Tuhan Sayang Kita, Kok

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 January 2016

Sinar mentari telah menerobos ruangan di mana Lina tidur semalam. Itu tandanya pagi telah menyapanya. Babak baru dalam kehidupan akan segera dimulai. Pukul 06.05.
“Lin, bangun ini sudah siang. Nanti kamu terlambat sekolah loh!” kata Tika.
“Hoamm.. hm. Lina masih ngantuk, dik. 5 menit lagi ya Lina bangun kok,” jawabnya.
“Lihat! Sekarang jam berapa? Apa kamu tidak takut dihukum lagi?” omel Tika yang pagi-pagi seperti ini sibuk membangunkannya.
“Iya, iya dik. Lina bangun,” jawabnya kemudian.

Linda Herlinawati itulah sebuah nama yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Itulah awal dari aktivitasnya yang hampir setiap hari seperti itu. Bangun kesiangan dan yang membangunkan Lina tadi ialah Tika, adik sepupunya yang sudah duduk di bangku kuliah. Eits bangun siang bukan karena Lina pemalas, loh. Hanya saja Lina memiliki banyak kegiatan di sekolah maupun di lingkungannya. Maklumlah Lina tinggal bersama omnya. Hal itu pula yang membuatnya harus bersikap mandiri. Kami tinggal di perumahan Kopo Permai, Bandung. Ya, walaupun Lina sendiri kurang menyukai suasana tinggal di perumahan elit.

Mau tak mau Lina harus menjalaninya. Lina merupakan anak yatim piatu sejak usiaku 6 tahun. Lina yang masih terlalu kecil untuk menikmati hidup tanpa orangtua. Namun inilah yang harus ia jalani sesuai garis kehidupan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebenarnya Lina itu masih punya seorang kakak laki-laki yang memiliki selisih usia 2 tahun dengannya, Ndaru namanya. Akan tetapi Lina tidak tahu di mana sang kakak berada sekarang, karena hampir 4 tahun mereka berpisah.

“Lina, kamu tidak sarapan dulu?”
“Tidak, Tante. Ini Lina sudah terlambat,” jawab Lina sedikit sopan sambil merapikan seragamnya.
“Ya, sudah. Tante sudah siapkan bekal untukmu nih. Dibawa loh!”
“Iya, Tan. Terima kasih.”
“Itu sudah menjadi kewajiban Tante. Kamu tidak perlu berkata terima kasih dengan Tante.”
“Lina izin berangkat ke sekolah dahulu Tan,” ucap Lina kepada Tante Mia sambil mencium telapak tangan beliau.
“Hati-hati di jalan,” pesan Tante Mia.
“Iya, Tan” jawab Lina.

Sesampainya di sekolah. SMA Tunas Bangsa ialah tempat di mana Lina bersekolah. Di sanalah Lina menggoreskan berbagai kenangan manis maupun pahit teman-temannya. Ada Gyta yang pandai berorganisasi, Sarah yang memiliki otak encer dalam bidang pengetahuan alam, Kak Tiya yang mahir bercerita dan mengorek sedalam-dalamnya tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dan Kak Aris yang gemar ceramah. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Walaupun begitu kami saling melengkapi dan selalu kompak dalam suasana apapun. Lina satu kelas dengan Gyta dan Sarah yaitu di kelas XI IA 3, sedangkan Kak Tiya dan Kak Aris merupakan kakak kelas Lina.

“Lin, kamu sudah sarapan belum?”
“Hehehehe. Belum,” jawab Lina dengan wajah sumringah.
“Kamu itu kebiasaan ya, kalau pagi jarang sarapan.”
“Hehehe,” jawab Lina sambil menunjukkan kedua jarinya yang melambangkan V ke arah Kak Tiya.
“Ya sudah. Ini ada sepotong roti nih untuk kamu yang belum sarapan.”

“Cie Lina cie,” ucap sahabat-sahabat Lina yang lain dengan kompak.
“Kalian itu apa-apaan sih?”
“Cie-cie yang sedang dibela Kak Aris.”
“Awas!! Ada yang terbang nih!”
“Jangan lupa tengok ke bawah.”
“Sudah-sudah, ayo cepat dimakan rotinya sebelum bel masuk. Padahal beberapa menit lagi bel masuk loh!”
“Iya-iya.”

1 menit 2 menit 3 menit 5 menit bel masuk pun berbunyi. Teng tong teng tong, teng tong teng tong. Pelajaran pertama adalah Matematika. “Aduh, kenapa sih harus ada pelajaran ini. Padahal Lina paling tidak suka pada pelajaran ini. Mana gurunya Pak itu lagi. Bosen ah pelajaran itu,” keluh Lina kepada Gyta, teman sebangkunya.
“Sabar, Lin. Suatu saat nanti pasti kamu akan menyukainya bahkan kamu bisa menguasainya, loh!” ucap Gyta yang memotivasi Lina. Agaknya sih Lina mulai menikmati pelajaran ini. Buktinya dari sepuluh soal ia mampu menjawab 5 soal dengan benar. Biasanya sih Lina bisa menjawab 3 soal saja. Mengalami peningkatan sih walau hanya sedikit.

“Ndak apa-apa. Kalau kamu sudah mendapat poin seperti ini. Setidaknya terjadi peningkatan,” ucap Gyta yang menyemangati Lina.
“Ini semua berkat kamu dan Sarah yang tak henti-hentinya mendukung dan memotivasiku. Terima kasih ya?”
“Sudah sepantasnya kita berdua membantu teman yang berada dalam kesulitan.”

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sekali dan tak terasa pula istirahat siang sudah dimulai. Lina pun seperti biasanya. Ia pergi ke perpustakaan sekolah bersama Kak Tiya lalu pergi ke kantin. Lina itu jarang pergi ke masjid untuk beribadah. Hingga suatu saat Lina ditegur oleh sahabat-sahabatnya untuk beribadah dulu sebelum ke kantin untuk mengisi perut. Karena beribadah itu merupakan kewajiban setiap orang muslim yang beriman dan beramal saleh.

“Lin, kamu tidak ke masjid dulu?” tanya Sarah kepada Lina yang hendak pergi ke kantin seperti biasanya.
“Tidak mau, nanti saja ya? Perutku sudah lapar sekali nih?” jawab Lina dengan nada memohon.
“Ya sudah kalau begitu. Akan tetapi kamu harus ingat sebagai kewajiban kita sebagai umat muslim harus melaksanakan ibadah, loh!” terang Kak Tiya.
“Iya Kak Tiya yang bawel.”
“Oke, coba kamu laksanakan terlebih dahulu. Pelan-pelan saja, suatu saat nanti kamu akan mendapat manfaatnya kok?” kata Gita menasihatinya.
Menolak bukan berarti tak menghargai. Hanya perlu waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan suatu hal yang hebat.

Teman-teman Lina sedih ketika Lina tidak mau mendengarkan nasihat-nasihatnya mereka. Berulang kali mereka mengingatkan tetap saja Lina keras kepala. Kita manusia hanya dapat berusaha saja. Urusan memberi hidayah itu bukan urusan kita. Hingga akhirnya Lina mendapatkan hidayah untuk pergi jamaah salat dzuhur. Pada awalnya teman-teman Lina sepat terheran-heran dengan sikap Lina yang mendadak berubah seperti ini.

“Ini aku gak lagi mimpi kan, Lin?”
“Gak kok, Sa.”
“Ini beneran kamu, Lin?”
“Iya, ini Lina.”
“Kalian pada kenapa sih?”
“Kita gak apa-apa. Tapi kamu?”
“Aku?”
“Iyaa? Kamu?”

“Kamu kenapa? Kamu sakit?”
“Gak kok.”
“Harusnya kalian berdua bersyukur, Lina.”
“Lina yang ada di depan kalian adalah Lina milik kita. Lina yang sekarang berbeda dengan Lina yang dulu. Lina yang sekarang lebih cantik.”
“Memang aku dulu gak cantik gitu?”
“Ya, gak gitu juga keleus.” Semula ia tidak mau beribadah karena teman-temannya senang memotivasinya terus menerus, maka dari itu Lina tergerak hatinya untuk berubah.

Suatu pagi Lina mengalami kecelakaan karena kurang berhati-hati. Untung saja lukanya tidak serius, jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Walau demikian hal seperti ini sempat menjadi mimpi buruk untuk Lina. Baru saja ia mendapat kebahagiaan. “Nanti sepulang sekolah kita ke rumah Lina eh maksudnya ke rumah Om Reza untuk menjenguk Lina dan mendoakan Lina supaya cepat sembuh, oke?” ajak Gyta kepada Sarah, Kak Tiya dan Kak Aris.

“Ide bagus. Aku mau ikut, dong.”
“Yah, aku tidak bisa ikut, nih!”
“Kenapa?”
“Aku ada janji dengan Fathi untuk menemaninya belajar. Karena besok dia ada ulangan.”
“Fathi itu siapa?”
“Dia adalah sepupuku yang baru saja pindah ke daerah ini beberapa hari yang lalu.”
“Oh. Pantas saja jika kita masih asing dengan nama itu.”
“Ya, maaf ya teman-teman. Kali ini aku harus absen untuk menjenguk Lina. Aku nitip salam aja dan sampaikan cepat sembuh untuk Lina dari Kak Tiya.”
“Oke, beres Kak. Nanti kita sampein pesan dari Kakak untuk Lina.”

Sesampainya di rumah om Reza. Suasana di rumah om Reza sangat sepi.
“Lina, cepat sembuh ya. Supaya kita dapat bermain dan belajar bareng lagi, ya?”
“Kakak kangen melihat senyum Lina. Kakak tahu Lina adalah gadis yang kuat dan tegar.”
“Kamu tahu gak? Suasana kelas jadi sepi tanpa kamu. Kamu kan suka bikin rame. Semuanya sedih begitu mendengar kamu kecelakaan Lin.”
“Kak Tiya ke mana?”
“Kak Tiya ada urusan.”

“Urusan apa?”
“Dia harus menepati janjinya untuk menemani Fathi, saudara sepupunya yang baru saja pindah rumah ke daerah ini beberapa hari yang lalu untuk belajar. Kak Tiya nitip salam buat kamu dan cepet sembuh ya Lina.”
“Iya. Wassalamualaikum wr.wb dan sampaikan terima kasih kepada Kak Tiya.”
“Hampir lupa, nih ada buah untuk kamu.”
“Terima kasih, teman-teman.”

Keesokan harinya Lina telah kembali bersekolah. Hal itu disambut baik oleh teman-temannya. Pada saat penerimaan Rapor, Lina yang semula tidak menyukai pelajaran Matematika, akhirnya mendapatkan nilai A untuk materi itu. Bahkan ia pernah mewakili sekolah untuk mengikuti Olimpiade Matematika hingga tingkat Nasional. Tak tanggung-tanggung ia mampu menyabet juara umum.

Pemikiran Lina yang mengira bahwa pelajaran Matematika suatu hal yang sangat ia takuti. Pada kenyataannya hampir seluruh aspek kehidupan pasti berkaitan dengan Matematika. Tidak hanya itu saja ia juga mendapat mengubah perbuatannya untuk menjadi lebih baik. Itu semua berkat teman-temannya tak henti-hentinya mendukung Lina untuk sukses dan disokong juga dari dalam hatinya untuk berubah.

Cerpen Karangan: Fatimah
Blog: 45fatimah.blogspot.com

Cerpen Tuhan Sayang Kita, Kok merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Hari ini hari sabtu, aku mendapat tugas yang menjenuhkan sekali, aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar mencari udara segar agar tidak stress, atau mungkin setelah jalan-jalan aku bisa fresh

Neighbor Love

Oleh:
Hari pertama diriku menginjakkan kakiku di sekolah yang berbeda, sungguh berbeda. Karena sekarang diriku sudah melepas seragam SMP-ku dengan seragam SMA. Dan sekarang pagi-pagi sekali aku harus datang ke

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.

Gara-Gara Caraka

Oleh:
“Raka…!!!” teriak Bu Ely (guru Bahasa Indonesia). Seisi kelaspun terdiam, mengalihkan padangannya ke Caraka. Bu ely menghapiri bangku caraka. “Kka, bangun ka” Nano teman sebangku Caraka mencoba membangunkannya, tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *