Angin menghembus dan menyibakkan kerudung putihku. Suasana amat cerah dan aku masih menabur bunga di pemakaman Sinta. Aku menabur bunga ini dengan mengingat semua kenangan Indah yang tidak akan aku lupakan. Itu janjiku.

SELESAI

Cerpen Karangan: Alvan Muqorobbin Asegaf
Facebook: Alvan Railfans

Ini adalah cerita kedua saya setelah sukses dengan cerita yang berjudul Diantara Mimpi.
Semoga kalian bisa menikmati cerita saya.
ALVAN.M.A

Cerpen Menikam Hati (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buku Persahabatan

Oleh:
Hujan deras dengan petir menyambar, tidak membuat Fisca berhenti. Dia memegang sebuah kantong plastik. Isinya adalah, 1 rim kertas HVS, 1 lusin pena dan pensil, dan dia juga membeli

Prince Of My Heart (Part 1)

Oleh:
Perkenalkan namaku Carlissa Brielle Adara. Anak perempuan pertama dari 2 bersaudara. Adikku yang adalah anak kedua bernama Levin Stephen Adara. Adikku yang merupakan anak ketiga bernama Kerrin Analise Adara.

Sahabatku (Kimi dan Mike)

Oleh:
Pada suatu hari ada seorang wanita yang cantik dia bernama Mike, dia bersekolah di SMP MUHAMMADIYAH 15. Mike orangnya sangat sombong dan pelit. Dia selalu suka pilih-pilih teman, jadi

Aku Membencimu Seumur Hidupku

Oleh:
Air hujan terus berjatuhan, udah seharian ini hujan turun terus, hah… rasanya males untuk melakukan aktivitas, akhirnya yang ku lakukan hanya berdiam diri di kamar. Suara hujan memang sedikit

Pesan Dari Ibu

Oleh:
Embun dipagi buta, ibu membangunkan tiara dan tito untuk segera bergegas berangkat sekolah. Tiara dan tito sedang rapi-rapi untuk pergi ke sekolah sedangkan ibu mempersiapkan sarapan untuk tiara dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *