Surat Kapten (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 December 2013

Tak terasa setahun sudah aku menjalani semua ini. Entah mengapa, awalnya ini seperti mengejar kebebasanku. Tapi semakin lama, rasa penyesalan ini mulai menampakkan buihnya di sela-sela hatiku. Membuat rindu yang tak bisa terobati lagi dan menyesap semua kebebasan yang muncul. Kurasa, aku salah meninggalkan kalian semua. Itulah yang mungkin ada di pikiranku saat ini.

Mega-mega jingga sedikit demi sedikit mulai melayang-layang di sudut langit. Angin lembut menyapu daun-daun kering yang jatuh di lapang terbuka dan membelai rumput-rumput yang landai.
Aku melirik lagi, sebuah surat yang tergeletak di sampingku. Tergeletak begitu saja saat pak pos memberikannya siang tadi. Entah mengapa, ketika aku memegangnya dan hendak membacanya, perasaan takut itu selalu muncul dan menggangguku. Membuatku enggan pada surat ini.

Jingga lukisan langit seperti sungkan memudar dan terus lekat dengan atap-atap yang melayang abadi. Melihatnya, mengingatkanku pada kenangan kita yang indah seperti senja ini. Begitu jalas terbayang membuat hati ini semakin sesak oleh rindu-rindu yang mulai menyayat.
Ya, sakitnya hati ini memaksaku untuk melawan ketakutanku membuka sepucuk surat yang terbengkalai ini. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat dan seterusnya…

From: Kyushu Dragon Team
To: Naruhito Kyazein

Dear, Naru… Bagaimana kabarmu? Seperti apa kehidupanmu sekarang? Apa kau menjalaninya dengan baik? Semoga, teman sekaligus saudara terbaikku ini baik-baik saja seperti aku di sini.
Satu hal yang ingin ku tanyakan padamu saat ini. Apa kau rindu denganku, Naru?
Ya, seandainya pertanyaan ini kau tanyakan kembali padaku, aku tak tahu harus menjawab apa. Bukan karena aku sama sekali tak merindukanmu. Tapi, karena rinduku saat ini sudah tak bisa aku jelaskan lagi. Sulit dan begitu sulit.
Setiap malam adalah malam yang menyakitkan, karena aku merindukanmu. Sosok yang selama ini terlihat ceria di depanku, tak ku sangka menyimpan kesulitan di dalamnya, menyimpan ketakbebasan dalam menjalani hidup. Bagaimana bisa, aku yang seorang kapten tak menyadari semua itu. Hingga perpisahan ini akhirnya terjadi.
Tahukah kau? Begitu tersiksanya aku, di setiap detik yang aku jalani, mengingat semua yang pernah kita sulam, dan kini menjadi kenangan. Kenangan yang lupa kau bawa dan akhirnya selalu terlihat olehku dan membuatku hampir menyerah dengan semua ini.
Setiap malam, aku berharap semoga ini adalah malam yang menyenangkan. Nyatanya harapan itu hanya sebuah penghianatan belaka. Penghibur di sela kesepian akan hilangnya dirimu.
Aku tak tau bisa bertahan sampai kapan menahan rindu ini.
Setiap waktu yang diputar selalu saja menyertai bayangan kenangan dirimu.
Fajar itu, pagi itu, siang itu, sore itu, senja itu, dan malam itu. Selama setahun tak kurang. Aku… dan bukan hanya aku saja, tapi kami, merindukanmu. Merindukan sosok yang telah 5 tahun bersama kami.
Tertawa bersama, menangis bersama, berlari bersama dan bahkan berkeringat bersama. Bisakah kau hapus kenangan-kenangan itu, yang membuatku lelah terus menahan rindu ini.
Tapi…
Jika kau lebih bahagia di tempatmu sekarang, aku dan lainnya rela menahan keinginan bertemu dirimu ini, demi melihat senyummu meski dari jarak yang jauh dan terlalu jauh. Melihat senyum yang sesungguhnya, bukan senyum kebohongan.
Semoga kau bahagia, Naru…..

Your capten
SHINO

SELESAI. Dan tak bisa kuhitung banyak air mata yang jatuh ketika membaca semua ini. Semburat jingga seakan menutup kehadirannya dan tersenyum pahit padaku.

Aku melipat surat itu dan memasukkannya dalam saku celana.
Shino… rinduku pun sama saat ini, sudah tak bisa kujelaskan lagi…
Maaf, dan tunggulah aku…

Satu hari berlalu sejak kedatangan surat kapten itu. Aku datang ke Kyushu, Jepang untuk bertemu teman-temanku kembali. Ah rasanya sudah lama tak merasakan suasana ini lagi.

Malam sangat dingin dan gelap. Jemari pucat kaki-kakiku tengah menapak melintasi bukit sisi lapangan untuk melihat-lihat. Tanpa ada lelah sedikit pun, aku terus saja berkeliling meneliti setiap tempat yang terisi penuh oleh kenangan-kenangan bersama satu timku. Terbesit dalam otakku, ingatan masa silam itu yang membuat hatiku terasa akan meledak.
Rumput itu… ya.. aku ingat… Kami sering menggunakannya untuk tiduran, sekedar melepas letih setelah seharian berlatih.

Aku terus melanjutkan langkah ini dengan perlahan. Dan tanpa sadar bibirku tersenyum samar ketika melewati sebuah bangku taman yang panjang dan terbuat dari kayu pohon oak. Ingatanku berlari ke masa satu tahun yang lalu. Bangku itu, ya! Hahaha… sering kami duduki sambil bermain gitar di minggu musim gugur, menunggu daun-daun kuning rontok berjatuhan.

Oh ya, pohon itu juga. Pohon yang setia meneduhkan kening-kening kami, kala puluhan jarum panas dari langit menghujam dan melelehkan peluh kami. Ada juga saat salju-salju tak bernoda itu menyangkut di ranting pohon, kami siap di bawah naungnya untuk menadah butiran yang sudah berubah berupa tetes dingin menusuk.

Aku menghela nafas. Ah… ingin rasanya semua itu kembali terulang. Namun sepertinya, keegoisankulah yang malah menghentikan rantai kenangan itu. Dan itu membuatku begitu menyesal telah meninggalkan teman-temanku yang paling berharga.
Aku telah mengecewakan mereka, aku memang bodoh baru menyadari bahwa mereka begitu menyayangiku. Arrgh.. kenapa aku baru sadar, bahwa akulah yang paling egois di sini!

Tak terasa, langkah ini menyeretku sampai ke depan asrama. Sebuah gedung yang di dalamnya tertata rapi keringat kami yang mengering hampir di setiap benda, yang mungkin sudah berdebu dan usang. Entahlah. Tapi yang pasti, jantungku mulai berdegup sekarang layaknya genderang yang gagal dibuat. Tak enak didengar.

Lampu antik yang menggantung di langit-langit teras asrama mulai temaram dan mencoba bertahan untuk tetap menerangi corak kotak yang melekat di lantai. Aku melirik jam tanganku yang melingkar gagah di pergelangan tangan kiriku. 07.30 pm.
Sepi sekali asrama ini, tidak seperti biasanya. Memang sih, aku tak tahu kebiasaan mereka saat ini apakah sudah berubah atau belum.

Aku menatap pintu asrama yang tertutup rapat itu, seolah tahu akan kehadiranku dan mengatakan “bukan disini lagi tempatmu, Naru.” Aku menelan ludah dengan susah payah, juga menyiapkan keberanianku. Menerka-nerka apa yang kan terjadi setelah pintu asrama itu terbuka.
Ku beranikan jemari tanganku untuk mengetuk pintu. Gemetar. Hatiku mulai menghitung, sampai berapa pintu itu membiarkanku menunggu.

Kreeeek…
Pintu asrama berdecit pelan. Aku melihat dengan seksama siapa yang membukanya. Oh, itu Kawada si gelandang hebat.
Ia memicingkan matanya. Menelisik tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ketika sadar bahwa ternyata aku yang datang, ia langsung menghambur memelukku. Tangisnya seketika itu juga pecah.
Aku sendiri sedikit terkejut mendapat pelukan hangat darinya. Entah mengapa gemuruh hati ini semakin menjadi ketika aku membalas pelukan, seolah rindu yang telah lama tertahan akhirnya membludag keluar. Lega rasanya.

Ia melepaskan pelukannya, dan mulai mengomel tak jelas.
“mengapa kau pergi seenakmu? Kenapa kau tak memberitahu semuanya pada kami? Kenapa! Kenapa kau baru kembali sekarang?! Kenapa!?” tangisnya pecah lagi, seperti anak yang baru bertemu ayahnya.
Jujur, aku bingung harus menjawab apa. Terlalu bingung dengan apa yang harus kulakukan sekarang. Dan begitu saja ku jatuhkan tubuh ini di hadapannya. Berlutut.
“maafkan aku..” lirihku. Hanya itu yang mampu ku ucapkan dari mulut ini. Tubuhku seketika berubah lemas. Lemas sekali.
Kawada menunduk membantuku berdiri, “sudahlah, kau ingatkan motto kita? Kasih sayang itu, meluruskan tanpa harus mengucap maaf. Jadi, kau tak perlu minta maaf. Kita sama-sama bersalah dan kini kita luruskan kesalahan itu bersama-sama. bagaimana?”
Kemudian, ia pun mengantarkanku ke tempat teman-temannya berada.

Kami sampai pada pintu berwarna hitam yang sebelumnya tak pernah ku lihat. Sepertinya pintu kamar, tebakku. Kawada membuka pintu itu pelan. Dan hati-hati.
Sedikit demi sedikit, apa yang ada di dalam mulai terlihat. Mataku mulai mengekor ke arah pintu yang kini terbuka lebar. Dan ketika indra penglihatku sampai pada sebuah ranjang, nafasku sesaat mulai tercekat. Kedua tanganku mulai berkeringat. Ya ampun, kenapa serasa lebih lemas lagi tubuh ini?

Semua yang ada di dalam yang menyadari kehadiranku segera menghambur dan memelukku bergantian. Sementara aku sendiri, saperti patung. Aku yakin hanya ia seorang yang tak memelukku. Tubuhku berguncang-guncang karena mendapat pelukan dari teman-teman. Tapi mataku tetap menatap sosok itu, yang terbaring di ranjang dengan semburat pucat di wajahnya.
Kepalaku seketika pening.
Entah apa yang kupikirkan kini. Semua samar kala partikel butir bening di mataku memaksa keluar. Aku berjalan perlahan menghampirinya. Ya, mendekati sesosok tubuh yang seakan tengah menatapku lembut.

Cerpen Karangan: Nika Lusiyana
Facebook: Haruka Yuzu
menulis itu menyenangkan

Cerpen Surat Kapten (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ikatan Persahabatan

Oleh:
Malam begitu gelap, bahkan bulan yang sedang menggantung di langit itu tak bisa menyinarkan cahayanya, awan-awan hitam menutupinya dengan paksa. Sebuah mobil jeep hitam melaju dengan cepat menusuk ke

Jadikanlah Masa Depan Sebagai Acuan

Oleh:
Menulis tak semudah yang diperkirakan berbagai orang. Banyak orang yang menganggap ringan sebuah kegiatan menulis, tapi nyatanya, mereka pupus di tengah jalan karena begitu beratnya menulis. Entah, hantu apakah,

Aishiteru

Oleh:
Aku menyukainya sejak lama. Mungkin sekitar 2 tahun atau lebih. Tapi selama itu aku tak pernah sekalipun mendapat lirikannya. Ya, sulit memang mendapat perhatian pria itu. Dia begitu dingin,

Akhir Persahabatan

Oleh:
Pagi itu, suasana sangat Indah sekali. Kuawali hari-hariku dengan senyum lebar dan mengharapkan sebuah mimpi yang belum tercapai. Andai saja, aku bisa mengulang masa-masa Indah bersama sahabat yang dulu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *