Surat Kapten (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 July 2015

Seraut wajah yang benar-benar kurindukan apa yang ada padanya.
Ia pucat, kenapa? tubuhnya terbaring, sakitkah? Ia tak menjemputku seperti yang lainnya, tak mendekapku dan hanya tersenyum sayu padaku. Dadaku sesak, tak mengerti atas apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku sakit melihatnya seperti itu, melihat seorang kapten yang sebelumnya selalu terlihat tegak kini nampak layu. Semakin terseoklah langkahku ketika jarak di antara kami semakin menyusut.

Nafasku bergetar, menyeruak dari sepasang paru-paruku. Ada seikat nyeri tertahan yang menjalar di pembuluh nadi ini kala mata kapten menjumpai mataku.
Ranjang putih itu seolah menjadi saksi kebekuan hatiku. Saksi seonggok penyesalan yang menjerat dan merobek riang sehelai rasaku. Aku menyesal, kenapa aku mengkhianatinya? aku juga menyesal, kenapa aku harus meninggalkannya? aku sungguh-sungguh menyesal, begitu teganya diriku hingga membuatnya sampai seperti ini?

“bagaimana kabarmu, Sobat?” lirihnya mengejutkanku, sambil berusaha untuk tetap tersenyum.
Tanganku bergerak cepat mencengkram dadaku yang kian sesak. Suaranya, aku tau, tak lagi setegas dulu apabila ia tengah memarahiku atau memperingati. Dan senyumnya, aku juga tau bahwa ia harus berusaha keras untuk tersenyum tulus seperti itu. Aku tersenyum getir, menyembunyikan pertahananku yang hampir runtuh dan pecah berkeping-keping.
“kau, pura-pura memperdulikanku, hah?” aku yakin, semua temanku memandangku dengan tatapan heran dan menggeram. “aku tahu, kau hanya berbohong dalam surat itu. Kau tidak benar-benar merindukanku. Kau hanya membuatku untuk tidak mengingkari rinduku sendiri. Kau hanya ingin menertawakanku, bukan? kau ingin mengatakan bahwa aku tak akan sanggup bertahan tanpa ada seorang kapten yang sok hebat di sisiku? jangan harap kau sanggup melakukan hal itu!”
“apa yang kau katakan, hahh!! Dasar tidak tahu diri!” Ren Inuzuka meraih kerahku dan kulihat sepertinya siap untuk mencekikku. Sama seperti yang lain, kecuali Kawada yang tengah menatapku kasihan bercampur iba. Aku meringis menahan cengkraman Ren dan menahan sesak yang terus menerus mengikat tubuhku.
Namun, sebelum Lelaki bertubuh tegap itu benar-benar membuatku kehabisan nafas, suara serak Shino Mouri kembali terdengar.
“kau benar Naruhito Kyazein, aku memang tak merindukanmu. Aku tidak berharap kau hadir disini, bukankah itu hanya akan mempermalukan keadaanku saja bukan?”
“tidak! Jangan berkata seperti itu, kumohon…” reflek aku memohon padanya, secepat yang kubisa.

Lukaku kini menganga lebar, tak dapat kututupi lagi dan nampak begitu kentara dengan bau penyesalan yang menguap. Aku memejamkan mataku perlahan, menahan perih yang sempat terasa sejak Kapten mengatakan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku memang siap dengan segala makian dan sergahannya, tapi aku tak pernah berpikir bahwa ia akan mengakui keadaannya dan membuat sesakku semakin meyesakkan, malah tak ada lagi tempat untuk disesakkan.
Kenapa kau harus mengatakan itu, kenapa kau harus mengakuinya. Padahal aku berharap engkau memarahiku, engkau membentakku seperti dulu. Tapi…
Begitu saja aku jatuh di sisi ranjangnya. Berlutut. Tak peduli dengan semua tatapan teman-teman yang heran akan perubahan sikapku. Mungkin.. mungkin hanya Kawada yang mengerti semuanya, mungkin hanya ia seorang yang mengerti apa yang sebenarnya kurasakan. Dan juga kapten.
“Kenapa? Kenapa kau tak mengatakannya dalam surat? Kenapa? Kukira.. kukira kau baik-baik saja..” Aku menghela nafas. Gemetar.
“Maafkan aku..” lirihku lagi. “Aku salah..”
“Tidak. Kau tidak salah Naru,” sela kapten sambil menggeleng lemah. “Aku, aku yang salah dalam hal ini. Aku tidak bertanggung jawab sebagai seorang kapten. Aku membiarkanmu sendiri, aku membiarkanmu menangani masalahmu sendirian, aku.. aku bodoh tak mengerti bagaimana perasaanmu sebagai seorang anggota, aku tak mencoba untuk.. Aargh..”
Aku menggigit bibirku. Rasanya, tubuh ini bergemuruh. Terlalu sakit melihat seorang kapten yang begitu menyayangimu kini terbaring sambil menahan sakitnya. Kini memegang dadanya karena desakan lara yang kukira luar biasa sakitnya. Kini merintih pilu digerayangi perih yang sebegitu perihnya. Kini mengerang tertahan ditenat sesak yang sepertinya sangat sesak.

Dan kusadari, kini aku terisak. Tak ada sepatah kata pun yang dapat ku ucapkan, tak segerakkan pun tubuh ini beringsut, kecuali bergemetar karena isakan. Lalu lengan Kawada terjulur memegang pundakku, berusaha menenangkanku layaknya seorang kakak yang merangkul lalu mengusap lengan adiknya yang menangis karena es krim yang baru saja dibelinya jatuh.

Kapten memejam kemudian ketika tanganku terulur memegang lengannya yang kurus. Air mataku jatuh lagi, dengan derasnya seolah akan membanjiri ranjang dengan sprei putih itu. Semua membisu dan membiarkan suara tangisku memenuhi ruangan ini.
“Bertahanlah..” lirihku beruasaha mengingatkan bahwa aku masih ada di sampingnya untuk memberinya kekuatan. “Untukku.. untuk kita semua.. aku janji tak akan mengulanginya lagi.”

Cerpen Karangan: Nika Lusiyana
Facebook: Haruka Yuzu
Menulis adalah menyenangkan

Cerpen Surat Kapten (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku Takkan Kembali Lagi

Oleh:
“Zar…” panggilku kepada seorang sahabatku bernama Azar. Dia menoleh kearahku dan memanggilku juga “Zahwa..” Azar adalah sahabatku dari kecil dan kita bertemu kembali di SMP. Setelah lulus dari SMP

Insomnia

Oleh:
Dihari libur nan cerah dan bersahabat itu, ditemukan 3 lelaki yang tergeletak di atas sofa (sadarkan diri) dengan posisi yang berbeda-beda, sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. “suatu penyakit dimana

I Do, Nata!

Oleh:
Aku tersadar dari kegelapan yang entah berapa lama mengedap di mataku. Dan saat itu ketika pusing menyerangku, tiba-tiba jemari seseorang membuka kelopak mataku, dan memeriksannya dengan sebuah senter kecil

Ada Teman di Balik Pelangi

Oleh:
“Buku cerita itu hanya bohong kok..” kata sang kakak. Adiknya terus murung. Ada pelangi sore itu, teringat di buku cerita itu bahwa ada teman di balik pelangi. “Aku ingin

Sehari Tanpa Tawa Sahabat

Oleh:
Pagi ini pagi yang sangat cerah, matahari bersinar begitu indahnya. Aku pun bersiap-siap untuk berangkat sekolah, oh iya namaku Ayu tepatnya Anjani Ayu Widati aku kelas 3 SMP, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *